Kelvin, pria dingin dan pewaris perusahaan besar, terpaksa menikahi Denada atas permintaan sang nenek. Awalnya ia menolak karena masih mencintai wanita lain.
Namun setelah hidup bersama, Kelvin mulai tergoda oleh Nada istrinya yang cantik, jahil, dan selalu berhasil membuatnya kehilangan kendali, terutama saat Nada mulai berani menggoda dirinya.
Di tengah pernikahan tanpa cinta, Kelvin perlahan mulai bingung… siapa sebenarnya wanita yang benar-benar ia cintai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16
Malam yang panjang itu akhirnya mencapai ujungnya. Begitu melihat mangkuk sup di atas nampan telah kosong bersih, Nada bangkit berdiri dengan tenang. Ia membereskan peralatan makan tersebut, lalu menatap Kelvin yang kini sedang menyandarkan punggungnya di kepala ranjang dengan raut wajah yang jauh lebih rileks, meski sisa-sisa gengsi masih tertangkap di matanya.
"Tidurlah di kasur, Mas. Biar aku yang tidur di sofa," ujar Nada pelan sembari menunjuk sofa panjang di dekat jendela. Suaranya terdengar datar namun dipenuhi pengertian yang tulus. "Aku tahu kau sibuk seharian ini dan butuh istirahat total untuk bekerja besok."
Kelvin sempat tertegun mendengar kalimat itu. Ego lelakinya sedikit terusik karena membiarkan seorang wanita tidur di sofa, namun tubuhnya yang teramat lelah dan pikirannya yang masih gengsi untuk berbagi ranjang membuat pria itu memilih untuk tidak membantah. Ia hanya diam, menarik selimut tebalnya, dan langsung merebahkan diri memunggungi Nada. Tak butuh waktu lama, deru napas teratur Kelvin terdengar, menandakan sang CEO telah terlelap dengan nyenyak.
Nada yang melihat hal itu hanya tersenyum tipis di dalam kegelapan. Ia mematikan lampu kamar, lalu merebahkan tubuh rampingnya di atas sofa dengan jubah rajut yang membalut tubuhnya, memejamkan mata menyongsong hari esok yang telah ia rancang.
Keesokan paginya, suasana di meja makan kediaman Alexander kembali dipenuhi kehangatan yang diprakarsai oleh Nada. Aroma harum kopi hitam kesukaan Gavin dan teh herbal untuk Eyang Arka sudah tersaji rapi berkat bantuan tangan cekatan Nada.
"Wah, sarapan hari ini kelihatan segar sekali. Benar-benar beda sejak ada Nada di rumah ini," puji Siska sembari mengoleskan selai ke rotinya, menatap sang menantu dengan binar mata sayang.
"Tentu saja, Mama. Kesehatan keluarga adalah prioritas nomor satu bagi saya," jawab Nada manis, sembari menyendokkan bubur gandum rendah kalori ke mangkuk Eyang Arka. "Eyang, dihabiskan ya buburnya. Hari ini cuaca agak terik, jadi Eyang harus menjaga hidrasi dan energi."
Eyang Arka tertawa renyah, menepuk punggung tangan Nada. "Hahaha, iya, iya, Dokter Nada. Eyang pasti habiskan. Kelvin, kamu lihat istri mumu ini? Beruntung sekali kamu memiliki istri yang sangat perhatian."
Kelvin yang baru saja turun dengan setelan jas hitamnya yang rapi hanya berdeham pendek sebagai jawaban. Ia duduk di kursinya, melirik Nada dengan tatapan yang sulit diartikan. Wanita itu kembali mengenakan topeng malaikatnya dengan sangat sempurna pagi ini.
Selesai sarapan, ritual yang sama seperti kemarin terulang kembali. Saat Kelvin bersiap melangkah menuju lobi luar untuk berangkat kerja, Nada dengan sigap menyusulnya di hadapan seluruh keluarga.
"Mas, tunggu," panggil Nada lembut.
Kelvin menghentikan langkahnya, menahan napas siap dengan apa yang akan terjadi. Nada mendekat, meraih tangan kanan Kelvin yang besar, lalu membungkuk sedikit untuk mengecup punggung tangan suaminya dengan takzim.
"Semangat kerjanya hari ini, Mas Kelvin. Hati-hati di jalan," bisik Nada sembari menatap langsung ke manik mata Kelvin dengan binar mata yang penuh arti.
Kelvin yang sudah menduga hal ini tidak lagi terkejut seperti kemarin, namun rasa kesal karena harus terus 'bermain peran' membuatnya hanya bisa mendengus kaku. Ia menarik tangannya dengan tegas, lalu berbalik masuk ke dalam mobil limosinnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Siang harinya, terik matahari membakar lokasi proyek pembangunan resor mewah Alexander Group. Debu-debu beterbangan di antara lalu lalang para pekerja kasar dan deru mesin berat. Kelvin turun dari mobilnya didampingi Raka, mengenakan helm proyek putih, siap untuk menginspeksi area perbukitan yang sedang digali. Raut wajahnya dingin dan tak tersentuh, membuat seluruh kepala pengawas proyek berjalan dengan tegang di belakangnya.
"Tuan Kelvin, ini adalah posko kesehatan darurat yang baru didirikan pagi ini," lapor Pak Baskoro, menunjuk sebuah tenda besar berwarna putih di tepi lokasi proyek. "Seperti yang saya katakan kemarin, tim relawan medis sudah tiba untuk berjaga selama satu bulan ke depan."
Kelvin hanya melirik sekilas ke arah tenda tersebut dengan tatapan datar. Namun, langkah kakinya mendadak berhenti total ketika beberapa petugas medis keluar dari dalam tenda.
Di barisan paling depan, seorang wanita dengan seragam relawan medis berwarna putih dan rompi biru tua tengah berdiri anggun. Rambut hitamnya diikat kuda dengan rapi, menampilkan wajah cantiknya yang tanpa riasan namun memancarkan aura yang begitu tegas.
Denada.
Kelvin mematung, sepasang matanya melebar samar di balik kacamata hitamnya. Jantungnya berdegup kencang karena terkejut. ‘Kenapa perempuan ini bisa ada di sini?!’ batin Kelvin murka.
Nada yang menyadari kehadiran Kelvin tidak menunjukkan keterkejutan sama sekali. Ia melangkah maju bersama ketua tim medis, lalu memberikan penghormatan formal kepada jajaran direksi. Saat matanya bertemu dengan mata tajam Kelvin, Nada mengulas sebuah senyuman profesional yang teramat tipis. Ia sengaja mengajukan diri sebagai relawan medis di proyek ini dengan alasan ingin memastikan kesehatan para pekerja—dan tentu saja, agar bisa mengawasi sang suami dari jarak dekat demi melancarkan rencana terselubungnya.
"Selamat siang, Tuan Alexander," sapa Nada dengan suara yang lugas dan formal, seolah-olah Kelvin adalah orang asing yang baru pertama kali ditemuinya.
Kelvin mengepalkan tangannya di dalam saku celana. Rahangnya mengetat hebat menahan amarah yang bergejolak. Ia menolak untuk mengakui keberadaan Nada di tempat ini. Jangankan menyapa, Kelvin bahkan tidak membalas ucapan Nada. Ia langsung membuang muka dengan ekspresi yang sangat dingin dan kejam, kembali melangkah mengabaikan sosok sang istri.
Di lokasi proyek ini, tidak ada satu orang pun yang tahu tentang status pernikahan mereka. Di mata semua pekerja dan klien, Denada hanyalah seorang dokter relawan biasa yang mengabdikan diri, sementara Kelvin adalah CEO agung yang tak tersentuh.
Raka yang berdiri di belakang Kelvin hanya bisa berkeringat dingin, memandangi punggung bosnya dan senyuman penuh arti yang terukir di bibir manis Nada. Permainan di antara suami istri ini kini telah berpindah ladang, langsung ke bawah hidung duni bisnis Kelvin.