NovelToon NovelToon
Crossed Destinies

Crossed Destinies

Status: tamat
Genre:CEO / Keluarga & Kasih Sayang / Tamat
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Aliya, seorang siswi kelas 3 SMA yang ceria dan mendedikasikan hidupnya pada dunia tari, tidak pernah menyangka sebuah aksi heroik akan mengubah garis hidupnya. Di tengah teriknya siang hari, Aliya tanpa sengaja menyelamatkan Emirhan, seorang CEO muda yang sukses, dari upaya perampokan brutal di jalan raya.
Pertemuan tak terduga itu menumbuhkan benih asmara di antara keduanya. Meski berasal dari dunia yang berbeda—antara hiruk pikuk sekolah dan kerasnya dunia bisnis—keduanya saling jatuh cinta dan bertekad untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius.
Namun, takdir berkata lain saat rahasia masa lalu terungkap. Ketika Aliya dan Emirhan hendak menyatukan keluarga, mereka mendapati kenyataan pahit: Ibu Aliya adalah mantan kekasih ayah Emirhan. Kini, Aliya dan Emirhan terjebak dalam dilema antara memperjuangkan cinta mereka atau mengalah pada bayang-bayang masa lalu orang tua mereka yang belum usai. Apakah takdir mereka memang ditakdirkan untuk bersatu, atau justru saling menjauh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26

"Kak! Jangan gila!" teriak Hakan, melangkah maju dengan wajah memerah, mencoba menantang dominasi kakaknya.

"Dia itu ibu kita! Dan gara-gara wanita labil itu, kamu tega mengusir Ibu dan Laura dari rumah ini?"

Langkah Emirhan terhenti. Ia berbalik perlahan, matanya yang tadi sudah gelap kini berkilat dengan kemarahan yang jauh lebih mengerikan.

"Wanita labil? Apa maksud kamu, Hakan?"

Hakan mendengus sinis, tidak menyadari maut sedang mengintai di depannya.

"Apa lagi? Aliya itu hanya gadis remaja yang emosional. Dia cuma beruntung bisa menarik perhatianmu. Aku bisa mencarikan wanita lain yang jauh lebih cantik, lebih berkelas, dan lebih pantas untuk nama Karadağ daripada dia!"

"Apa kamu mau aku hajar lagi?" desis Emirhan, suaranya sangat rendah hingga membuat bulu kuduk pelayan yang mengintip berdiri.

Hakan tertawa meremehkan, mengabaikan peringatan itu.

"Hanya demi wanita seperti dia, kamu menghancurkan keluarga kita? Dia tidak ada apa-apanya, Emir! Dia bisa digantikan—"

BUGH!!

Pukulan Emirhan melesat lebih cepat dari sebelumnya.

Kali ini bukan hanya sekadar gertakan; kepalan tangannya menghantam rahang Hakan dengan kekuatan penuh, membuat adiknya itu terpental dan menabrak meja pajangan hingga hancur berkeping-keping.

"Jangan pernah..." Emirhan menarik kerah baju Hakan yang tersungkur, mengangkatnya hingga kaki Hakan hampir tidak menyentuh lantai.

"...sebut dia wanita labil. Dia adalah wanita yang hampir mati karena kebencian orang-orang di rumah ini!"

"Emirhan, cukup!" teriak Zaenab histeris, mencoba menarik tangan putranya.

"Lepas!" bentak Emirhan kepada ibunya.

Ia kembali menatap Hakan yang meringis kesakitan dengan mulut berdarah.

"Kamu bicara soal kecantikan? Soal kelas? Aliya memiliki hati yang tidak akan pernah dimiliki oleh kalian semua. Jika kamu berani menghinanya sekali lagi, aku tidak akan menganggapmu sebagai adikku. Kamu akan keluar dari sini bersama mereka!"

Emirhan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Hakan jatuh berdebam ke lantai.

Onur hanya berdiri diam di sudut ruangan, memejamkan mata, menyadari bahwa kehancuran keluarganya bukan disebabkan oleh Aliya, melainkan oleh racun kebencian yang sudah terlalu lama mengendap di dalam mansion itu.

"Ayah," ucap Emirhan tanpa menoleh, suaranya kini terdengar dingin dan datar.

"Panggil polisi. Biarkan mereka membawa bukti ini. Aku tidak peduli lagi siapa yang akan masuk penjara."

Onur menghela napas panjang, pundaknya yang kokoh tampak merosot seolah beban puluhan tahun tiba-tiba menghimpitnya.

Ia menatap selendang dan botol racun itu dengan tatapan kosong, sebelum akhirnya bersuara.

"Aku tidak akan melaporkan kalian ke polisi," ucap Onur pelan, namun nadanya sangat dingin.

"Bukan karena aku memaafkan kalian, tapi karena aku tidak ingin nama Karadağ semakin hancur di media. Tapi mulai detik ini, Zaenab, Laura, kalian tidak boleh lagi menginjakkan kaki di dalam mansion utama ini."

"Apa maksudmu, Onur?" suara Zaenab melengking tak percaya.

"Kalian akan pindah ke rumah paviliun di belakang. Seluruh fasilitas kalian dicabut. Kalian akan tinggal di sana seperti pengasingan. Jika aku melihat kalian mendekati Emirhan atau Aliya, saat itulah aku sendiri yang akan menyerahkan kalian ke penjara," tegas Onur.

"Onur! Aku ini istrimu!" teriak Zaenab histeris, air matanya kini benar-benar tumpah karena harga dirinya hancur.

"Kenapa kamu melakukan ini? Kenapa kamu lebih membela mantan kekasihmu, Maria, daripada istrimu sendiri?!"

Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar di tengah ruangan.

Emirhan yang sejak tadi dipenuhi amarah, seketika mematung.

Kepalanya menoleh cepat ke arah ayahnya, matanya melebar mencari kebenaran.

"Ayah, apa yang dia katakan?" suara Emirhan terdengar parau.

"Ada apa ini? Apa Maria... ibu Aliya... adalah mantan kekasih Ayah?"

Onur terdiam, enggan menatap mata putranya.

"Jawab aku, Ayah!" bentak Emirhan, rasa takut yang baru mulai merayapi hatinya.

Sebuah pikiran mengerikan melintas di benaknya—sebuah kemungkinan yang lebih menyakitkan daripada kematian itu sendiri.

"Apakah aku dan Aliya. Apakah kami sedarah? Apakah dia adikku?"

Keheningan yang mencekam menyelimuti mereka. Emirhan merasa dunianya kembali berguncang, membayangkan jika cinta yang ia miliki untuk Aliya adalah sebuah dosa besar.

Onur perlahan mengangkat wajahnya, menatap Emirhan dengan sorot mata yang penuh luka, namun ia menggelengkan kepalanya dengan tegas.

"Tidak, Emirhan. Kalian tidak sedarah," jawab Onur dengan suara bergetar.

"Maria memang wanita yang pernah aku cintai di masa lalu, jauh sebelum Aliya lahir dan jauh sebelum aku mengenal ibumu. Tapi Aliya, dia bukan putriku. Kalian tidak memiliki ikatan darah sedikit pun."

Emirhan membuang napas panjang, hampir terjatuh karena rasa lega yang luar biasa. Namun, rahasia yang baru saja terbongkar itu menyisakan satu pertanyaan besar di hatinya: rahasia apa lagi yang disembunyikan oleh orang-orang di dalam mansion ini?

Sambil menatap ibunya yang masih bersimpuh di lantai, Emirhan menyadari bahwa kebencian ibunya kepada Aliya bukan hanya soal kasta, melainkan dendam lama yang tak pernah padam terhadap masa lalu ayahnya.

Onur berdiri dengan tegak, tangannya yang tersembunyi di balik saku celana mengepal erat.

Ia tidak ingin lagi ada perdebatan. Dengan isyarat kepala, ia memerintahkan anak buah Emirhan yang sejak tadi berdiri siaga di sudut ruangan.

"Pindahkan semua barang-barang Zaenab dan Laura ke paviliun belakang. Sekarang. Pastikan tidak ada satu pun perhiasan atau aset milik keluarga Karadağ yang ikut terbawa tanpa seizinku," perintah Onur dingin.

Anak buah Emirhan segera bergerak naik ke lantai atas.

Suara gaduh koper yang ditarik dan barang-barang yang dikemas terburu-buru mulai memenuhi mansion.

Zaenab hanya bisa terduduk lemas di sofa, menatap suaminya dengan tatapan benci yang tak lagi tertutup, sementara Laura terus terisak di sampingnya.

Onur kemudian mengalihkan pandangannya kepada putra bungsunya yang masih berdiri di dekat reruntuhan meja pajangan.

Hakan tampak bingung, amarahnya tadi perlahan luntur digantikan oleh rasa malu dan posisi yang terjepit.

"Apakah kamu mau ikut juga, Hakan?" tanya Onur datar.

"Jika kamu merasa perlakuan kakakmu tidak adil dan ingin membela ibumu, silakan angkat barang-barangmu dan pindah ke belakang sekarang juga."

Hakan terdiam. Ia menatap ibunya yang malang, lalu menatap Emirhan yang masih berdiri dengan aura mengintimidasi.

Ia membayangkan hidup di paviliun tanpa fasilitas mewah dan pengakuan sebagai pewaris utama.

Tanpa sepatah kata pun, Hakan menggelengkan kepalanya.

Ia tidak sanggup menatap mata siapa pun dan memilih untuk berbalik, melangkah cepat menuju kamarnya di lantai atas dan membanting pintu dengan keras.

Ia memilih kenyamanan mansion daripada kesetiaan pada ibunya yang telah berbuat kriminal.

Emirhan memperhatikan punggung adiknya dengan tatapan muak.

"Keluarga ini benar-benar sudah hancur sejak lama, Ayah," bisiknya.

"Memang," jawab Onur pendek.

"Dan sekarang tugasmu adalah menjaga agar kehancuran ini tidak ikut mematikan Aliya. Kembalilah ke rumah sakit, Emirhan. Biar aku yang menyelesaikan sampah di sini."

Emirhan mengangguk, ia merapikan kemejanya yang sedikit berantakan.

Sebelum melangkah pergi, ia menoleh ke arah ibunya yang masih menatapnya penuh harap.

Namun, Emirhan tidak memberikan simpati sedikit pun.

Baginya, keselamatan Aliya adalah satu-satunya hukum yang berlaku saat ini.

Ia pun bergegas menuju mobilnya, memacu kendaraan itu kembali ke rumah sakit untuk memastikan Aliya baik-baik saja.

1
falea sezi
jd emak bapak nya nikah apa kumpul sapi Thor🤣
falea sezi
emank uda di sentuh kah lebay amat
merry yuliana
ditunggu crazy up ya kak💪💪💪
my name is pho: ok kak
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak
my name is pho: ok kak
total 1 replies
falea sezi
jangan restuin buk anak mu ma emir bisa bisa ank mu yg lemah mati
falea sezi
maaf ya karakter Alia ini menye menye oon
my name is pho: 🤭🤭 sabar kak
total 1 replies
falea sezi
kecil kecil uda jd jalang tolol bgt sakit hati pergi jauh kabur malah ke club trs lu dilecehkan nanges goblok
merry yuliana
crazy up kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!