Kehidupan Rafan sebagai komisaris polisi menjadi kacau balau setelah bertemu dengan gadis cantik bernama Myra.
Kriminal kejam yang selama ini ia cari, tak sengaja datang ke hadapannya menjelma bagai malaikat.
Bagaimana Rafan menahan diri agar tidak terseret pada kegilaan semata?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elprasco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menyelinap
Langkah kaki beralas sepatu kulit itu bergema di sepanjang lorong rumah sakit, beradu dengan aroma desinfektan yang menusuk indra penciuman. Rafan dan Andre melangkah pasti menuju ruang pemeriksaan forensik, sebuah wilayah terlarang bagi warga sipil, bahkan bagi mereka yang haus akan informasi. Namun, bagi otoritas kepolisian, pintu itu adalah gerbang menuju kebenaran.
"Ada sesuatu yang baru?" suara Rafan memecah keheningan saat ia menghampiri salah satu anggota tim forensik.
"Sejauh ini baru informasi awal, Komisaris," sahut petugas itu sembari melepas sarung tangan lateksnya. "Korban diperkirakan tewas lima belas jam yang lalu. Luka-lukanya berasal dari benda tajam yang ditancapkan cukup dalam."
Petugas itu menjeda sejenak, menunjuk layar monitor. "Anehnya, luka tersebut tidak mengenai organ vital secara langsung, namun ada semburat hitam di area tusukan. Kami menduga senjata pelaku telah diolesi racun saraf dosis tinggi. Kami butuh tes toksikologi untuk memastikannya."
"Lakukan dengan cepat," titah Rafan dengan anggukan datar sebelum berbalik pergi.
Tap. Tap. Tap.
Andre mengekor di belakang, tak mampu menyembunyikan kekagumannya pada ritme kerja Rafan yang dingin dan taktis.
"Bagaimana menurut Bapak?" tanya Andre hati-hati. "Apakah pelakunya sama dengan pembunuh Dendi Hasno?"
Rafan mengerutkan alis, matanya menatap lurus ke koridor yang sepi. "Aku tidak yakin. Kali ini terlalu banyak celah yang ditinggalkan si pembunuh."
"Celah? Maksud Bapak?"
"Pembunuhan pertama dilakukan dengan sangat rapi. Tempat sunyi, tanpa saksi, dan tanpa barang bukti. Jasad itu dibiarkan telentang seolah-olah pelaku ingin kita menemukannya, padahal ia bisa saja melenyapkannya dengan mudah," jelas Rafan tenang.
Ia berhenti melangkah, menoleh ke arah Andre. "Sedangkan pembunuhan Willy terlihat tergesa-gesa. Pelaku beraksi di rumah korban pada pukul sembilan malam, waktu di mana orang masih terjaga. Sangat berisiko tinggi. Ini seperti dilakukan oleh amatir... atau seseorang yang sedang mengirimkan pesan."
"Atau mungkin," Andre menimpali dengan ragu, "si pembunuh sengaja melakukannya secara terang-terangan karena ia tidak takut lagi pada kita."
Rafan terdiam sejenak. "Mungkin saja kamu benar, Andre. Hal itu bisa saja terjadi."
Kantor Polda – Ruang Kerja Rafan
Udara di dalam ruangan terasa berat oleh tumpukan berkas. Rafan berdiri di depan lemari arsip, gerakannya sigap saat menarik laci kayu yang berderit.
"Andre, kumpulkan data dalam dua puluh tahun terakhir. Cari semua relasi, teman dekat, hingga musuh bebuyutan kedua korban. Jangan sampai ada satu nama pun yang terlewat!"
"Siap, Pak!"
"Lalu, bagaimana dengan dua pria di rekaman CCTV itu? Kamu sudah mendapatkan identitasnya?"
Andre menunduk, suaranya merendah karena rasa bersalah. "Belum, Pak. Data mereka tidak dapat ditemukan. Seolah-olah jejak digital dan sipil mereka sengaja dihapus... atau dipalsukan dengan sangat sempurna."
BRAK!
Rafan memukul meja kerjanya dengan keras. "Sial! Kalau begitu, keluarkan selebaran DPO sekarang juga!"
"Tapi Pak," Andre tampak cemas, "bagaimana jika mereka benar-benar bagian dari kelompok Sang Iblis? Mengusik mereka secara terang-terangan bisa membahayakan nyawa kita."
Rafan menatap Andre dengan sorot mata predator. "Ikuti saja perintahku."
Andre hanya bisa mengangguk pasrah dan bergegas keluar. Sepeninggal Andre, Rafan menghempaskan bokongnya ke kursi kebesarannya. Ia menarik laci meja, mengambil sebuah brosur lusuh.
"Lima hari lagi. Apa pun caranya, aku harus ada di sana," gumamnya pelan.
Tok. Tok.
"Masuk," lugas Rafan tanpa mengalihkan pandangan dari berkas.
"Inspektur Andre menyuruh saya mengantarkan benda ini, Pak," ujar seorang petugas sembari menyodorkan sebuah benda.
Rafan mendongak. Di hadapannya kini ada sebuah heels putih polos yang tampak asing di lingkungan kantor polisi yang kaku. Rafan meraih sepatu itu, jemarinya mengusap lekukan alasnya sembari mengingat wajah wanita yang telah meninggalkan luka gigitan di lengannya, juga luka di hatinya.
"Aku harus mengembalikan ini pada pemiliknya," bisiknya dengan senyum tipis yang misterius.
Malam Hari
Kegelapan menyelimuti kota, membawa keheningan yang mencekam ke seluruh sudut rumah. Di dalam kamar yang remang, Myra tampak meringkuk di bawah selimut, menikmati kehangatan yang membalut tubuh rampingnya.
Klak!
Suara halus dari arah jendela tak mampu mengusik kesadaran Myra yang sudah terjun jauh ke alam mimpi. Perlahan, ventilasi kayu itu terbuka, menjadi celah bagi sosok berpakaian serba hitam untuk menyelinap masuk.
Dengan jaket kulit yang memeluk tubuh tegapnya, Rafan mendarat tanpa suara.
"Di mana, My---" Rafan tertegun. Sepasang matanya membulat saat melihat gadis itu terbaring pulas. "Dia sudah tidur? Jam segini?"
Rafan melangkah mendekat ke samping ranjang. Ia bersimpuh di lantai, menyejajarkan wajahnya dengan Myra yang terlelap. Ia menatap lekat setiap lekuk paras gadis itu, mengamati bulu matanya yang lentik dan napasnya yang teratur. Rafan tersenyum, ujung telunjuknya bergerak perlahan, ingin menyentuh kulit lembut itu.
Namun, di dalam mimpi Myra, segalanya berbeda.
"Hah! Aku di mana?" Myra tersentak dalam batinnya.
Tubuhnya terasa kaku, tak mampu digerakkan. Sorot matanya bergerak liar menatap sekeliling. Ia terbangun di sebuah ruangan gelap yang luas dan dingin. Myra ingat ia baru saja berbaring di ranjang empuknya, namun kini ia terikat kuat pada sebuah kursi kayu dengan tali tambang yang kasar.
"Sial! Tempat apa ini? Bedebah mana yang berani menyekapku?!" Myra menggeram, tubuhnya meronta hingga kursi itu berderit nyaring.
DUK! DUK! DUK!
Suara langkah kaki bergema dari sudut gelap ruangan. Cahaya yang minim membuat Myra kesulitan mengenali sosok yang kini mendekat. Sepatu kulit tanpa hak, kaki jenjang yang dibalut legging hitam...
"Siapa kamu?!" teriak Myra, suaranya menggema di ruangan yang mati itu.