Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.
Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.
Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12
Deru mesin mobil mewah itu terdengar halus, berbanding terbalik dengan celotehan Jihan yang memenuhi kabin sejak mereka meninggalkan area kampus. Di kursi belakang, Jihan condong ke depan dengan mata berbinar penasaran.
"Eh, kamu supirnya pak dosen ya?"
Aidan tidak menjawab. Jemarinya yang kokoh mencengkeram kemudi, pandangannya lurus menembus kaca depan, menampilkan ekspresi sedatar papan tulis.
Merasa diabaikan, Jihan menyenggol lengan Adiba yang duduk di sebelahnya. "Kamu percaya enggak sih, Diba, kalau pak dosen itu kerjaannya cuma jadi dosen? Nggak mungkin, kan?"
Adiba menghembuskan nafas pelan, merasa tidak enak dengan ketidaksopanan sahabatnya. "Mana aku tahu, Jihan. Bisa jadi beliau punya usaha lain," jawab Adiba berusaha meredam rasa ingin tahu Jihan.
"Tapi asli, ini mobil jarang banget aku lihat di jalanan kota sini. Pasti mobil mahal. Ya kan, Diba?" Jihan masih keras kepala, matanya mengagumi interior kulit yang elegan di dalam mobil.
"Hemm.. iya, mungkin." Adiba menjawab seadanya, memilih melempar pandangan ke luar jendela, memperhatikan ruko-ruko yang bergerak mundur.
......................
Tanpa Adiba sadari, sepasang mata elang di balik kemudi perlahan bergerak. Melalui spion tengah, Aidan mencuri pandang, menatap pantulan wajah Adiba yang tenang berbingkai hijabnya. Namun, tepat saat itu, Adiba mengalihkan pandangan ke depan. Netra mereka bertubrukan lewat cermin. Adiba tertegun sedetik, detak jantungnya mendadak berkejaran, sebelum akhirnya ia membuang muka dengan gugup, berpura-pura membetulkan posisi duduknya.
Keheningan perlahan mengambil alih saat energi Jihan habis. Karena kelelahan setelah jadwal kuliah yang padat ditambah perjalanan yang lumayan jauh, kepala Jihan perlahan terkulai dan tak lama kemudian ia tertidur pulas.
Kini, kabin mobil terasa begitu sempit. Udara mendadak dipenuhi kecanggungan yang mencekat tenggorokan. Adiba meremas pelan tas di pangkuannya, berharap perjalanan ini segera usai.
"Kamu juga termasuk pengagum dosen itu?" Suara bariton Aidan tiba-tiba memecah keheningan, terdengar berat dan tenang.
Adiba sedikit tersentak. 'Eh? Ternyata dia bisa bicara? Aku kira dia lagi sariawan dari tadi...' batin Adiba menyindir dalam hati.
"Bukan," jawab Adiba lirih, berusaha terdengar seformal mungkin.
Aidan menaikkan sebelah alisnya, melirik spion tengah lagi. "Oh. Jadi hanya teman dekat dari wanita itu?"
"Maksudnya, Syifa?"
"Ya, siapa lagi. Sebenarnya mereka tidak benar-benar dijodohkan. Mereka sudah saling mengenal dulunya."
Kerutan tipis muncul di dahi Adiba. "Benarkah? Tapi, Syifa bilang baru kenal dengan Pak Fadhlan."
"Itu karena sahabatmu otaknya agak bermasalah," celetuk Aidan asal. Sebenarnya, itu hanya reaksi defensifnya karena mendadak gugup menyadari Adiba tengah menatap arah belakang kepalanya dengan serius.
Mata Adiba membelalak. "Astaghfirullah! Kalau bicara itu yang betul!" ketus Adiba, nada suaranya meninggi, benar-benar tidak terima sahabatnya dihina.
Aidan berdeham kecil, mencoba mengembalikan wibawanya. "Fadhlan bukan hanya seorang dosen. Dia pewaris tunggal dari keluarga Ganendra. Kakeknya dan kakek teman dekatmu itu... mereka sudah seperti saudara."
Adiba tertegun. Nama 'Ganendra' bukanlah nama yang asing di telinga masyarakat kota ini. "Keluarga Ganendra yang kaya raya itu? Masya Allah, pantas saja... Tapi kenapa Pak Fadhlan mau jadi dosen di kampus kami? Bukan di Universitas ternama?"
"Menurutmu apalagi alasannya, kalau bukan karena calon istrinya?" Aidan melempar senyum tipis yang nyaris tak terlihat.
Adiba terdiam, menghubungkan titik-titik teka-teki di kepalanya. "Ehmm.. pantas saja. Sekarang saya tahu kenapa kalau di ruang kuliah Pak Fadhlan selalu memperhatikan Syifa." Adiba menyandarkan punggungnya, lalu menyunggingkan senyum penuh arti. "Apakah seorang pria memang gengsinya terlalu tinggi? Bersikap cuek padahal sebenarnya menyimpan rasa... apalagi yang suka curi-curi pandang."
Skakmat. Kalimat sindiran Adiba tepat sasaran. Jantung Aidan mencelos, ia langsung salah tingkah. Pegangannya pada setir mengencang.
"Ekhem!" Aidan terbatuk kaku. "Memangnya hanya pria saja? Kalian para wanita juga terkadang sok jual mahal."
Mendengar kata 'jual mahal', ekspresi Adiba berubah serius. Aura ketegasannya keluar. "Hei, dengar. Harga diri seorang muslimah itu betapa mahal dan tak ternilai. Ia bukan seperti barang dagangan obralan yang boleh dipegang oleh siapa saja calon pembeli, yang hanya memegang tanpa membeli. Hingga siapa pun boleh melihat lenggak-lenggoknya, bedak dan lipstiknya, serta menjadi bahan tepuk tangan khalayak."
Adiba mengambil napas sejenak, suaranya melunak namun terdengar sangat berwibawa saat melafalkan ayat suci:
"Katakanlah kepada wanita yang beriman: 'Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang [biasa] nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya…' (Q.S. An-Nuur : 31)"
"Kelak, wanita muslimah setelah berumah tangga, setelah memiliki imam dalam hidupnya, ia akan menjaga diri lebih hati-hati lagi. Jadi, memang sudah sepatutnya wanita itu 'jual mahal' pada lelaki, karena wanita Muslimah diibaratkan sebagai sebaik-baiknya perhiasan dunia."
Aidan terpaku. Penjelasan yang mengalir lancar dari bibir Adiba seperti air sejuk yang menyiram hatinya. Ada binar kecerdasan dan prinsip hidup yang kuat dari gadis di belakangnya ini.
'Cantik! Sungguh cantik. Dia membuatku tertarik untuk lebih mengenalnya,' Aidan bermonolog dalam hati, ada rasa kagum yang tumbuh begitu cepat.
"Baiklah, Didie. Kamu memang wanita yang cerdas."
Adiba mengernyitkan alisnya dalam-dalam. "Maksud Anda siapa? Siapa Didie?" tanya Adiba kebingungan, celingukan seolah ada orang lain di mobil itu.
"Namamu Adiba, kan? Jadi saya memanggilmu Didie," jawab Aidan santai tanpa dosa.
"Adiba saja. Dan maaf, kita tidak saling mengenal satu sama lain untuk memiliki nama panggilan khusus."
"Saya sudah tahu namamu. Dan nama saya... Aidan." Pria itu memperkenalkan diri dengan nada yang tidak menerima penolakan.
Adiba hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya, heran melihat tingkah Aidan yang seenaknya sendiri namun entah kenapa terasa sulit untuk dibenci.
"Kamu... masih single? Atau mau dijodohkan juga seperti sahabatmu?"
Pertanyaan tiba-tiba itu bak petir di siang bolong. Adiba terperanjat, matanya membulat. Bagaimana tidak? Baru beberapa menit mengobrol, pria ini sudah melompati batas dan menanyakan hal yang sangat pribadi. Sebelum Adiba sempat memprotes, Aidan kembali bersuara sembari menyalakan head unit mobil.
"Mau mendengarkan lagu? Kamu suka musik atau lagu apa, Didie?"
"Just Adiba. Okay?" tekan Adiba, giginya mengatup menahan kesal.
"But, I want to call you, Didie." Aidan melirik lewat spion, menatap Adiba dengan binar jenaka yang tertahan.
'Astaghfirullah.. ini orang lama-lama bikin tensi naik deh! Didie apa coba, emang aku siapanya!' Adiba membatin gusar, wajahnya mulai merona kemerahan antara kesal dan malu.
"Didie itu... panggilan kesayangan untuk adik perempuan saya," ucap Aidan tiba-tiba. Nadanya mendadak turun beberapa oktav, menyiratkan kegetiran yang dalam.
Adiba yang awalnya ingin mengomel, langsung tertahan. "Kalau panggilan kesayangan untuk adikmu, lalu kenapa kamu memanggil saya seperti itu? Jangan—"
"Adik saya sudah meninggal," potong Aidan cepat, suaranya terdengar datar namun rapuh. "Kamu mirip dengannya. Kalau dia masih hidup, mungkin dia seumuran denganmu."
Suasana kabin seketika melenyapkan rasa kesal Adiba, digantikan oleh rasa bersalah yang menggunung. "Innalillahi wa innailaihi roojiun. Maaf... saya tidak tahu."
"It's okay. I'm fine." Aidan tersenyum tipis, matanya menatap lurus ke aspal.
Bagi Aidan, ini adalah momen langka. Ini pertama kalinya ia mengobrol dengan seorang wanita sepanjang ini, selain dengan Fadhlan dan sahabat-sahabatnya. Biasanya, Aidan terkenal dingin, hanya menjawab singkat, atau bahkan enggan membuka suara di depan lawan jenis. Namun entah sihir apa yang dibawa Adiba, tembok pertahanannya runtuh begitu saja.
......................
Mobil perlahan melambat dan berhenti di depan sebuah rumah berpagar tinggi.
"Hei, jangan melamun! Ini sudah sampai," tegur Aidan membuyarkan lamunan Adiba.
"Eh? Oh, iya. Terima kasih sudah mengantar." Adiba buru-buru menepuk bahu Jihan yang masih mendengkur halus. "Jihan, bangun... udah sampai."
Aidan mematikan mesin mobil, matanya menangkap sosok pria paruh baya berwajah teduh yang keluar dari pintu rumah. "Itu ayahmu?" tanya Aidan.
"Hemm.. iya," jawab Adiba singkat. Gerakan tangannya mendadak kikuk, ada semburat kecemasan di wajahnya.
'Dia kenapa sih? Apa takut kena marah ayahnya?' batin Aidan yang menangkap perubahan gestur Adiba yang tampak gugup.
Setelah Jihan sepenuhnya sadar dan mengucek matanya, mereka berdua keluar dari mobil. Aidan pun tidak tinggal diam, ia membuka pintu dan turun. Ternyata, ayah Adiba, Ustadz Taufiq, sudah berdiri di dekat pintu gerbang dengan menyilangkan tangan, menatap mereka dengan pandangan menilai yang tajam namun bijak.
Aidan dengan sopan melangkah maju, lalu mengulurkan tangan dan menyalami Ustadz Taufiq dengan takzim.
"Terima kasih sudah mengantar anak saya. Kamu saudaranya Pak Musthofa?" tanya Ustaz Taufiq, suaranya berat dan berwibawa.
"A-itu.. bukan, Pak. Saya temannya calon suami Syifa. Kalau begitu, saya permisi mau langsung pulang, Pak," jelas Aidan sedikit terbata. Entah kenapa, aura sang Ustadz membuatnya merasa seperti sedang disidang.
"Loh, kenapa sudah mau pulang? Mampir dulu, Nak. Minum teh sebentar," tawar Ustadz Taufiq ramah.
"Tidak usah, Pak, terima kasih banyak. Masih ada urusan setelah ini," tolak Aidan halus.
"Terima kasih," ujar Adiba pelan, menundukkan pandangannya sebelum bergegas melangkah masuk ke halaman rumah, menyembunyikan wajahnya yang mendadak panas.
Aidan sempat terdiam beberapa detik, memandangi punggung Adiba yang berjalan masuk. Sebagai seorang ayah yang jeli, Ustadz Taufiq tentu tahu arti tatapan itu. Pemuda di hadapannya ini diam-diam sedang mengagumi putrinya.
"Ekhem!" Ustadz Taufiq berdehem sengaja, memutus garis pandang Aidan.
Aidan tersentak, wajahnya merona kaku. "A-maaf, Pak. Kalau begitu saya pamit. Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam.. Hati-hati di jalan, Nak." Ustadz Taufiq mengangguk penuh arti, mengantar kepergian mobil mewah itu dengan senyuman misterius.
...****************...