NovelToon NovelToon
Sinyal Cinta Sang Teknisi

Sinyal Cinta Sang Teknisi

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:761
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Pertemuan singkat di sebuah mess karyawan mengubah hidup Abraham. Saat Pramesti datang mengambil kucingnya bersama sang adik, Prita, Abraham langsung terpikat oleh pesona gadis itu. Ketertarikan yang tulus mendorong Abraham untuk menyatakan perasaannya.
Namun, kejujuran Abraham justru membentur tembok tinggi. Orang tua Prita menolak mentah-mentah hubungan mereka karena status sosial. Bagi mereka, seorang teknisi lapangan komunikasi tidak akan pernah cukup berdampingan dengan putri mereka. Di mata orang tua Prita, kebahagiaan hanya bisa dijamin oleh sosok setingkat CEO, bukan pria yang bekerja di bawah terik matahari.
Kini, Abraham dan Prita harus berhadapan dengan dilema: menyerah pada realita atau memperjuangkan cinta di tengah jurang perbedaan status.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Tanpa banyak bicara, Abraham melepas jaket kargonya dan menyisakan kaos singlet hitam yang melekat ketat, sebelum akhirnya ia benar-benar membuka pakaian atasnya.

Ia berlari kecil menuju bibir pantai dan langsung menceburkan diri ke dalam air yang jernih.

Gerakannya lincah, membelah ombak kecil dengan sangat lihai.

Prita hanya duduk di atas batang kayu besar yang terdampar di pasir putih.

Ia memeluk lututnya, tidak berani mendekat ke area yang lebih dalam karena ia memang tidak bisa berenang.

Matanya yang jernih tak lepas memperhatikan sosok Abraham yang kini muncul ke permukaan, menyeka wajahnya dari air laut yang asin.

Saat Abraham berdiri di area yang dangkal, air laut setinggi pinggang membasahi kulitnya yang kecokelatan.

Cahaya matahari pagi menyinari tubuhnya yang atletis—hasil dari kerja keras memanjat tower dan mengangkat beban berat di lapangan.

Prita tertegun melihat otot-otot perut Abraham yang sixpack dan tertata sempurna.

"Dia, itu bukan tipeku," gumam Prita lirih pada dirinya sendiri, seolah mencoba mengingatkan otaknya tentang standar pria idaman yang selama ini ia agungkan.

Pria yang seharusnya ada di sampingnya adalah seseorang yang rapi, berjas, dan bekerja di dalam ruangan ber-AC.

Namun, pengkhianatan justru datang dari dalam dadanya sendiri.

Jantung Prita berdetak kencang, jauh lebih kencang daripada saat ia sedang dikejar tenggat waktu atau saat ia merasa takut.

Ada getaran aneh yang menjalar setiap kali Abraham menoleh dan melemparkan senyum padanya dari tengah laut.

"Prit! Sini! Airnya segar banget, nggak dalam kok!" teriak Abraham sambil melambaikan tangan, air menetes dari rambutnya yang basah.

Prita menggeleng cepat, wajahnya terasa panas. "Enggak, Mas! Aku di sini saja!"

Abraham tertawa lepas, lalu kembali menyelam. Prita menarik napas panjang, mencoba menenangkan debaran di dadanya.

Ia sadar, mulutnya mungkin bisa terus mengelak dan berkata bahwa Abraham bukan tipenya, tapi detak jantungnya yang liar menceritakan kenyataan yang sama sekali berbeda.

Matahari mulai naik tinggi, membiaskan cahaya di atas permukaan air laut yang tenang.

Abraham berjalan keluar dari air, tubuhnya yang atletis masih basah kuyup dan berkilau tertimpa sinar mentari.

Ia menyambar kaosnya, lalu duduk di samping Prita di atas batang kayu besar itu.

Setelah meneguk air mineralnya hingga setengah botol, Abraham terdiam sejenak.

Ia menatap lurus ke cakrawala, namun raut wajahnya tampak lebih serius dari sebelumnya.

"Prit, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Abraham pelan, suaranya berat dan dalam.

Prita menoleh, sedikit gugup karena jarak mereka yang kini begitu dekat.

"Tanya apa, Mas?"

"Apa kamu sudah punya pacar?"

Prita tertegun sebentar, lalu menggelengkan kepalanya perlahan.

"Enggak, Mas. Belum ada."

"Kenapa?"

Prita mengembuskan napas panjang, memainkan butiran pasir dengan ujung kakinya.

"Rencanaku, aku tidak mau menikah, Mas. Aku cuma mau kerja keras, mandiri, lalu nanti kalau sudah mapan, aku mau adopsi anak saja. Hidup tenang tanpa drama rumah tangga."

Abraham terdiam cukup lama mendengar jawaban itu.

Ia menoleh ke arah Prita, menatap wajah gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan—antara terkejut, tidak percaya, sekaligus mencoba memahami.

"Prit, kamu yakin?" tanya Abraham dengan nada yang tiba-tiba berubah menjadi lebih intens.

"Kamu yakin bisa menahan nafsu kamu? Jujur saja, Prit. Kamu itu wanita dewasa."

Prita langsung mematung. Wajahnya yang semula tenang mendadak terasa panas hingga ke telinga.

Ia tidak menyangka Abraham akan melontarkan pertanyaan yang begitu frontal dan pribadi di tengah suasana pantai yang sunyi ini.

"Maksud Mas apa?" suara Prita mencicit, ia menundukkan kepala, tidak berani membalas tatapan tajam pria di sampingnya itu.

"Menikah itu bukan cuma soal status atau punya anak, Prit," lanjut Abraham, suaranya kini merendah, hampir seperti bisikan yang terbawa angin laut.

"Ada kebutuhan manusiawi yang nggak bisa kamu bohongi hanya dengan kesibukan kerja. Kamu punya hati, kamu punya perasaan, dan kamu punya gairah sebagai seorang wanita. Apa kamu benar-benar siap mengubur itu semua seumur hidup?"

Deburan ombak di depan mereka seolah menjadi latar belakang detak jantung Prita yang kian tak beraturan.

Pertanyaan Abraham bukan sekadar menggoda, tapi terasa seperti sedang membedah ketakutan terdalam yang selama ini Prita sembunyikan di balik ambisinya.

Suasana di antara mereka mendadak berubah menjadi sangat sunyi.

Suara deburan ombak yang tadinya terdengar menenangkan, kini seolah berubah menjadi latar belakang yang melankolis bagi pengakuan Prita.

Prita menunduk dalam, jari-jemarinya memainkan pasir putih di bawah kakinya dengan gelisah.

Ia menarik napas panjang, mencoba menahan getaran di suaranya yang tiba-tiba terasa sesak.

"Jujur, Mas..." Prita memulai, suaranya parau.

"Semua pria itu sama saja. Semuanya hanya bisa menyakiti."

Abraham terdiam, membiarkan Prita menumpahkan apa yang ada di kepalanya.

Ia tidak memotong, tidak juga membantah. Ia hanya mendengarkan dengan tatapan yang sangat dalam.

"Aku sudah melihat banyak contoh, Mas. Teman-temanku, orang-orang di sekitarku. Awalnya manis, bilangnya cinta, bilangnya akan menjaga. Tapi ujung-ujungnya? Pengkhianatan, kebohongan, atau rasa sakit yang nggak habis-habis," lanjut Prita, matanya mulai berkaca-kaca terkena pantulan sinar matahari di laut.

"Daripada aku harus menyerahkan hidupku pada orang lain hanya untuk dihancurkan, lebih baik aku berjuang sendiri. Setidaknya, kalau aku jatuh, aku tahu itu karena kesalahanku sendiri, bukan karena dikhianati."

Abraham meletakkan botol air mineralnya di pasir.

Ia memutar tubuhnya agar bisa menatap Prita lebih lekat.

Tangannya yang masih lembap karena air laut perlahan bergerak, ingin menyentuh bahu Prita namun ia urungkan, ia hanya menggenggam pinggiran kayu tempat mereka duduk.

"Prit," panggil Abraham lembut.

"Aku mengerti kenapa kamu takut. Luka itu memang nyata. Tapi apa adil kalau kamu menghukum dirimu sendiri—menutup semua pintu kebahagiaan—hanya karena kesalahan orang-orang yang bahkan bukan aku?"

Prita menoleh, menatap wajah Abraham yang kini tampak begitu serius, tanpa ada jejak jahil atau godaan seperti biasanya.

"Kamu bilang semua pria sama saja," lanjut Abraham, suaranya merendah dan stabil.

"Tapi coba lihat aku, Prit. Aku cuma teknisi lapangan yang kerjanya di bawah terik matahari, yang bajunya sering kotor, yang hidupnya mungkin nggak semewah standar pria idamanmu. Tapi satu hal yang perlu kamu tahu, Prit. Kalau aku bukan mereka. Aku punya cara sendiri untuk menghargai wanita yang ada di sampingku."

Prita tertegun. Kata-kata Abraham terasa seperti palu yang menghantam tembok es yang selama ini ia bangun di sekeliling hatinya.

"Jangan biarkan masa lalu orang lain mencuri masa depanmu sendiri, Prit," bisik Abraham lagi, kali ini ia benar-benar memberanikan diri menyentuh punggung tangan Prita yang dingin.

Sentuhan tangan Abraham yang kasar namun hangat itu terasa seperti sengatan listrik yang menjalar ke seluruh tubuh Prita.

Prita tersentak kecil, matanya membelalak menatap jemari Abraham yang kini menangkup punggung tangannya yang dingin.

Ada desir aneh yang membuatnya ingin menarik tangan itu, tapi di saat yang sama, ia merasa begitu aman dalam genggaman pria di sampingnya ini.

Prita terdiam cukup lama, lidahnya terasa kelu untuk membantah kalimat Abraham yang baru saja meruntuhkan logikanya. Namun, sebelum suasana menjadi semakin emosional, Abraham tiba-tiba menarik tangannya pelan dan berdiri. Ia mengibas-ngibaskan sisa pasir di celananya.

"Ayo, kita cari makan siang. Habis itu kita pulang," ucap Abraham, suaranya kembali santai namun tetap tegas.

Prita mendongak, wajahnya tampak bingung dan sedikit kecewa yang tertahan.

"Pulang, Mas?"

Abraham menunduk, menatap Prita dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Iya, pulang. Memangnya kamu nggak mau pulang?"

"Maksudku, ini kan baru jam dua siang. Mas nggak mau main air lagi? Tadi katanya mau cari ikan bakar di sini?" tanya Prita, suaranya sedikit mencicit.

Entah mengapa, ia merasa belum siap jika momen ini berakhir begitu saja.

Abraham terkekeh, lalu mengulurkan tangannya untuk membantu Prita berdiri dari batang kayu itu.

"Ikan bakarnya kita cari di warung depan saja biar lebih nyaman. Kita pulang lebih awal supaya kamu nggak kemalaman sampai rumah. Aku nggak mau Mbak Pram marah karena adiknya pulang dalam keadaan teler kecapekan."

Abraham menatap mata Prita lekat-lekat, suaranya merendah.

"Lagipula, aku nggak mau kamu merasa terdesak dengan pembicaraan tadi. Aku kasih kamu waktu buat bernapas, Prit. Pulang bukan berarti selesai, kan?"

Prita terpaku. Abraham seolah bisa membaca kerisauan hatinya.

Pria ini tidak memaksa, tidak mengejar jawabannya saat itu juga, melainkan memberinya ruang untuk mencerna segalanya.

"Ya sudah, ayo makan," gumam Prita akhirnya sambil berdiri, mencoba menutupi rasa canggungnya dengan merapikan jilbab atau rambutnya yang sedikit berantakan kena angin laut.

Sambil berjalan menuju deretan warung ikan bakar di pinggir pantai, Prita menyadari satu hal kalau Abraham bukan hanya pria yang berani menembus terik matahari, tapi dia juga pria yang tahu kapan harus maju dan kapan harus memberi jarak. Dan hal itu, entah mengapa, terasa jauh lebih romantis daripada semua kriteria pria idaman yang pernah ia tulis di buku hariannya.

1
Amiera Syaqilla
hello author🤗
my name is pho: hai kak🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!