TELAHIR SAKTI: "Pencarian Pusaka Primordial"
Dunia yang damai ternyata hanyalah lembaran kertas di mata para dewa.
Pahlawan legendaris bernama Raka mengorbankan jiwa dan raganya yang merupakan tetesan "Tinta Primordial" untuk membebaskan dunia dari belenggu Naskah Takdir. Pengorbanannya memberikan kehendak bebas bagi seluruh penduduk fana. Namun, di dimensi kosmik yang jauh lebih tinggi, sebuah tempat bernama Ruang Redaksi, kebebasan ini dianggap sebagai "Kecacatan Cerita" yang harus segera dihapus."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Abas Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
B 13: Benih Sang Penguasa Baru
Setelah beberapa tahun telah berlalu sejak pertempuran besar melawan Dewa Bayangan.
"Desa Lembah Wening kini telah berubah menjadi sebuah kota kecil yang makmur dan damai. Raka hidup sebagai pemimpin yang bijaksana, sementara Sekar telah menjadi istrinya yang setia.
Kehidupan mereka semakin lengkap dengan kehadiran seorang putra mungil bernama Bumi."
Anak itu baru berusia empat tahun, namun ia mewarisi mata emas ayahnya. Setiap kali Bumi tertawa, bunga-bunga di taman belakang rumah mereka akan mekar seketika.
Tawa renyah... Ha-ha-ha!
Raka berdiri di balkon rumah kayunya, menatap matahari terbenam. Sembilan matahari di dalam jiwanya kini telah tenang, menyatu dengan alam. Namun, sore itu, ia merasakan sebuah getaran aneh dari arah bintang utara.
Getaran yang sangat dingin, jauh lebih dingin daripada Dimensi Tanpa Ruang.
Zinggg... Zinggg...
Tanda naga di dada Raka berdenyut biru pucat. Ini bukan peringatan bahaya biasa, ini adalah panggilan darah.
"Malam di Peraduan."
Malam itu, setelah Bumi terlelap di ayunannya, Raka masuk ke dalam kamar. Sekar sedang duduk di depan cermin, menyisir rambut hitamnya yang panjang. Ia hanya mengenakan kain sutra tipis berwarna putih yang tembus pandang di bawah cahaya lampu minyak.
"Kau tampak gelisah, Raka," bisik Sekar. Ia berdiri dan berjalan mendekati suaminya. Aroma melati yang khas dari tubuh Sekar selalu berhasil menenangkan badai di hati Raka.
Raka memeluk Sekar dari belakang, membenamkan wajahnya di pundak istrinya yang halus.
"Ada sesuatu yang datang, Sekar. Sesuatu yang sangat tua. Aku bisa merasakannya di dalam tulangku."
Sekar berbalik, menangkup wajah Raka dengan tangannya yang hangat.
"Apapun itu, kita akan menghadapinya bersama. Tapi malam ini... biarkan dirimu menjadi suamiku, bukan Sang Penjaga Jagat."
Sekar menarik tali kain penutup dadanya.
Sreeet...
Kain itu jatuh ke lantai, menyingkap keindahan tubuhnya yang kini lebih matang dan berisi. Raka menggeram rendah, gairahnya yang selama ini ia tekan demi kedamaian desa, kini meledak kembali.
Ia mengangkat Sekar ke atas tempat tidur kayu yang besar.
Suara tempat tidur itu beradu dengan napas mereka yang mulai memburu. Raka mencium Sekar dengan intensitas yang luar biasa, seolah setiap kecupannya adalah cara untuk melindungi wanita itu dari masa depan yang tak pasti.
desah Sekar saat tangan kekar Raka menyentuh gunung kembar, menjelajahi lekuk tubuhnya."
Di bawah cahaya lampu yang temaram, mereka bersatu dalam tarian hasrat yang liar namun penuh kasih.
Penyatuan mereka malam itu terasa berbeda, ada energi emas yang mengalir dari tubuh Raka ke rahim Sekar, sebuah proteksi gaib yang ia berikan tanpa sadar.
Gairah mereka memuncak dalam keheningan malam, menyisakan keringat dan aroma cinta yang memenuhi ruangan."
Malam Harinya kedatangan." Utusan dari Wilayah Daulat"
BOOOMMMM!
Tengah malam, sebuah ledakan suara yang memekakkan telinga menghancurkan kesunyian desa.
Langit di atas Lembah Wening mendadak berubah menjadi warna perak metalik. Sebuah kapal terbang raksasa yang terbuat dari kristal muncul dari balik awan.
Raka segera mengenakan pakaiannya dan melompat keluar jendela.
Wusss!
Ia melayang di udara, menatap kapal asing tersebut.
Pintu kapal terbuka, dan turunlah tiga sosok pria jangkung dengan zirah berwarna putih perak yang bersinar terang.
Wajah mereka sangat datar, tanpa ekspresi, seolah-olah mereka adalah patung hidup. Masing-masing memegang tombak yang ujungnya mengeluarkan percikan petir biru.
"Raka, Pewaris Sembilan Matahari," suara pemimpin mereka terdengar datar namun sangat berat, seolah berasal dari masa lalu yang jauh.
"Kami adalah Penengah dari Wilayah Daulat. Kau telah melanggar hukum purba dengan menggunakan kekuatan Matahari Kesembilan di dunia manusia."
Raka mengepalkan tinjunya, dengan terganggunya ketenanganya di usik."
Krakkk!
Api emas mulai keluar dari pundaknya. "Aku menggunakannya untuk melindungi rakyatku Siapa kalian berani menghakimiku?"
"Dunia ini hanyalah satu dari jutaan butiran debu di bawah Takhta Para Leluhur," jawab utusan itu.
"Kekuatanmu telah mengganggu keseimbangan kosmik. Kau harus ikut bersama kami untuk diadili, atau kami akan menghapus seluruh keberadaan dunia ini dari sejarah."
Tinggg!
Ujung tombak utusan itu menyentuh udara, dan seketika seluruh Desa Lembah Wening membeku dalam waktu sekejap.
Penduduk desa, pepohonan, bahkan Sekar dan Bumi di dalam rumah, semuanya berhenti bergerak, menjadi patung abu-abu yang diam.
"Apa yang kalian lakukan?!" teriak Raka murka.
"Mereka berada dalam status Tertunda. Mereka akan hancur selamanya jika kau menolak panggilan kami."
"Perjalanan Menuju Wilayah Daulat"
Raka tahu ia tidak punya pilihan. Kekuatan ketiga orang ini sangat berbeda dengan Barata.
Jika Barata adalah api, orang-orang ini adalah ruang hampa itu sendiri, mereka tidak bisa diserang dengan energi biasa.
"Baik. Aku akan ikut," ucap Raka dengan nada dingin. "Tapi jika kalian menyentuh sehelai rambut pun dari keluargaku, aku akan memastikan Takhta Leluhur kalian runtuh menjadi debu."
Utusan itu hanya mengangguk kecil. Sebuah jembatan cahaya perak terbentang dari kapal menuju kaki Raka.
Raka melangkah masuk ke dalam kapal tersebut. Begitu ia berada di dalam, ia melihat pemandangan yang tak masuk akal. Di dalam kapal itu terdapat galaksi-galaksi kecil yang berputar dalam botol-botol kaca."
Kapal itu melesat dengan kecepatan yang melampaui pikiran.
Syuuuuuutttt!
Dalam sekejap, mereka tiba di sebuah tempat yang disebut Wilayah Daulat. Sebuah kota yang terapung di atas lautan energi murni yang luasnya tak terbatas. Di sana, Raka melihat ribuan orang dengan kekuatan yang setara atau bahkan lebih besar darinya.
"Selamat datang di tempat di mana para pencipta bersemayam," bisik salah satu utusan.
Raka berjalan melewati aula-aula besar yang dibangun dari tulang-tulang naga kosmik. Di ujung aula, duduk dua belas orang tua di atas takhta yang melingkar.
Mereka adalah Dua Belas Leluhur Purba, penguasa sejati yang mengawasi seluruh alam semesta.
"Raka," salah satu Leluhur bersuara. Suaranya membuat sembilan matahari di dalam tubuh Raka bergetar hebat.
"Kau pikir kau telah menguasai segalanya? "Kau hanyalah seorang bayi yang baru belajar merangkak di hadapan kekuatan Matahari Kesepuluh: Matahari Asal."
Raka menatap ke langit aula tersebut, dan di sana ia melihat sebuah bola api berwarna hitam pekat dengan inti putih yang berdenyut. Itulah sumber dari segala kekuatan sakti di seluruh dunia.
"Dan sekarang," lanjut Sang Leluhur, "kau harus membuktikan apakah kau layak memegang warisan itu, atau kau harus musnah agar kekuatan itu bisa kami ambil kembali."
Raka terdiam...?
"Ini Bukan lagi untuk menyelamatkan desa, tapi untuk merebut pengakuan dari para pencipta alam semesta dan membuka misteri tentang siapa sebenarnya "Seseorang Misterius" yang memberinya kekuatan sejak bayi."
Karena ternyata, sosok itu adalah salah satu dari Dua Belas Leluhur yang kini sedang dalam pelarian."
Bersambung...