Salwa Azzahra, gadis berusia 22 tahun, menikah dengan orang yang sangat dia cintai , dan berharap Salwa bisa keluar dari rumah yang membuathya terluka . namun harapannya hancur seketika di malam pertama pernikahan .
Baru saja akad dilaksanakan, Yogie, suaminya, langsung menjatuhkan talak tiga tepat di malam itu juga, tanpa penjelasan yang masuk akal. Ia mengembalikan Salwa ke rumah orang tuanya seolah gadis itu barang yang tidak berguna. Salwa hancur, merasa harga dirinya diinjak-injak, dan kini harus menanggung malu serta fitnah masyarakat yang menuduhnya bersalah hingga diceraikan secepat itu.
Di balik sikap dingin Yogie, ternyata ada rahasia besar dan alasan tersembunyi yang membuatnya terpaksa melakukan hal menyakitkan itu, meski sebenarnya ia menyimpan rasa peduli. Takdir mempertemukan mereka kembali bertahun-tahun kemudian, saat luka keduanya belum sembuh , apakah Salwa akan kembali pada Yogie?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Re _ ara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1. Talak Tiga
Aroma bunga mawar dan dupa masih tercium kuat di seisi kamar pengantin. Lampu gantung yang redup memancarkan cahaya keemasan, membuat segala sesuatu tampak indah namun indah itu hanya sekejap mata.
Salwa Azzahra duduk di pinggir ranjang, jari-jarinya meremas ujung kain gaun pengantin berwarna putih yang kini terasa berat dan menyiksa. Jantungnya berdegup kencang, campuran antara rasa gugup, harapan, dan sedikit ketakutan. Ia baru saja resmi menjadi istri Yogie Pratama, pria yang sangat dicintai salwa . yang dia harapkan bisa membawanya keluar dari rumah yang selama ini menghimpit dadanya.
Pintu kamar terbuka perlahan. Yogie masuk, menutup pintu kembali dan menguncinya. Pria itu tampan, berbadan tegap, wajahnya dingin namun terlihat tenang. Ia berjalan mendekat, namun tatapannya tidak ada kehangatan yang biasa ada pada pengantin baru.
Salwa menundukkan wajah, pipinya memerah karena malu. "Mas Yogie..." suaranya terdengar lirih dan bergetar.
Yogie berhenti tepat di hadapannya. Ia menatap gadis itu tajam, seolah ada kebencian besar yang tertahan di balik kedua matanya. Napasnya berat, rahangnya mengeras.
"Salwa," ucapnya pelan namun tegas. Suara itu membuat bulu kuduk Salwa meremang.
"Ya, Mas?" Salwa mengangkat wajah, menatap bingung. Ada sesuatu yang salah. Ia bisa merasakannya.
Yogie menarik napas panjang, lalu menghembuskannya kasar. Ia membuang muka sejenak, sebelum kembali menatap Salwa dengan pandangan yang tak terbaca.
"Kau tahu kenapa aku bersedia menikahimu?" tanyanya tiba-tiba.
Salwa menggeleng pelan. "Ka-katanya... Mas Yogie juga menginginkan pernikahan ini. Untuk kebaikan kita berdua..."
Yogie tertawa sinis. Tawa yang penuh kepahitan dan kemarahan. "Kebaikan? Kau pikir aku benar-benar mau menikah denganmu? Gadis yang penuh noda dan masa lalu kotor seperti dirimu?"
Kalimat itu menghantam dada Salwa seperti batu besar. Matanya membelalak, air mata mulai menggenang. "Ma-maksud Mas? Aku tidak mengerti... Apa salahku? Aku datang kemari dengan hati yang bersih, aku ingin menjadi istri yang baik..."
"Cukup!" Yogie membentak, membuat Salwa tersentak mundur. Ia kembali menatap tajam, nada bicaranya berubah dingin dan kejam. "Dengar baik-baik, Salwa Azzahra. Aku tidak butuh istri, aku tidak butuh wanita sepertimu. Pernikahan ini hanya satu hal yang harus aku selesaikan. Dan sekarang... selesai sudah."
Yogie mundur selangkah, lalu mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi. Suaranya meninggi, bergema di seisi kamar yang sunyi itu, menembus dinding dan menghancurkan seluruh harapan Salwa yang baru saja tumbuh.
"Dengan nama Allah, aku jatuhkan talak tiga kepadamu, Salwa. Mulai detik ini, kau bukan lagi istriku. Kau bebas, dan aku bebas darimu."
Hening. Hening yang mencekam.
Salwa tertegun, mulutnya terbuka namun tak ada suara yang keluar. Ia merasa bumi berputar, seolah tanah di bawah kakinya runtuh. Kata-kata itu... talak tiga... di malam pertama pernikahan mereka?
"Ta-talak...?" bisiknya parau, air mata mulai menetes deras membasahi pipi. "Kenapa, Mas? Demi apa? Kita baru saja sah, kita baru saja menjadi suami istri... Apa salahku? Apa dosaku sampai Mas melakukan ini padaku?" Ia menggapai lengan Yogie, namun dengan kasar pria itu menepisnya.
"Jangan sentuh aku!" seru Yogie jijik. "Kau tidak perlu tahu alasannya. Yang perlu kau tahu, aku tidak mau memelihara wanita yang sudah ternoda sebelum menikah. Kau pikir aku tidak tahu apa yang terjadi padamu di rumah ayah tirimu? Semua orang tahu, Salwa. Kau sudah rusak, dan aku tidak mau mengambil sisa barang bekas orang lain!"
Kalimat itu menusuk tepat ke jantungnya. Salwa terhuyung jatuh ke lantai, tubuhnya terasa lemas tak berdaya. Jadi... semua ini karena masa lalunya? Karena kekejaman yang pernah menimpanya, hal yang sama sekali bukan kesalahannya?
"Tapi aku tidak salah... Aku tidak meminta semua itu terjadi padaku..." isaknya, suaranya hilang tertutup tangis. "Aku korban, Mas... Aku hanya ingin perlindungan..."
Yogie membalikkan badan, tidak mau lagi menatapnya. Ia berjalan ke arah pintu. "Bawa barang-barangmu. Sekarang juga. Aku sudah memanggilkan kendaraan. Kau pulang ke rumah orang tuamu. Katakan pada mereka, aku tidak mau menampung wanita kotor sepertimu di rumahku."
"Mas Yogie, kumohon... Jangan begini... Tolong dengarkan aku..." Salwa merangkak mendekat, berusaha menahan kaki pria itu, namun pintu sudah terbuka dan Yogie melangkah keluar, meninggalkannya sendirian di kamar yang indah namun kini terasa seperti penjara paling gelap di dunia.
Pintu tertutup rapat kembali.
Salwa meringkuk di lantai, menangis sejadi-jadinya. Sakitnya bukan hanya karena diceraikan, tapi karena harga dirinya diinjak-injak, kenyataan pahit bahwa luka masa lalunya justru menjadi senjata yang menghancurkannya kembali. Di luar sana, ia bisa mendengar suara-suara bisik-bisik keluarga Yogie, tawa kecil, dan ucapan-ucapan buruk yang jelas-jelas ditujukan padanya.
"Benar kata orang, wanita itu memang tidak baik..."
"Baru malam pertama sudah diceraikan, pasti ada yang salah..."
"Mana ada suami yang berbuat begitu kalau istrinya baik-baik saja..."
Salwa menutup telinga, namun kata-kata itu masuk terus, menghancurkan sisa-sisa keberaniannya. Di malam yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan, ia justru menjadi janda dalam sekejap mata.
Dan di balik pintu tertutup itu, Yogie berdiri bersandar di dinding, tangannya mengepal erat hingga buku jarinya memutih. Matanya merah, napasnya memburu. Di balik kejamnya kata-kata dan sikap dinginnya, ada rasa sakit yang jauh lebih besar yang ia sembunyikan rapat-rapat. Ia melakukan ini bukan karena benci, bukan karena jijik... tapi karena satu rahasia besar yang memaksanya harus menyakiti Salwa, demi menyelamatkan nyawa gadis itu sendiri.
Namun, Salwa tidak tahu itu. Dan malam itu, bagi Salwa, Yogie adalah orang yang paling kejam di dunia ini.
Salwa lalu membereskan baju yang sempat dia bawa dari rumah. hatinya terasa sakit melihat sikap Yogie , pria yang dia cintai diam-diam . ini dia merasakan hancur . selama ini Salwa hidup dalam rumah yang menyusahkan dada . kedua orang tuanya tidak begitu menyukainya .
" kenapa .... semua orang sangat membenciku ? Apa salahku ? kenapa dunia ini begitu kejam ?" isak Salwa . Sambil memasukan barang - barangnya kedalam koper .
setelah selesai Salwa lalu keluar dari kamar pengantin . di ruang keluarga orang tua Yogi dan saudara-saudaranya menatap dengan sinis . banyak kata-kata cemoohan yang keluar dari mereka .
" dasar wanita murahan ! Enak saja mau menikah dengan anak saya . Emang enak diceraiin ." sindir ibunya Yogie .
Dari awal memang , keluarga Yogi tidak setuju kalau Yogi menikah dengan Salwa . tapi saat itu Yogi memaksanya agar menerima Salwa .
" ayah , ibu ...aku akan menikah dengan Salwa . kalian harus menyetujuinya . Karena aku sangat mencintai Salwa . " ucap Yogie saat itu.
Dan pada akhirnya kedua orang tua Yogie dan keluarganya pun menyetujui pernikahan mereka dengan terpaksa .
Bersambung ,,,
Jangan lupa like dan koment ya ,,, Biar othor nya semangat menulisnya . terimakasih 😘😘😘