Di dunia modern yang penuh hiruk-pikuk, seorang pemuda bernama Lin Xiao meninggal dunia karena kecelakaan tragis. Jiwa-nya yang kuat tidak lenyap, melainkan bereinkarnasi ke dalam tubuh seorang bocah yatim piatu berusia lima belas tahun bernama Xiao Lin di sebuah desa kecil di benua kultivasi bernama Benua Qingyun. Tubuh baru ini lemah, meridian-nya rusak, dan bakat kultivasinya hanya tingkat rendah sekali. Namun, Lin Xiao membawa serta ingatan lengkap kehidupan sebelumnya serta sebuah sistem warisan kuno yang tersembunyi di dalam jiwa-nya: “Cincin Reinkarnasi Abadi”.
Dengan pengetahuan modern, tekad besi, dan rahasia sistem yang memungkinkan ia menyerap energi langit bumi ribuan kali lebih cepat, Xiao Lin mulai perjalanan kultivasi yang tak terbayangkan. Ia akan membalas dendam atas kematian orang tua angkatnya, menghancurkan sekte-sekte tirani, menaklukkan kerajaan-kerajaan, melintasi lautan daratan, memasuki alam roh, alam dewa, hingga akhirnya menantang para dewa kuno dan iblis
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Kematian dan Kebangkitan
Langit malam di kota raya dunia fana terasa dingin menusuk tulang. Lin Xiao berjalan tertatih pulang dari shift malamnya sebagai pekerja biasa di sebuah perusahaan kecil. Tubuhnya lelah, pikirannya kosong. Ia baru saja mengirim pesan terakhir kepada ibunya yang tinggal di kampung halaman, mengatakan bahwa bulan depan ia akan pulang membawa uang tabungan.
Tiba-tiba, suara klakson keras memecah keheningan. Sebuah truk kontainer melaju kencang dari tikungan, lampunya menyilaukan. Lin Xiao tidak sempat menghindar. Tubuhnya terhempas tinggi ke udara, kemudian jatuh dengan keras ke aspal basah. Darah hangat mengalir deras dari kepala dan dada. Rasa sakit yang luar biasa menyergapnya, tapi hanya sesaat.
Di saat kesadaran terakhir, Lin Xiao hanya sempat tersenyum pahit. “Kalau ada kehidupan berikutnya… aku ingin menjadi orang yang kuat. Yang tidak lagi lemah, yang bisa melindungi orang-orang yang kucintai…”
Kegelapan total menelan segalanya. Jiwa-nya terasa terbang, melayang tanpa arah di lautan kegelapan tak berujung. Waktu seolah berhenti. Tidak ada suara, tidak ada cahaya, hanya kehampaan.
Lalu, tiba-tiba, sebuah cahaya hangat menyusup masuk. Sebuah suara kuno yang bergema langsung di dalam jiwa-nya, dingin namun penuh kekuasaan:
“Jiwa yang kuat telah terpilih. Cincin Reinkarnasi Abadi mengikat diri padamu. Tubuh baru telah disiapkan. Mulai dari nol, tapi kali ini… tak ada yang bisa menghentikanmu.”
Lin Xiao merasakan tubuhnya jatuh dari ketinggian tak terhingga. Kemudian, ia membuka mata.
Udara lembab dan bau tanah basah memenuhi hidungnya. Ia berbaring di atas ranjang bambu yang reyot, di dalam sebuah gubuk kecil beratap jerami. Cahaya matahari pagi menyusup lewat celah dinding kayu yang rapuh. Tubuhnya terasa kecil, ringan, dan… lemah. Sangat lemah.
“Di mana… aku?” gumamnya. Suaranya kecil, seperti suara anak remaja yang baru puber.
Ingatan baru membanjiri pikirannya seperti sungai yang meluap. Ia bukan lagi Lin Xiao dari dunia fana. Ia sekarang adalah Xiao Lin, bocah yatim piatu berusia lima belas tahun di Desa Batu Hitam, sebuah desa kecil di pinggir hutan Benua Qingyun. Orang tua angkatnya dibunuh oleh gerombolan bandit tiga tahun lalu saat sedang mencari obat untuknya yang sakit parah. Sejak itu, Xiao Lin hidup sendirian, bekerja serabutan, sering kelaparan, dan akhirnya mati karena demam tinggi yang tak tertolong.
Jiwa Lin Xiao telah menggantikan jiwa bocah itu yang sudah tiada.
Ia bangkit perlahan, duduk di tepi ranjang. Tangan-nya yang kurus gemetar menyentuh dada. Di sana, ada sesuatu yang berdenyut hangat, seperti sebuah cincin tak kasat mata yang mengikat jiwa-nya.
Suara dingin itu kembali terdengar di dalam pikirannya:
“Selamat datang, Tuan Xiao Lin. Sistem Cincin Reinkarnasi Abadi telah teraktivasi sepenuhnya. Fungsi dasar siap digunakan. Energi kultivasi saat ini: nol. Bakat meridian: rusak parah. Tingkat kultivasi: belum memasuki tahap apa pun. Umur tubuh saat ini: lima belas tahun.”
Xiao Lin terduduk tegak. Matanya melebar. “Sistem? Cincin Reinkarnasi Abadi?”
Sebuah layar cahaya transparan muncul di depan matanya, hanya ia yang bisa melihatnya. Tulisan-tulisan itu jelas dan rapi:
Nama: Xiao Lin
Tingkat Kultivasi: Belum Memasuki Tahap
Energi Qi: 0/100
Bakat Meridian: Tingkat 1 (Rusak Berat)
Keterampilan yang Dikuasai: Tidak Ada
Warisan Utama: Teknik Kultivasi Dasar Langit Abadi (Tingkat Dewa)
Poin Pengalaman: 0
Xiao Lin menatap layar itu lama sekali. Senyum tipis muncul di bibirnya yang pucat. “Reinkarnasi… kultivasi… dunia seperti dalam cerita-cerita lama yang pernah kubaca di dunia fana. Baiklah. Kali ini, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.”
Ia berdiri, berjalan tertatih ke sebuah cermin kecil yang retak di dinding gubuk. Wajah yang memandangnya adalah wajah seorang pemuda tampan tapi kurus kering. Kulit pucat, mata hitam pekat, rambut acak-acakan. Tubuhnya tanpa otot, hanya tulang dan kulit. Meridian di dalam tubuhnya terasa tersumbat seperti saluran air yang penuh lumpur.
Xiao Lin duduk bersila di lantai tanah yang dingin. Ia menutup mata, mengikuti petunjuk yang mengalir dari cincin di jiwa-nya. Teknik Kultivasi Dasar Langit Abadi mulai berputar di dalam pikirannya. Ia menghirup udara dalam-dalam, mencoba menarik energi langit bumi yang mengambang di sekitar desa kecil ini.
Awalnya, tidak ada apa-apa. Hanya rasa sesak di dada. Meridian rusaknya menolak. Tapi Xiao Lin tidak menyerah. Ia terus memutar teknik itu, mengingat semua pengetahuan dari kehidupan sebelumnya tentang kesabaran dan ketekunan.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Empat jam.
Tiba-tiba, terdengar suara kecil “krak” di dalam tubuhnya. Sebuah meridian kecil di lengan kanannya terbuka sedikit. Seberkas energi putih halus mengalir masuk, hangat dan penuh kekuatan.
Suara sistem bergema lagi:
“Selamat! Meridian pertama berhasil dibuka. Energi Qi naik menjadi 50. Bakat meridian meningkat menjadi Tingkat 2. Tubuh mulai pulih.”
Xiao Lin membuka mata. Keringat membasahi punggungnya, tapi ia merasa tubuhnya lebih ringan. Ia berdiri dan meninju udara sekali. Angin kecil berhembus dari kepalan tangannya. Senyumnya semakin lebar.
“Desa Batu Hitam… gerombolan bandit yang membunuh orang tua angkatku masih berkeliaran di hutan utara. Mereka datang setiap bulan untuk memungut upeti. Besok pagi, aku akan mulai berburu binatang liar di pinggir hutan. Aku harus memperkuat tubuh ini secepat mungkin.”
Malam itu, di dalam gubuk reyot yang dulu penuh kesedihan, seorang kultivator abadi baru saja lahir kembali dari abu kehidupan sebelumnya.
Xiao Lin berbaring kembali di ranjang bambu, menatap langit-langit kayu yang bolong-bolong. Bintang-bintang samar terlihat di atas sana.
“Aku akan membalas dendam. Aku akan menjadi kuat. Dan suatu hari… aku akan mencapai puncak keabadian yang bahkan dewa-dewa pun tak bisa jangkau.”