Dihianati oleh kekasih yang dicintai memang begitu menyakitkan, apalagi kekasih yang ia percaya akan membuat dirinya bahagia ternyata diam diam menjalin hubungan dengan sepupunya. Namaku Alisha Azura inilah kisah cintaku dan perjalanan hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ersy 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7
Sudah berapa kali papa katakan, jangan sekali kali kamu datang ke rumah Mohan untuk mengemis perhatian keluarganya..!! Kamu tau papa tidak suka jika ada orang lain memandang rendah keluarga kita. Apa segitunya kamu merasa kesepian sehingga mengemis perhatian dari mereka hah ??!! Jawab pertanyaan papa Vania jangan hanya bisa menangis seperti orang bodoh!!" bentak Roni dengan nafas memburu menahan amarahnya.
Vania yang sejak tadi menunduk dan menangis terisak pada akhirnya ia perlahan mengangkat kepala dan ia bisa melihat wajah papanya yang diliputi kemarahan sehingga kulit wajah yang tadinya putih berubah memerah dengan mata menyorot tajam. "Apa yang papa katakan memang benar, Vania merasa kesepian dan kurang perhatian dari papa dan mama. Sejak kecil Vania sudah di asuh oleh pembantu, sedangkan kalian berdua sibuk mencari uang uang dan uang tanpa memperdulikan Vania. Vania iri melihat teman teman Vania, meskipun mereka memiliki orang tua yang sibuk kerja tapi ada waktu untuk anak mereka. Sedangkan Vania sampai lupa apa yang namanya perhatian dari orang tua. Bagaimana rasanya dikawatirkan saat Vania sakit, dicariin saat Vania telat pulang sekolah. Apa salahnya kalau Vania mencari perhatian kepada mama dan papa?, kalau kehadiranku tidak berarti apa apa untuk kalian untuk apa Vania dilahirkan ke dunia ini, lebih baik Vania enggak pernah dilahirkan didunia ini, dari pada Vania enggak dianggap ada..!!" teriak Vania histeris dengan linangan air mata.
Plak
Plak
"Lancang..!! Berani beraninya kamu meninggikan suaramu didepan papa, dasar anak tidak tau diuntung..!!" saat Roni bersiap akan menampar putrinya pagi Laras langsung pasang badan melindungi putrinya dari kemarahan suaminya.
"Sudah cukup mas, kamu sudah keterlaluan sekali. Yang dikatakan Vania memanglah benar, kita yang salah sebagai orang tua kita lalai terhadap anak kita" ujar Laras dengan air mata menetes dikedua pipinya.
"Kamu juga sama saja dengan putrimu, dasar istri tidak berguna. Aku menginginkan seorang anak laki-laki malah kamu melahirkan anak perempuan yang enggak berguna.
Aargghh...
Pergi kalian dari hadapanku, aku muak melihat wajah kalian berdua terutama anak enggak berguna ini!" bentak Roni yang langsung pergi meninggalkan rumahnya tanpa berpamitan. Sedangkan Laras dan Vania saling berpelukan untuk saling menguatkan satu sama lain.
"Maafkan mamamu ini nak, mama janji mulai sekarang mama akan berusaha menjadi mama yang baik dan mulai mengurangi kesibukan mama. Sekali lagi maafkan mama dan papa ya sayang" ucap Laras memeluk erat putrinya dan mengelus punggung putrinya dengan lembut memberikan ketenangan. Vania hanya mengangguk kecil saat mendengar perkataan mamanya. Sejujurnya Vania sudah tidak ingin berharap lebih terhadap mamanya karena mamanya sudah beberapa kali mengingkari janjinya sendiri. Vania sudah sangat kecewa sekaligus terluka dengan sikap kedua orang tuanya.
"Istirahatlah sekarang sudah malam, besok mama masakin makanan kesukaanmu" ucap Laras mencoba menghibur putrinya. Vania yang mendengar perkataan mamanya langsung menatap wajah cantik mamanya dengan tatapan ragu takut mamanya mengingkari janjinya. Seolah mengerti arti tatapan putrinya Laras tersenyum lembut "Mama janji sayang, mama enggak akan mengingkari janji mama. Besok mama akan masak masakan kesukaan putri cantik mama" ucapnya dengan menjawil hidung mancung Vania. Vania tersenyum lalu mengangguk pelan "Ya ma, yaudah Vania masuk kedalam kamar dulu, mama juga segeralah pergi istirahat" sahut Vania langsung meninggalkan mamanya yang masih diruang tamu seorang diri.
"Aku tau nak, mama dan papa sudah sering kali membuat kamu kecewa terutama terhadap mama. Mulai sekarang mama akan berusaha menjadi mama yang lebih perhatian lagi terhadap kamu" Laras langsung pergi ke kamarnya sendiri untuk istirahat.
Keesokan harinya Vania sudah bangun pagi, ia ingin membuktikan perkataan mamanya. Saat baru turun dari tangga Vania langsung berjalan menuju dapur. Saat sampai dapur yang ia lihat hanya asisten rumah tangga tidak ada mamanya. Vania tersenyum getir "Bodoh banget kamu Van, masih saja percaya dengan perkataan mamamu" batin Vania dalam hatinya.
Bik Darmi yang menyadari kedatangan nona mudanya langsung menghampirinya "Eh non Vania, sudah bangun non. Tunggu sebentar ya non sebentar lagi sarapan sudah matang kok tingal siapkan diatas meja makan" ucap bik Darmi tersenyum hangat.
"Enggak usah bik, Vania enggak berselera makan apapun" jawab Vania datar. Ia langsung pergi meninggalkan dapur kembali ke kamarnya. "Non Vania tunggu dulu, tadi nyonya sudah nyiapin sarapan roti panggang untuk non Vania diatas meja makan. Sebenarnya tadi nyonya mau buatin non Vania nasi goreng seafood tapi tiba-tiba ada panggilan penting dari kantor jadi nyonya hanya sempat membuatkan roti panggang saja" ucap bik Darmi buru buru mengejar nona mudanya sebelum benar-benar pergi. Vania yang mendengar perkataan bik Darmi, tanpa mengatakan apapun ia langsung pergi ke meja makan dan benar saja diatas piring ada 2 potong roti panggang. Vania tersenyum kecil saat melihat roti panggang tersebut, hatinya sedikit menghangat melihat mamanya masih berusaha menyiapkan sarapan untuknya meskipun hanya roti panggang seenggaknya mamanya sudah berusaha menyenangkan hatinya. Vania langsung duduk di kursi bersiap menikmati roti panggang tersebut, namun saat akan menggigit roti panggang tersebut Vania mencium selai kacang yang tiba-tiba membuat Vania benar benar kecewa. "Aku kan alergi kacang, kenapa mama malah ngasih selai kacang. Apa mama lupa kalau aku alergi kacang atau mama enggak tau kalau aku alergi kacang" gumam Vania kecewa ia langsung meletakkan lagi roti panggang tersebut diatas piring.
Mbok Darmi yang menyadari perubahan sikap nona mudanya langsung bertanya "Loh non kenapa enggak jadi dimakan sarapannya?" tanya mbok Darmi heran. Vania langsung menghentikan langkahnya lalu berkata pelan "Buat bibi saja, Vania masih kenyang" jawab Vania tanpa menoleh, setelah itu kembali melangkahkan kakinya masuk kedalam kamarnya. Bik Darmi merasa ada yang aneh segera mendekati piring yang berisi roti panggang tersebut. Saat mengangkat piring bik Darmi mencium aroma selai kacang "Pantesan non Vania enggak mau makan wong non Vania alergi kacang. Ini roti panggangnya malah dikasih selai kacang sama nyonya" gumam bik Darmi menggeleng pelan. "Kasihan sekali nona muda, pasti kecewa sama nyonya" gumam bik Darmi langsung membawa pergi sepiring roti panggang tersebut ke dapur.
Didalam kamar Vania kembali merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur. Ia berulang kali menghela nafas panjang jika mengingat kejadian tadi. "Sampai kapan hidupku kayak gini, sumpah aku kayak anak yatim piatu. Punya orang tua tapi kayak anak yatim piatu hahaha..." Vania tertawa namun air matanya mengalir deras.
\>\>\>\>\>\>\>\>
Sedangkan di apartemen Santa pagi pagi sekali terjadi kehebohan. Saat itu Alisha yang terbangun gara-gara merasa haus, ia melirik kearah nakas namun air didalam gelas sudah kosong. Akhirnya Alisha keluar kamar untuk mengambil air minum. Sejujurnya dia masih mengantuk karena semalam ia harus begadang menjaga Santa yang demam tinggi. Alisha dengan telaten merawat Santa yang sedang sakit. Setelah demam Santa turun Alisha baru bisa tidur jam 3 pagi. Karena sangking ngantuknya Alisha tertidur dengan posisi duduk di kursi samping tempat tidur Santa. Alisha terbangun karena merasa haus dan juga pinggangnya terasa pegal karena tidur posisi duduk. Alisha keluar kamar dengan membawa gelas kosong menuju dapur. Didapur lampu dalam keadaan temaram sehingga Alisha tidak menyadari adanya seseorang karena kedua matanya masih terasa mengantuk. Alisha langsung mengambil air minum dari dalam kulkas lalu mengisi air kedalam gelas. Alisha langsung menegak habis air dalam gelas tersebut dengan posisi berdiri. Saat ia masih fokus minum tiba tiba terdengar suara bariton "Jangan minum dalam posisi berdiri, sayangi kesehatan ginjal mu" ucap pria tersebut tepat dibelakang Alisha. Alisha yang masih minum langsung menyemburkan air minumnya secara spontan sehingga Alisha langsung tersedak " Uhuk uhuk uhuk.." Alisha langsung meletakkan gelas diatas meja. Wajahnya langsung memerah gara gara tersedak air minum.
Alisha langsung berbalik badan sehingga ia bisa melihat dada bidang seseorang tepat didepan matanya. Karena tinggi badan Alisha hanya sebatas dada pria tersebut. Pria tersebut memiliki tinggi badan sekitar 190 cm dengan tubuh tinggi tegap kulit putih bersih berdiri tepat dibelakangnya. Alisha langsung mendongak untuk melihat wajah orang tersebut. Kedua matanya langsung melotot lucu dan bibirnya terbuka lebar sangking terkejutnya ada orang yang tinggi badan seperti raksasa.
"Ya Tuhan ini manusia apa raksasa ya tinggi sekali tapi wajahnya tampan banget" batin Alisha kaget sekaligus kagum. Sedangkan pria yang ditatapnya juga menatapnya dengan tatapan datar. "Kamu maling ya?? Kalau maling kok tampan banget" puji Alisha tanpa sadar.
"Menurutmu apa ada maling setampan saya" sahut pria asing tersebut santai.
"Aaaaaa...ada maling..." jerit Alisha begitu kencang sehingga memekakkan telinga pria tersebut.
David yang mendengar jeritan Alisha langsung membekap mulut Alisha agar tidak berteriak lagi.
"Sssstt ..diam jangan berteriak saya bukan maling seperti yang kamu tuduhkan" bisik pria tersebut ditelinga Alisha. Sangking kagetnya David membekap mulut Alisha dari arah belakang jadi secara tidak langsung David memeluk Alisha dari belakang.
Deg
Tiba-tiba jantung David berdetak kencang saat merasakan hangatnya tubuh mungil gadis didepannya yang tanpa sengaja ia peluk. Sedangkan Alisha sudah meronta ronta berusaha melepaskan diri dari bekapan pria asing tersebut.
Setelah berhasil terlepas Alisha langsung mendorong tubuh pria tersebut meskipun tidak bergeser sedikitpun. "Mana ada maling ngaku, jelas jelas kamu masuk kedalam apartemen teman saya tanpa permisi. Apa namanya kalau bukan maling!" bentak Alisha marah.
Alisha melihat sekeliling dapur mau mencari sesuatu yang bisa untuk memukul maling tersebut. Akhirnya tatapan mata Alisha tertuju kearah spatula. Alisha langsung mengambil spatula tersebut bersiap untuk memukul pria asing tersebut. David yang menyadari gerak gerik gadis tersebut hanya tersenyum kecil, gadis tersebut terlihat lucu sekaligus mengemaskan dimatanya.
"Ayo sekarang kamu harus pergi dari sini sebelum saya benar-benar marah terhadapmu. Ayo cepat keluar dari sini, kalau tidak jangan salahkan aku harus memakai kekerasan terhadap kamu!!" usir Alisha dengan expresi garang. David yang melihat expresi itu bukannya takut justru ia makin menikmati pemandangan tersebut.
Bukannya pergi David justru berubah posisi duduk santai, seolah olah tidak terjadi sesuatu. Alisha yang melihat itu kedua matanya langsung melotot tajam ia bersiap akan memukul pria tersebut dengan spatula yang sejak tadi ia pegang. Namun sebelum spatula tersebut menyentuh pundaknya, David malah menarik tangannya dan saat ini Alisha duduk diatas pangkuan pria tersebut. Alisha yang terkejut kedua matanya semakin membola mulutnya terbuka lebar sangking terkejutnya. Belum sempat Alisha berteriak David langsung membekap mulutnya kembali dengan tangannya.
"Sssstt..diam dengar kan saya baik baik, saya bukan maling nama saya David Cullen kakak kandung Santa Aurora. Sekarang kamu sudah mengerti gadis kecil" bisik David tepat ditelinga Alisha sehingga nafas hangat pria tersebut terasa hangat sehingga mengenai pipinya.
Alisha yang mendengar perkataan pria tersebut hanya bisa mengangguk pelan dengan tatapan matanya menatap wajah tampan pria tersebut seolah olah dirinya terhipnotis dengan ketampanan seorang David Cullen. David yang gemas melihat expresi tersebut tanpa sadar langsung mengecup singkat bibir mungil tersebut.
"Ehh.. bibirku" Alisha yang baru saja tersadar langsung turun dari pangkuan pria tersebut. Kedua pipinya langsung bersemu merah antara kaget sekaligus marah karena pria asing tersebut sudah mengambil ciuman pertamanya.
"Kamu.." belum sempat Alisha mengeluarkan amarahnya David kembali mengecup bibirnya lagi tanpa merasa bersalah. Setelah itu David kembali masuk kedalam kamar yang ia tempati tanpa menoleh kebelakang. Sedangkan Alisha yang kembali terkejut pipinya semakin memerah. "Brengsek!! pria gila, bisa bisanya Santa punya kakak gila seperti dia" geram Alisha benar-benar marah. Setelah itu Alisha langsung masuk kedalam kamar Santa dan segera memasukkan ponselnya kedalam tas dan menyambar kunci mobil dan segera pergi meninggalkan apartemen tersebut tanpa berpamitan karena Santa masih tertidur pulas. Alisha pulang kerumahnya dengan membawa mobilnya sedikit ngebut beruntung jalanan masih sepi.