NovelToon NovelToon
TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

TERJEBAK DI ANTARA DUA CERITA

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:333
Nilai: 5
Nama Author: Rhin Pasker

Dua penulis rival.
Dua dunia cerita.
Dua takdir yang seharusnya tidak pernah bertemu.
Namun sebuah kecelakaan mengubah segalanya mereka terlempar ke dalam dunia novel yang mereka ciptakan sendiri.
Mo Chen, pangeran ketiga yang dianggap lemah namun menyimpan kekuatan tersembunyi.
Gu Yanran, putri panglima perang yang difitnah dan ditakdirkan mati demi politik kekaisaran.
Masalahnya… mereka tidak masuk ke dunia mereka sendiri.
Mereka masuk ke dunia satu sama lain.
Dan ketika dua cerita yang berbeda mulai menyatu, alur yang seharusnya sudah ditentukan mulai retak.
Kini tidak ada lagi naskah yang pasti.
Hanya satu pertanyaan yang tersisa:
Apakah mereka bisa mengubah akhir… sebelum cerita mengubah mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhin Pasker, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

UJIAN DI GERBANG KEDIAMAN GU

Di balik senyum tenangnya…

Kaisar bukanlah sosok yang sederhana.

Ia licik.

Sabar.

Dan sangat pandai menunggu waktu.

Pernikahan antara keluarga Gu dan keluarga kekaisaran sejak awal bukanlah bentuk penghargaan.

Bukan pula kepercayaan.

Melainkan rantai.

Ia ingin mengikat Gu Zhengyuan perlahan.

Mendorongnya masuk ke dalam pusaran politik istana.

Lalu menunggu.

Menunggu sang panglima melakukan satu kesalahan kecil saja.

Satu langkah yang bisa dianggap ancaman bagi tahta.

Dan ketika saat itu tiba…

Kaisar akan menghancurkan keluarga Gu tanpa ampun.

Namun rencananya tidak berjalan sesuai harapan.

Pangeran Pertama tiba-tiba menolak perintah.

Dan yang paling tidak terduga…

Mo Chen ikut campur.

Pangeran Ketiga yang selama ini dianggap tidak berguna justru muncul tepat di tengah kekacauan.

Kaisar mulai merasa terganggu.

Karena situasi perlahan keluar dari kendalinya.

Yang lebih berbahaya lagi…

hati rakyat.

Bukan kepada keluarga kekaisaran.

Melainkan kepada satu nama.

Gu Zhengyuan.

Sang Panglima Perang (JENDRAL GU).

Pahlawan kerajaan.

Orang yang dicintai tentara dan rakyat.

Dan bagi seorang Kaisar…

itu adalah ancaman terbesar.

Keesokan Harinya

Pagi datang bersama kabut tipis yang menyelimuti ibu kota.

Udara masih dingin.

Embun menggantung di dedaunan halaman kediaman keluarga Gu.

Di depan gerbang besar bercorak hitam emas…

Mo Chen berdiri dengan santai.

Tangannya berada di belakang punggung.

Wajahnya terlihat tenang seperti biasa.

Namun matanya mengamati setiap sudut kediaman itu.

Megah.

Tapi sederhana.

Tidak berlebihan seperti rumah bangsawan lain.

Sangat mirip pemiliknya.

Kuat.

Tegas.

Tidak suka kemewahan kosong.

Beberapa penjaga langsung menegang saat melihat kedatangannya.

Salah satu dari mereka maju memberi hormat.

“Salam, Yang Mulia Pangeran Ketiga.”

Mo Chen mengangguk kecil.

“Aku ingin bertemu Nona Gu.”

Penjaga itu terlihat ragu.

“Maaf, Yang Mulia. Panglima tidak menerima tamu pagi ini.”

Mo Chen tersenyum tipis.

“Aku tidak datang untuk bertemu Panglima.”

Ia berhenti sejenak.

“Aku datang untuk bertemu calon istriku.”

Beberapa penjaga langsung saling melirik.

Belum sempat mereka menjawab…

suara berat terdengar dari dalam halaman.

“Sepertinya semalam kau tidak bisa tidur.”

Langkah kaki perlahan mendekat.

Gu Zhengyuan muncul dari balik gerbang bagian dalam.

Masih mengenakan pakaian latihan sederhana.

Namun aura seorang jenderal begitu kuat hingga udara terasa berat.

Tatapannya dingin.

“Pagi buta sudah berdiri di depan kediaman Gu.”

Mo Chen tersenyum santai.

Ia langsung mengerti situasinya.

Di depannya sekarang bukan Panglima Perang kerajaan.

Melainkan seorang ayah posesif yang tidak rela putri satu-satunya direbut orang lain.

“Kalau kau ingin bertemu Yanran…”

Gu Zhengyuan melangkah turun perlahan.

Tatapannya menusuk tajam.

“kalahkan aku dulu.”

Sunyi.

Para penjaga langsung menegang.

Mereka bahkan menahan napas.

Namun Mo Chen tidak terlihat terkejut.

Ia justru tersenyum kecil.

“Aku hanyalah pangeran lemah yang suka bermalas-malasan.”

Gu Zhengyuan mendengus pelan.

“Orang lain mungkin bisa kau tipu.”

Ia berhenti tepat di depan Mo Chen.

Aura tekanan perlahan menyebar.

“Tapi aku dibesarkan di medan perang.”

Tatapannya menusuk lurus.

“Aku tahu siapa yang benar-benar lemah.”

Sedikit jeda.

“Dan kau…”

“…bukan salah satunya.”

Mo Chen tidak langsung menjawab.

Tatapan keduanya saling bertemu tanpa mundur sedikit pun.

“Jangan samakan aku dengan orang-orang bodoh di istana kekaisaran,” lanjut Gu Zhengyuan dingin.

“Mereka mungkin buta.”

“Tapi aku tidak.”

Angin pagi berhembus perlahan.

Suasana menjadi jauh lebih tegang.

Lalu…

Mo Chen tertawa kecil.

“Julukan Panglima memang tidak sia-sia.”

Gu Zhengyuan tetap tidak tersenyum.

“Aku juga bukan seperti Kaisar…”

Nada suaranya berubah lebih rendah.

“…yang ingin melenyapkan orang yang telah membantunya naik tahta.”

Mata Mo Chen sedikit menyipit.

Untuk pertama kalinya…

ekspresinya berubah serius.

“Jadi… kau sudah tahu.”

Gu Zhengyuan menatapnya lurus.

“Aku tahu cukup banyak.”

“Ayahandaku menganggap semua orang bidak.”

“Termasuk dirimu.”

“Termasuk keluarga Gu.”

Mo Chen terdiam sesaat sebelum akhirnya berkata pelan,

“Kalau begitu…”

“kenapa kau masih setia padanya?”

Gu Zhengyuan tertawa pendek.

Namun tidak ada kehangatan di sana.

“Setia?”

Tatapannya dingin.

“Aku setia pada kerajaan.”

“Bukan pada pria yang duduk di atas tahta.”

Kalimat itu begitu tajam hingga para penjaga langsung menunduk lebih dalam.

Mo Chen menatap Gu Zhengyuan cukup lama.

Lalu perlahan mengangguk.

“Tenang saja.”

“Aku berada di pihakmu.”

Sedikit jeda.

“Terlebih sekarang…”

Ia tersenyum santai.

“…aku adalah calon menantumu.”

Sunyi.

Beberapa penjaga langsung membeku.

Wajah Gu Zhengyuan perlahan berubah.

“MENANTU?”

Aura membunuh langsung meledak.

Burung-burung di pohon beterbangan kaget.

“Siapa yang kau sebut ayah mertua?!”

Dalam sekejap Gu Zhengyuan melangkah maju.

Tekanan mengerikan langsung memenuhi halaman.

Para penjaga panik.

Namun sebelum sesuatu terjadi

“AYAH!”

Suara wanita terdengar keras dari dalam.

Semua gerakan berhenti.

Gu Yanran muncul dengan langkah cepat.

Rambut panjangnya bergerak tertiup angin pagi.

Tatapannya tajam.

Ia langsung berdiri di antara mereka.

“Cukup.”

Gu Zhengyuan menahan gerakannya.

Namun wajahnya masih penuh kekesalan.

“Yanran, minggir.”

“Tidak.”

Jawabannya cepat dan tegas.

“Dia tamuku.”

“Tamumu?!”

Gu Zhengyuan hampir tidak percaya.

“Dia itu pangeran!”

“Dan calon suamiku.”

Sunyi.

Para penjaga langsung pura-pura tidak mendengar.

Wajah Gu Zhengyuan terlihat seperti baru saja terkena serangan mendadak.

Mo Chen hampir tertawa melihat ekspresinya.

Gu Yanran menatap ayahnya lembut.

Namun tetap tegas.

“Ayah…”

“Sejak kapan Ayah jadi orang yang gegabah?”

Gu Zhengyuan menghela napas kasar.

“Ayah tidak gegabah.”

“Ayah hanya tidak percaya pada pria ini.”

Gu Yanran tersenyum tipis.

“Itu wajar.”

Ia melangkah mendekat sedikit.

“Tapi Ayah sendiri yang selalu mengajariku…”

“…kalau aku cukup kuat untuk memilih jalanku sendiri.”

Gu Zhengyuan terdiam.

Tatapannya perlahan melunak.

“Dan sekarang…”

Gu Yanran melirik Mo Chen sekilas.

“aku memilih mempercayainya.”

Sunyi beberapa saat.

Angin pagi berhembus pelan.

Akhirnya Gu Zhengyuan menghela napas panjang.

“Kau benar-benar seperti ibumu.”

Gu Yanran sedikit terkejut.

Namun ia tersenyum kecil.

“Sayangnya aku bahkan tidak pernah mengenalnya.”

Tatapan Gu Zhengyuan berubah lebih lembut.

“Itulah kenapa…”

“Ayah tidak ingin kehilanganmu juga.”

Hening.

Gu Yanran memegang lengan ayahnya perlahan.

“Aku tidak akan hilang.”

Gu Zhengyuan menatap putrinya cukup lama.

Lalu akhirnya menyerah.

“…Baiklah.”

Ia menoleh ke arah Mo Chen.

Tatapannya masih tajam.

“Tapi kalau kau menyakitinya…”

Mo Chen langsung menjawab tanpa ragu.

“Aku tidak akan hidup cukup lama untuk menyesalinya.”

Sunyi.

Gu Zhengyuan menatapnya beberapa detik.

Lalu mendengus pelan.

“Masuklah.”

Di Dalam Kediaman Gu

Suasana di dalam jauh lebih tenang.

Tidak ada kemewahan berlebihan.

Ruangan dipenuhi aroma teh dan kayu cendana.

Gu Yanran dan Mo Chen duduk berhadapan.

Tidak ada pelayan.

Tidak ada pengawal.

Hanya mereka berdua.

Sunyi cukup lama.

Hingga akhirnya

“Kau bukan orang dari dunia ini.”

Gu Yanran langsung berbicara tanpa basa-basi.

Mo Chen tersenyum kecil.

“Akhirnya kita berhenti berpura-pura.”

Ia menatapnya lurus.

“Dan kau…”

“…adalah orang yang menulis dunia ini.”

Gu Yanran tidak terlihat terkejut.

“Aku sudah menduganya sejak tadi malam.”

“Karena dialogmu terlalu aneh untuk seorang karakter.”

Mo Chen tertawa kecil.

“Dan tindakanmu terlalu tidak masuk akal untuk seorang putri bangsawan.”

Mereka saling menatap beberapa saat.

Lalu

“Aku Zhao Wei.”

Gu Yanran membeku sesaat.

Nama itu…

sangat familiar.

“…Lin Xueyi.”

Sunyi.

Mata mereka membesar hampir bersamaan.

Dan untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini…

mereka benar-benar syok.

“Tidak mungkin…”

“Kau serius?”

“Kau Zhao Wei?!”

“Dan kau Lin Xueyi?!”

Mereka hampir berbicara bersamaan.

Lalu mendadak suasana menjadi kacau.

“Kau penulis arogan yang selalu menghancurkan logika cerita orang lain itu?!”

Mo Chen langsung menunjuknya.

“Kau juga penulis sadis yang suka membunuh karakter favorit pembaca!”

“Itu namanya pembangunan emosi!”

“Itu namanya trauma massal!”

“Kau bahkan membuat tokoh utama mati tiga kali!”

“Karena cerita butuh penderitaan!”

“Kau membuat ending novelku jadi bahan hinaan publik!”

“Kau dulu yang menulis review pedas di forum!”

“Itu kritik membangun!”

“Itu penghinaan!”

Perdebatan langsung pecah.

Semua uneg-uneg yang selama ini mereka tahan di dunia nyata akhirnya keluar begitu saja.

Mereka saling menyalahkan.

Saling mengejek.

Saling mengungkit komentar lama di forum penulis.

“Kau pernah bilang karakterku dangkal!”

“Karena memang dangkal!”

“Dan kau pernah bilang ending-ku terlalu romantis!”

“Karena semua karaktermu jatuh cinta hanya dalam tiga bab!”

“Setidaknya karakternya hidup!”

“Karaktermu hidup hanya untuk menderita!”

Mereka terus berdebat hingga akhirnya

sunyi.

Napas keduanya sedikit terengah.

Lalu…

entah siapa yang mulai duluan.

Mereka tertawa.

Tawa yang awalnya kecil perlahan membesar.

Lega.

Sangat lega.

Karena akhirnya semua yang selama ini hanya dipendam…

terucap juga.

Setelah cukup lama tertawa, suasana perlahan tenang kembali.

Hening.

Namun kali ini tidak canggung.

Lin Xueyi perlahan mengulurkan tangannya.

Tatapannya tulus.

“Maaf… untuk selama ini.”

Zhao Wei terdiam.

Ia melihat tangan itu beberapa saat.

Lalu tersenyum kecil.

Dan menerimanya.

“Ya…”

“Aku juga minta maaf.”

Jabat tangan itu sederhana.

Namun terasa anehnya tulus.

Seolah rival bertahun-tahun akhirnya berhenti saling menyerang.

Mo Chen tertawa kecil.

“Menarik…”

“Penulis pria masuk ke cerita penulis wanita.”

Gu Yanran menyipitkan mata.

“Dan penulis wanita malah terjebak di cerita penulis pria.”

“Ini pasti lelucon kosmik.”

“Atau hukuman.”

“Kau yakin bukan karena pembaca muak melihat kita bertengkar di internet?”

Gu Yanran terkekeh kecil.

Mereka kembali terdiam.

Namun kini suasananya jauh berbeda.

Tidak lagi penuh kecurigaan.

Melainkan pemahaman.

Karena hanya mereka berdua yang mengerti situasi ini.

“Jadi…”

Mo Chen menyandarkan tubuhnya.

“Kita berdua adalah kesalahan dalam cerita ini.”

Gu Yanran menggeleng pelan.

“Bukan kesalahan.”

Tatapannya tajam.

“…variabel.”

Mo Chen tersenyum lebih dalam.

Untuk pertama kalinya sejak datang ke dunia ini…

ia merasa tidak sendirian.

Dan di momen itu mereka akhirnya mengerti.

Mereka bukan musuh.

Namun…

belum sepenuhnya sekutu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!