Sebuah kisah wanita cantik yang rela di ajak sang suami hidup di negeri perantauan, yaitu ke negeri Arab Saudi di Makkah dan ingin meninggal dunia disana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ANGWARUL MUJAHADAH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu dari Ibukota
Setelah melumpuhkan pusat komando tanpa menumpahkan darah secara sia-sia—hanya dengan membuat semua senjata musuh hancur menjadi debu—Mbah Sidik kembali mengayuh sepedanya menjauh. Ia terbang perlahan menuju rumahnya, di mana Zaenab dan anak-anaknya sedang menanti dengan cemas.
Para prajurit Indonesia yang menyaksikan kejadian itu hanya bisa terperangah. Mereka melihat seorang kakek tua dengan sepeda ontel terbang menghilang ke balik awan senja, meninggalkan jejak harum bunga melati dan padang pasir di udara.
Di rumah, Zaenab sudah menyiapkan air hangat dan kopi untuk suaminya. Mbah Sidik turun dari langit, memarkirkan sepedanya di samping kandang ayam, lalu melepas topi veterannya seolah-olah ia baru saja pulang dari pasar.
"Sudah selesai, Kang?" tanya Zaenab lembut.
"Sudah, Zae. Penjajah itu sudah paham bahwa tanah ini punya penjaga yang tak tidur," jawab Mbah Sidik sambil tersenyum tenang.
****
Kabar tentang seorang kakek sakti yang menunggangi sepeda ontel terbang dan melumpuhkan satu batalyon tanpa menembakkan satu peluru pun akhirnya sampai ke telinga para petinggi di Jakarta. Berita itu menyebar seperti dongeng, namun bukti-bukti tank yang melengkung dan senjata yang berubah menjadi debu tak bisa dibantah.
Suatu pagi yang tenang, sebuah iring-iringan mobil hitam mewah dengan plat nomor khusus berhenti tepat di depan rumah bambu Mbah Sidik. Debu mengepul di halaman yang biasanya hanya dilewati ayam-ayam peliharaan Zaenab.
Seorang pejabat tinggi dengan seragam penuh bintang dan seorang menteri keluar dari mobil tersebut. Wajah mereka tampak tegang sekaligus kagum. Mereka datang membawa sebuah kotak beludru merah berisi medali penghargaan tertinggi serta dokumen pengakuan sebagai Pahlawan Nasional.
Mbah Sidik saat itu sedang asyik membetulkan rantai sepeda ontelnya di bawah pohon sawo. Ia hanya mengenakan kaos singlet dan celana kombor hitam, sisa-sisa oli menempel di tangannya.
"Pak Sidik Prawiro," ucap sang menteri sambil membungkuk hormat. "Negara meminta maaf atas pengabaian di masa lalu. Kami datang untuk menjemput Bapak ke Istana, memberikan rumah layak, dan tunjangan seumur hidup bagi Bapak dan keluarga sebagai bentuk penghargaan atas jasa Bapak mengusir penjajah baru ini."
Mbah Sidik berhenti memutar pedal sepedanya. Ia menyeka keringat dengan handuk lusuh di bahunya, lalu menatap para pejabat itu dengan tatapan yang teduh—tatapan yang didapatnya dari Syekh Mansur di Makkah.
"Terima kasih, Pak Menteri, Pak Jenderal," suara Mbah Sidik tenang namun berwibawa. "Tapi saya ini sudah tua. Seragam itu sudah lama saya simpan di peti. Saya berperang bukan untuk mendapatkan rumah atau medali, tapi karena saya tidak ingin sajadah saya diinjak oleh kaki-kaki zalim."
"Tapi Bapak adalah aset negara!" sela sang jenderal.
Mbah Sidik tersenyum tipis. "Aset negara adalah anak-anak muda yang jujur. Biarkan saya di sini saja. Menjadi dukun sunat lebih menenangkan bagi saya. Melihat anak-anak desa sehat dan berani adalah medali yang sesungguhnya bagi saya."
Mbah Sidik dengan halus menolak semua kemewahan itu. Ia meminta agar anggaran untuk rumah mewahnya dialihkan untuk membangun sekolah dan madrasah di desanya.
Setelah para pejabat itu pulang dengan perasaan malu sekaligus takjub, Zaenab keluar membawa secangkir kopi panas dan singkong rebus.
"Kenapa tidak diterima saja, Kang? Lumayan untuk masa depan anak-anak," goda Zaenab sambil duduk di sampingnya.
Mbah Sidik menyesap kopinya perlahan. "Zae, di Makkah kita belajar tentang qana'ah, merasa cukup dengan apa yang ada. Kalau aku terima istana itu, nanti aku tidak bisa lagi naik ontel ini masuk ke pelosok-pelosok untuk menyunat anak yatim. Aku lebih suka dikenal sebagai kakek tukang sunat daripada pahlawan yang dipajang di dinding."
Zaenab tertawa kecil. Ia tahu suaminya telah mencapai tingkatan ilmu di mana emas dan kerikil sudah tak ada bedanya.
Puisi: Pahlawan yang Memilih Sunyi
Emas di kotak beludru, tak menyilaukan mata yang telah menatap Ka'bah,
Pangkat dan harta, tak lebih berharga dari senyum hamba yang tabah.
Biarlah nama ini hilang dari catatan sejarah manusia yang angkuh,
Asalkan di hadapan Pencipta, pengabdianku tetap utuh.
Aku lebih cinta pada derit sepeda tua di jalan setapak,
Daripada deru mobil mewah yang membuat hati berjarak.
Takhta sejatiku adalah sadel ontel yang mulai usang,
Tempatku melihat senyum anak-anak, setelah badai peperangan pulang.
Zaenab, mari kita tutup pintu dari hingar bingar dunia,
Kita kembali pada doa, pada anak-anak, dan pada Dia yang Maha Esa.
Sebab pahlawan sejati tak butuh dipuja di atas panggung,
Ia hanya ingin memastikan, rakyat kecil tak lagi merintih bingung.
Sore itu, Mbah Sidik kembali menuntun sepedanya. Di boncengan belakang, ada seorang anak kecil desa sebelah yang sudah menunggu untuk dikhitan. Sambil mengayuh sepedanya pelan—kali ini roda-rodanya tetap menyentuh tanah sebagai bentuk kerendahhatian—Mbah Sidik berselawat dengan lirih.
Di langit, samar-samar terlihat bayangan Mbah Pupus tersenyum bangga. Sidik telah lulus dari ujian terakhir: ujian kesombongan. Ia tetap menjadi Sidik yang dulu, pejuang yang mencintai sunyi dan pengabdian.
thor q merinding sekaligus ke inget sama mbah mansyur (Kh.Tubagus Mansyur) yg d ceritain sama guru aku
q berasa kaya lagi ngaji thor
siapa kah sebenarnya kang sidik ?