Gwen rela menjadikan tubuhnya sebagai jaminan demi menyelamatkan nyawa ayahnya yang terlilit utang kepada pemimpin mafia paling kejam.
Tak disangka, Raymon, pemimpin kejam itu, ternyata lumpuh akibat ulah keluarganya sendiri yang ingin menggulingkan kekuasaannya.
Demi menjaga stabilitas, ia membutuhkan seorang istri untuk meredam gosip tentang dirinya yang masih lajang dan belum memiliki keturunan sebagai pewaris kekuasaan.
Masa terapi pemulihan kakinya diperkirakan berlangsung selama enam bulan. Selama itu pula, Gwen harus berpura-pura menjadi istri yang mencintai Raymon di hadapan semua orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Utang Tiga Juta Dolar
Gweneverre meletakkan tasnya di atas kursi, lalu berdiri memandangi ruang tamu. Sudah berbulan-bulan sejak terakhir kali dia pulang, tapi tidak ada yang berubah. Tirai putih yang sama, karpet putih, furnitur putih dan krem, dinding putih kosong.
Terlalu banyak putih. Terasa dingin, hampir seperti ruang steril.
Dia selalu membencinya. Tidak heran, uang besar pertama yang dia dapatkan langsung dipakai untuk menyewa apartemen sendiri dan kabur dari tempat ini.
“Aku pulaaaaaang!”
Beberapa detik kemudian, terdengar suara hak sepatu mendekat. Ibunya keluar dari dapur dan berjalan cepat ke arahnya, tangan bertumpu di pinggang.
Virginia Ducker adalah kebalikan total dari Gwen. Tinggi, pirang, riasan sempurna, dan mengenakan gaun yang disetrika rapi.
Suka dengan warna Putih.
Suka dengan pakaian selembut Sutra.
Gwen ingin mengeluh.
“Kamu telat tiga jam, aku udah bilang—”
Ibunya langsung berhenti di tengah kalimat.
“Ya Tuhan… kamu apain badan kamu sendiri?”
“Bisa lebih spesifik?”
“Benda logam di hidung kamu itu.”
“Itu namanya piercing, Ma.”
“Orang bisa kena penyakit dari itu, Gwen. Kalau Papa kamu lihat, dia bisa kena serangan jantung.”
“Aku udah dua puluh empat tahun. aku bebas ngapain aja sama tubuh aku. Dan ini udah lama, cuma biasanya aku lepas kalau ke sini biar Mama nggak ribut. Hari ini aku lupa.”
“Terus kenapa kamu pakai baju hitam semua? Ada yang meninggal?”
Sebagian sel otaknya, mungkin.
“Aku lagi fase dark bulan ini.” Gwen mengangkat bahu.
Ibunya memang suka klise. Mungkin itu membuat dia merasa lebih nyaman, terutama kalau berhadapan dengan Gwen. Sampai sekarang pun, pilihan karier Gwen masih sulit diterima olehnya.
Mungkin akan lebih mudah kalau Gwen menggambar bunga atau anak rusa.
Gwen sempat bertanya-tanya apa reaksi ibunya kalau melihat karya terbarunya. Masih dalam proses, tapi jelas tidak ada bunga atau rusa di dalamnya.
“Kenapa sih kamu harus selalu aneh?”
“Lumayan ampuh buat narik cowok, Ma!” Gwen tersenyum. “Cowok suka cewek aneh.”
“Aku nggak yakin soal itu, sayang.”
Ya Tuhan, bahkan sarkasme pun tidak masuk ke kepalanya.
“Waktu Papa telepon, katanya penting. Dia di mana?”
“Di ruang kerja. Beberapa hari ini dia aneh. Kayaknya ada hubungannya sama pekerjaan, tapi dia nggak mau cerita. Rasanya… kayak dia takut sama sesuatu.”
Ayah Gwen bergerak di bidang properti. Tidak banyak hal yang seharusnya membuatnya takut.
Gwen berjalan ke lorong di sebelah kiri dan mengetuk pintu ruang kerja ayahnya, tanpa tahu bahwa hidupnya akan berubah total begitu dia masuk.
Setengah jam kemudian, Gwen duduk di kursi malas di sudut ruangan, menatap Papanya dengan mulut sedikit terbuka.
“Ini bercanda, kan?”
“Bukan.”
Ayahnya menurunkan bahu, lalu menyisir rambut abu-abunya dengan tangan.
“Oke, aku coba pahami. Papa ambil uang orang Rusia, terus hilang, dan sekarang Papa minta aku nikah sama Pemimpin mafia Rusia?”
“Papa nggak nyuri apa-apa, Gwen.” Dia mengangkat tangan, berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di belakang meja. “Papa cuma minjam beberapa hari buat nutup kebutuhan bisnis. Papa nggak pernah nyangka orang itu penipu atau bakal kabur bawa uangnya.”
“Kamu ambil uang mereka dan nggak bisa balikin. Gimana bisa kamu sampai terlibat sama mafia Rusia? Apa sih yang kamu pikirin, Pa?”
“Jangan ngomong kayak gitu!” Dia menunjuk Gwen. “aku Papa Mu!”
“Kamu lagi nyuruh aku nikah sama penjahat buat nyelamatin diri kamu sendiri. Jadi ya, aku rasa aku bebas mau ngomong apa aja.”
“Gwen…”
“Mereka beneran minta aku nikah sama Pemimpin mereka? Serius?”
“Cuma sementara.” Dia melambaikan tangan seolah itu hal sepele.
“Tapi kenapa? Nggak ada anak-anak perempuan dari mafia-mafia itu yang ngantri buat nikah sama dia? Harusnya itu impian mereka, kan? Kenapa harus aku?”
“Mereka nggak jelasin. Orang-orang itu nggak pernah jelasin apa pun. Mereka cuma bilang kamu harus ngapain, dan kalau kamu nggak nurut, Papa bakal mati.”
Gwen menatapnya tajam.
“Kamu beneran percaya mereka bakal membunuh Papa?”
“Ya. Aku malah heran mereka belum ngelakuin itu.” Dia berhenti berjalan dan menatap Gwen. “Kalau kamu nggak nurut, Papa mati.”
Gwen menarik napas dalam, lalu mencengkeram rambutnya sendiri, seolah itu bisa membantu menemukan solusi dari kekacauan ini. Karena dia tidak akan menikah dengan siapa pun.
“Oke, kita pikirin. Pasti ada cara buat benerin ini. Aku punya tabungan, mungkin lima puluh ribu. Pameran aku berikutnya sebulan lagi, dan aku bisa dapet dua puluh ribu lagi kalau lima belas karya itu selesai dan semuanya laku. Rumah bisa dijual berapa?”
“Mungkin delapan puluh ribu. Atau sembilan puluh kalau furniturnya ikut dijual. Mobil bisa nambah sepuluh ribu.”
“Bagus. Berarti total sekitar seratus tujuh puluh ribu. Cukup nggak? Papa utang berapa ke mereka?”
“Tiga juta.”
Gwen terpaku. Sejenak dia merasa seperti baru kena stroke ringan, karena tidak mungkin dia benar-benar mendengar angka itu.
“Bisa ulangin?”
“Papa utang tiga juta dolar.”
Gwen menatap Papanya dengan mulut terbuka.
“Ya Tuhan, Pa…”
Dia menunduk, menempelkan dahi ke lutut, berusaha mengatur napasnya.
Dia bukan tipe orang yang akan dinikahi siapa pun. Tidak ada orang waras yang mau menukar tiga juta dolar hanya untuk enam bulan pernikahan. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan.
“Dia umur sembilan puluh, ya?” gumamnya pelan.
“Aku nggak tahu umur Pimpinan mereka, tapi jelas bukan sembilan puluh.”
“Delapan puluh, kalau gitu. Syukurlah.”
Gwen menelan ludah. Rasanya ingin muntah.
“Mereka bilang ini cuma pernikahan di atas kertas. kamu nggak perlu… ya, kamu tahu.”
“Tidur sama dia? Kalau dia delapan puluh, berarti dia mungkin udah nggak bisa tegak kan. Bagus. Delapan puluh itu bagus.”
“Gwen… aku minta maaf. Kalau kamu nggak mau, nggak apa-apa. Papa bakal cari jalan lain.”
Gwen mengangkat kepala dan menatap ayahnya. Pria itu sekarang duduk terkulai di kursinya, rambutnya berantakan, matanya merah.
Tiba-tiba dia terlihat sangat tua. Sangat rapuh.
“Kecuali Papa mau lapor polisi, memang ada pilihan lain?” tanya Gwen.
“Kamu tahu Papa nggak bisa laporin mafia ke polisi. Mereka bakal bunuh kita semua.”
Tentu saja Mafia akan membunuh mereka.
Gwen memejamkan mata, lalu menghela napas panjang. “Oke. Aku lakuin.”
Ayahnya menatapnya beberapa detik, lalu menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mulai menangis.
Gwen juga ingin menangis, tapi itu tidak akan mengubah apa pun. “Kayaknya mereka bakal ngatur pertemuan buat bahas detailnya.”
“Udah. Kita ketemu Pemimpin-nya satu jam lagi.”
Gwen menatap Papanya, lalu kembali mencengkeram rambutnya. “Bagus banget. Aku ke kamar mandi dulu buat muntahin makan siang aku, lima menit lagi aku tunggu di depan.”