Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Asya berjalan menuju asrama dengan membawa kresek yang diberi gus Kafka. Sepanjang perjalanan ia tampak melamun memikirkan sesuatu yang mengganjal pikirannya. Asya memikirkan kenapa gus Kafka bisa menyukai dirinya padahal Asya sangat cuek kepada gus Kafka.
Ceklek
Asya memasuki kamar asramanya. Terlihat Rara yang sedang tidur siang. Asya berjalan santai menuju kasurnya. Ia juga merebahkan diri seperti Rara. Mumpung masih free dan kegiatan pondok juga dimulai setelah sholat ashar nanti.
"Kamu udah kembali Sya?," tanya Rara yang sudah duduk di kasurnya
"Iya Ra," jawab Asya singkat
"Apa yang kamu bawa itu," tanya Rara kepo
"Salep," ucap Asya enteng
"Pasti dikasih Umi ya?," tebak Rara
"Bukan tapi dari gus Kafka," jawab Asya pelan
"Tuh kan! Aku bilang juga apa. Gus Kafka itu beneran cinta sama kamu Sya. Buktinya aja tadi aku lihat wajahnya yang khawatir waktu kita perjalanan pulang. Terus juga semalem aku tau kalo di samping masjid kamu sama gus-," ucap Rara keceplosan lalu menutup mulutnya
"Apa? Jadi kamu tau kejadian di samping masjid semalem?," tanya Asya kaget
"Iya Sya. Maaf bukan maksud aku buat menguping tapi aku khawatir kamu belum balik ke asrama. Jadi ya aku carilah," ucap Rara menjelaskan
"Jadi, kamu denger waktu gus Kafka mengungkapkan semuanya," ucap Asya
"Iya bukan hanya aku tapi juga Ustadz Malik. Kami berdua nggak sengaja bertemu," ucap Rara sambil tersenyum
"Aku nggak tau harus gimana, Ra," ucap Asya pelan
"Tenang aja Sya. Serahkan semua kepada Allah. Aku selalu mendukung setiap keputusan kamu nantinya," ucap Rara sambil tersenyum
"Aku takut nantinya akan kecewa Ra," gumam Asya pelan
"Nggak ada salahnya kamu buka hati untuk gus Kafka. Aku bisa melihat ketulusan dari matanya," ucap Rara menyarankan
"Aku masih bingung dengan semua ini Ra," ucap Asya memandang lurus ke depan
"Tapi aku dan Ustadz Malik yakin banget kalo nantinya kalian bisa bersama. Kita nggak sengaja denger pembicaraan kalian di eh-," ucap Rara keceplosan sambil menutup mulutnya membuat Asya mendengus kesal
"Oh jadi kalian berdua menguping," ucap Asya kesal
"Ya maaf," ucap Rara sambil cengengesan
"Dasar kalian berdua emang nggak ada akhlak. Main menguping pembicaraan orang saja," ucap Asya sinis
"Kami itu nggak sengaja Ra. Lagian yang menunjukkan semuanya itu Allah," ucap Rara cengengesan
"Terserah deh," ucap Asya lalu memejamkan matanya sesekali meringis
"Luka kamu masih sakit Sya?," tanya Rara khawatir saat melihat Asya seperti nahan sakit
"Udah enggak kok. Bentar lagi palingan juga sembuh," ucap Asya yang masih memejamkan mata
"Ya udah, mending kamu istirahat aja dulu. Nanti aku bangunin kalo udah mau ashar," ucap Rara yang membuat Asya menganggukkan kepalanya
Di sisi lain, gus Kafka tengah menghabiskan waktu dengan orang tuanya. Sesekali mereka mengobrol ringan diselingi candaan.
"Kamu udah ada calon, Kaf?," tanya Abi Ahmad setelah menyesap kopinya
"Calon apa Abi?," ucap gus Kafka bingung
"Masak kamu nggak ngerti sih, Nak," sahut Umi Syakira terkekeh
"Calon mantu buat Abi dan Umi," ucap Abi Ahmad sambil tersenyum
"Belum kepikiran kesitu Abi," ucap gus Kafka sambil tersenyum paksa
"Abi beri kesempatan untuk kamu mencari sendiri. Tapi jika nanti sampai saatnya tiba dan kamu belum menemukannya maka kamu akan Abi jodohkan," ucap Abi Ahmad tegas
"Iya Abi," jawab gus Kafka lesu
'Sebenarnya udah ada yang nyangkut di hati. Tapi sayang, dianya belum bisa buka hati' batin gus Kafka miris
Skip
Saat ini jadwalnya santri untuk setor hafalan. Sedari tadi teman sekelas Asya sibuk komat-kamit mengulang-ulang hafalannya. Asya sedari juga berusaha memperkuat hafalannya.
Terdengar langkah laki seseorang memasuki kelas. Seketika kelas langsung hening. Terlihat gus Kafka yang masuk dan tak lupa membawa kitab di tangannya.
"Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam gus Kafka
"Waalaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," salam santriwati di kelas
"Baiklah, hari ini waktunya setor hafalan ya ukhti. Saya sarankan untuk fokus dengan hafalannya. Jangan fokus dengan saya nanti bisa hilang loh hafalannya," ucap gus Kafka lalu tersenyum
Sontak seluruh santriwati di kelas tertawa mendengar tuturan gus Kafka itu.
"Baiklah, kita mulai saja. Saya absen ya," ucap gus Kafka lalu membuka buku absennya
Seluruh santriwati bergiliran untuk menghafal. Mereka begitu antusias dalam hafalannya. Gus Kafka tersenyum bangga dengan santri abinya.
Setelah selesai dengan hafalan, kini santriwati berhamburan keluar dari kelas. Karena 25 menit lagi adzan maghrib.
Kelas sudah sepi menyisakan 3 orang yang berada di kelas ini. Gus Kafka, Asya dan juga Rara. Langkah Asya dan Rara terhenti saat gus Kafka memanggil.
"Aku tunggu di luar aja ya Sya," ucap Rara lalu keluar kelas
Gus Kafka berjalan mendekati Asya. Ia berdiri dengan jarak 1 meter dari Asya.
"Bagaimana keadaan kamu?," tanya gus Kafka
"Sudah lebih mendingan," jawab Asya singkat
"Saya sangat khawatir saat tau kamu terluka seperti itu. Apalagi alasannya karena berkelahi dengan preman," ucap gus Kafka
"Saya dari kecil selalu ikut bela diri," jawab Asya menjelaskan
"Oh ya? Hebat dong bisa buat bekal melindungi diri," ucap gus Kafka sambil tersenyum
"Biasa saja Gus," ucap Asya
"Asya," panggil gus Kafka lembut
"Iya Gus?," ucap Asya bingung
"Izinkan saya mengenalmu lebih jauh," ucap gus Kafka tulus
Asya terdiam dan menundukkan kepalanya. Ini terlalu cepat baginya. Gus Kafka tersenyum sambil menundukkan pandangannya.
"Saya tidak memaksa kamu untuk menjawab sekarang. Mungkin kamu masih terkejut dengan semua ini. Saya akan menunggu sampai kamu benar-benar siap," ucap gus Kafka
"Maaf gus," ucap Asya pelan
"Tidak apa, setidaknya saya sudah mengungkapkan isi hati saya yang sesungguhnya," ucap gus Kafka
"Kenapa harus saya gus?," tanya Asya
"Saya tidak punya alasan. Satu-satunya alasan ya karena Allah yang membuat hati saya condong kepada kamu sejak awal saya melihat kamu," ucap gus Kafka menjelaskan
Hening
Mereka berdua sibuk dengan pikirannya masing-masing. Hati Asya tak karuan mendengar ungkapan cinta dari gus Kafka.
"Jangan kamu jadikan beban apa yang saya ungkapkan tadi. Semua keputusan ada di tangan kamu. Saya akan berusaha menunggu apapun jawaban kamu nantinya," ucap gus Kafka setelah terdiam
"Beri saya waktu. Saya akan berusaha," ucap Asya pelan
"Maksudnya?," ucap gus Kafka bingung
"Memantapkan hati," ucap Asya pelan
"Sungguh?," tanya gus Kafka
"Iya," jawab Asya yang menunduk
"Terima kasih," ucap gus Kafka tulus
Asya menganggukkan kepalanya.
"Saya permisi dulu Gus. Assalamualaikum," pamit Asya lalu keluar kelas
"Waalaikumsalam," jawab gus Kafka sambil menatap kepergian Asya
Gus Kafka tersenyum setelah mendengar ucapan Asya. Meski Asya belum sepenuhnya membuka hati untuknya. Setidaknya ia masih punya kesempatan untuk bisa bersanding dengan Asya nantinya.
Tinggal menunggu rencana Allah selanjutnya.