11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pertemuan singkat sang tuan putri
Pertemuan tak terduga itu membawa kebahagiaan yang luar biasa besar bagi Cindy Gulla. Sebagai putri tunggal sekaligus pewaris utama Kerajaan Palipurna, Cindy sama sekali bukan gadis manja yang cuma tahu berdiam diri di balik tembok istana mewah. Ambisinya untuk menempa diri dan menjadi kuat bukan karena kerajaannya sedang terancam bahaya, melainkan murni dari tekad yang membara hebat di dalam dadanya sendiri. Itulah alasan mengapa ia rela pergi jauh dari rumah, menempuh perjalanan berbulan-bulan lamanya demi menuntut ilmu bela diri di sebuah perguruan tinggi yang terkenal bernama Arpati.
Setelah cukup lama melepas rindu dan berbincang hangat dengan Yuse, Cindy akhirnya berpamitan untuk melanjutkan perjalanan kembali ke tempat ia belajar. Namun, nasib buruk seolah sengaja menghadang di tengah jalan. Langkah kaki sang putri beserta pasukan pengawalnya tiba-tiba terhenti rapat oleh sekelompok orang asing yang berwajah beringas dan penuh niat jahat. Tatapan mereka tajam dan rakus, terpusat tepat pada buku tua yang sedang dipeluk erat di dada Cindy.
“Apa maksud kalian menghalangi jalan kami?!” bentak Cindy tegas, sambil mendekap buku itu makin erat seolah itu adalah nyawanya sendiri.
Seorang pria bertubuh kekar dan tinggi besar melangkah maju dari barisan musuh. Wajahnya penuh luka bekas pertarungan, menampakkan betapa kejam dan berpengalamannya ia.
“Aku Drugsana dari Padepokan Lintis Bumi!” suaranya berat dan menggema. “Tujuanku ke sini cuma satu: mengambil buku tua yang sedang kau peluk itu, Tuan Putri!”
Tentu saja Cindy menolak mentah-mentah. Bagaimana mungkin ia mau menyerahkannya? Buku itu bukan sekadar tumpukan kertas tua dan debu, melainkan satu-satunya barang berharga yang diberikan oleh orang yang sudah menyelamatkan nyawanya, orang yang paling ia kagumi dan hormati seumur hidupnya.
Penolakan tegas itu seketika menyulut amarah Drugsana.
“SERANG MEREKA! REBUT BUKUNYA DENGAN CARA APA PUN!” raungnya murka.
Pertarungan berdarah pun langsung pecah di tengah jalan raya yang sepi. Pasukan pengawal Kerajaan Palipurna segera menghunus senjata mereka, bertarung sekuat tenaga demi melindungi sang putri tunggal. Namun sayang sekali, perbedaan tingkat kekuatan antara kedua belah pihak terlalu jauh. Pasukan Drugsana bergerak dengan sangat kejam, cepat, dan terlatih sempurna. Satu per satu, para pengawal setia Cindy mulai tumbang bersimbah darah, jatuh tak bergerak lagi ke tanah.
Jauh dari sana, Yuse yang sedang berjalan santai di area pasar tiba-tiba menghentikan langkahnya. Kemampuan pendeteksi aliran energi yang ia latih dengan tekun selama sebelas tahun lamanya bergejolak hebat di dalam dadanya. Ia merasakan dua aliran kekuatan besar yang sedang berbenturan hebat tidak jauh dari tempatnya berada — pertanda jelas adanya pertempuran yang sangat dahsyat. Tanpa sadar, pikirannya langsung terbang memikirkan keselamatan Cindy Gulla yang baru saja berpamitan dengannya.
Dengan raut wajah yang tetap tenang namun penuh perhitungan matang, Yuse segera menoleh ke arah Yamaika Brisa yang berjalan di sampingnya.
“Brisa, aku harus pergi sebentar untuk menolong seseorang. Kau kembalilah ke penginapan dan tunggu aku di sana, ya,” ujarnya singkat namun tegas.
Tanpa menunggu jawaban atau pertanyaan lebih lanjut dari gadis berambut perak itu, tubuh Yuse langsung melesat secepat kilat, menghilang di balik kerimbunan pepohonan dalam sekejap mata.
Melompat lincah dari dahan ke dahan, Yuse akhirnya tiba di lokasi pertempuran. Dari atas pohon yang tinggi, matanya dengan jelas menangkap sosok Cindy yang mulai terdesak hebat di tengah kepungan musuh yang jumlahnya banyak. Tanpa pikir panjang sedikit pun, Yuse langsung terjun bebas ke tengah medan pertempuran. Pedang di tangannya berkelebat sangat cepat, menebas dan menumbangkan para anggota Padepokan Lintis Bumi yang berani mencoba mendekati sang putri.
Melihat anak buahnya dihabisi dengan begitu mudah dan cepat, Drugsana semakin marah besar dan langsung maju sendiri untuk menantang Yuse. Duel satu lawan satu antar pengguna ilmu pedang kelas atas pun tak terhindarkan. Pertarungan mereka berlangsung sangat sengit, brutal, dan menakutkan. Dentingan besi yang saling beradu menggema hebat ke segenap penjuru, menciptakan gelombang kejut yang cukup kuat hingga mampu merobohkan pohon-pohon besar di sekeliling mereka. Keduanya sama-sama tangguh, sama-sama kuat, dan saling serang tanpa ada yang mau mengalah seujung rambut pun.
Di tengah keadaan yang semakin buntu dan seimbang itu, Yuse akhirnya memutuskan untuk mengeluarkan salah satu jurus andalan terkuatnya. Ia menghentakkan kedua kakinya kuat-kuat ke permukaan tanah, mengalirkan seluruh energi murni yang ada di dalam tubuhnya ke sekelilingnya. Seketika itu juga, puluhan senjata pedang milik para prajurit yang sudah gugur tergeletak di tanah mulai bergetar hebat, lalu perlahan terangkat dan melayang tinggi ke udara. Dengan satu lambaian tangan santai dari Yuse, puluhan pedang itu melesat cepat seolah memiliki nyawa sendiri, menghujani posisi Drugsana dari segala arah.
Drugsana sempat tersentak kaget, namun ia masih cukup cekatan dan sigap. Dengan kecepatan yang luar biasa, ia terus mengayunkan pedangnya tanpa henti, menangkis setiap rentetan senjata yang mengarah padanya hingga seluruh pedang itu terpental jauh ke angkasa.
Namun, serangan itu hanyalah pengalihan perhatian semata. Tepat saat Drugsana baru saja menyelesaikan gerakan tangkisannya dan belum sempat mengambil napas, tubuh Yuse sudah melompat tinggi ke atas langit. Bersamaan dengan itu, puluhan pedang yang tadi terpental jauh kini berbalik arah, meluncur turun dengan kecepatan penuh persis seperti hujan meteor yang memancarkan aura merah membara, mengunci seluruh ruang gerak Drugsana hingga tak ada celah sedikit pun untuk lolos.
Melihat bahaya maut yang ada tepat di depan matanya, rasa panik dan ketakutan mulai merayapi seluruh hati Drugsana. Ia memaksakan sisa seluruh tenaga yang ada di tubuhnya untuk menahan gempuran hujan meteor pedang tersebut. Walaupun ia berhasil menangkis benturan fisik senjatanya, namun aura merah yang dipancarkan dari pedang Yuse membawa tekanan yang sangat berat dan hawa panas yang menyengat hingga membakar kulitnya.
Memanfaatkan celah kecil yang tercipta karena rasa sakit itu, Yuse segera melesat maju dari arah samping yang tak terlihat, lalu melayangkan satu tebasan telak tepat ke bagian dada kirinya.
BUUUMMM!!!
Drugsana terpental jauh ke belakang, menghantam dinding batuan cadas yang keras hingga retak-retak, lalu jatuh terkapar tak berdaya. Darah segar menyembur deras dari mulutnya, menandakan ia terluka parah dan tak mampu bertarung lagi.
Yuse menghela napas panjang lega, mengira pertempuran yang panjang dan melelahkan itu akhirnya telah usai. Namun secara tak terduga, sesosok manusia bertopeng misterius tiba-tiba muncul dari balik bayang-bayang pepohonan, lalu langsung meluncurkan serangan mendadak yang mematikan ke arah Yuse.
Yuse yang sudah kehabisan banyak tenaga dan energinya terkuras habis akibat duel maut melawan Drugsana sama sekali tidak sempat bersiap atau menghindar. Tubuhnya terasa lemas tak bertenaga, lututnya merunduk menyentuh tanah. Jangankan untuk membalas serangan, untuk sekadar mengangkat pedang atau menghindar dari tebasan maut yang mengarah tepat ke lehernya pun ia sudah tidak memiliki sisa kekuatan lagi.
Di detik-detik yang sangat kritis dan menentukan itu, sebuah keajaiban yang tak terbayangkan terjadi.
“JAUHI DIA!!!”
Teriakan Cindy Gulla menggema nyaring dan penuh kekuatan.
Secara mengejutkan, seluruh tubuh Cindy mendadak memancarkan aura api yang sangat agung dan dahsyat, membentuk siluet seekor burung Phoenix raksasa yang sayapnya melebar luas hingga menutupi langit. Tanpa ragu sedikit pun, Cindy segera menghempaskan seluruh gelombang api panas itu ke arah pria bertopeng dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Karena kekuatan besar itu masih terlalu mentah dan belum terlatih sempurna, si pria bertopeng masih sempat melompat mundur cepat untuk menghindar dari lahapan api yang membakar segalanya.
Sadar bahwa situasi tidak lagi menguntungkan baginya dan energinya sendiri mulai terkuras sedikit akibat tekanan aura Phoenix yang sangat murni itu, pria bertopeng itu memutuskan untuk tidak membuang waktu lagi. Dengan gerakan yang sangat cepat dan gesit, ia menyambar tubuh Drugsana yang tergeletak terluka parah, lalu melompat tinggi ke dalam hutan lebat dan menghilang begitu saja.
Medan pertempuran akhirnya kembali sunyi senyap. Yuse yang tergeletak lemas segera dipapah dengan hati-hati oleh Cindy dan sisa pasukannya yang masih selamat. Mereka bergegas menaikkan tubuh Yuse ke dalam kereta kuda kerajaan yang nyaman, lalu segera melaju kembali menuju penginapan tempat Yuse dan Brisa menginap.
Di dalam kereta yang berjalan perlahan berguncang pelan, Yuse duduk bersandar lembut sambil menahan rasa nyeri di seluruh tubuhnya. Pikirannya dipenuhi oleh sejuta pertanyaan besar tentang kejadian yang baru saja ia alami.
“Jurus yang tadi kau keluarkan… sangat bagus, kuat, dan luar biasa sekali,” buka Yuse pelan, memecah keheningan di dalam kereta. “Apakah itu adalah jurus rahasia atau ilmu utama dari perguruan Arpati tempatmu belajar?”
Cindy yang sedang sibuk membersihkan dan membalut luka di tangan Yuse menggeleng pelan, lalu menjawab dengan nada santai namun lembut.
“Bukan, Yuse. Aku sama sekali tidak mempelajari itu di sana. Aku menguasai gerakan dan kekuatan tadi… dari buku tua yang dulu kau berikan kepadaku.”
Mendengar jawaban itu, seulas senyum tipis namun hangat terukir di bibir Yuse. Sebenarnya, instingnya sudah tahu sejak pertama kali melihat bentuk dan jenis aura yang keluar tadi, namun ia hanya ingin memastikan kebenarannya langsung dari mulut Cindy.
“Jadi begitu rupanya…” gumam Yuse pelan sambil menatap wajah gadis di depannya. “Tapi bukankah tadi kau bilang kalau kau baru berhasil mempelajari dan menguasai gerakan dasarnya saja? Kekuatan Phoenix yang tadi kau keluarkan memiliki tingkat kemurnian dan kepadatan energi yang sangat tinggi, jauh melampaui sekadar gerakan dasar.”
Cindy menghentikan gerakan tangannya sejenak. Ia mengangkat wajahnya, lalu menatap lurus ke mata Yuse dengan tatapan yang tulus, sedikit bingung, namun juga penuh perasaan yang mendalam.
“Aku juga tidak tahu pasti mengapa bisa sekuat itu sendiri,” aku Cindy jujur, pipinya perlahan memerah merona cantik. “Tapi waktu itu… saat melihatmu terluka parah dan terancam bahaya maut di depan mataku, tiba-tiba saja ada dorongan kuat yang keluar dari lubuk hatiku yang paling dalam. Dorongan itu memaksaku untuk bergerak, memaksaku menjadi kuat, dan memaksaku untuk melindungimu dengan segala cara yang aku punya. Mungkin… rasa takut kehilanganmu dan keinginan kuat untuk melindungimulah yang membuat kekuatan yang selama ini tidur di dalam tubuhku akhirnya bangun dan keluar sebesar itu.”