NovelToon NovelToon
Putri Yang Ditukar

Putri Yang Ditukar

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Widia ayu Amelia

Setelah 17 tahun hidup dalam kemiskinan dan menjadi korban perundungan oleh Clarissa, si "Putri Mahkota" sekolah, sebuah kecelakaan tragis mengungkap rahasia besar: Adel adalah putri kandung keluarga konglomerat Mahendra yang tertukar saat lahir.
Kembali ke rumah mewah ternyata bukan akhir dari penderitaan. Adel harus menghadapi penolakan dari ibu kandungnya sendiri yang lebih menyayangi Clarissa si anak palsu. Namun, Adel bukanlah gadis lemah yang bisa ditindas. Dengan bantuan Devan, tunangan Clarissa yang dingin dan berbahaya, Adel bangkit untuk merebut kembali takhtanya, membalas setiap penghinaan, dan membuktikan siapa pemilik sah dari nama besar Mahendra.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Widia ayu Amelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

11

Keheningan di ruang kerja Tuan Mahendra malam itu terasa lebih mencekam daripada badai yang baru saja reda di luar. Aroma cerutu mahal dan kayu cendana yang biasanya memberikan kesan tenang, kini terasa menyesakkan bagi Adelard. Ia berdiri di tengah ruangan, masih mengenakan seragam sekolah yang sedikit lembap karena sisa hujan di atap tadi.

Di hadapannya, sebuah pemandangan yang menghancurkan sisa-sisa harapannya tersaji: Nyonya Siska duduk di sofa pualam, mendekap Clarissa yang masih terisak pelan. Tuan Mahendra berdiri di balik meja jatinya, menatap tumpukan dokumen DNA yang kini tampak seperti tumpukan sampah tak berguna.

"Duduklah, Adel," suara Tuan Mahendra terdengar sangat tua dan lelah.

Adel tidak bergerak. Matanya tertuju pada tangan ibunya—wanita yang melahirkannya—yang kini sedang mengusap lembut punggung Clarissa. "Apa yang ingin Ayah bicarakan? Kepolisian sudah menunggu di bawah untuk laporan percobaan pembunuhan yang dilakukan Clarissa."

Nyonya Siska mendongak, matanya merah karena marah dan tangis. "Polisi? Kau ingin memasukkan kakakmu ke penjara, Adel? Kau ingin menghancurkan nama baik keluarga ini hanya karena dendam pribadimu?"

"Kakak?" Adel tertawa getir, suaranya pecah. "Wanita itu mencoba mendorongku dari lantai empat, Nyonya Siska. Dan Anda menyebutnya kakak?"

"Hendra, lakukan sesuatu!" Siska beralih pada suaminya, mengabaikan Adel. "Clarissa sudah ketakutan. Dia hanya anak remaja yang bingung. Dia tidak sengaja melakukannya! Jika ini sampai ke media, Mahendra Group akan hancur dalam semalam. Pikirkan kontrak-kontrak yang sedang kita bangun!"

Tuan Mahendra memejamkan mata, memijat pelipisnya. Setelah keheningan yang menyiksa, ia akhirnya membuka suara. "Adel... Ayah sudah membatalkan panggilan polisi. Pak Dirman sudah menyuruh mereka pergi dengan alasan 'kesalahpahaman keluarga'."

Dunia seolah runtuh di bawah kaki Adel. "Kesalahpahaman? Dia mencoba membunuhku!"

"Ayah tahu! Ayah melihatnya sendiri!" Tuan Mahendra membentak, namun nadanya lebih kepada frustrasi pada dirinya sendiri. Ia berjalan mendekati Adel, mencoba memegang bahu gadis itu, namun Adel mundur selangkah.

"Dengarkan Ayah. Ayah mencintaimu. Kau adalah putri kandungku. Tapi dunia luar... dunia luar sudah mengenal Clarissa sebagai putri tunggal Mahendra selama tujuh belas tahun. Jika kita mengumumkan pertukaran ini sekarang, orang-orang akan menyebut kita lalai. Mereka akan menggali masa lalu ibumu, mereka akan menertawakan silsilah kita. Mahendra Group akan kehilangan kepercayaan dari investor asing."

Adel menatap ayahnya dengan pandangan tidak percaya. "Jadi, karena saham dan reputasi, Ayah akan membiarkan kebenaran ini terkubur?"

"Tidak terkubur sepenuhnya," Tuan Mahendra menarik napas panjang, mengambil sebuah draf dokumen dari mejanya. "Kita akan tetap mengumumkanmu sebagai bagian dari keluarga. Tapi... bukan sebagai putri kandung yang tertukar. Kita akan mengumumkanmu sebagai Anak Angkat Resmi keluarga Mahendra. Kau akan mendapatkan nama belakang Mahendra, kau akan mendapatkan hak waris yang sama, tapi secara publik, Clarissa tetaplah putri sulung kandung kami."

Suasana mendadak menjadi sangat dingin. Adel menatap ibunya. "Ibu setuju dengan ini?"

Nyonya Siska mengangguk pelan tanpa melepaskan pelukannya dari Clarissa. "Ini yang terbaik, Adel. Aku sudah merawat Clarissa sejak dia merah. Aku tidak bisa menghapus kasih sayang itu begitu saja hanya karena tes medis. Dia sudah terbiasa dengan kemewahan ini. Jika statusnya dicabut, dia akan hancur. Kau... kau kuat, Adel. Kau sudah terbiasa hidup sulit, kau bisa beradaptasi sebagai anak angkat."

Kalimat itu—"Kau sudah terbiasa hidup sulit"—menghujam jantung Adel lebih dalam daripada pisau mana pun. Karena ia terbiasa menderita, maka ia dianggap layak untuk terus menderita demi kebahagiaan orang lain?

Di dalam dekapan Nyonya Siska, Clarissa perlahan mengangkat wajahnya. Air matanya sudah kering. Dari sudut yang tidak terlihat oleh Tuan Mahendra dan istrinya, Clarissa menarik ujung bibirnya ke atas. Sebuah senyuman kemenangan yang sangat tipis dan beracun merekah di wajahnya. Matanya menatap Adel dengan kilat ejekan yang berkata: "Darahmu tidak ada artinya di hadapan rasa sayang Ibu padaku."

"Dan satu hal lagi," Tuan Mahendra menambahkan dengan nada memerintah. "Adel, kau harus meminta maaf pada Clarissa karena telah memprovokasinya di atap sekolah. Jika kau tidak memancingnya, dia tidak akan sampai kehilangan kendali."

Adel terpaku. Ia merasa seperti sedang berada di dalam mimpi buruk yang tak berujung. "Ayah ingin aku... meminta maaf pada orang yang ingin membunuhku?"

"Demi kedamaian rumah ini, Adel! Lakukan saja!" seru Tuan Mahendra.

Adel mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya melukai telapak tangannya sendiri. Ia menatap tiga orang di depannya. Satu orang yang pengecut karena harta, satu orang yang buta karena kasih sayang salah sasaran, dan satu iblis yang sedang merayakan kemenangannya.

"Baik," suara Adel mendadak dingin dan datar. Kehangatan di matanya hilang, digantikan oleh kekosongan yang gelap. "Jika itu yang Ayah dan Ibu inginkan... aku akan mengikutinya. Aku akan menjadi anak angkat yang paling patuh."

"Baguslah kalau kau mengerti," Nyonya Siska menghela napas lega. "Besok kita akan mengadakan konferensi pers kecil. Pakai gaun yang sudah kusiapkan. Jangan buat kami malu."

Adel berbalik dan berjalan keluar dari ruang kerja tanpa sepatah kata pun. Begitu ia menutup pintu jati itu, ia menyandarkan tubuhnya di dinding koridor. Ia tidak menangis. Rasa sakitnya sudah melampaui batas air mata.

"Keputusan yang sangat bodoh untuk keluarga sekelas Mahendra."

Adel mendongak. Devan Dirgantara berdiri di ujung koridor, bersandar pada pilar besar dengan tangan terlipat di dada. Ia telah mendengar semuanya melalui pintu yang sedikit terbuka.

"Kau di sini," bisik Adel hampa.

Devan mendekat, langkah kakinya bergema di lantai marmer yang sunyi. Ia berdiri di depan Adel, menatap wajah gadis itu yang kini tampak seperti patung lilin yang tak bernyawa. "Kau akan menerima ini begitu saja? Menjadi bayang-bayang di rumah yang seharusnya milikmu?"

"Ayahku memilih harta, ibuku memilih kenangan," Adel menatap Devan dengan mata yang tajam. "Aku tidak punya siapa-siapa di dalam sana, Devan."

Devan mengulurkan tangannya, menyentuh dagu Adel dan memaksanya menatap langsung ke matanya yang biru kelabu. "Kau punya aku. Dan aku tidak pernah mengakui keputusan sampah itu. Bagiku, kau adalah pewaris tunggal. Clarissa hanyalah parasit yang sedang berpesta di atas luka orang lain."

"Lalu aku harus apa?"

"Bersabarlah sebentar lagi," Devan mendekatkan wajahnya, suaranya menjadi bisikan yang berbahaya. "Biarkan mereka tertawa di atas kepalsuan mereka. Saat mereka merasa paling aman, itulah saat kita akan meruntuhkan seluruh fondasi mansion ini sampai tidak ada satu pun batu yang tersisa. Aku akan membantumu mengambil semuanya, Adel. Semuanya."

Adel merasakan percikan api mulai menyala kembali di dalam dadanya. Bukan api harapan, tapi api dendam yang murni. Ia menoleh ke arah pintu ruang kerja ayahnya, di mana sayup-sayup terdengar suara tawa manja Clarissa yang sedang dihibur oleh ibunya.

"Kau benar, Devan," ucap Adel pelan. "Biarkan mereka merayakan kepalsuan ini. Karena semakin tinggi mereka membangun kebohongan ini, semakin sakit saat mereka jatuh nanti."

Malam itu, Adelard resmi menjadi "Anak Angkat" di rumahnya sendiri. Ia melihat Clarissa kembali ke kamar mewahnya dengan kepala tegak, sementara ia kembali ke kamar kecilnya di paviliun belakang atas permintaan Nyonya Siska—"agar tidak membuat Clarissa merasa tertekan".

Di bawah kegelapan malam, Adel bersumpah: Ia akan menjadi anak angkat yang paling patuh, paling tenang, dan paling mematikan yang pernah mereka kenal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!