Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.
Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.
Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.
Rachael Velencia.
Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.
Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34 - Operasi: Menarik Leon Keluar Rumah
Ruang tamu mansion yang biasanya terasa terlalu luas dan tenang kini terasa jauh lebih hidup.
Evelyn duduk dengan senyum yang tidak pernah benar-benar hilang sejak Rachael datang.
Axel berdiri di dekat sofa sambil sesekali melihat Leon dan menahan tawa.
Sementara Leon sendiri berdiri beberapa langkah dari Rachael.
Tatapannya masih tertuju pada gadis itu.
"Kau datang lebih awal."
Rachael berkedip.
"Hm?"
Leon melirik jam dinding.
"Kalau tidak salah..." Ia terdiam sebentar. "Bukannya kita pergi jam satu siang?"
Rachael terlihat berpikir. Lalu mengangguk.
"Iya."
"Lalu kenapa datang jam sepuluh pagi?"
"Oh... itu karena" Ekspresinya tetap santai.
"Aku bosan."
"..."
"Aku juga memang ingin keluar rumah."
Jawaban itu keluar begitu saja. Tanpa basa-basi.
Axel langsung memalingkan wajah sambil menggigit bibir. Karena ia hampir tertawa.
Sementara Leon terdiam beberapa detik.
"Aku bosan."
Hanya Rachael yang bisa datang ke mansion keluarga De Arther karena alasan seperti itu.
"Apa aku mengganggu?" tanya Rachael tiba-tiba.
Leon langsung mengangkat pandangan.
"Apa?"
"Karena datang terlalu cepat."
Rachael menunjuk dirinya sendiri.
"Kalau mengganggu, aku bisa pergi dulu."
Axel hampir tersedak udara.
"Pergi? Baru datang sepuluh menit sudah mau pulang?"
Dia benar-benar tidak mengerti konsep bertamu normal.
"Tidak."
Jawaban Leon keluar lebih cepat dari yang ia sadari sendiri.
Rachael berkedip.
"Tidak mengganggu."
"Oh, baiklah."
Selesai.
Sesederhana itu. Namun entah kenapa suasana menjadi sedikit aneh.
Leon menghela napas pelan. Lalu bertanya lagi.
"Kau datang naik apa?"
"Bus."
Leon langsung menatapnya.
"Sendirian?"
"Iya."
"Naik bus?"
"Iya."
Leon memejamkan mata sebentar.
Rachael mulai bingung.
"Kenapa?"
"Kau datang ke sini sendirian naik bus?"
"Iya. Kenapa terus mengulangi pertanyaannya yang sama? Aku tahu jalan, tidak akan tersesat."
"Itu bukan masalahnya."
Rachael semakin bingung.
"Tapi aku sampai dengan aman."
"Itu juga bukan masalahnya."
Rachael memiringkan kepala.
Lalu suasana mulai mengarah ke sesuatu yang sangat familiar.
Sebuah perdebatan kecil.
Yang biasanya terjadi setiap kali Leon terlalu khawatir dan Rachael terlalu santai.
Melihat tanda-tanda itu... Axel langsung bergerak.
"OKE!" Suara Axel terdengar keras.
Semua orang menoleh.
Axel mengangkat kedua tangannya.
"Ayo kita bahas hal penting."
"Apa?" tanya Rachael.
"Kue."
"Hah?"
"Kue yang kau bawa."
Rachael menunjuk kantong di meja.
"Oh. Iya itu kue."
"Iya aku tahu itu kue."
"Terus?"
"Apa boleh langsung makan?"
"Makan saja."
"Kau mengizinkannya?"
"Iya. Makan saja."
Axel langsung membuka toples. Secepat kilat.
"Ku pikir ini hanya untuk Leon"
Rachael bahkan belum selesai berbicara.
Evelyn sampai tertawa melihatnya.
"Aduh, Axel."
"Apa?"
"Kau ini benar-benar tidak punya malu."
"Aku punya."
"Kapan?"
"Kadang."
"Itu berarti tidak punya."
Axel langsung memasukkan satu kue ke mulutnya.
Matanya membesar.
"WOAH."
Rachael berkedip.
"Kenapa?"
"Ini enak."
"Tentu saja."
"Percaya diri sekali."
"Karena memang enak."
Evelyn tertawa kecil.
Sementara Leon yang tadi hampir berdebat akhirnya ikut duduk.
Suasana perlahan kembali santai.
Evelyn lalu menatap cucunya.
"Leon."
"Hm?"
"Jangan terlalu tegas pada Rachael."
Leon mengangkat alis.
"Aku tidak tegas."
Axel langsung batuk keras.
"Uhuk-uhuk."
"..."
Leon menatapnya dingin.
"Kenapa?"
"Gua cuma alergi kebohongan."
Rachael hampir tertawa.
Evelyn bahkan terang-terangan tertawa kali ini.
"Kau memang terlalu tegas."
"Tidak."
"Ya."
"Tidak."
Leon memijat pelipisnya.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya... Ia merasa dikeroyok oleh neneknya sendiri.
Rachael yang melihat itu akhirnya tersenyum kecil.
Pemandangan seperti ini terasa aneh.
Tapi juga hangat.
Karena biasanya mansion besar ini terlihat terlalu sempurna.
Terlalu rapi.
Terlalu formal.
Namun sekarang...
Ada Axel yang ribut. Ada Nenek Evelyn yang tertawa. Ada Leon yang diam-diam sedang dipermalukan.
Dan entah kenapa... Tempat itu terasa lebih hidup.
Evelyn kemudian menepuk tangan pelan.
"Baiklah."
"Apa?" tanya Axel.
"Kalian masih punya waktu sebelum jam satu."
"Itu benar."
Evelyn tersenyum penuh arti.
"Kenapa tidak menghabiskan waktu bersama dulu?"
Axel langsung menyeringai.
Rachael terlihat biasa saja.
Sementara Leon...
Entah kenapa tiba-tiba punya firasat buruk. Karena setiap kali Neneknya tersenyum seperti itu... Biasanya seseorang akan menjadi korban.
Dan kali ini... Kemungkinan besar adalah dirinya.
...----------------...
Leon seharusnya sudah sadar.
Setiap kali Nenek Evelyn tersenyum seperti itu, sesuatu pasti sedang direncanakan.
Dan biasanya... Korbannya adalah dirinya.
"Aku mau mengambil teh dulu."
Evelyn berdiri dari sofa.
"Aku ikut, Nek." Axel langsung berdiri.
Leon menyipitkan mata.
"Kau tidak suka teh."
"Aku berubah."
"Kapan?"
"Baru saja."
Leon langsung tahu itu bohong.
Sayangnya Axel tidak peduli.
Ia sudah berjalan mengikuti Evelyn menuju bagian lain mansion.
Sebelum pergi, Axel bahkan sempat mengedipkan mata ke arah Leon.
Sangat jelas.
Leon ingin melempar sesuatu ke kepalanya.
Namun terlambat.
Mereka sudah menghilang dari ruang tamu.
Dan sekarang... Tinggal Leon dan Rachael.
"..."
"..."
Suasana mendadak menjadi jauh lebih tenang.
Rachael sendiri tampak tidak menyadari apa pun.
Ia sedang memperhatikan taman melalui jendela besar ruang tamu.
"Rumputnya rapi, seperti lapangan sepak bola."
Leon menoleh.
"Hm?"
"Rumputnya."
Rachael menunjuk ke luar.
"Sangat rapi."
"..."
Itu komentar pertama yang keluar dari mulutnya setelah ditinggal berdua.
Leon menghela napas pelan.
"Karena ada tukang kebun."
Rachael mengangguk.
"Itu masuk akal."
Hening lagi.
Aneh.
Biasanya Leon tidak pernah kesulitan menghadapi rapat bisnis atau negosiasi penting.
Namun saat hanya berdua seperti ini... Ia justru tidak tahu harus memulai dari mana.
Rachael mengambil satu kue dari toples yang ia bawa. Lalu menggigitnya pelan.
"Kau tidak makan?"
"Aku nanti saja."
Rachael mengangguk lagi.
Kemudian melanjutkan makan.
Leon memperhatikannya beberapa saat. Lalu akhirnya memutuskan berbicara.
"Chael."
"Hm?"
"Kau memang sering bosan di rumah?"
Rachael berpikir sejenak.
"Sering."
"Kenapa?"
"Aku tinggal sendirian hampir sepanjang hari."
Leon terdiam.
Ia memang pernah mendengar kedua orang tua Rachael sibuk bekerja.
Tapi mendengarnya langsung terasa berbeda.
"Biasanya kau melakukan apa?"
"Membaca."
"Hanya membaca?"
"Kadang memasak."
"Lalu?"
"Belajar. Menonton."
"Lalu?"
Rachael berpikir cukup lama.
"...tidur."
Leon hampir tertawa.
Hidupnya terdengar sangat sederhana.
Jauh berbeda dari kehidupannya sendiri yang penuh jadwal, pengawal, rapat keluarga, dan berbagai masalah lain.
"Kau tidak pernah merasa kesepian?"
Pertanyaan itu keluar tanpa sadar.
Rachael tampak berpikir. Kali ini lebih lama.
"Aku tidak tahu."
"Hm?"
"Aku sudah terbiasa."
Jawaban itu sederhana.
Namun membuat Leon terdiam.
Karena ia memahami arti kalimat itu.
Bukan tidak kesepian.
Melainkan sudah terlalu terbiasa sendirian sampai tidak lagi memikirkannya.
Untuk sesaat...
Tatapan Leon sedikit melembut. Kemudian ia menyandarkan punggung ke sofa.
"Kau aneh."
Rachael langsung menoleh.
"Kenapa semua orang selalu bilang begitu?"
"Karena memang begitu."
"Itu penghinaan."
"Itu fakta."
"Jahat."
Leon mengangkat alis.
"Baru tahu?"
Rachael memandangnya beberapa detik. Lalu tiba-tiba tertawa kecil.
Dan untuk sesaat...
Leon merasa suasana tenang seperti ini tidak buruk.
Tidak ada urusan keluarga.
Tidak ada Moretti.
Tidak ada laporan keamanan.
Tidak ada tekanan sebagai pewaris keluarga De Arther.
Hanya percakapan sederhana.
Dan seseorang yang membuat mansion besar ini terasa sedikit lebih hangat dari biasanya.
Di ujung koridor lantai dua...
Axel diam-diam mengintip dari balik pilar.
"Menurut nenek gimana, Nek?"
Evelyn ikut mengintip.
"Hm."
"Mereka ngobrol soal apa?"
"Aku tidak tahu."
"Kenapa cuma ngobrol biasa?"
Evelyn tersenyum kecil.
"Karena hubungan yang baik tidak selalu dimulai dari hal besar."
Axel menghela napas.
"Aku mengharapkan perkembangan lebih cepat."
"Kau terlalu tidak sabaran."
Sementara itu, tanpa menyadari sedang diawasi...
Leon dan Rachael tetap duduk di ruang tamu.
Menghabiskan waktu bersama hingga keberangkatan mereka ke taman hiburan semakin dekat.
...****************...
Bersambung...
iklan buat kamu
Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe