Dengan langkah lemah, Farin mencoba pulang dan meninggalkan semua kenangan tentang lelaki yang pernah menyelamatkannya. Namun baru beberapa langkah menjauh dari pematang sawah, tiba-tiba sebuah suara lirih memanggil namanya dari balik hutan.
“Farin…”
Tubuhnya seketika membeku.
Suara itu… suara yang dulu menemaninya di saat gelap, saat luka dan ketakutan hampir merenggut hidupnya. Suara Althaf.
Jantung Farin berdegup tak karuan. Dengan mata berkaca-kaca ia menoleh cepat ke arah hutan lebat di seberang sawah, berharap menemukan sosok yang selama ini terus ia cari dalam doa-doanya.
Tapi tak ada siapa-siapa.
Hanya angin, dedaunan yang bergoyang pelan, dan keheningan yang terasa begitu menyakitkan.
Air mata Farin jatuh tanpa bisa ditahan. Nama itu kembali menggema dalam hatinya, memenuhi dadanya dengan rindu yang selama ini ia kubur sendirian.
Di tengah sesak yang menghancurkan dadanya, tubuh Farin perlahan melemah. Pandangannya kabur, lututnya tak lagi mampu menopang luka dan rindu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosy_Lea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Suatu Hari Nanti
Tak lama setelah sarapan selesai, suara ketukan pelan kembali terdengar dari balik pintu kamar rawat. “Farin, waktunya fisioterapi. Sudah siap?” tanya perawat dengan senyum lembut.
Jantung Farin langsung berdegup sedikit lebih cepat, tangannya tanpa sadar menggenggam ujung selimut di pangkuannya. Setiap kali mendengar kata fisioterapi, tubuhnya seperti ikut mengingat rasa nyeri yang harus ia lawan.
Namun ia tetap mengangguk pelan. Ibunya segera membantu memakaikan jaket tipis ke tubuh Farin yang masih lemah, lalu merapikan syal di pundaknya dengan gerakan penuh kasih. “Semangat ya, Sayang…” bisiknya sambil mengecup lembut kening putrinya.
Di sudut ruangan, Kakek Harun yang sedang duduk di kursi panjang ikut berseru dengan nada ceria, meski matanya menyimpan kecemasan yang tak bisa disembunyikan sepenuhnya.
“Buktikan kalau cucu Kakek paling kuat!”
Farin tersenyum kecil, tipis sekali, tapi cukup untuk membuat orang-orang yang mencintainya sedikit lega.
Kursi roda mulai bergerak perlahan keluar kamar. Roda-rodanya bergesekan pelan dengan lantai lorong rumah sakit yang dingin.
Setapak demi setapak…
Farin kembali berjalan menuju perjuangan yang harus ia taklukkan, begitu tiba di ruang fisioterapi, aroma antiseptik langsung menyambutnya. Suara alat terapi dan langkah kaki para pasien lain terdengar samar di telinganya.
Terapis membantu Farin berdiri perlahan.
Kedua kakinya langsung bergetar, nyeri itu masih ada, masih menusuk setiap kali ia mencoba menahan beban tubuhnya sendiri.
“Pelan-pelan… tarik napas dulu,” ucap sang terapis menenangkan.
Farin mengangguk kecil, namun saat ia mencoba melangkah, rasa sakit langsung menjalar dari telapak kaki hingga ke betisnya.
Napasnya tercekat, tangannya refleks mencengkeram pegangan besi di samping tubuhnya, keringat mulai muncul di dahinya.
Ibunya yang berdiri tak jauh darinya tampak menahan napas, seolah ikut merasakan sakit itu.
“Farin… kalau capek kita istirahat dulu,” ucap beliau khawatir.
Namun Farin menggeleng pelan, tidak, ia tidak mau menyerah lagi, ia sudah terlalu lama terjebak dalam gelap dan kehilangan, ia ingin sembuh, ingin kembali berjalan normal.
Ingin kembali melihat dunia dengan jelas.
Dan entah kenapa… Di sudut terdalam hatinya, ada satu alasan lain yang membuatnya terus bertahan. Sosoknya yang belum pernah dia lihat.
Bayangannya kembali muncul diam-diam di pikirannya, bagaimana kalau suatu hari nanti mereka bertemu lagi… tapi dirinya masih tak mampu melihat wajah lelaki itu dengan jelas?
Pikiran itu membuat Farin kembali menguatkan langkahnya, satu langkah, lalu langkah berikutnya.
Meski rasa nyeri terus menusuk, ia tetap bertahan sampai sesi terapi selesai.
Saat tubuhnya akhirnya kembali duduk di kursi roda, Farin langsung memejamkan mata lelah, dadanya naik turun cepat, tangannya gemetar kecil.
Ibunya segera mengusap pelan punggung putrinya yang dipenuhi peluh. “Kamu hebat sekali hari ini…” bisiknya lirih dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Tak lama kemudian, ayah Farin datang menghampiri dari luar ruangan terapi.
Beliau jongkok di depan kursi roda Farin lalu tersenyum hangat. “Putri Ayah kuat,” ucapnya pelan. “Allah nggak mungkin membawa kamu sejauh ini hanya untuk menyerah di tengah jalan.”
Kalimat itu menghantam pelan hati Farin, matanya terasa panas, dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Farin mulai percaya, mungkin dirinya benar-benar bisa sembuh.
Namun rasa tenang itu tak bertahan lama.
“Setelah ini kita ke poli mata ya, Nak,” ujar ibunya lembut.
Jantung Farin kembali menegang, poli mata.
Tempat yang sejak tadi diam-diam paling ia takuti, karena di sanalah semua jawaban tentang masa depannya akan ditentukan.
Dengan didampingi ayah dan ibunya, Farin kembali didorong menyusuri lorong rumah sakit menuju poli mata.
Lorong saat itu terasa jauh lebih ramai, suara roda brankar, panggilan perawat, bunyi monitor medis, semua terdengar bercampur menjadi satu di telinga Farin yang dipenuhi kegelisahan.
Ia diam, namun jemarinya terus meremas ujung selimut di pangkuannya, doanya tak berhenti mengalir dalam hati.
Ya Allah… jangan ambil cahaya itu sepenuhnya dariku…