NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.9k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30: Barisan Terakhir

​Pagi ini, udara Jakarta terasa jauh lebih berat dari biasanya. Tidak ada sisa embun, hanya bau menyengat dari bahan bakar diesel dan debu tanah yang mengering.

​Barikade seng biru yang selama berbulan-bulan mengurung kedaiku, subuh tadi telah dibongkar paksa secara sepihak. Kini, Kedai Kala Senja berdiri telanjang, terekspos tanpa pelindung. Di hadapanku, berjejer tiga unit ekskavator raksasa berwarna kuning. Mesin-mesin monster itu menderu rendah seperti geraman binatang buas yang kelaparan, siap mengayunkan cakar besinya kapan saja.

​Puluhan petugas keamanan berseragam hitam pekat telah membentuk pagar manusia yang rapat. Wajah mereka kaku, menghalangi siapa pun yang mencoba mendekati area ini.

​Aku berdiri sendirian di depan pintu kayu kedaiku. Kakiku terasa kebas, namun aku memaksa tulang punggungku untuk tetap tegak. Aku sengaja mengenakan celemek denim favoritku—baju zirahku. Di tanganku, terdapat sebuah nampan perak berisi belasan gelas kecil kopi hitam yang masih mengepulkan asap panas.

​Panas dari gelas-gelas itu menjalar ke telapak tanganku, memberikan sedikit kehangatan untuk melawan rasa takut yang membekukan aliran darahku. Aku melangkah maju mendekati barisan pria-pria berseragam seram itu.

​"Mas, mau ngopi dulu sebelum kerja?" tawarku dengan suara yang kubuat setenang mungkin, menyodorkan nampan ke arah salah satu petugas yang berdiri paling depan.

​Petugas berbadan tegap itu tampak bingung. Matanya melirik kopi itu, lalu menatapku dengan raut serba salah. Ia menggeleng kaku. "Mbak, tolong masuk ke dalam atau minggir keluar dari area proyek. Sebentar lagi jam sembilan. Perintah bongkar akan segera dimulai, ini area berbahaya."

​Aku tersenyum tipis. Sebuah senyum pahit. "Saya cuma menawarkan kehangatan, Mas. Kalau Mas menolak kopi saya hari ini, besok Mas nggak akan pernah bisa mencicipinya lagi."

​Tepat saat petugas itu hendak mengusirku secara paksa, sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang menderap dari arah gang sempit di samping kedai. Bukan hanya satu atau dua langkah, melainkan puluhan. Ratusan.

​Aku menoleh. Jantungku seketika berdegup sangat kencang.

​Aku memang menyuruh Revan memanggil mereka semalam. Aku tahu beberapa orang pasti akan datang. Tapi, aku sama sekali tidak menyangka skalanya akan semasif ini.

​Orang-orang itu mengalir masuk memenuhi jalanan. Mereka bukan preman, bukan pengacara, bukan pula aktivis bayaran. Mereka adalah denyut nadi kedaiku. Ada Nisa yang datang membawa puluhan teman kampusnya. Ada anak-anak agensi berkalung lanyard yang biasa meeting di pojok ruangan. Ada ibu-ibu arisan perumahan belakang, hingga bapak-bapak pensiunan yang setiap pagi menumpang baca koran di terasku. Pak Kumis si penjual gorengan bahkan berdiri paling depan.

​Mataku memanas. Penglihatanku langsung mengabur oleh air mata haru yang tak bisa kutahan lagi.

​"Nisa... Pak Kumis... kalian..." suaraku pecah, tanganku yang memegang nampan bergetar hebat. "Kalian beneran dateng. Padahal di depan ada alat berat."

​"Kami nggak bakal biarin tempat ini hancur gitu aja, Nja!" teriak salah satu mahasiswa langgananku. Ia membentangkan sebuah poster besar dari kain putih bertuliskan huruf tebal: #SaveKalaSenja - Jangan Gusur Kenangan Kami!

​"Tempat ini rumah kami juga, Mbak Senja! Nggak boleh ada mal serakah yang berdiri di atas rumah orang!" sahut seorang bapak paruh baya.

​Dalam hitungan menit, kerumunan itu semakin membesar, menciptakan lautan manusia. Tanpa aba-aba, mereka duduk bersila di atas aspal panas tepat di depan kedaiku, membentuk barisan pertahanan hidup yang langsung memblokir jalur ekskavator.

​Tangan mereka serempak terangkat ke udara. Puluhan kamera ponsel menyala, mengarahkan lensa ke para petugas keamanan dan mesin-mesin raksasa itu. Mereka melakukan live streaming di Instagram, TikTok, dan berbagai platform. Mereka menyalakan "cahaya" untuk membutakan mata para raksasa ini.

​Revan menerobos maju ke barisan terdepan, menenteng sebuah pengeras suara toa merah. Wajah arsitek itu tampak sangat serius dan garang.

​"Teman-teman! Tolong jangan ada yang bertindak anarkis atau melempar barang!" seru Revan melalui toa, suaranya menggema membelah deru mesin ekskavator. "Hari ini, di depan ribuan penonton live streaming, kita akan menyaksikan langsung bagaimana korporat raksasa mencoba menghapus sejarah kota ini demi profit semata! Kita cukup duduk di sini! Tunjukkan pada mereka bahwa kemanusiaan tidak bisa digilas oleh bulldozer!"

​Di seberang jalan raya, dari sudut mataku, aku menangkap sebuah mobil sedan hitam mewah dengan kaca film gelap yang terparkir arogan.

​Aku tahu siapa yang duduk di dalamnya. Clara Beatrice dan mungkin juga orang-orang Handoko. Aku bisa membayangkan betapa murka dan paniknya Clara di dalam kabin ber-AC itu saat melihat strateginya meratakan kedaiku dalam diam, kini berubah menjadi sirkus media nasional. Kekuasaan dan uangnya tidak ada artinya menghadapi ratusan ponsel yang sedang menyiarkan keburukannya secara langsung.

​Aku meletakkan nampan kopiku di aspal, membiarkannya diambil oleh siapa saja. Tanganku tidak lagi gemetar. Ketakutanku menguap tak berbekas, digantikan oleh energi luar biasa besar yang mengalir dari orang-orang di sekelilingku.

​Orang-orang ini... mereka adalah jiwa dari duniaku.

​"Nja," Revan mendekat ke sisiku, menurunkan pengeras suaranya. Wajahnya dipenuhi peluh. "Strategi ini berhasil nahan mereka secara fisik dan publik. Media nasional udah mulai nurunin reporternya kemari. Tapi... ini cuma bisa ngulur waktu."

​Revan melirik jam tangannya dengan cemas. "Kita butuh 'pukulan maut' dari Arka buat batalin izin eksekusi lahan ini secara hukum. Dan sampai sekarang, dia belum ngasih sinyal apa-apa ke gue."

​Aku menoleh ke arah jalan raya, mataku menyapu kemacetan Jakarta, mencari-cari sosok pria itu.

​Di mana lo, Ka? jerit hatiku. Gue udah nyalain apinya di sini sesuai janji gue. Lo berhasil kan? Lo baik-baik aja kan di sana?

​"Dia pasti dateng, Van," bisikku mantap, tidak membiarkan satu keraguan pun muncul di nadaku. "Gue kenal Arka. Dia nggak akan pernah biarin kita berjuang sendirian."

​Detik demi detik berlalu dengan sangat lambat dan menyiksa. Jarum jam beringsut tanpa ampun menuju pukul sembilan kurang lima menit.

​Ketegangan memuncak hingga ke titik didih saat beberapa mobil patroli polisi mulai berdatangan dengan sirene meraung, bersiap membubarkan kerumunan dengan dalih mengganggu ketertiban umum. Melihat dukungan polisi, operator ekskavator mulai berani menginjak pedal gas. Mesin itu bergerak maju perlahan. Rantai besinya berderak mengerikan. Ujung pengeruknya yang setajam cakar monster kini hanya berjarak dua meter dari kepala barisan manusia di depanku.

​Orang-orang mulai menjerit tegang, tapi tidak ada satupun yang beringsut mundur.

​Melihat ancaman itu, insting pelindungku mengambil alih. Aku melangkah maju, melewati Revan, melewati Pak Kumis, menempatkan tubuhku sendiri tepat di titik paling depan, berhadapan satu lawan satu dengan moncong ekskavator itu.

​Aku mendongak, menatap langsung ke arah mata operator di balik kaca kabin mesin itu. Mataku menyalang penuh tantangan.

​"Silakan majukan alat Anda kalau Anda berani!" teriakku menembus bisingnya mesin. Suaraku melengking, penuh dengan keputusasaan sekaligus keberanian mutlak. "Tapi ingat, Mas! Kopi yang Mas minum kemarin-kemarin di kedai ini, saya seduh dengan hati! Kalau Mas tetap memaksa, pastikan alat berat ini menggilas tubuh saya lebih dulu!"

​Operator itu tertegun. Kulihat tangannya yang memegang tuas kontrol mendadak kaku. Ia tampak luar biasa ragu.

​Tepat pada detik yang sangat kritis itu, di mana napas semua orang seolah berhenti...

​NIIIIING!

​Sebuah suara feedback audio statis yang memekakkan telinga mendadak meledak dari sistem pengeras suara raksasa milik proyek Cipta Megah di atas sana, memotong semua suara kegaduhan di bawah.

​"CEK. TES. PERHATIAN."

​Bukan suara Revan. Bukan suara mandor. Itu suara bariton berat yang sangat, sangat kuhafal. Suara yang membuat air mataku langsung tumpah detik itu juga.

​"Rapat Umum Pemegang Saham PT Cipta Megah pagi ini... resmi saya hentikan."

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!