NovelToon NovelToon
Takdir Gelap Huang

Takdir Gelap Huang

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:31.7k
Nilai: 5
Nama Author: Zerro One

Kisah ini adalah perjalanan pilu seorang anak yang ditempa oleh kehilangan. Huang adalah perwujudan dari ketabahan dalam kesunyian, dipaksa dewasa oleh kematian tragis orang tuanya. Pohon beringin menjadi saksi bisu atas kesedihan abadi, sementara tidur enam tahun di dasar kolam adalah simbol kematian masa kecilnya dan kelahiran kembali sebagai seseorang yang sama sekali baru. Huang melangkah bukan hanya untuk mencari pembunuh, tetapi juga untuk menemukan arti dari hidup yang tersisa.

Tema pembalasan dendam, kesepian, dan keinginan untuk menjadi kuat demi melindungi yang tersisa... menjadi nyawa dalam cerita.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 16: Beban Gunung

Waktu berlalu, sejak latihan moralitas.

Huang selalu berlatih teknik dan gerakan dasar berpedang. Pada dua hari awal Huang selalu dipukuli Tetua Mo, bahkan hingga beberapa kali tidak sadarkan diri di halaman batu yang dingin. Tulang tulangnya terasa nyeri seperti dihancurkan palu baja, sementara ototnya terus robek dan pulih berulang kali karena energi spritual di dalam tubuhnya.

Namun Huang tidak pernah mengeluh. Di dalam hatinya hanya ada satu pikiran yang terus membara... jika dia tidak cepat menjadi kuat, maka pembunuh ayah ibunya akan semakin kuat dan jauh meninggalkannya.

Tetua Mo benar benar melatih Huang tanpa belas kasihan. Lelaki tua itu mengajarkan gerakan reflek, menghindar, menyerang, bertahan, serangan balik, bahkan gerakan tipuan yang tampak sederhana namun mematikan. Kadang Tetua Mo menyerang dari arah depan, lalu tiba tiba tendangan datang dari samping. Kadang pedang kayunya bergerak lambat seperti orang mabuk, namun dalam sekejap menusuk tajam ke titik vital. Huang dipaksa terus mengingat semuanya sambil menahan rasa sakit yang hampir membuat pikirannya kosong.

"Kau terlalu lambat!" bentak Tetua Mo sambil menendang bahu Huang hingga tubuh pemuda itu berguling di tanah berbatu.

Huang terbatuk mengeluarkan darah tipis. Namun dia segera bangkit lagi sambil menggenggam pedang kayunya lebih erat.

"Saya akan mencoba lebih baik lagi guru."

Tetua Mo mendecakkan lidah. "Mencoba? Dalam pertarungan hidup mati tidak ada kata mencoba. Kau berhasil... atau kau mati."

Hari demi hari berlalu seperti itu. Tubuh Huang semakin penuh luka. Beberapa bagian lengannya membiru, telapak tangannya pecah pecah, bahkan pundaknya pernah bergeser akibat hantaman Tetua Mo. Akan tetapi perubahan Huang juga semakin terlihat jelas. Gerakannya mulai stabil. Langkah kakinya tidak lagi kacau. Tatapannya menjadi lebih fokus ketika menghadapi serangan.

Hingga tepat seminggu kemudian, Tetua Mo akhirnya mulai terdiam lebih lama saat melihat latihan Huang.

'Anak ini...'

Tetua Mo menyipitkan matanya sambil meneguk arak perlahan. Bakat Huang sebenarnya biasa saja. Tidak luar biasa, tidak pula buruk. Namun cara pemuda itu memahami gerakan terasa mengerikan. Sekali melihat, Huang bisa mengingat, walaupun praktiknya sering salah. Setelah dipukul beberapa kali, dia langsung memahami letak kesalahannya. Bahkan beberapa gerakan tipuan yang diajarkan baru kemarin kini sudah menyatu alami dengan langkah pedangnya.

Tetua Mo akhirnya berdiri.

"Huang."

Huang segera menghentikan latihannya lalu menangkup kedua tangan. "Guru."

"Duel denganku."

Tatapan Huang langsung menegang. Namun dia tidak mundur. "Baik guru."

Keduanya berdiri saling berhadapan di halaman batu. Angin gunung bertiup perlahan, membuat ujung pakaian mereka bergerak pelan. Tetua Mo menggunakan pedang kayu sederhana. Huang juga sama.

"Tunjukkan semua yang sudah kau pelajari."

Huang menarik napas panjang. Lalu tubuhnya langsung melesat maju.

Tak! Tak! Tak!

Pedang kayu mereka beradu cepat. Huang menyerang lurus ke dada, namun Tetua Mo menangkis dengan santai. Huang segera memutar langkah, bergerak ke samping lalu menusuk ke arah perut. Tetua Mo menghindar tipis sambil terkekeh.

"Terlalu jelas."

Namun Huang tidak berhenti. Tubuhnya bergerak memutar rendah, lalu tiba tiba mengubah arah serangan menjadi tebasan ke leher. Gerakan itu tampak lambat sepersekian napas sebelumnya, namun berubah cepat secara mendadak.

Mata Tetua Mo sedikit membelalak.

Sreet!

Ujung pedang kayu Huang berhenti tepat di leher Tetua Mo. Hanya saja permukaan leher lelaki tua itu telah dilapisi energi spritual tipis, membuat pedang kayu tidak mampu masuk lebih jauh.

Huang segera mundur lalu menangkup kedua tangan. "Maaf guru."

Tetua Mo menyentuh lehernya perlahan sebelum akhirnya tertawa kecil.

"Bagus."

Huang sedikit terkejut mendengar pujian itu.

Tetua Mo mengibaskan lengannya. Sebuah kitab coklat tua melayang keluar dari cincin ruang miliknya lalu terbang menuju Huang.

"Tangkap!"

Huang buru buru menerimanya.

"Itu adalah teknik milikku yang telah kusempurnakan selama puluhan tahun." Tetua Mo kembali duduk sambil membuka kendi araknya. "Teknik Pedang Gravitasi."

Huang memandang kitab itu dengan jantung berdegup lebih cepat.

"Namun..." suara Tetua Mo berubah dingin. "Kau belum pantas mempelajarinya sekarang."

Huang terdiam, lalu memasukkan kitab itu kedalam cincin ruangnya.

"Untuk itu..." Tetua Mo kembali melambaikan tangan. "Kau membutuhkan latihan yang lebih berat."

Empat gelang besi berkarat tiba tiba muncul di udara. Sebelum Huang sempat bereaksi, gelang gelang itu langsung melesat dan terpasang di kedua tangan dan kedua kakinya.

Dum!

Tubuh Huang langsung jatuh menghantam tanah. Wajahnya menabrak batu hingga debu beterbangan.

"Ughhh..."

Dia mencoba bangkit, namun tubuhnya terasa seperti ditindih gunung.

Tetua Mo berbalik santai sambil meneguk araknya lagi. "Latih dirimu sampai bisa bergerak normal."

Huang menggertakkan giginya. Bahkan mengangkat kepala saja sulit.

"Guru... ini terlalu berat..."

Tetua Mo terkekeh. "Kau yang terlalu lemah. Besi itu hanya dua ratus kilogram untuk setiap gelang di tangan."

Huang hampir muntah darah mendengarnya.

Tetua Mo melanjutkan dengan santai. "Yang di kaki hanya tiga ratus kilogram saja."

Mata Huang langsung membelalak lebar.

"Ini mustahil guru!" Huang berbicara dengan napas berat. "Saya yakin pasti dilarang menggunakan kekuatan kultivasi kan?"

Tetua Mo berbalik perlahan. "Siapa bilang?"

Huang langsung tertegun.

Dia segera mengedarkan energi spritual ke seluruh tubuhnya. Otot ototnya menegang keras. Dengan susah payah dia akhirnya mampu mengangkat tubuhnya perlahan dari tanah.

Namun meski sudah menggunakan kultivasi, berat itu tetap terasa gila.

Tetua Mo justru tampak puas melihatnya.

"Bagus sekali." Lelaki tua itu kembali bersandar santai di dipan kayunya. "Sekarang lanjutkan latihan pedang."

Huang hampir tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Jika kau sudah terbiasa menggunakan itu..." Tetua Mo mengangkat kendi araknya sedikit. "Barulah kau boleh mempelajari Teknik Pedang Gravitasi."

Huang hanya mampu mengangguk lemah.

Dia mengangkat pedang kayunya perlahan. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Bahkan langkah kecil terasa seperti membawa batu gunung di punggungnya.

Namun dia tetap mulai berlatih.

Tebas.

Jatuh.

Bangkit.

Menusuk.

Jatuh lagi.

Bangkit kembali.

Siklus itu terus berulang.

Hari demi hari berlalu tanpa henti. Kadang Huang tertidur di halaman batu karena kelelahan. Kadang tubuhnya sampai tidak mampu bergerak beberapa saat setelah latihan selesai. Akan tetapi perlahan lahan tubuhnya mulai beradaptasi. Langkahnya menjadi lebih stabil. Ayunan pedangnya tidak lagi kacau.

Seminggu berlalu.

Dua minggu berlalu.

Lalu tepat satu bulan kemudian, Huang akhirnya mampu bergerak normal sambil memakai empat gelang besi itu.

Setiap langkahnya masih mengeluarkan suara berat.

Dum... dum...

Namun gerakannya kini cepat dan stabil. Ayunan pedangnya membelah udara dengan tajam. Bahkan ketika melompat lalu mendarat, tubuhnya tetap seimbang sempurna.

Saat itu matahari tepat berada di atas kepala. Tetua Mo baru kembali dari aula utama luar sambil membawa kendi arak baru. Lelaki tua itu berhenti ketika melihat Huang masih berlatih.

Tatapannya perlahan berubah puas.

"Anak ini benar benar monster keras kepala..."

Huang menghentikan gerakannya lalu menangkup kedua tangan. "Guru."

Tetua Mo melambaikan tangan malas. "Istirahat dulu."

Huang segera duduk di atas batu besar sambil mengatur napas. Keringat membasahi seluruh tubuhnya. Selama satu bulan ini dia juga terus bermeditasi setiap malam menggunakan batu roh tingkat rendah.

Dari 133 batu roh tingkat rendah miliknya, Huang telah menggunakan 30 batu roh untuk kultivasi selama satu bulan penuh. Kini di dalam cincin ruangnya tersisa 103 batu roh tingkat rendah, satu pedang perak, dan kitab Teknik Pedang Gravitasi.

Tetua Mo duduk tidak jauh darinya.

"Sebulan lagi akan ada kompetisi murid luar."

Huang mendengarkan dengan tenang meski rasa penasarannya muncul. Namun dia menahan diri untuk tidak banyak bertanya.

"Baik guru."

Tetua Mo mengangguk kecil. "Bagus. Sekarang kau boleh mempelajari Teknik Pedang Gravitasi."

Huang segera mengeluarkan kitab coklat itu dari cincin ruang miliknya lalu membukanya perlahan.

Tulisan di dalamnya tampak tua dan berat, namun mengandung pemahaman mendalam tentang aliran energi spritual.

Saat pedang diayunkan, kekuatan gravitasi di sekitar lawan akan berubah. Tekanan dari atas menimpa tubuh musuh seperti gunung jatuh dari langit, sementara daya tarik dari bawah membuat langkah lawan terasa tenggelam dalam rawa lumpur.

Huang membaca dengan fokus tinggi.

Gerakan melambat...

Tubuh tertekan...

Pertahanan retak...

Tetua Mo berbicara perlahan sambil menatap langit.

"Alasan aku menyuruhmu berlatih dengan beban... agar suatu hari kau tidak dihancurkan kekuatanmu sendiri."

Huang mengangkat kepala.

"Kekuatan besar selalu membawa tekanan besar." Tetua Mo meneguk araknya lagi. "Jika tubuhmu sendiri tidak mampu menahan beban itu, maka teknik ini hanya akan menghancurkan dirimu."

Huang kembali melihat pola aliran energi di dalam kitab.

Tetua Mo melanjutkan, suaranya berat namun tenang. "Pedang bukan hanya alat membunuh. Pedang adalah perpanjangan kehendak. Jika kehendakmu goyah, pedangmu akan goyah. Jika hatimu terlalu ringan, maka kekuatanmu akan mudah diterbangkan dunia."

Huang mendengarkan tanpa berkedip.

"Teknik Pedang Gravitasi sangat cocok dengan dasar gerakanmu yang cepat dan bersih."

Tetua Mo menunjuk tubuh Huang dengan kendi araknya. "Saat lawan tertindas oleh gravitasi, kau harus cepat mengakhiri pertarungan sebelum mereka sempat berpikir."

Tetua Mo tersenyum tipis. "Namun jangan pernah lengah. Dalam pertarungan... satu tarikan napas cukup untuk membalikkan hidup dan mati."

1
Jumadil
semoga arwahnya tidak gentayangan thor
Jumadil
semakin banyak pribahasanya semakin enak ngebacanya
Jumadil
mantap thor kalau ada yang kalah ambil cincinnya,lanjutkan
Fajar Fathur rizky
cepat bantai semu Algojo itu Thor bikin huang mendapatkan semua teknik kuat dari mereka habis itu bantai Dhutoushen dengan yang lainya termasuk klan lang
Zerro One: Oke bro. Besok gaas💪
total 1 replies
Jumadil
MC Nya jago
Fajar Fathur rizky
cepat bantai algojo itu dengan cara paling kejam bikin huang mendapatkan teknik terkuat dari mereka habis itu bikin huang bantai dhu toushen dan komplotannya termasuk juga bikin huang bantai patriak klan lang
Fajar Fathur rizky
bikin huang kejam bikin huang hancurkan dan tian Dhutoushen bikin Dhutoushen jadi sangat tua dan melemah bikin huang membuat Dhutoushen mati di tangan manusia fana
Fajar Fathur rizky: biar makin lemah thor
total 2 replies
Fajar Fathur rizky
Thor bikin huang siksa Dhutoushen dengan cara pisahkan bagian tubuhnya satu persatu bikin Dhutoushen mengutuk cucunya karena dia menyinggung huang bikin Dhutoushen memohon jangan sentuh kerbatnya bikin huang tidak perduli
Aman Wijaya
markotop top top lanjut terus Thor
Fajar Fathur rizky
bikin huang bantai algojo itu thor bikin dapat teknik kuat dari Algojo itu
Zerro One: Oke bro 👍
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bantai dhu toushen dengan cara paling kejam thor bikin tubuhnya jadi boneka perang huang
Zerro One: Oke sipp/Determined/
total 1 replies
Agus Rose
Biasa nya penyatuan tubuh klone ke tubuh utama akan meningkatkan ranah seseorang.
sekarang ranah bumi awal bisa ke ranah menengah bahkan ke ranah akhir.
di tunggu persi othor yg ini apakah dia tau tentang penyatuan ???
Zerro One: Bisa kok bro. Seperti cerita xianxia lainnya juga.
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
Bikin huang hancurkan dantian sha jue bantai juga keluarganya sha jue bikin dia melihat huang membantai keluarganya bikin dia meminta ampuan kepada huang jangan libatkan keluarganya bikin huang tidak perduli bikin sifat huang kejam dan terkenal kekejamannya membantai sha jue bikin sha jue mengutuk dhutoushen
Fajar Fathur rizky: maaf thor lupa saya hahahaha
total 2 replies
Fajar Fathur rizky
thor besok bikin yang banyak thor babnya
yos helmi
jadi tdk menarik ceritanya.. klon terlalu aneh di bilang klon.. sy yakin cerita ini ng pernah nyambung lagi.. awal bagus .. tolol tololnya luar biasa.. 🤣🤣
yos helmi
aneh.. ng naik ranah.. tolol tolooool
Fajar Fathur rizky
cepat naikin ranah huang sampai ranah langit
Fajar Fathur rizky
thor ko belum update bab 86 dan bab selanjutnya thor
Zerro One: Gak sempat nulis kemarin. Lembur👍
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
thor berarti ini teknik klone seperti xuhao ya thor di mana seperti nyawa cadangan jika huang mati bisa memudahkan kesadarannya ke tubuh klone ya thor
Fajar Fathur rizky
thor mau tanya thor itu huang apakah tidak buat tubuh klone untuk nyawa cadangan
Fajar Fathur rizky: bikin huang bikin klone thor jika bikin klone apakah nanti klone punya istri thor
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!