kisah pemuda yang terobsesi cinta
memutuskan untuk mengambil jalan lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon HERMAWAN 505, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah menuju pohon terkutuk
BAB 19 - Langkah Menuju Pohon Terkutuk
Ahmad melangkah mendekati Agus dan paman Mira. Wajahnya tampak begitu serius di bawah temaram cahaya senter ponsel yang bergoyang ditiup angin malam.
Tanpa mengucap sepatah kata pun, Ahmad mengangkat tangan kanannya. Ia merapalkan sebuah doa pendek yang terdengar lirih.
"Pejamkan mata kalian, lalu buka perlahan setelah saya hitung sampai tiga," instruksi Ahmad tegas.
Dengan cepat, Ahmad menyapukan telapak tangannya ke wajah Agus dan paman Mira secara bergantian.
Agus dan pamannya menuruti perintah itu dengan jantung yang berdebar kencang. Rasa dingin yang aneh mendadak menjalar dari dahi, merambat turun hingga ke kelopak mata mereka.
"Satu... dua... tiga... buka," bisik Ahmad.
Begitu mata mereka terbuka, betapa terkejutnya mereka saat pemandangan di hadapan mereka seketika berubah total. Batu hitam besar yang tadinya berdiri kokoh, kini telah lenyap dan berganti menjadi sebuah rumah tua yang angker.
Tepat di teras rumah kayu itu, berdiri seorang kakek tua dengan sepasang mata merah menyala yang menatap tajam ke arah mereka. Raut wajah kakek itu dipenuhi amarah yang membara, seolah siap menguliti siapa saja yang berani mengusik ketenangannya.
"Astagfirullah!" ucap Agus dan paman Mira hampir bersamaan, bibir mereka mendadak kelu.
"Be-benar, ini rumahnya. Dan kakek tua itu... dia dukunnya," ujar Agus dengan telunjuk yang gemetar hebat, menunjuk ke arah pria tua di teras rumah tersebut. Nadanya semakin bergetar ketakutan di ujung kalimat.
Beda halnya dengan paman Mira. Pria paruh baya yang tadinya paling keras bersuara itu kini hampir berbalik arah untuk lari karena ketakutan. Beruntung, Ahmad dengan sangat sigap langsung mencengkeram erat pundaknya, menahan agar sang paman tidak kabur sendirian ke dalam gelapnya hutan.
Momen ini menjadi bukti telak bahwa nyali besar sang paman runtuh seketika, menciut tak bersisa saat berhadapan langsung dengan kakek tua misterius yang diselimuti aura amarah tersebut.
Ahmad menatap lurus ke arah teras, lalu berbisik tanpa mengalihkan pandangannya dari si kakek tua.
"Sekarang kita bagi tugas. Nak Agus dan Om fokus cari barang-barang yang berkaitan sama Adik Mira di bawah pohon beringin besar sebelah sana," ujar Ahmad tegas, menunjuk ke arah pohon tua yang cabangnya melambai mengerikan di sudut halaman.
"Biar dukunnya jadi urusan saya," lanjut Ahmad lagi, suaranya terdengar sangat tenang namun dipenuhi keyakinan yang kuat.
"Ayo, Paman, kita ke pohon beringin itu! Saya tahu di mana dulu Indra meletakkan sesajennya," seru Agus mencoba meyakinkan pamannya.
"Saya tidak mau! Saya mau ikut Bang Ahmad saja!" sahut paman Mira ketus, tangannya mencengkeram lengan baju Ahmad dengan erat karena telanjur ketakutan melihat si kakek tua.
Agus menghela napas pendek, lalu menatap tajam sang paman yang masih saja mementingkan rasa takutnya sendiri.
"Sudah, Om, kita kan sudah bagi tugas. Ini semua demi kebaikan Mira. Dia itu keponakan Om juga, kan?!" tegas Agus, mengingatkan kembali tujuan awal mereka nekat menembus hutan malam-malam begini.
Bukannya luluh dengan ucapan Agus, paman Mira justru malah semakin menjadi-jadi. Rasa takut yang bercampur aduk dengan gengsi membuat emosinya kembali meledak di tempat yang salah.
"Kamu diam! Tidak usah sok-sokan jadi pahlawan di sini! Ini semua kan memang ulah kamu sama bajingan yang bernama Indra itu!" bentak paman Mira dengan suara tertahan namun penuh penekanan, matanya melotot tajam ke arah Agus.
"Cukup! Jaga lisan dan amarah Om di tempat seperti ini!" potong Ahmad cepat. Suaranya yang dingin dan tajam seketika membungkam mulut paman Mira yang hendak protes lagi.
Ahmad menatap paman Mira dengan tatapan memperingatkan, lalu beralih ke arah pohon beringin.
"Energi amarah Om justru akan menjadi kekuatan bagi makhluk di depan kita. Kalau Om mau Mira selamat, buang ego Om sekarang. Ikut Nak Agus dan amankan barang-barang di bawah pohon beringin itu. Biarkan saya yang menahan dukun ini," tegas Ahmad, penuh wibawa yang tak bisa ditolak.
Paman Mira menelan ludah dengan susah payah. Meskipun wajahnya masih menyiratkan rasa kesal dan dendam pada Agus, rasa takutnya pada aura gaib di teras rumah jauh lebih besar. Ditambah lagi gertakan Ahmad barusan sukses membuat nyalinya menciut total.
Ahmad mulai melangkah maju sendirian mendekati teras rumah panggung. Sepasang mata merah si kakek tua tampak menyipit tajam, mengunci pergerakan sang santri senior dengan raut wajah yang semakin murka.
Sementara itu, Agus dan paman Mira masih terdiam terpaku di tempatnya berdiri. Mereka malah saling pandang-pandangan di antara mereka berdua, dengan napas yang memburu dan wajah yang memucat.
Seakan-akan ada kekuatan tak kasat mata yang menahan, mereka benar-benar tak kuasa untuk melangkahkan kaki menuju pohon beringin besar yang tampak sangat angker itu. Rasa ngeri yang mencekam membuat tubuh mereka seolah terkunci rapat di atas tanah hutan yang dingin.
"Sudah, cepat kamu jalan duluan! Kamu juga kan yang mengawali kekacauan ini?!" seru paman Mira memecah keheningan malam dengan berbisik ketakutan.
Lagi dan lagi, harus Agus yang menjadi korban dan tameng dari ketakutan pamannya sendiri. Pria paruh baya itu dengan sengaja berlindung di balik punggung Agus, menolak untuk mengambil risiko sekecil apa pun.
Agus hanya bisa menelan ludah yang terasa getir. Ia tidak ingin memperpanjang perdebatan di situasi segenting ini.
"I-iya... Om, mari kita jalan," sahut Agus sedikit gugup.
Sambil mencengkeram ponselnya erat-erat sebagai satu-satunya sumber cahaya, Agus memaksakan kakinya yang terasa berat untuk mulai melangkah menembus semak belukar, membelah kegelapan pekat menuju ke bawah pohon beringin yang angker itu.
Bersambung
makasih atas koreksinya, ini sangat membantu buat kedepannya.🙏
mampir y ke novelku 😁