NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:14.1k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 12

Setelah turun dari area panggung, Jihan dan Adiba memutuskan untuk berburu makanan di stan katering. Melihat Adiba yang sedang sibuk memilih berbagai menu dengan porsi yang lumayan banyak, sebuah bayangan tinggi mendadak berdiri di sampingnya.

​"Belum makan sebulan, Didie?" tegur Aidan tiba-tiba dengan nada santai, menatap piring yang dipegang Adiba.

​Adiba seketika menoleh ke sumber suara. Napasnya menghela berat. 'Issh! Panggilan menyebalkan itu lagi!' batin Adiba dongkol.

​Jihan yang berdiri di belakang Adiba menaikkan sebelah alisnya, memandang Aidan dari ujung kaki hingga ujung kepala. "Maaf, Anda lagi ngomong sama siapa ya?" celetuk Jihan asal bicara.

​Aidan menunjuk Adiba dengan dagunya. "Dia."

​"Oh, kirain lagi ngomong sama saya," sahut Jihan blak-blakan, lalu menyenggol lengan Adiba. "Diba, aku ke stand sebelah sana dulu ya, perut gue udah demo banget nih. Mau cari tempat duduk juga." Setelah Adiba mengangguk mengiyakan, Jihan melengos pergi dengan piringnya.

​Kini tinggal Adiba dan Aidan yang berdiri di depan stand makanan. Adiba mencoba bersikap sedatar mungkin. "Sudah makan? Saya lihat Anda sibuk sekali mondar-mandir sejak pagi tadi," tanya Adiba pelan, murni karena kesopanan.

​Aidan tersenyum lebar, menatap Adiba terang-terangan. "Belum. Kenapa? Kamu mau ambilkan makanan untuk saya?"

​Adiba mendelik. 'Ini orang engga lihat situasi apa ya? Percaya diri sekali!'

"Hmm, ambil sendiri sana. Punya tangan dan kaki, kan?"

​Aidan terkekeh geli melihat ketegasan Adiba. "Haha, maaf. Saya hanya bercanda."

​"Engga lucu," ketus Adiba, berbalik hendak melangkah pergi.

​"Kamu datang ke sini dengan siapa? Nanti pulangnya mau saya antar?" tanya Aidan tiba-tiba, menahan langkah Adiba.

​Adiba terkejut, matanya mengerjap tidak percaya dengan kelancangan pria ini. "Tidak, terima kasih. Saya pulang bersama Abi dan Ummi saya."

​"Oh, ya? Kalau begitu... boleh saya bertemu dengan mereka sekarang?" tanya Aidan lagi dengan wajah tanpa dosa.

​"Mau apa?" Adiba melipat tangannya di dada, curiga.

​"Tidak ada apa-apa. Hanya ingin menyapa... siapa tahu setelah menyapa, saya boleh langsung melamar anaknya," jawab Aidan dengan nada santai namun tatapan matanya berpendar serius.

​Adiba memberikan lirikan mata yang sangat tajam dan dingin ke arah Aidan. "Jangan galak-galak begitu dong. Tapi... kalau lagi galak begini tetap kelihatan cantik sih," protes Aidan, dengan sengaja menyenggol pelan lengan Adiba menggunakan sikunya.

​Adiba mundur satu langkah, wajahnya menegang serius. "Bukannya sudah saya ingatkan kemarin? Tolong jaga batasan Anda, Pak Aidan."

​Aidan meredam tawanya, lalu mencondongkan tubuhnya sedikit ke arah Adiba, berbisik pelan, "Iya, saya tahu. Tapi, saya juga tidak ingin menjadi pria dengan gengsi yang terlalu tinggi, apalagi kalau berhadapan denganmu."

​Adiba menahan geram, matanya melirik ke arah meja katering di dekat mereka. "Pak Aidan, belum pernah ditimpuk piring ya?" ancam Adiba dengan suara tertahan.

​Aidan justru terkekeh geli melihat raut wajah kesal Adiba yang baginya justru terlihat menggemaskan. "Iya, iya, maaf, Didie."

​Adiba menghembuskan napas kasar. Karena merasa tidak tega melihat wajah lelah Aidan yang memang belum makan sejak pagi, Adiba menyodorkan piring berisi nasi dan lauk pauk yang baru saja ia ambil ke depan dada Aidan. "Nih. Katanya belum makan, kan?"

​Aidan tertegun menatap piring itu, lalu menatap Adiba. "Kamu sendiri bagaimana?"

​"Saya bisa ambil lagi nanti," jawab Adiba ketus.

​"Wait. Biar saya saja yang ambilkan makanan untukmu sebagai gantinya," cegah Aidan sigap. Pria itu mengambil piring baru, lalu mengisinya dengan porsi yang cukup melimpah dan menyerahkannya pada Adiba. "This is for you, my lady."

​Adiba mengernyit menatap piringnya. "Ini banyak banget, Pak Aidan. Saya engga bakal habis."

​"Dihabiskan ya? Anak kecil makannya harus banyak biar cepat besar," ujar Aidan seraya mengambil alih piring miliknya sendiri yang sempat dipegang Adiba.

​Adiba mencibir pelan, melangkah mundur. "Ck! Berarti secara tidak langsung, ada orang yang baru saja mengaku kalau dirinya sudah tua."

​Aidan tertawa renyah mendengar sindiran balik dari Adiba. "Haha, sudahlah. Saya mendadak tidak sabar mau makan, karena makanan ini dikasih langsung sama orang yang spesial."

​Adiba menatap jengah ke arah Aidan yang menurutnya tidak pernah berhenti membual sejak pertama kali bertemu. "Terserah Anda sajalah, Pak Aidan. Permisi," ujar Adiba bersiap pergi.

​"Jadi, benar-benar tidak mau makan bareng saya nih di meja sana?" tanya Aidan setengah berteriak kecil.

​"Tidak!" jawab Adiba ketus tanpa menoleh.

​"Hm, ya sudah. Lain kali kita harus makan bersama ya, Didie?" seru Aidan lagi, menatap punggung Adiba yang berjalan menjauh.

"Permisi..." cicit Adiba mengabaikan ucapan itu, mempercepat langkahnya menuju meja Jihan.

​Aidan berdiri diam di tempatnya, menatap kepergian Adiba dengan senyuman tipis yang sarat akan makna tersembunyi di matanya. Pria itu benar-benar terpikat.

​Namun, Aidan tidak menyadari bahwa tidak jauh dari stan makanan tersebut, seseorang tengah berdiri diam, mengamati seluruh interaksi antara dirinya dan Adiba sejak awal dengan tatapan mata yang penuh selidik. Orang itu tersenyum tipis, sangat mengerti dari bahasa tubuh Aidan bahwa sahabat Fadhlan itu tengah menyimpan perasaan tersembunyi yang sangat dalam pada sosok Adiba.

...----------------...

Malam merambat semakin larut, menyisakan sisa-sisa kelelahan yang teramat sangat di tubuh Syifa. Riuhnya pesta resepsi seolah menguap begitu saja, berganti rasa perih yang teramat sangat di lambungnya. Begitu mobil yang membawa mereka tiba di depan rumah orang tuanya, sesuai permintaan Syifa yang mendadak enggan menginap di hotel karena merasa tidak enak badan, gadis itu langsung melangkah cepat masuk ke dalam kamar lamanya.

Sementara Fadhlan, dengan kesopanan yang tak luntur, memilih tinggal sebentar di ruang tamu untuk berbincang hangat dengan Abi Musthofa dan Kakek Ali.

​Beberapa menit kemudian, Ummi Salwa keluar dari dapur membawa nampan berisi sepiring nasi hangat, lauk, segelas air, dan sebungkus obat magh. Fadhlan yang melihat ibu mertuanya membawa nampan itu segera berdiri dan menghampiri.

​"Biar Fadhlan saja yang bawa ke kamar, Ummi," tawar Fadhlan lembut.

​Ummi Salwa tersenyum lega, namun gurat cemas membayang di wajahnya. "Nggih, Nak Fadhlan. Tolong dibujuk Syifa-nya ya? Sakit maghnya kambuh karena dari siang tadi telat makan. Anak itu kalau sudah capek suka lupa sama perutnya sendiri."

​Fadhlan mengangguk takzim. Ia menerima nampan tersebut, lalu melangkah menuju kamar.

​Tok... tok... tok...

​Fadhlan mengetuk pintu kayu itu pelan. Hening, tidak ada jawaban dari dalam. Tidak ingin mengganggu sang istri jika memang sudah terlelap, Fadhlan memutar kenop pintu dengan sangat hati-hati dan mendorongnya perlahan.

​Di dalam kamar yang temaram, ia melihat Syifa sudah berbaring di atas tempat tidur. Gadis itu bahkan belum sempat mengganti pakaiannya, masih mengenakan gamis lengkap dengan hijab yang membungkus kepalanya. Fadhlan menghela napas pendek. Ia berjalan mendekat, menaruh nampan makanan dan obat di atas nakas samping tempat tidur.

​Fadhlan mendudukkan dirinya di tepi ranjang, tepat di sisi Syifa berbaring. "Syifa, bangun. Makan dulu sebentar. Ummi bilang sakit maag kamu kambuh," ujar Fadhlan, suaranya bariton rendah, terdengar begitu lembut di keheningan kamar.

​Tidak ada respons. Tubuh di balik selimut itu tidak bergeming.

​Fadhlan sedikit menunduk, menatap sudut mata Syifa yang bergerak-gerak kecil. "Saya tahu kamu belum tidur. Setidaknya isi perutmu sedikit dan minum obat dulu, baru setelah itu lanjut istirahat."

​Mendengar desakan suaminya, Syifa akhirnya menyerah. Dengan perlahan, ia membalikkan tubuh dan membuka matanya, mengerang pelan sembari meremas perutnya yang terasa seperti diaduk-aduk. "Hm... iya," jawab Syifa lirih dengan suara melemah.

​Syifa memaksakan diri untuk duduk, bersandar pada kepala ranjang dengan wajah yang pucat. Fadhlan meraih piring nasi di atas nakas. "Mau saya bantu?" tanya Fadhlan, tangannya sudah siap memegang sendok.

​Dalam keadaan sehat walafiat, Syifa pasti akan menolak mentah-mentah. Namun malam ini, tenaganya benar-benar terkuras habis. Dengan pasrah dan sedikit malu, Syifa mengangguk pelan. Dengan ketelatenan yang tidak pernah Syifa bayangkan sebelumnya, Fadhlan menyendokkan nasi dan menyuapkannya ke bibir Syifa.

​Baru satu suapan masuk, Syifa langsung memalingkan wajahnya ke arah lain. "Sudah... engga selera makan lagi, Mas. Rasanya mual.

​Fadhlan menahan sendoknya di udara, menatap Syifa lekat-lekat. "Baru satu suap, Syifa. Buka mulutmu lagi, hmm?" pinta Fadhlan dengan nada membujuk yang sangat halus.

​"Perutnya perih banget..." rengek Syifa tanpa sadar, bibirnya mengerucut persis seperti anak kecil yang sedang merajuk.

​Detik itu juga, dada Fadhlan berdesir hebat. Kerutan di dahi Syifa dan caranya merengek seketika memicu gelombang kenangan masa lalu di benak Fadhlan, kenangan saat Syifa masih kecil dan selalu merengek padanya dengan cara yang persis sama. Fadhlan tersenyum sangat tipis, menyembunyikan binar kerinduan di matanya.

​"Iya, saya tahu perutmu perih. Justru karena itu harus diisi makanan. Dua suap lagi, oke? Setelah itu minum obat," tawar Fadhlan mengalah.

​Syifa akhirnya menurut daripada harus mendengarkan 'kuliah malam' dari suaminya yang berstatus dosen itu. Setelah dua suapan terakhir berhasil ditelan dengan susah payah, Fadhlan membantu Syifa meminum obatnya.

......................

​Selesai merapikan piring dan gelas, Fadhlan berbalik dan mendapati Syifa tengah sibuk menata sesuatu di tengah-tengah ranjang. Sebuah guling panjang diletakkan melintang tepat di tengah kasur, membagi area tidur mereka menjadi dua bagian yang sama besar.

'​Ya Allah... malam ini beneran harus tidur satu ranjang sama Pak Fadhlan?'batin Syifa menjerit, mendadak dilanda panik.

​Syifa mendongak, menatap Fadhlan dengan tatapan defensif yang dipaksakan galak, meski wajahnya masih pucat. "Jangan sampai melewati pembatas guling ini ya, Pak. Awas saja kalau melanggar."

​Fadhlan menatap guling pembatas itu, lalu menatap wajah ketakutan istrinya dengan senyuman pasrah. "Terserah kamu saja, gadis kecil," jawab Fadhlan santai, mulai merebahkan tubuhnya di sisi ranjang yang kosong.

​"Kalau melanggar, ada hukumannya!" ancam Syifa lagi, tidak mau kalah.

​Fadhlan memiringkan tubuhnya menghadap Syifa, menumpu kepalanya dengan satu tangan. "Hukuman? Apa hukumannya?"

​"Iya! Kalau Pak Fadhlan yang melanggar dan melewati guling ini, hukumannya harus bantu saya mengerjakan seluruh tugas kuliah saya sampai semester ini selesai. Tapi, kalau saya yang melanggar, hukumannya—"

​"Hukumannya, kamu harus dapat nilai A+ di mata kuliah saya, maksimal sampai ujian akhir semester nanti," potong Fadhlan cepat dengan kerlingan mata jahil.

​Syifa mendengus kesal, bibirnya mencibir telat. "Hm! Dosennya saja pelit nilai setengah mati, bagaimana mahasiswanya mau dapat nilai A+!" ketus Syifa, langsung membalikkan badan dengan cepat membelakangi Fadhlan dan menarik selimut hingga sebatas dada.

​Bukannya marah mendengar cibiran istrinya, Fadhlan justru terkekeh pelan di dalam kegelapan. Suara tawa rendah Fadhlan terdengar begitu menggelitik di telinga Syifa, membuat jantung gadis itu berdegup tidak karuan. Syifa memejamkan matanya kuat-kuat, mencoba waspada dan gelisah meski rasa kantuk sudah menyerang pertahanannya.

​Melihat punggung kaku istrinya yang tampak tegang, Fadhlan berbisik pelan, "Tidurlah, ini sudah sangat malam. Lagipula kamu sedang sakit... mana tega saya meminta 'hak' saya darimu dalam kondisi seperti ini."

​BLUSH!

​Kalimat blak-blakan Fadhlan sukses membuat wajah Syifa memerah sempurna di balik selimut. Ia semakin mengerutkan tubuhnya menghadap tembok, pura-pura tidak mendengar, walau hatinya sudah seperti kembang api yang meletup-letup.

...----------------...

Lewat tengah malam, keheningan kamar terusik. Fadhlan yang memiliki kebiasaan tidur tidak terlalu nyenyak, mendadak terbangun saat mendengar suara rintihan tertahan di sebelahnya. Pria itu membuka mata dan langsung bangkit duduk. Suara itu berasal dari Syifa.

​Di bawah cahaya lampu tidur yang redup, Fadhlan bisa melihat dahi Syifa dipenuhi butiran keringat dingin. Napas gadis itu memburu, dan saat Fadhlan menyentuh keningnya, suhu tubuh Syifa meningkat drastis. Gadis itu terserang demam tinggi.

​Dengan sigap dan tanpa kepanikan, insting pelindung Fadhlan langsung bekerja. Ia keluar kamar sejenak, mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil dari dapur, lalu kembali ke sisi ranjang untuk mengompres dahi istrinya.

​"Ja-ngan... tolong, Kakak! Syifa kesakitan... sakit sekali," racau Syifa tiba-tiba, kepalanya bergerak gelisah ke kanan dan ke kiri di atas bantal.

​DEG!

​Jantung Fadhlan serasa berhenti berdetak. Pria yang di kampus dikenal berhati dingin, kaku, dan tak tersentuh itu mendadak merasakan dadanya berdenyut nyeri yang teramat sangat. Air matanya hampir menitik mendengarkan sebutan yang sudah bertahun-tahun tidak ia dengar dari bibir gadis itu. 'Kakak' , Syifa memanggilnya dengan sebutan masa kecil mereka di dalam mimpi buruknya.

​"Syifa takut... Kakak jangan pergi, mereka jahat! Kakak di sini saja..." rintih Syifa lagi dengan suara parau. Tangan mungilnya bergerak acak di atas kasur, seolah mencari pegangan, hingga akhirnya jemari dinginnya berhasil meraih dan menggenggam erat telapak tangan Fadhlan yang berada di sampingnya. Mata Syifa masih terpejam rapat, terperangkap dalam trauma masa lalu yang entah apa.

​Fadhlan menggenggam balik tangan istrinya dengan erat, merasakan getaran ketakutan dari tubuh Syifa. Ia menundukkan tubuhnya, mendekatkan wajahnya ke telinga Syifa, lalu berbisik dengan suara yang bergetar penuh emosi mendalam.

​"Kakak di sini, Sayang... Kakak di sini. Kakak janji... Kakak tidak akan pernah meninggalkanmu lagi. Tidak akan pernah."

​Keajaiban kecil terjadi. Perkataan penuh keyakinan dari Fadhlan perlahan menenangkan badai di dalam mimpi Syifa. Rintihannya mereda, napasnya kembali teratur, dan gerakan gelisah di kepalanya terhenti. Namun, tangan mungilnya tetap menggenggam erat jemari Fadhlan, seolah takut jika dilepaskan, pria itu akan menghilang.

​Melihat pemandangan itu, pertahanan ego Fadhlan runtuh sepenuhnya. Dengan perlahan, ia ikut merebahkan tubuhnya di samping Syifa, menembus batas guling pembatas yang kini sudah terabaikan. Fadhlan menarik tubuh ramping istrinya dengan sangat hati-hati ke dalam pelukan hangatnya, membiarkan kepala Syifa bersandar di dada bidangnya.

​"Maaf..." lirih Fadhlan sangat pelan di tengah kegelapan, tangannya membelai lembut puncak kepala Syifa yang masih terbalut jilbab instan. "Kakak tidak bermaksud melukai perasaanmu atau memaksamu dengan pernikahan ini, Dek... Kakak hanya tidak ingin kehilangan kamu lagi. Kakak hanya ingin kamu mengingat Kakak lagi... mengingat momen kebersamaan kita dulu."

​Dengan perasaan cinta yang sudah mengakar begitu dalam sejak mereka kecil, Fadhlan menunduk, lalu mengecup singkat dan penuh kelembutan bibir istrinya tanpa ragu. Sebuah kecupan suci yang mengunci janji setianya untuk menjaga gadis itu seumur hidupnya.

...****************...

1
safitri
sukan dengan tokoh2 yang agamis..👍👍
safitri
suka dengan alur ceritanya...
Chani Bae ✨: Masyaa Allah terimakasih kak sudah berkenan mampir di karya pertama saya 🥰🙏 Mohon maaf apabila masih terdapat banyak kekeliruan karena masih tahap belajar 🙏
total 1 replies
safitri
suka dengan ceritanya ...😍😍
Ulfa 168
udah sampai bab segini blm saling mencintai, maaf lama2 JD bosan bacay... kurang seru
Chani Bae ✨: iya kak, maaf ya ☺🙏 tapi terimakasih sudah berkenan mampir dan sudah beri dukungannya🧡
total 1 replies
banat_helwa
lama² males baca nya kpn coba si syifa sadar sebagai istri
Ida Zubedd
makanyaa sifa buru buka hatimu buat mas mas santri
Chani Bae ✨: hihi iya gemes yaa sama Syifa, do'ain aja yuk biar ingatan Syifa pulih dan inget kalau Fadhlan bukan seorang pria asing yang tiba" dateng ngelamar & nikahin dia ☺
total 1 replies
Ida Zubedd
novelmu adem ayem thor kata2nyaaa , sukaaa bnget ndak grusak grusuk .
Chani Bae ✨: Masyaa Allah kaka terimakasih sudah berkenan mampir di novel pertama saya 🥰🙏 maaf kalau masih banyak kekurangan karena author juga masih harus banyak belajar yaa.. 🙏
total 1 replies
Bunga
good
Chani Bae ✨: Terimakasih kak 💛🙏
total 1 replies
Ulfa 168
lanjut
Ulfa 168
lanjut thor
Chani Bae ✨: ditunggu updatenya ya kaka ☺🧡
total 1 replies
Ulfa 168
bagus cerita nya kak ditunggu kelanjutannya
Chani Bae ✨: terimakasih kakak 🥰🙏 siapp...
total 1 replies
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Chani Bae ✨: alhamdulillah 😭🥰
total 1 replies
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!