Note: alur nya gak terlalu cepat, jadi buat yg enjoy ama alur yang meningkat sedikit demi sedikit aja ya guys
Hidup sebatang kara semenjak ia duduk di bangku sekolah menengah membuat Alvaro mau tak mau harus bisa terbiasa dengan yang namanya usaha dan kerja keras walaupun sering mengalami kegagalan.
karena ia tahu jika ia menyerah untuk berjuang maka itu berarti mengucapkan selamat tinggal bagi masa depannya dan berakhir hidup di bawah bayang bayang jembatan.
satu hal yang menjadi alasan mengapa dia tetap tak menyerah adalah karena ucapan almarhum ibunya ketika di ujung maut dahulu bahwa dirinya harus tetap berusaha dan tidak menyerah.
namun entah takdir mempermainkan dirinya atau apa, ia harus mengalami kejadian tragis ketika dalam perjalanan pulang selepas kerja..
bagaimana kelanjutan nya?, tetap ikuti cerita nya tak lain dan tak bukan hanya di novel saya "Sistem Kekayaan dan Kekuasaan"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Scorpion's, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Velaris Residence
Waktu menunjukkan waktu menjelang sore hari, di jalanan kota Astra yang cukup ramai nampak dua motor sport melaju beriringan dengan kecepatan sedang.
"Hei Alvaro, memang dimana lokasi apartemen baru mu itu?" Tanya seorang pemuda pada Alvaro yang mengemudi di sampingnya.
Dia tak lain adalah Leon, dimana keduanya kini sedang dalam perjalanan menuju Apartemen milik Alvaro yang ia dapat dari hadiah misi.
"Gedung apartemen Velaris itu harusnya ada di pusat kota" Jawab Alvaro tetap fokus pada jalanan.
Setelah itu keduanya pun kembali fokus ke jalanan, hingga keduanya pun terpaksa berhenti ketika melihat beberapa polisi lalu lintas yang menghentikan beberapa kendaraan termasuk milik keduanya.
"Ada apa pak?" Tanya Leon langsung ketika salah satu polisi menghentikan nya.
"Kalian berdua masih sekolah kok udah naik motor sport gini mau kemana?" Tanya polisi itu sambil melihat seragam Leon dan Alvaro.
"Mau ke apartemen pak." Sahut Alvaro singkat.
"Gitu?" Tanya polisi itu nampak tak yakin.
"Yasudah kalau begitu, tapi boleh bapak cek kelengkapan nya?" Tanya polisi itu akhirnya.
"Waduh gak punya SIM lagi" pikir Alvaro sedikit gugup, ia pun melirik Leon yang nampak santai saja sambil mengambil dompetnya.
"Veronica, kamu bisa bantu gak?" Tanya Alvaro buru buru.
"Jangan sampai motor belum genap satu hari aku pakai sampai di tilang nih." Lanjutnya gugup.
"Saya bisa bantu buatkan surat surat sekaligus SIM anda dengan biaya 50 poin tuan." Jawab Veronica dalam kepalanya dengan enteng.
"50?" Tanya Alvaro kaget. "Yang benar aja" ucapnya protes.
"Mohon di ingat sistem bukan pasar loak yang bisa di tawar" Balas Veronica cukup dingin yang membuat Alvaro tanpa sadar meneguk air liur nya sendiri.
"Y-yasudah daripada kena tilang" ucap Alvaro pasrah.
"Dek, mana kelengkapan nya?" Tanya polisi itu tiba tiba karena ia sudah selesai mengecek kelengkapan milik Leon.
Alvaro yang melihat itu nampak panik karena belum ada balasan dari Veronica.
"I-iya pak bentar saya ambil" Jawabnya cukup gugup lalu ia meraih tas nya dan berusaha terlihat mencari sesuatu.
"Plis lah, Veronica apakah belum selesai?" Tanya Alvaro dalam hati cukup panik.
"Ting...
Pendaftaran data diri telah selesai, biaya pendaftaran 50 poin telah dikurangi."
"Sudah saya kirim ke dompet anda tuan" Jawab Veronica yang membuat Alvaro langsung lega.
Setelah itu Alvaro pun beralih ke dompetnya dan mengeluarkan surat motor miliknya beserta SIM yang baru jadi.
"Ini pak." Ucapnya sambil menyerahkan surat motor itu.
Polisi itu nampak mengangguk sambil meraih surat itu. "Baik, saya cek dulu" Ucap polisi itu.
Polisi itu pun nampak mengecek singkat lalu mengembalikan surat nya pada Alvaro.
"Baiklah sudah lengkap dan aman semua, silahkan lanjutkan dan jangan sampai mengebut ya" Ucap polisi itu yang dibalas anggukan oleh Alvaro.
Sedangkan Leon malah langsung hormat "Siap Lapan Anam" ucapnya yang membuat polisi itu nampak tersenyum.
Keduanya pun melanjutkan perjalanan hingga sampai di depan gedung yang cukup mewah, di atasnya bertuliskan logo VL yang merupakan logo milik Velaris.
"Ini benar benar mewah, iri banget aku" Ucap Leon yang nampak terpesona.
Begitu pula Alvaro yang nampak sama sama terpesona, ia baru pertama kali ini melihat gedung se mewah dan setinggi itu sedekat ini.
"Tolong tutup mulut anda tuan, dan berusahalah untuk terbiasa dengan ini karena kedepannya anda akan menghadapi yang berkali kali lipat dari gedung kecil ini." Ucap Veronica tiba tiba yang membuat Alvaro hampir tersedak karena kaget.
"Ya-yah ayo masuk, tuh di liatin sama satpam karena kita diem aja di sini." Ucap Alvaro menyadarkan Leon yang masih terpesona.
Setelah itu keduanya pun melaju menuju gerbang pos penjagaan untuk masuk ke wilayah dalam gedung Velaris.
Ketika keduanya mau melewati gerbang, seorang penjaga menghentikan nya"Sebentar mas, mas nya ada perlu apa ya?" tanya penjaga itu dengan ramah.
"Oh saya mau masuk pak." Jawab Alvaro sambil tersenyum.
"Mohon maaf sebelumnya, yang boleh masuk ke kawasan ini hanya penghuni apartemen ataupun yang mendapatkan izin dari penghuni mas." Ucap penjaga itu ramah.
"Kalau mas nya ingin menyewa ataupun ingin membeli bisa ke gedung sebelah." Ucap penjaga itu sambil menunjuk gedung samping yang memang lebih kecil.
Alvaro yang mendengar itu pun menunjukkan kartu identitas penghuni yang ia ambil dari dompetnya "Oh saya penghuni pak, ini kartu identitas saya."
"Oh iya sebentar." Ucap penjaga itu sambil memeriksa kartu yang di serahkan Alvaro.
"Baik sudah di konfirmasi, maaf sebelumnya kalau saya membuat anda tidak nyaman." Ucap penjaga itu berubah lebih sopan ketika alat pengecek nya mengkonfirmasi kartu identitas itu.
"Iya pak tidak apa apa." Ucap Alvaro tak mempermasalahkan lalu ia pun langsung masuk di ikuti oleh Leon di belakang nya.
"Wihh keren nih Al" Ucap Leon sambil memandangi taman di depan gedung itu, lalu keduanya pun memasuki parkiran bawah tanah.
Lagi lagi Leon nampak kagum, apalagi setelah melihat bahwa motor ataupun mobil di parkiran itu adalah merk tingkat menengah ke atas.
"Fix tempatnya orang kaya nih." Ucap Leon lagi yang membuat Alvaro hanya geleng geleng ringan.
Bukan seperti Alvaro merasa biasa saja, ia memang cukup kagum dengan model motor ataupun mobil yang terparkir cukup bagus.
Tapi masalahnya ia memang tak faham merk saja, kecuali merk kelas atas yang sudah mendunia.
...
"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya seorang resepsionis pada Alvaro dan Leon yang kini berada di Lobi Apartemen.
"Saya penghuni baru, mau tanya lokasi apartemen saya ada dimana ya?" Tanya Alvaro.
"Oh baik, boleh saya cek kartu identitas nya?" Tanya resepsionis ramah.
Setelah itu Alvaro pun menyerahkan kartu identitas nya pada resepsionis itu.
"Baik, apartemen anda berada di lantai 10 dengan tipe kamar 3BR ya tuan." Ucap resepsionis sambil menyerahkan kembali kartu identitas Alvaro.
"Baik kak terimakasih banyak." Ucap Alvaro berterimakasih lalu berlalu menuju lift yang di ikuti Leon di belakangnya.
Alvaro yang melihat Leon nampak diam saja sedari keluar dari parkiran nampak bingung, karena setahu dia Leon itu tipe orang yang banyak ngomong alias cerewet gitu.
"Ngapain kok diem aja?" Tanya Alvaro sambil menyenggol bahu Leon.
Leon yang masih fokus melihat lihat ruangan lift pun langsung menoleh ke arah Alvaro.
"Gak papa cuman kagum aja, sebenarnya sih pingin juga sewa apartemen gitu." Ucap Leon sambil tersenyum.
"Kira kira berapa sih biaya perbulan nya?" Tanya Leon.
"Ngapain kok nyewa, kamu mulai sekarang sama aku aja satu apartemen." Ucap Alvaro santai, itu karena ia melihat teks hologram di sampingnya yang menjelaskan 3BR itu artinya 3 kamar yang merupakan tipe ruang keluarga.
"Lah kok?"
"Masa gak mau?, lagian sepi juga nanti apartemen itu. Toh aku dapetnya bukan yang single kamar, tapi 3 kamar." Ucap Alvaro yang membuat wajah Leon nampak tersenyum cerah.
"Serius, beneran?" Tanya Leon lagi.
"Hei ayolah berapa kali kamu hari ini bertingkah kayak gitu?, gak kayak kamu aja?" Tanya Alvaro sambil tertawa karena sejak dari sekolah Leon terus terusan nampak terkejut.
"Kau itu yang gak normal, hemm pasti berat ya pura pura miskin selama ini?" Tanya Leon tiba tiba yang malah membuat Alvaro bingung.
"Maksudnya?" Tanya Alvaro bingung.
"Udah gak usah bohong lagi, bahkan kamu aja sukses bohongin aku juga. Apalagi biar terkesan meyakinkan kamu sampai kerja part time juga." Ucap Leon sambil menepuk nepuk pundak Alvaro.
Alvaro yang mendengar itu malah tambah bingung. "Bro gua emang beneran miskin!!' Ucap Alvaro mencoba menjelaskan
kritik dan saran boleh kokk