Lima tahun menikah, Kanisha Rayya Shanika selalu percaya bahwa rumah tangganya bersama sang suami, Arven Mahendra, akan berjalan harmonis untuk selamanya. Ia rela menekan mimpinya sendiri demi menjadi istri sempurna dan ibu terbaik bagi anak angkat yang sangat ia cintai. Namun semua kepercayaan itu runtuh dalam satu malam.
Kanisha memergoki Arven berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri—wanita yang selama ini ia anggap hanya rekan kerja biasa. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, kenyataan yang jauh lebih kejam kembali menghantamnya. Anak angkat yang ia rawat dengan penuh kasih ternyata adalah darah daging hasil hubungan terlarang suaminya dengan sang selingkuhan.
Dikhianati sebagai istri sekaligus dipermainkan sebagai seorang ibu, Kanisha memilih pergi dan mengakhiri pernikahan yang telah menghancurkan hidupnya. Dengan tekad untuk bangkit, Kanisha mulai membangun hidup baru dan membuktikan bahwa dirinya bukan wanita lemah yang bisa diinjak begitu saja.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sylvia Rosyta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Dahlia langsung mengangguk setuju, namun tiba tiba...
"Jangan." Suara pelan itu membuat Rendra dan Dahlia terdiam, mereka langsung menoleh bersamaan ketika mendengar Kanisha menolak ayahnya berencana untuk membalaskan rasa sakitnya kepada Arven.
Kanisha berdiri di sana dengan wajahnya yang masih penuh air mata. Tetapi ada sesuatu yang berbeda, sesuatu yang belum pernah mereka lihat sejak putrinya pulang malam ini. Tatapannya tidak lagi sepenuhnya hancur.
"Kanisha?" Dahlia terlihat bingung sedangkan Rendra mengernyit. "Kamu bilang apa barusan? Jangan?"
Kanisha mengusap air matanya perlahan lalu menarik napas panjang.
"Papa nggak perlu turun tangan."
Rendra langsung menggeleng.
"Mustahil papa nggak turun tangan! Dia sudah menghancurkan hidup kamu."
"Tepat karena itu." Kanisha memotong pelan dan membuat kedua orang tuanya terdiam. Kanisha menatap ayahnya lalu ibunya satu per satu. "Papa dan mama nggak perlu mengotori tangan kalian karena Arven. Biar aku yang melakukannya."
Deg, Dahlia dan Rendra saling berpandangan.
Mereka tidak menyangka akan mendengar kalimat itu apalagi dari Kanisha. Putri mereka yang beberapa jam lalu masih menangis karena cinta namun sekarang ada ketegasan di dalam suaranya juga sesuatu yang perlahan bangkit.
"Aku yang akan kasih pelajaran ke dia." Kanisha menghapus air matanya lagi. "Kali ini biar aku sendiri yang menyelesaikannya."
Dahlia menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca.
"Sayang... Apa kamu yakin bisa melakukannya?"
Kanisha tersenyum tipis, senyuman yang sangat kecil namun cukup membuat kedua orang tuanya terdiam.
"Kanisha udah terlalu lama hidup buat Arven."
Suara Kanisha terdengar lirih. "Terlalu lama."
Matanya mulai berkaca-kaca lagi. "Kanisha selalu mikirin dia, selalu menempatkan dia di atas segalanya." Tangannya perlahan mengepal. "Dan hasilnya..." Ia tertawa kecil, tawa yang terdengar pahit. "Kanisha malah kehilangan jati diri Kanisha sendiri."
Dahlia langsung menangis sedangkan Rendra hanya diam mendengarkan karena ia tahu putrinya sedang jujur. Kanisha menghela napas panjang lalu berkata pelan,
"Papa dulu pernah bilang," Rendra langsung menatapnya. "Papa bilang jangan terlalu mencintai seseorang sampai kehilangan dirinya sendiri." Air mata Kanisha kembali jatuh. "Waktu itu Kanisha sama sekali nggak pernah dengerin omongan papa." Dahlia memejamkan mata sedangkan Rendra hanya diam karena memang benar bertahun-tahun lalu ia pernah mengatakan hal itu berkali-kali kepada Kanisha namun saat itu Kanisha terlalu jatuh cinta kepada Arven.
"Kanisha pikir cinta bisa memperbaiki semuanya." Suara Kanisha bergetar. "Ternyata aku salah." Dahlia langsung menggenggam tangan putrinya namun Kanisha berkata, "Kalian juga pernah bilang jangan menikah sama Arven." Mata Dahlia mulai memerah lagi. "Kanisha masih ingat semuanya." Kanisha tersenyum tipis, senyuman yang penuh penyesalan. "Tapi Kanisha terlalu keras kepala untuk mendengarkan perkataan mama dan papa. Kanisha pikir Kanisha bisa bikin arven mencintai Kanisha." Tangisnya hampir pecah lagi. "Tapi ternyata Kanisha nggak bisa."
Suasana di kamar Kanisha terasa sunyi, tidak ada yang berbicara karena tidak ada yang perlu dibantah. Kanisha mengusap wajahnya perlahan, kemudian ia mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, tatapannya terlihat jauh lebih kuat dari sebelumnya.
"Kanisha salah." Kalimat itu keluar dengan tenang. Tanpa menyangkal, tanpa mencari alasan. "Kanisha salah karena nggak mendengarkan kalian. Kanisha salah karena menjadikan cinta sebagai pusat hidup Kanisha. Kanisha salah karena terus mempertahankan seseorang yang bahkan nggak pernah menginginkan Kanisha."
Air mata Kanisha kembali jatuh namun kali ini berbeda. Bukan air mata seorang wanita yang memohon melainkan air mata seseorang yang mulai menerima kenyataan.
"Tapi Kanisha nggak akan terus-terusan membiarkan kesalahan yang Kanisha lakukan bertahan untuk selamanya."
Dahlia membeku termasuk Rendra, karena mereka bisa melihat sesuatu yang perlahan muncul di dalam diri Kanisha. Sebuah keberanian, harga diri dan kekuatan yang pernah hilang yang kini mulai kembali. Kanisha menarik napas panjang lalu berkata perlahan.
"Kanisha akan memperbaiki semuanya. Kali ini Kanisha akan memperbaiki semua kesalahan Kanisha sendiri." Dahlia menggigit bibirnya untuk menahan tangis sementara Kanisha kembali melanjutkan perkataannya. "Kanisha akan buang semua perasaan itu." Tatapan Kanisha terlihat lurus ke depan. "Kanisha akan berhenti hidup demi cinta, akan berhenti hidup demi Arven."
Rendra merasakan dadanya menghangat karena akhirnya ia melihat putrinya kembali.
Kanisha yang dulu. Kanisha sebelum mengenal Arven, Kanisha yang kuat, Kanisha yang berani dan Kanisha yang tidak pernah takut menghadapi siapa pun.
"Kanisha mau kembali jadi diri Kanisha sendiri." Suara Kanisha terdengar tegas. "Sebelum Kanisha mengenal Arven. Kanisha mau kembali jadi Kanisha Rayya Shanika."
Nama itu menggema di dalam kamar dan entah kenapa membuat kedua orang tuanya tersenyum di tengah air mata mereka karena mereka mengenal nama itu. Kanisha Rayya Shanika, Perempuan yang dikenal cerdas, tegas, disegani banyak orang, perempuan yang sejak muda sudah dikenal memiliki kemampuan bisnis luar biasa, perempuan yang tidak pernah membiarkan dirinya diremehkan, perempuan yang dulu membuat mereka begitu bangga. Dan sekarang perempuan itu perlahan kembali.
"Kanisha akan bangkit lagi." Kanisha mengusap air matanya. "Kanisha akan berdiri lagi." Tatapannya berubah semakin kuat. "Dan kali ini," Bibirnya membentuk senyum tipis namun penuh makna. "Kanisha akan memastikan Arven menyesali semua yang sudah dia lakukan sama Kanisha."
Ruangan kembali hening, namun kali ini bukan karena kesedihan melainkan karena harapan. Dahlia menangis sambil memeluk putrinya erat erat sementara Rendra berdiri di tempatnya, memandang putrinya dengan rasa bangga yang perlahan memenuhi dadanya. Ya, Kanisha memang terluka namun putrinya tidak memilih untuk tenggelam, tidak memilih untuk menghancurkan dirinya sendiri, tidak memilih menjadi korban selamanya. Justru sebaliknya, ia memilih bangkit. Dan bagi seorang ayah, tidak ada pemandangan yang lebih membanggakan daripada melihat putrinya berdiri kembali setelah dunia berusaha menghancurkannya.
Dahlia masih memeluk putrinya erat. Tangannya terus mengusap punggung Kanisha dengan lembut seperti saat putrinya masih kecil dulu, seperti saat Kanisha jatuh dari sepeda, seperti saat Kanisha gagal memenangkan lomba yang sangat ia inginkan, seperti saat Kanisha menangis karena patah hati pertamanya semasa sekolah. Namun malam ini berbeda. Luka yang sedang ditanggung putrinya jauh lebih besar daripada semua luka yang pernah ada sebelumnya. Dahlia bisa merasakan tubuh Kanisha yang masih bergetar di dalam pelukannya sementara Rendra memilih berdiri tidak jauh dari mereka.
Pria itu tampak diam namun matanya tidak pernah lepas dari putrinya. Melihat bagaimana perempuan yang selama ini selalu terlihat kuat kini harus memungut kembali serpihan hidupnya sendiri.
"Ma..." suara Kanisha terdengar lirih.
"Iya sayang..."
Kanisha memejamkan matanya dengan erat dan membenamkan wajahnya di pelukan ibunya.
"Kanisha capek..."
Hanya dua kata namun kata itu membuat Dahlia kembali menangis karena ia tahu yang dimaksud putrinya bukan sekadar capek malam ini melainkan capek selama bertahun-tahun. Capek berharap, capek menunggu, capek mencintai dan capek memperjuangkan seseorang yang tidak pernah memperjuangkannya kembali. Dahlia langsung memeluknya semakin erat.
Aku udh mmpir....slm knal....
dr awl aku udh gedek sm s pcundang...kya'nya dia emng ga pnya hti,smp tega ngucapin kta2 mnyakitkn sm istrinya...mnimal kl dia pnya hti,diem aja....kl mau psah,tnggal psah.....yg bkin dngkol,ga ngrsa brslah sm skli.....sntai bgt mlah....
tp abs ni prshaannya bkln hncur,scra pd tngkt dewa kl slma ni bs skses krna usaha sndri....pdhl tnp bntuan istrinya,udh bmgkrut dr dlu kaleee.....😡😡😡
dari semua karyamu , aku selalu suka dengan semua jalan ceritanya kak. Alurnya pas, konfliknya ada, jalan ceritanya rapi dan nggak putus di tengah jalan.
terus tingkatkan semua ceritanya supaya lebih baik kak, aku suka semua🤭☺️