Terlahir kembali sebagai Lyra Clarissa Wijaya, cucu tunggal dari keluarga terkaya di dunia, Lyra tidak tumbuh sebagai gadis manja yang lemah. Di balik kecantikannya yang tenang dan elegan, tersimpan jiwa seorang putri bangsawan Vampir dan kekuatan insting Alpha Serigala yang ia bawa dari kehidupan sebelumnya.
Xavier adalah pria paling berbahaya yang ditakuti dunia. Dia dingin, kejam, dan dikenal tidak punya perasaan, tiba-tiba hidupnya yang gelap mendadak jungkir balik. Pria yang tak pernah tunduk pada siapa pun ini, justru rela menyerahkan segalanya untuk gadis kecil nya.
"Mintalah nyawaku, Lyra. Mintalah seluruh dunia ku, asal jangan pernah palingkan matamu dariku, karena tanpamu, duniaku kembali menjadi gelap," bisik Xavier, berlutut di hadapan gadis itu tanpa memedulikan tatapan ngeri para bodyguard nya.
Lyra hanya tersenyum tipis, sebuah senyuman misterius yang membawa sisa-sisa keagungan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hofi03, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
XAVIER VALERIUS
"Yah, pelit banget sih Princess Wijaya ini," gerutu Gia sambil mengerucutkan bibirnya.
"Eh, kamu tahu nggak? Hari ini sekolah kita heboh banget! Katanya ada donatur baru yang mau datang pagi ini, pria tampan, kaya raya, pokoknya tipe-tipe sugar daddy idaman banget deh!" seru Gia, dengan mata berbinar-binar.
"Gia, jaga bicaramu, kita di sekolah," tegur sebuah suara tenang namun tegas.
Seorang gadis berkacamata dengan buku tebal di pelukannya berjalan mendekat. Dia adalah Sifa Luxio, sahabat Lyra yang paling waras dan kutu buku.
Sifa berbeda dengan Gia yang berisik, Sifa lebih tenang dan selalu menjadi penengah.
"Ya ampun Sifa, kamu itu kaku banget kaya kanebo kering," ucap Gia sambil memutar bola matanya.
"Tapi beneran Lyra, Sifa, katanya orang ini bukan donatur sembarangan. Namanya dirahasiakan, tapi kepsek kita saja sampai gemetaran nunggu di gerbang dari tadi subuh," ucap Gia, menetap kedua sahabatnya.
Lyra hanya diam, dan terus melangkah masuk ke kelas diikuti kedua sahabatnya, baginya, siapa pun yang datang tidak ada hubungannya dengan dirinya, karena dia hanya ingin duduk tenang dan membaca laporan keuangan bulanan yang belum sempat dia selesaikan tadi pagi.
"Aku tidak tertarik, Gia," jawab Lyra pendek sambil mengeluarkan tabletnya.
"Dasar kulkas sepuluh pintu," gumam Gia pelan sambil duduk di bangkunya yang berada tepat di depan Lyra.
"Awas saja kalau nanti kamu jatuh cinta, aku bakal ketawa paling keras!" lanjut Gia, mengerucut kan bibir nya, sebal.
Sementara itu, di depan gedung utama sekolah, suasana memang sangat tegang. Barisan mobil hitam mengkilap berhenti tepat di depan karpet merah yang sudah disiapkan pihak sekolah.
Para pengawal bertubuh besar turun lebih dulu, membentuk barisan pagar betis yang sangat rapat.
Kepala sekolah dan jajarannya berdiri dengan keringat dingin di dahi, padahal udara pagi itu cukup sejuk.
Pintu mobil paling tengah terbuka.
Seorang pria dengan setelan jas abu-abu gelap melangkah turun. Postur tubuhnya tinggi tegap, wajahnya memiliki garis rahang yang sangat tegas, dan tatapannya begitu tajam hingga mampu membuat orang dewasa sekalipun merasa terintimidasi.
Dia adalah Xavier Valerius, pria berusia 29 tahun yang memegang kendali atas separuh perputaran uang di benua ini.
Pagi ini Xavier datang bukan untuk sekadar menjadi donatur, tapi karena ada sesuatu yang menarik perhatiannya di sekolah ini.
"Tuan Valerius, selamat datang. Suatu kehormatan bagi kami—" ucapan kepala sekolah terhenti saat Xavier mengangkat tangannya sedikit, tanda ia tidak butuh basa-basi.
"Antar saya ke kelas XI-A. Sekarang," perintah Xavier, suaranya rendah dan dalam, memberi tekanan yang tidak bisa dibantah.
"T-tapi Tuan, kelas sedang dimulai-"
Xavier menoleh, menatap kepala sekolah itu dengan mata kelabu nya yang dingin dan tajam.
"Apa saya terlihat sedang meminta izin?" tanya Xavier, dengan suara berat nya.
"B-baik, Tuan! Silakan lewat sini," jawab Kepsek itu, gemeteran.
Xavier melangkah dengan tenang, langkah kakinya menggema di koridor sekolah yang mendadak sunyi, di ikuti oleh asisten pribadi nya dan juga para bodyguard bisa, dia tidak peduli dengan tatapan kagum para guru atau bisik-bisik siswi yang terpesona.
Tujuannya hanya satu.
Sejak melihat profil singkat keluarga Wijaya di meja kerjanya kemarin, ada sesuatu tentang cucu perempuan satu-satunya mereka yang membuatnya tidak bisa tidur.
Ada sesuatu di balik mata hitam pekat gadis itu yang memanggil jiwanya yang selama ini mati rasa.
Tidak membutuhkan waktu lama, Xavier berhenti tepat di depan pintu kelas Xl-A mengabaikan kepala sekolah dan langsung membuka pintu itu tanpa mengetuk.
BRAKK
Suasana kelas yang tadinya tenang mendadak pecah, bahkan guru yang sedang mengajar di depan kelas sampai menjatuhkan spidolnya karena kaget.
Tak
Semua murid menoleh ke arah pintu, termasuk Lyra.
Xavier berdiri di ambang pintu, auranya yang dominan seolah memenuhi seluruh ruangan, membuat murid-murid di sana merasa sesak napas, matanya yang tajam menyapu seluruh ruangan, hingga akhirnya berhenti tepat pada sosok gadis yang duduk di pojok belakang.
Lyra.
Gadis itu tidak tampak kaget, dia hanya meletakkan tabletnya perlahan, lalu menatap balik pria dewasa di depannya itu.
Deg.
Xavier merasakan jantungnya seolah dihantam batu besar.
Demi tuhan, foto yang dia lihat kemarin tidak ada apa-apanya dibanding aslinya, tatapan mata hitam pekat Lyra... itu bukan tatapan anak SMA. Itu adalah tatapan seorang ratu yang sedang menantang keberadaannya.
"Siapa pria ganteng itu? Ya ampun, jantungku mau copot!" bisik Gia dengan suara yang lumayan keras hingga terdengar oleh Sifa.
"Gia, diam! Lihat wajah kepsek, dia pucat pasi!" bisik Sifa sambil menyenggol lengan Gia.
Xavier mengabaikan semua orang, langkah kakinya yang berat melangkah masuk, melewati barisan meja murid-murid yang gemetar ketakutan, hingga ia berhenti tepat di depan meja Lyra.
Xavier menumpukan kedua tangannya di atas meja Lyra, mencondongkan tubuhnya ke depan hingga wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.
Aroma parfum kayu cendana yang mahal langsung menyelimuti indra penciuman Lyra.
"Jadi... ini dia permata tersembunyi Wijaya yang membuat dunia penasaran?" tanya Xavier, suaranya serak namun terdengar sangat menggoda.
Lyra tidak mundur sedikit pun, justru dia memajukan wajahnya sedikit, menatap tepat ke dalam mata Xavier.
Kekuatan batinnya mulai menekan, mencoba melihat apa yang ada di dalam jiwa pria di depan nya ini.
"Tuan, Saya rasa Anda salah masuk kelas. Kelas pendidikan moral untuk pria yang tidak punya sopan santun ada di gedung sebelah," jawab Lyra tenang, suaranya jernih namun sangat dingin.
Seketika, seluruh kelas menahan napas, bahkan Gia sampai menutup mulutnya dengan tangan karena saking kagetnya.
Selama ini tidak ada yang berani bicara seperti itu pada Xavier Valerius dan tetap hidup!
Xavier tertegun. Alih-alih marah, sebuah seringai tipis muncul di sudut bibirnya yang kaku, pria kaku itu merasa darahnya berdesir hebat, sesuatu yang belum pernah dia rasakan selama bertahun-tahun memimpin kerajaan bisnisnya.
"Menarik," gumam Xavier, matanya berkilat penuh obsesi.
"Ternyata bukan cuma matamu yang tajam, tapi lidahmu juga," lanjut Xavier, dengan suara seraknya.
Tanpa memedulikan tatapan kaget semua orang, Xavier mengambil sehelai rambut panjang Lyra dan menciumnya perlahan di depan mata gadis itu.
"Lyra Clarissa Wijaya... kamu baru saja membuat duniaku yang membosankan jadi sangat berwarna," bisik Xavier, lalu dia berbalik dan melangkah keluar begitu saja tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada guru atau kepsek.
Hening.
Seluruh kelas masih membeku, sampai akhirnya Gia berteriak kencang.
"LYRAAAA! KAMU APAKAN COWO CAKEP TADI?! DIA MENCIUM RAMBUTMU! OH MY GOD! AKU MAU PINGSAN!"
Lyra hanya menghela napas, lalu dia mengambil selembar tisu dan mengusap rambut yang tadi disentuh Xavier dengan wajah datar. Namun di dalam hatinya, Lyra tahu... ketenangannya ini baru saja berakhir.
"Pria itu... dia sangat berbahaya," gumam Sifa dengan wajah serius nya.
"Dia bukan cuma berbahaya, Sifa," ucap Lyra sambil menatap pintu kelas yang masih terbuka.
"Tapi dia adalah masalah besar yang harus ku hadapi," lanjut Lyra, datar.
semangat menulis thor💪
sehat selalu👍👍
semangat terus Thor up next nya 🤗🤗
lanjuut kak
makin penasaran ma klanjutan ny ,,
hubungn lyra dn Xavier di masa lalu tu ap yx ,,
tp di masa kini lyra adalah anak dr tuan Thomas dn nyonya arin ,,
meski di dlam raga lyra adalah sosok dr masa lalu ,,
tp Xavier km gx boleh lngsung mngklaim gt aj ,,
krn keluarga lyra gx semua mngerti dg ap yg trjaadi di masa lalu antara tuan Thomas , nyonya arin dn sang nenek mysteriuss sehingga lyra lahhir di tngah keluarga wijaya ,,