Kenzo Arkana adalah definisi hidup dari kekejaman. Sebagai raja penyelundup barang terlarang, ia memerintah dunianya dengan tangan besi dan hati yang membeku. Baginya, wanita hanyalah gangguan tak berguna hingga malam itu, di sudut remang kelab eksklusifnya, seorang wanita lancang bernama Aara datang mengusik ketenangannya.
Aara bukan wanita biasa. Di balik gaun merah yang menggoda dan sikap centilnya, ia adalah agen rahasia elit yang sedang menjalankan misi mustahil: menjatuhkan kekaisaran Kenzo. Ia harus memikat sang "Monster" untuk mencuri rahasia terdalamnya.
Namun, di dunia di mana pengkhianatan dibayar dengan nyawa, siapa yang akan terjatuh lebih dulu? Apakah Aara berhasil menuntaskan misinya, atau justru ia yang terjerat dalam kegelapan Kenzo yang mematikan?
Satu rayuan. Satu misi. Satu taruhan nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badai di Negeri Singa
Keberhasilan di lereng Gunung Lawu memberikan jeda yang sangat dibutuhkan, namun bagi Kenzo, ketenangan selalu memiliki aroma jebakan. Sementara Adrian mulai menyesuaikan diri dengan anak-anak lain di Saraswati, sebuah pesan enkripsi tingkat tinggi mendarat di perangkat pribadi Kenzo. Pesan itu bukan berasal dari Nusantara, melainkan dari saluran yang sudah lama mati: Protokol Ghost.
"Kenzo, lihat ini," Aara menghampiri suaminya di beranda paviliun kayu. Wajahnya tegang, jemarinya dengan cepat memproyeksikan hologram dari jam tangannya.
Layar digital menampilkan citra satelit dari sebuah pelabuhan peti kemas di Singapura. Di sana, di antara ribuan kotak baja, terdapat sebuah unit kontainer khusus dengan tanda pengenal medis yang sangat spesifik. "Itu adalah tanda pengenal laboratorium bergerak milik Miller. Dan menurut data intelijen yang aku curi dari LKS sebelum mereka tumbang, kontainer itu berisi sisa-sisa serum Valkyrie murni yang tidak sempat dihancurkan di The Abyss."
Kenzo mengeraskan rahangnya. "Singapura lagi? Sepertinya The Syndicate tidak benar-benar mati setelah kejadian di Sentosa."
"Lebih buruk dari itu," tambah Aara. "Mereka tidak lagi mencoba menggunakan Adrian sebagai pemancar. Mereka mencoba mereplikasi frekuensi Adrian ke dalam serum itu untuk menciptakan prajurit 'Alpha' instan. Jika mereka berhasil, setiap agen The Syndicate akan memiliki kekuatan yang sama dengan Adrian, tanpa kontrol moral sedikit pun."
Malam itu, di bawah rembulan Lawu yang pucat, sebuah rapat darurat diadakan di ruang komando Saraswati. Eyang Ratri hadir, wajahnya tampak prihatin.
"Adrian baru saja mulai menemukan keseimbangannya di sini," ucap Eyang Ratri lembut. "Membawanya kembali ke medan tempur bisa merusak stabilitas saraf yang baru saja kita bangun."
"Kami tidak akan membawanya," jawab Kenzo tegas. "Aara dan aku akan menyelesaikan ini di Singapura. Baskara akan memimpin pertahanan di sini bersama unit elit Nusantara. Saraswati harus tetap menjadi tempat yang aman bagi Adrian."
Aara menoleh ke arah Kenzo, ada keraguan di matanya. Selama ini, Adrian adalah kunci kemenangan mereka. Menghadapi teknologi frekuensi tanpa "sang dirigen" adalah risiko bunuh diri. Namun, sebagai seorang ibu, ia tahu Kenzo benar. Adrian berhak mendapatkan masa kecilnya kembali, meski hanya untuk beberapa hari.
Dua belas jam kemudian, Kenzo dan Aara telah berada di Singapura. Kali ini, tidak ada penjemputan resmi dari Colonel Chen. Mereka masuk melalui jalur penyelundupan di Pelabuhan Jurong, menyamar sebagai teknisi kargo.
Singapura yang biasanya rapi dan teratur kini terasa mencekam bagi mereka yang bisa membaca arus bawah. Keamanan di pelabuhan diperketat secara tidak wajar.
"Leo, kau sudah melacak kontainer itu?" bisik Aara melalui mikrofon tersembunyi di kerah pakaiannya.
"Sinyalnya berkedip-kedip, Nyonya," suara Leo terdengar di earpiece. "Mereka menggunakan jamming frekuensi rendah. Tapi aku berhasil mengunci lokasinya di Gudang Blok C-12. Hati-hati, ada lonjakan energi yang tidak wajar di sana. Sepertinya mereka sedang melakukan proses aktivasi serum."
Kenzo dan Aara bergerak seperti bayangan di antara tumpukan kontainer raksasa. Mereka menghindari kamera pengawas dengan presisi yang hanya dimiliki oleh mantan agen elit. Saat mencapai Blok C-12, mereka menemukan bahwa gudang itu telah diubah menjadi laboratorium darurat yang sangat canggih.
Di dalam gudang, berdiri seorang pria yang pernah mereka lihat di data intelijen lama: Dimitri, mantan tangan kanan Miller yang sempat menghilang. Di depannya, lima orang agen The Syndicate sedang berbaring di meja operasi, dengan tabung-tabung berisi cairan perak yang terhubung langsung ke tulang belakang mereka.
"Ekstrak frekuensi Alpha sudah stabil," ucap Dimitri kepada para asistennya. "Mulailah penyuntikan."
"Tidak hari ini, Dimitri," suara Kenzo bergema di seluruh ruangan.
Kenzo melepaskan tembakan pembuka yang menghancurkan panel kontrol utama. Ledakan percikan listrik memenuhi ruangan. Aara bergerak dengan kecepatan luar biasa, melepaskan granat asap dan mulai melumpuhkan para asisten laboratorium dengan gerakan akrobatik yang mematikan.
Dimitri tidak panik. Ia justru tersenyum sinis. "Kenzo Arkana. Kau datang tanpa senjatamu yang paling berharga? Di mana bocah ajaib itu?"
Dimitri menekan tombol darurat. Kelima agen di meja operasi tiba-tiba terbangun. Mata mereka berkilat perak, namun bukan perak yang jernih seperti milik Adrian. Itu adalah perak yang kusam dan penuh kemarahan. Mereka bangkit dengan gerakan kaku, namun kekuatan mereka terasa meledak-ledak.
"Serum ini belum sempurna," Dimitri tertawa. "Tapi cukup untuk merobek kalian menjadi berkeping-keping."
Pertempuran pecah dengan brutal. Kenzo, yang biasanya dominan dalam pertarungan jarak dekat, mendapati dirinya kesulitan. Para agen ini tidak merasakan sakit. Tembakan di bahu atau sabetan pisau di kaki tidak menghentikan mereka. Mereka bergerak dengan kecepatan yang tidak manusiawi, didorong oleh frekuensi buatan yang memaksa sel tubuh mereka bekerja melampaui batas.
Aara terdesak di sudut gudang. Ia menggunakan pisau taktisnya untuk menangkis serangan bertubi-tubi dari salah satu agen. "Kenzo! Mereka tidak punya saklar mati! Frekuensi mereka terus meningkat!"
Kenzo terlempar menabrak deretan tabung kimia setelah menerima pukulan telak di dadanya. Ia terengah, merasakan tulang rusuknya retak. Untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia merasa benar-benar terpojok.
Di tengah kekacauan itu, sebuah getaran aneh mulai merambat di lantai gudang. Suara dengungan yang sangat halus, namun sangat kuat, mulai mengintervensi frekuensi liar para agen tersebut.
Tiba-tiba, pintu gudang yang terbuat dari baja tebal hancur berkeping-keping bukan karena ledakan, melainkan karena getaran harmonis. Di ambang pintu, berdiri seorang bocah kecil dengan jaket hoodie hitam yang menutupi kepalanya.
"Adrian?!" teriak Aara tidak percaya.
Di belakang Adrian, muncul Baskara yang tampak kewalahan. "Maaf, Tuan! Dia memaksa... dia bilang dia merasakan kalian dalam bahaya!"
Adrian melangkah masuk. Ia tidak perlu berlari. Setiap langkahnya membuat para agen *The Syndicate* yang tadi mengamuk tiba-tiba berlutut sambil memegang kepala mereka. Frekuensi buatan yang ada di dalam tubuh mereka bertabrakan dengan frekuensi murni sang Alpha asli.
"Suara kalian sangat berisik," ucap Adrian datar. Matanya kini berkilat perak sepenuhnya, memancarkan cahaya yang menerangi seluruh gudang. "Dan sangat kotor."
Adrian merentangkan tangannya. Gelombang energi perak terpancar darinya, menyelimuti kelima agen tersebut. Dalam hitungan detik, cairan perak di dalam tubuh para agen itu seolah-olah ditarik keluar secara paksa melalui pori-pori kulit mereka, kembali ke bentuk cair dan jatuh ke lantai. Para agen itu pingsan seketika, sistem saraf mereka mati suri.
Dimitri mencoba melarikan diri ke arah helikopter yang menunggu di atap, namun Kenzo sudah bangkit. Dengan sisa tenaganya, Kenzo melemparkan belati taktisnya tepat mengenai kaki Dimitri.
"Kau tidak akan pergi ke mana-mana, Dimitri," geram Kenzo.
Aara menyusul, menodongkan senjatanya ke kepala Dimitri. "Di mana data cadanganmu? Katakan, atau aku akan membiarkan Adrian melakukan 'pembersihan' pada otakmu."
Dimitri menatap Adrian dengan ngeri. Ia menyadari bahwa ia tidak pernah bertarung melawan seorang anak kecil, melainkan melawan kekuatan alam yang tidak bisa dipahami. Ia menyerahkan sebuah drive enkripsi dengan tangan gemetar.
Setelah Singapura dibersihkan sekali lagi oleh otoritas lokal (dengan bantuan "bersih-bersih" dari Nusantara), keluarga Arkana duduk di tepi dermaga yang sunyi.
Aara memeluk Adrian sangat erat. "Kenapa kau datang, Nak? Mama sangat takut."
"Aku merasakan frekuensi Papa melemah, Mama," jawab Adrian sambil menyandarkan kepalanya di bahu Aara. "Di Saraswati, Eyang Ratri mengajariku bahwa kita adalah satu simfoni. Jika salah satu nada hilang, lagu kita rusak. Aku tidak mau lagu kita rusak."
Kenzo mendekat, duduk di samping mereka. Ia meletakkan tangannya di atas kepala Adrian dan bahu Aara. Luka-lukanya masih perih, tapi hatinya merasa utuh.
"Kita tidak akan pernah membiarkan lagu itu rusak, Adrian," bisik Kenzo.
Matahari mulai terbit di ufuk timur Singapura, menyinari tiga sosok yang berdiri kokoh melawan dunia. Mereka menyadari bahwa tidak peduli seberapa jauh mereka lari, atau seberapa dalam mereka bersembunyi, dunia akan selalu mencari mereka. Namun, mereka juga menyadari satu hal penting: selama mereka bertiga bersama, tidak ada frekuensi yang terlalu kacau untuk diselaraskan, dan tidak ada musuh yang terlalu kuat untuk dijatuhkan.