kisah ini menceritakan seseorang yang menggunakan santet untuk guna-guna orang lain dengan menggunakan santau.
Siap. Ini narasi yang bisa kamu pake buat sinopsis/blurb Noveltoon _Kutukan Santau_:
---
*NARASI*
Santau. Racun yang dikirim lewat angin, menumpang di makanan, menyelip di tatapan mata.
Katanya tak berbekas, tapi membusukkan tubuh dari dalam dan pada akhirnya orang tu lah yang akan tersakiti
pesan:
*"Santau itu perjanjian. Sekali kau lepas, dia akan pulang menagih nyawa. Kalau bukan nyawa musuhmu... ya nyawamu sendiri."*
_Siapa yang menggunakan santau, pada akhirnya dia yang akan mendapatkan balasannya._
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Tiga hari setelah kejadian itu, ayu bermimpi lagi dan dimimpi itu dia berada dihutan belantara yang gelap dan hanya dipenuhi hutan rimba, ayu seperti berada dilabirin yang dipenuhi teka teki dan setelah menempuh perjalanan jauh, ayu menemukan setitik cahaya dan dari cahaya itu, ayu menemukan seseorang yang berdiri diatas batu, orangnya masih muda, putih dan memakai pakaian seperti zaman kuno.
"cucuku Ayu, akhirnya kau menemukan kakek."
Suara itu sama persis dengan yang keluar dari mulut Ayu tiga malam lalu. Berat, tua, tapi sekarang keluar dari tubuh pemuda di depan matanya. Rambutnya panjang sebahu, matanya tajam seperti elang, dan di dadanya tergantung kalung tembaga dilehernya.
Tapi Ayu tahu. Bau tanah kuburan, hawa dingin, dan bekas luka bulan sabit di dahi pemuda itu... itu Mbah Karsa.
"Kenapa kakek kelihatan muda?" Suara Ayu bergetar, karena selama ini ayu tidak pernah melihat kakeknya, karena kakeknya telah meninggal saat ayahnya berumur 8 tahun
Mbah Karsa tertawa pelan dan Suaranya bergema di seluruh hutan yang tidak punya ujung itu.
"Ilmu hitam itu curang Ayu. Ia mencuri umurku di dunia nyata, tapi menyimpan rupaku di alam ini. Di sini aku mati muda. Di luar sana, aku mati tua dan busuk."
Ia turun dari batu. Setiap langkahnya membuat tanah bergetar dan akar pohon menyingkir sendiri.
"Labirin ini adalah pikiranmu sendiri. Kau takut, jadi jalannya berliku. Kau ragu, jadi jalannya tertutup duri dan Kalau kau lemah, kau akan nyasar di sini sampai gila, Tapi kakek percaya kau kuat, Darahku tidak salah pilih."
Ayu menelan ludah. "Mereka mau masuk lagi, Mbah. Makhluk itu..."
"Aku tahu." Mbah Karsa mengangkat tangan. Di telapak tangannya muncul api biru kecil yang tidak panas. "Itu bukan satu. Sejak aku mati, segel yang kujaga di bawah pohon beringin tua mulai retak. Mereka mencium bau darahku yang mengalir di tubuhmu. Kau jadi mercusuar di laut gelap."
Api biru itu terbang dan masuk ke dada Ayu. Seketika rasa sakit yang biasa ia rasakan setiap malam lenyap. Diganti dengan dingin yang menenangkan, seperti minum air sumur di siang hari.
"Itu penahan sementara. Tiga hari." kata Mbah Karsa. "Dalam tiga hari kau harus memilih, Ayu."
Ia menunjuk ke dua arah di hutan.
Ke kiri, jalanan penuh tengkorak dan asap hitam. Suara bisikan memanggil-manggil nama Ayu.
Ke kanan, jalanan gelap tapi sunyi. Hanya ada satu pintu kayu tua di ujungnya.
"Ke kiri, kau pelajari ilmu warisanku. Kau bisa mengusir mereka, bahkan memburu mereka. Tapi kau akan jadi seperti aku dulu... ditakuti, dibenci, dan tidak bisa mati tenang."
"Ke kanan, kau tutup pintu itu selamanya. Kau akan hidup normal. Tapi setiap keturunan kita setelahmu akan merasakan sakit yang sama. Kau memindahkan kutukan ini ke anak cucumu."
Mbah Karsa menatap cucunya dalam-dalam. "Aku tidak bisa pilih untukmu. Kakekmu dulu salah pilih karena marah. Jangan ulangi."
Sebelum Ayu sempat menjawab, hutan berguncang. Dari kegelapan kiri terdengar suara cakaran dan tawa. Makhluk itu datang lagi, mencium bau api biru.
"Bangunnn, Ayu!"
Suara emaknya menembus mimpi.
Ayu tersentak dan terbangun di kasurnya, berkeringat dingin. Di luar, jam menunjukkan 03:00 pagi
Tepat tiga hari sejak serangan pertama.
Di halaman belakang, pohon mangga yang dulu dicengkeram makhluk itu. sekarang ada bekas tapak kaki manusia. Ukurannya terlalu besar. Dan jejaknya mengarah ke rumah tetangga kerumah pak samsul dan sitoh
Perjalanan Ayu dimulai malam itu. Bukan untuk menjadi dukun seperti kakeknya. Tapi untuk bertahan hidup... dan mencari tahu kenapa makhluk-makhluk itu tiba-tiba haus akan darah keluarganya setelah 30 tahun tenang.