NovelToon NovelToon
Possessive Wife

Possessive Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Slice of Life / Romansa / Komedi
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: SNOWBIRDS

Dimas hanyalah seorang pegawai kantoran biasa yang hidup dalam rutinitas yang melelahkan. Namun, di balik pintu apartemennya, menanti sebuah rahasia yang tidak akan dipercayai oleh siapapun: seorang istri cantik luar biasa bernama Linda, yang berasal dari ras siluman rubah.

Linda bukan sekadar istri biasa. Ia memiliki kasih sayang yang meluap-luap, namun berbanding lurus dengan sifatnya yang sangat posesif. Baginya, keterlambatan Dimas pulang kerja adalah "kejahatan besar" yang hanya bisa ditebus dengan perhatian penuh dan kemanjaan yang intens. Linda tidak segan-segan menggunakan pesona silumannya untuk memastikan Dimas tidak pernah berpaling darinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SNOWBIRDS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 7

...«----------------🍀{DIMAS}🍀----------------»...

Hari Sabtu seharusnya menjadi hari kemenangan bagi setiap buruh korporat seperti aku. Sebuah jeda suci di mana laporan logistik, keluhan klien, dan dering telepon kantor digantikan oleh aroma parfum istri dan tawa santai. Namun, saat aku berdiri di depan meja kerja ku pada pukul 09.00 pagi, menatap tumpukan berkas darurat yang baru saja mendarat karena kegagalan sistem di gudang cabang, aku tahu aku sedang berdiri di ambang bencana rumah tangga.

“Mati aku. Benar-benar mati kali ini,” batin ku sambil memijat pelipis yang mulai berdenyut. “Linda sudah merencanakan kencan ini sejak dua minggu lalu. Dia bahkan membeli dres baru. Jika aku meneleponnya sekarang, apartemen itu mungkin akan berubah menjadi zona badai.”

Dengan tangan gemetar, aku meraih ponsel. Layar kuncinya menampilkan foto Linda yang sedang tersenyum lebar sambil memegang es krim, telinga rubahnya sedikit menyembul nakal di balik topinya. Aku menarik napas panjang dan menekan nomor rumah.

Hanya dua detik, panggilan langsung diangkat.

"Dimas! Kau sudah di jalan, kan?" Suara Linda terdengar sangat ceria, penuh dengan nada antusiasme yang jarang ia tunjukkan pada dunia luar. "Aku sudah selesai berdandan! Aku memakai dres yang kau sukai, yang warnanya seperti dedaunan musim gugur. Cepatlah pulang, Sayang!"

Tenggorokan ku terasa kering. "Linda... Sayang... dengarkan aku dulu."

Hening sejenak di seberang sana. Aku bisa merasakan atmosfer berubah melalui sinyal telepon. Frekuensi keceriaan itu merosot tajam, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

"Kenapa suara mu terdengar seperti itu, Dimas?" tanyanya, suaranya mendadak rendah dan dingin.

"Ada masalah besar di gudang cabang. Sistemnya kacau dan semua manifes pengiriman hari ini hilang. Direktur meminta ku turun tangan langsung karena hanya aku yang punya akses cadangan manualnya. Aku... aku harus lembur hari ini, Linda."

Krak.

Aku bersumpah mendengar suara sesuatu yang patah dari seberang telepon. Mungkin gagang sisir, atau mungkin bingkai foto.

"Lembur?" Linda mengulang kata itu seolah itu adalah kutukan kuno. "Di hari Sabtu? Di hari kencan kita yang sudah kita bicarakan selama empat belas hari terakhir?"

"Maafkan aku, Linda. Ini benar-benar di luar kendali ku. Aku akan mencoba menyelesaikannya secepat mungkin. Mungkin jam tiga sore aku sudah bisa pulang—"

"Tiga sore?" Potongnya dengan tawa hambar yang menyakitkan. "Taman bunga yang ingin kita kunjungi tutup jam empat. Perjalanan ke sana butuh satu jam. Kau mau kita berkencan di parkiran yang sudah sepi?"

"Linda, tolonglah mengerti..."

"Mengerti apa, Dimas?!" Suaranya kini naik satu oktav, bukan lagi kemarahan posesif yang berapi-api seperti biasanya, tapi suara yang penuh dengan luka. "Mengerti bahwa tumpukan kertas itu lebih berharga daripada waktu yang aku habiskan untuk berdandan? Mengerti bahwa aku harus duduk sendirian lagi di rumah ini, menatap dinding, sementara kau sibuk menyelamatkan perusahaan yang bahkan tidak tahu nama mu jika kau mati besok?"

"Bukan begitu—"

"Sudahlah." Suaranya mendadak lemas. "Lakukan saja pekerjaan mu. Jadilah manajer teladan mu itu."

Pip.

Sambungan terputus. Aku menatap layar ponsel ku yang gelap dengan perasaan hampa. “Sial,” batin ku pahit. “Aku lebih suka dia mengamuk dan mengancam akan membakar kantor ini daripada mendengar suaranya yang lemas seperti itu.”

Aku mencoba fokus pada pekerjaan, tapi bayangan Linda yang sedang duduk di sofa dengan dres cantiknya terus menghantui ku. Sebagai ras siluman, Linda memiliki emosi yang jauh lebih intens daripada manusia. Baginya, penolakan atau pembatalan janji bukan sekadar masalah jadwal, tapi serangan terhadap rasa amannya.

Tiga jam berlalu seperti neraka. Jari-jari ku mengetik kode manual dengan kecepatan yang belum pernah aku lakukan sebelumnya. Setiap kali rekan kerja ku lewat dan menyapa, aku hanya membalas dengan geraman pendek. Pikiran ku ada di apartemen nomor 404.

Sekitar pukul 13.30, pintu kantor ku diketuk. Seorang staf administrasi masuk dengan wajah pucat.

"Pak Dimas... ada... ada kiriman untuk Bapak."

"Taruh saja di meja," kata ku tanpa menoleh.

"Anu... Pak... kirimannya agak... aneh."

Aku mendongak dan tertegun. Di tangan staf itu ada sebuah kotak makan siang yang dibungkus kain hitam. Tapi bukan itu yang aneh. Dari balik kain itu, keluar aroma melati yang sangat pekat, dan ada sehelai bulu cokelat panjang yang terselip di ikatannya.

Aku segera mengambil kotak itu. "Terima kasih, kau boleh pergi."

Begitu staf itu keluar, aku membuka kotak tersebut. Di dalamnya bukan makanan. Hanya ada selembar kertas dengan tulisan tangan Linda yang berantakan, seolah ditulis dengan air mata yang membasahi tintanya.

"Aku benci menjadi siluman yang mencintai manusia. Karena manusia selalu punya alasan untuk pergi, sementara aku hanya punya alasan untuk menunggu. Makanlah rasa sepi ku ini."

Di bawah kertas itu, ada sekuntum bunga yang sudah layu.

Hati ku hancur berkeping-keping. “Cukup,” batal ku bicara. “Persetan dengan sistem ini.”

Aku memanggil asisten ku, Pak Bambang. "Pak, selesaikan sisanya. Aku sudah memulihkan basis datanya, tinggal verifikasi akhir. Aku harus pergi sekarang juga."

"Tapi Pak, Direktur bilang—"

"Katakan pada Direktur, jika dia ingin aku tetap bekerja di sini Senin depan, dia harus membiarkan ku menyelamatkan pernikahan ku sekarang."

Aku menyambar kunci mobil dan berlari menuju parkiran. Aku memacu kendaraan seperti orang gila. Di sepanjang jalan, aku merutuki diri ku sendiri. “Dia sudah banyak berkorban untuk hidup di dunia manusia bersama ku. Dia menahan instingnya, dia menyembunyikan identitasnya, dan aku bahkan tidak bisa memberinya satu hari Sabtu yang tenang?”

Sesampainya di depan pintu apartemen, aku tidak mendengar suara apa pun. Sunyi total. Aku membuka pintu dengan kunci cadangan.

Ruang tamu gelap gorden tertutup rapat. Di sudut sofa, aku melihat sosok kecil yang meringkuk. Linda masih mengenakan dres musim gugur itu, gaun sutra berwarna jingga tua yang sangat pas di tubuhnya. Tapi wajahnya disembunyikan di balik lengannya. Telinga rubahnya terkulai lemas, hampir rata dengan kepalanya, dan ekornya melingkar erat di kakinya seperti tali pengikat.

Dia tidak mendongak saat aku masuk.

"Linda..." bisik ku pelan.

"Pergilah, Dimas," suaranya teredam, serak karena habis menangis. "Kenapa kau pulang? Bukankah sistem gudang mu sedang memanggil pahlawannya?"

Aku berlutut di depannya, mencoba menyentuh tangannya, tapi dia menariknya menjauh. "Aku sudah menyelesaikannya. Aku meninggalkan semuanya demi kamu."

Linda mendongak perlahan. Matanya yang hijau biasanya berkilat tajam, kini terlihat redup dan sembab. "Demi aku? Kau melakukannya karena merasa bersalah, bukan karena kau ingin bersama ku. Kau kasihan pada ku, kan? Kasihan pada siluman rubah yang tidak punya teman dan hanya bisa menunggu suaminya pulang?"

"Tidak, Linda. Itu tidak benar."

"Benar!" Ia tiba-tiba berdiri, dres cantiknya tampak kusut. "Kau tidak tahu rasanya, Dimas! Menghitung setiap detik, mencoba meyakinkan diri sendiri bahwa kau akan datang, lalu menyadari bahwa aku tidak pernah menjadi prioritas mu dibandingkan angka-angka sialan itu!"

Ia mulai berjalan mondar-mandir, ekornya mengibas pelan namun terlihat berat. "Aku sudah berdandan selama dua jam. Aku memakai parfum yang kau sukai. Aku bahkan belajar cara memakai eyeliner manusia agar mata ku terlihat cantik untuk mu. Dan untuk apa? Untuk melihat diri ku sendiri di cermin sambil menangis?"

"Aku minta maaf, Linda. Aku benar-benar minta maaf," aku berdiri dan mencoba memeluknya dari belakang.

Kali ini dia tidak menolak, tapi tubuhnya terasa kaku. "Aku merasa sangat bodoh," bisiknya, suaranya mulai bergetar lagi. "Tadi aku hampir ingin pergi ke kantor mu dan menghancurkan segalanya. Tapi aku takut... aku takut jika aku menunjukkan sisi monster ku, kau akan semakin membenci ku dan semakin ingin menghabiskan waktu di kantor daripada dengan ku."

Keluh batin ku terasa perih. “Dia memendam ketakutan sebesar itu? Dia pikir aku lebih suka bekerja karena aku takut padanya?”

Aku membalikkan tubuhnya agar menghadap ku. Aku memegang wajahnya dengan kedua tangan ku. "Dengarkan aku baik-baik, Linda. Aku tidak pernah menganggap mu monster. Kau adalah hal terbaik dalam hidup ku. Pekerjaan itu... itu hanya cara agar aku bisa memberi mu kehidupan yang layak di dunia ini. Tapi jika itu membuat mu sedih seperti ini, aku rela berhenti besok pagi."

Linda menatap ku lama, mencoba mencari kebohongan di mata ku. "Kau tidak akan berhenti. Kau mencintai pekerjaan mu."

"Aku lebih mencintai mu," aku mencium keningnya lama. "Kita masih punya waktu. Sekarang masih jam dua siang. Taman bunga mungkin tutup jam empat, tapi festival kuliner di pusat kota buka sampai tengah malam. Pakailah sepatu mu. Kita pergi sekarang."

"Tapi gaun ku sudah kusut..." Linda merapikan kain gaunnya dengan tangan gemetar.

"Kau tetap wanita tercantik yang pernah aku lihat, meski dengan gaun kusut sekalipun," aku tersenyum dan mengelus telinga rubahnya yang perlahan-lahan mulai berdiri tegak lagi.

Linda mengendus napasnya sendiri, mencoba berhenti sesenggukan. "Janji? Kau tidak akan menerima telepon dari kantor lagi hari ini?"

Aku mengambil ponsel ku dan mematikannya tepat di depan matanya. "Mati total. Sampai besok pagi."

Sebuah senyum kecil, sangat kecil namun berarti segalanya, mulai muncul di bibirnya. "Baiklah. Tapi ada syaratnya."

"Apa pun itu."

"Hukuman untuk pembatalan janji tadi pagi..." ia mendekatkan wajahnya, sisi posesifnya mulai kembali meski masih ada sisa kesedihan. "Malam ini, aku tidak akan membiarkan mu tidur. Dan besok pagi, kau harus membuatkan ku sarapan di tempat tidur sambil memakai telinga rubah imitasi yang aku beli di toko daring."

Aku tertawa, rasa lega luar biasa membanjiri dada ku. "Sepakat. Sarapan dengan telinga rubah. Apapun untuk Nyonya Linda."

Linda memeluk ku erat, menyembunyikan wajahnya di dada ku. Aku bisa merasakan ekornya mulai melingkar di pinggang ku, kali ini dengan gerakan yang lembut dan protektif.

"Jangan pernah buat aku merasa sendirian lagi, Dimas," bisiknya. "Dunia manusia ini terlalu dingin jika aku tidak memiliki mu."

"Aku janji, Linda. Aku janji."

Kami akhirnya berangkat kencan hari itu. Meskipun kami tidak sempat ke taman bunga, kami menghabiskan waktu dengan berjalan kaki di bawah lampu-lampu kota, makan camilan di pinggir jalan, dan tertawa seperti pasangan normal lainnya. Linda tampak sangat bahagia, memegang lengan ku begitu erat seolah ia sedang menandai wilayahnya di depan setiap orang yang lewat.

“Slice of life kami mungkin penuh dengan drama beda ras,” pikir ku saat melihat Linda tertawa karena es krimnya tumpah sedikit. “Tapi di balik semua posesifitas dan air mata itu, ada cinta yang begitu murni. Aku hanya perlu belajar untuk lebih menghargai setiap detik yang kami miliki.”

Sabtu itu tidak jadi batal. Sabtunya terselamatkan, bukan oleh sistem gudang, tapi oleh keberanian untuk mendahulukan apa yang benar-benar penting.

Dan malam itu, sesuai janjinya, Linda benar-benar memastikan aku membayar setiap menit keterlambatan ku dengan cara yang hanya bisa dilakukan oleh seorang siluman rubah yang sedang jatuh cinta.

1
Jeje Milkita
404 not found
Jeje Milkita
pov pak Rt 🤣 banyak banget sudut pandangnya thor ....
mizuno
semangat bikinnya kak
Jeje Milkita
ya ampun tajam banget hidungnya .... rubah suka melati jg yah 🫠
Jeje Milkita
rubah ini biasanya akan makan jantung manusia.... duhhhhhh si si si cinta ini si si
Jeje Milkita
astaga kenapa nomor 404 artinya si ...artinya kematian... duh 😭😭😭😭 revisi nomor kamar deh biar aura novel ni bukan si si si
kertaslusuh: semangat kak ,
total 1 replies
MayAyunda
keren kak 👍
@☠️⃝🖌️M⃤Sang Senja♬⃝❤️
hayo kena marah kan.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!