NovelToon NovelToon
Datang Tanpa Dicari

Datang Tanpa Dicari

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / GXG
Popularitas:546
Nilai: 5
Nama Author: Benrycia_

Area GxG ya~
******
Satu sekolah, beda kelas, tapi ributnya bisa tiap hari. Kara dan Narisa, dua anak SMA yang sepertinya lahir tanpa kemampuan berdamai.
Awalnya semua biasa saja. Sampai suatu hari... mereka menikah.
Iya. Menikah.
Kok bisa?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 18

Malam pertama di rumah baru membuat Narisa nyaris tidak tidur. Takut, iya. Asing, jelas. Rumah itu terlalu sunyi buat ukuran orang yang biasanya masih bisa mendengar suara televisi dari ruang tengah atau teriakan ayahnya menyuruh matikan lampu.

Beberapa kali dia melirik pintu kamar. Sempat terpikir buat pindah ke kamar Kara saja dengan alasan "takut maling" atau "ada suara aneh". Sayangnya harga dirinya masih hidup dan aktif bernapas.

Akhirnya dia cuma tidur setengah sadar dengan selimut sampai dagu seperti pocong modis.

Pagi harinya, mood Narisa sudah hancur bahkan sebelum benar-benar bangun. Rambut berantakan, mata sembab, dan otaknya masih loading saat dia membuka pintu kamar mandi.

Terkunci.

Mata Narisa langsung membelalak.

Brak. Brak. Brak.

"Santen! Buruan! Gw kebelet !"

Di dalam, Kara yang tadi mandi santai langsung panik sendiri.

"Iya bentar! Jangan dijebol pintunya!"

Narisa terus mengetuk dengan ekspresi menderita.

"Cepetan!"

"Ini lagi bilas!"

Kara buru-buru mematikan shower, asal menyambar handuk, lalu keluar dengan muka kusut. Baru pintu terbuka sedikit, Narisa langsung menyeruduk masuk sambil mendorong bahu Kara keluar.

"Anjir.."

Klek.

Pintu kamar mandi ditutup lagi dari dalam. Kara berdiri beberapa detik sambil melongo tidak terima.

" Santai, Bonar! Matahari juga baru login!"

Dari dalam terdengar teriakan, "Bodo amat!"

Kara mengusap wajah kasar. Di rumah orang tuanya kamar mandi juga dipakai amai-ramai, tapi entah kenapa hidup bersama Narisa terasa seperti tinggal dengan alarm kebakaran yang bisa ngomong.

Masalah berikutnya muncul setelah mandi.

Sarapan.

"Gw gak mungkin masak." Narisa langsung menggeleng sambil merapikan rambut. "Udah wangi gini."

Kara menatap datar. "Ngapa lo mandi dulu sih?"

"Ya masa qw sekolah bau iler."

"Terus sekarang makan apa? Roti gak ada."

Narisa mengangkat bahu santai. "Beli lah. Di sekitar sini pasti ada."

Kara belum sempat menjawab saat matanya melirik jam dinding.

Dia langsung mendesis. "Udah telat."

"Bodo amat. Pokoknya gw laper."

"Di sekolah aja makannya.

Narisa tiba-tiba mengulurkan tangan, Kara mengernyit. "Ngapain?"

"Jajan lah, bego." Tangannya digoyang-goyang. "Buruan."

"Emang gw ATM berjalan?"

"Uang kan lo yang pegang."

Kara diam sebentar. Lalu dia mengambil dompet dari tas dan mulai menghitung uang.

"Kita bagi dua aja."

Narisa menatap curiga. "Maksudnya?"

"Pegang duit masing-masing. Biar kalau lo kalap beli aneh-aneh, gw gak ikut miskin."

"Najis amat ngomongnya."

Kara menyerahkan tiga ratus lima puluh ribu ke tangan Narisa.

Narisa melihat nominal itu beberapa detik. Rasanya aneh sekali. Baru kemarin dia masih jajan tanpa mikir, sekarang sudah seperti anak kos semester tua.

"Bekel bertahan hidup nih? Segini banget?"

"Kebanyakan khilaf di Singapura."

"Mau nyalahin gw? Lo sendiri beli gorengan harga lima belas dolar."

"Mending, daripada sawan tiap liat gelang bagus."

Narisa malas meladeni. "Yaudah lah. Terus berangkat gimana?"

"Bareng aja kalau mau."

Kara masuk kamar mengambil jaket dan kunci motor. Saat dia memakai sepatu di teras, Narisa keluar sambil menenteng tas.

"Naik mobil ya."

Kara langsung menoleh. "Males."

"Kita parkir di Indahmaret dua blok dari sekolah."

"Ngapain ribet gitu?"

Narisa mendecak. "Gw malu tiba-tiba datang bareng lo."

Kara menatapnya beberapa detik. "Lah? Emang gw makhluk urban legend?"

"Gw gak mau satu sekolah mikir kita deket. Paham gak sih?"

"Yaelah." Kara lanjut memakai sepatu. "Terserah lo deh. Mau ikut ayo. Gak mau ya naik ojek,"

Narisa melipat tangan kesal. " Tapi gw gak ada helm."

"Lo udah nebeng, malah nyusahin,"

"Terus gimana?"

"Naik ojek."

"Ogah. Ngeri diculik." Plus lagi ngirit, lanjut Narisa dalam hati.

Kara mendengus kecil sambil mengambil motor. "Yang nyulik juga pasti mikir-mikir kali."

Narisa menyipitkan mata. Kara melirik santai, belum puas. "Bentukkan kayak lo yang ada bikin serem."

"SANTEN!"

Dan pagi pertama mereka di rumah baru resmi dimulai dengan ancaman pembunuhan ringan sebelum Jam sekolah.

Brak!

Narisa melempar tas ke meja sampai tiga orang di dekatnya langsung kaget sendiri. Suara obrolan kelas yang tadi biasa saja mendadak putus sepersekian detik.

Ini sudah ganti jam pelajaran, dan dia baru muncul dengan muka seperti orang habis debat sama tembok.

"Buset..." Fahri refleks mengusap dada. "Santai napa, Nar. Lo abis liburan seminggu malah auranya kayak debt collector."

"Tau nih," sambung Putri sambil merapikan rambut yang kena ujung tas. "Bukannya bawa oleh-oleh, malah bawa hawa setan,"

Narisa menjatuhkan diri lalu menaikkan kaki ke kursi dengan kesal. "Lagi senewen gw."

Putra yang tadi duduk di bangku belakang langsung pindah naik ke meja mereka. "Kenapa sih? Tante lo aman kan?"

Narisa sempat diam.

Baru sekarang dia ingat alasan yang dipakai ke kepala sekolah otomatis dipakai juga ke teman- temannya. Gara-gara terlalu sering bohong dadakan, otaknya sendiri mulai tertinggal.

"Tante gw." Narisa berdeham kecil. "Idup kok."

Fahri langsung meringis. "Bahasa lo gitu amat."

"Ya terus gimana ngomongnya ?"

"Ya minimal jangan kayak ngomongin taneman,"

Putri tertawa kecil, sementara Narisa cuma mendecak malas.

"Terus lo tadi dari mana?" tanya Fahri lagi. "Jam pertama udah bolos. Gak ngajak pula."

"Gw laper banget, jadi sarapan dulu."

"Sendiri?" Putra menyipit curiga.

Narisa langsung menjawab cepat. "Iya lah."

Padahal lima belas menit sebelumnya dia baru adu bacot sama Kara perkara pembagian bersih-bersih rumah.

"Parah sih tadi," gerutu Putri. "Kita bertiga abis disuruh berdiri gara gara lupa bikin PR."

"Di mana?"

"Ya di sini. Depan meja gini."

Narisa langsung tertawa lepas tanpa rasa bersalah sedikit pun. Dia sudah bisa membayangkan ekspresi ketiganya tadi.

Untung hukumannya cuma berdiri di dalam. Kalau sampai disuruh berdiri di luar, tiga manusia itu pasti sudah kabur ke kantin tanpa mikir dua kali.

Karena dosa pagi itu, Narisa dan Kara akhirnya dipanggil ke ruang BK. Sumber petakanya tentu saja Pak Kasim, manusia paling berdedikasi dalam memantau area sekolah melebihi CCTV.

Akibatnya, gosip langsung beranak-pinak ke seluruh penjuru sekolah. Anak-anak mulai merasa ada yang aneh. Belakangan dua nama itu terlalu sering muncul berdekatan.

Bolos bareng. Kena hukum bareng. Dipanggil kepala sekolah bareng. Hilang seminggu bareng. Sekarang dipanggil Bk juga bareng.

Satu anak akhirnya nyeletuk dengan nada sotoy penuh keyakinan.

"Kayaknya kak Risa sama Kak Kara jadian deh."

Temannya langsung melotot. "Lah? Peak banget. Kak Risa pacarnya Kak Cakra."

"Ya kali aja pindah server."

"Ngawur. kak Kara itu cewek, bego."

"Makanya gw bilang pindah server."

"Gila nih anak. Kebanyakan makan mi sama bungkusnya."

"Tapi gw kok seneng tiap liat mereka akur."

"Kapan akurnya? Hari-hari mirip kucing gelut."

"Saling cakar ya."

"Bentar. Otak gw kok rada belok gini."

"Hahaha.."

Mereka tertawa bergerombol sambil jalan.

Yah, seandainya saja mereka tahu kalau masalahnya jauh lebih rusak dari sekadar jadian. Bukan pacaran. Tapi legal.

Di ruang Bk sendiri tidak ada hal spesial. Kurang lebih isinya hanya ceramah standar tentang disiplin, tanggung jawab, dan masa depan bangsa yang terasa sangat jauh bagi dua manusia kurang tidur.

Narisa duduk sambil manyun. Kara nyaris menguap tiga kali kalau saja tidak ditahan pakai rahang.

Akhirnya hukuman tetap turun. Membersihkan taman depan kelas sepuluh.

"Iya, Bu."

Begitu saja, setidaknya di depan. Tapi begitu pintu Bk tertutup... Narisa langsung melipat tangan dengan wajah jijik.

"Bersihin taman depan kelas junior?" dia terkekeh tidak percaya. "Ya kali. Jatoh banget citra gw."

Kara akhirnya menguap bebas. "Hoaahhmm.."

Narisa melirik sebal. "Jorok banget mulut lo."

"Ntar gw suruh Helma yang handle."

Narisa mengernyit. "Pasti dia nyuruh anak lain lagi."

"Bodo amat. Yang penting taman itu bersih dan nama gw hadir,"

Narisa mengangkat bahu santai. Dia juga tidak peduli selama tidak perlu jongkok nyabutin rumput sambil ditonton adik kelas.

"Istirahat berapa menit lagi?" tanyanya sambil pindah topik.

Kara melirik jam. "Lima menit."

"Oke, masih sempat." Narisa membetulkan rambutnya. "Gw haus."

Dia pergi begitu saja tanpa pamit.

Kara juga tidak peduli. Dia langsung belok ke taman belakang sekolah, tempat Harum sudah duduk santai dengan dua es kopi dan roti bungkus.

Begitu Kara datang, Harum langsung menyodorkan satu kopi dengan senyum setan.

"Gimana pas malam pertama?" alisnya naik turun tengil. "Enak gak?"

Kara langsung mengambil rotinya. "Malam pertama pala lo."

"Kan udah nikah."

"Nikah paksa."

"Ya tetap aja nikah." Harum cekikikan. "Minimal dapet remes-remes dikit lah."

Kara menggigit roti santai sambil menatap kosong ke depan, "Imajinasi lo haram banget, njir."

"Loh emang salah?" Harum menyenggol bahu Kara.

"Rugi dong punya bini bentukannya kayak Narisa malah dicuekin,"

Kara lansung melirik malas. " Gw bilang kagak ada yang begituan,"

"Halah," Harum makin semangat. "Gak mungkin gak ada apa-apa. Lo kan maniak, yang bukan pacar aja lo embat."

Kara langsung mendelik.

"Apalagi yang sah," lanjut Harum sambil ngakak sendiri.

"Bacot sama otak lo sama-sama geser."

Harum malah makin puas. "Sumpah ya, gw penasaran banget si Narisa kalau lagi marah di kasur kayak apa."

Kara hampir tersedak kopi.

"Anjing." Dia batuk sambil menendang kaki Harum. "Mulut lo najis banget."

~

Sementara itu di kantin, Narisa langsung berjalan ke meja Cakra yang sedang ramai dipenuhi teman-temannya. Baru juga mendekat, suara ribut langsung muncul.

"Geser woy, geser!"

"Kasih tempat buat tuan putri!"

"Kursi VIP datang!"

Mereka sengaja membuka celah di samping Cakra. Narisa duduk sambil geleng-geleng kecil.

"Gw bentar doang kok-"

"Tadi abis dari ruang Bk ya?" potong Cakra tenang.

Narisa langsung mengangguk lesu, "Iya, beb. Telat."

"Kamu tinggal chat aku. Biar aku yang jemput dari gerbang."

Salah satu temannya langsung nyeletuk, "Lah bukan gitu konsepnya, bro. Harusnya ya jangan telat."

"Lo pikir dia bisa dikasih tau pake cara normal?" jawab Cakra datar.

Anak-anak langsung ketawa. Sementara Narisa mendadak merasa tertohok di ulu hati.

"Makanya pake cinta ngomongnya."

"Iya, pelan pelan. Jangan pake nada guru Bk."

"Manja itu harus dibimbing, bukan dimarahin,"

Narisa langsung mencibir. "Najis banget tongkrongan kamu "

Cakra cuma menghela napas tipis sambil mendorong gelas jusnya ke depan Narisa.

"Minum dulu, sang," katanya pelan. "Hukumannya apa?"

Narisa melirik gelas itu sebentar sebelum menjawab malas. "Bersihin taman."

"Wah, cocok." Teman Cakra langsung nyengir. "Sekalian fotosintesis."

Narisa tersenyum miring. "Fotosintesis itu butuh cahaya." Dia bergelayut manja di lengan Cakra. "Nah, matahari gw di sini."

"Cie cie."

"Uhuk."

"Cihuy."

Narisa memutar mata. "Norak amat. Pada gak pernah pacaran ya?"

Cakra menahan senyum kecil. "Yaudah, nanti pulang sekolah aku bantu., "

Narisa langsung menoleh. "Eh, jangan, beb. Ini kan hukuman aku,"

"Daripada kamu nyuruh junior."

Narisa langsung diam.

Nada Cakra tetap biasa. Bahkan terlalu biasa. Tidak marah, tidak menggurui, tidak nyindir. Tapi entah kenapa itu membuat Narisa sedikit tidak nyaman. Dari tadi seperti ada yang.. berubah.

Entah Cakra mulai jengah dengan kenakalannya, atau ada sesuatu yang dia tidak tahu. Tapi Narisa cepat- cepat membuang pikiran itu.

Kalau Cakra memang lelah, dia tidak mungkin masih repot ingin membantu seperti ini. Apalagi beberapa detik kemudian tangan cowok itu naik mengusap kepalanya pelan seperti biasa.

"Jangan cemberut gitu," katanya ringan.

Aneh.

Cuma diusap begitu saja, mood Narisa langsung turun dari mode iblis ke manusia normal. Namun di tengah suasana itu, mata Narisa menangkap sesuatu.

Ada satu cewek di meja seberang yang sedari tadi melirik ke arah mereka. Tepatnya... ke arah Cakra. Setelah sadar ketahuan, tatapannya malah pindah ke Narisa.

Narisa langsung menyipitkan mata curiga.

Belum selesai sampai di situ. Waktu dia melirik ke sisi lain kantin, ada satu cewek lagi yang juga sedang melihat ke arahnya.

Tapi beda. Yang ini bukan melihat Cakra. Melainkan dirinya.

Narisa mulai merasa ada yang aneh.

Hari ini terlalu banyak tatapan random. Padahal dia cuma menghilang seminggu, bukan operasi plastik.

Tunggu.

Narisa mendadak merasa familiar dengan wajah cewek yang kedua. Itu junior yang pernah dia lihat ciuman sama Kara di dekat gudang.

Narisa langsung mengernyit.

Kenapa sih? Dua cewek itu ngeliatin gw pake aura black diamon? Kayak gw abis nyolong benda yang penting dari idup mereka aja.

.

1
Suka GL
Seru deh
Zye Rava
Aduh knp bos bramantyo kepo nikah segender ya mana anak orang lgi yang dinikahkan. agak lain ini orang 🤣
Inayah🥰
Ceritax ga kalah seru sm yg satux thor 😍 yg ini dua2x bar2
Felafel
Ceritamu seru semua thor next ya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!