"Di ruang sidang aku memenangkan keadilan, tapi di stasiun kereta, aku nyaris kalah oleh rindu."
Afisa Anjani bukanlah lagi gadis rapuh yang menangis karena diabaikan. Tahun 2021 menjadi saksi transformasinya menjadi associate hukum tangguh di Jakarta. Di sisinya, ada Bintang—dokter muda yang kehangatannya perlahan menyembuhkan trauma masa lalu Afisa.
Namun, saat janji suci diucapkan di tahun 2022, semesta justru memberi ujian baru. Afisa dipindahtugaskan ke Semarang untuk menangani kasus-kasus besar yang menguji integritasnya. Jakarta dan Semarang kini bukan sekadar nama kota, melainkan jarak yang menguji Ekuilibrium (keseimbangan) antara karier dan hati.
Di Semarang, Afisa berhadapan dengan dinginnya ruang sidang dan gedung Lawang Sewu, sementara di Jakarta, Bintang bergelut dengan detak jantung pasien di rumah sakit. Keraguan lama Afisa kembali muncul: Apakah Bintang akan bosan? Apakah cinta sanggup bertahan saat komunikasi hanya lewat layar ponsel ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Ruang tamu di rumah Jakarta Selatan itu mendadak penuh dengan energi yang berbeda saat Bunda mempersilakan dua tamu tak diundang masuk. Afisa yang baru saja ingin menumpahkan seluruh kegelisahannya pada Ayah, terpaksa menelan kembali kata-katanya.
Di ambang pintu, berdiri Kaila, sepupu Afisa yang selalu tampil modis, bersanding dengan Alif.
Afisa membeku. Alif bukan sekadar teman sekelasnya dulu; pria itu adalah sahabat karib Guntur. Melihat Alif seperti melihat lembaran hitam masa sekolahnya terbuka kembali secara paksa.
"Fis! Ya ampun, untung kamu lagi di sini!" Kaila langsung menghambur memeluk Afisa, aroma parfum mahalnya memenuhi ruangan. "Selamat tahun baru, Sepupu kesayanganku! Aku sudah lihat foto lamaranmu semalam. Dokter Bintang benar-benar gentleman ya!"
Afisa tersenyum kaku, mencoba melepaskan pelukan Kaila dengan sopan. "Terima kasih, Kail. Selamat tahun baru juga buat kalian berdua."
Alif melangkah maju, mengangguk hormat pada Ayah dan Bunda sebelum menatap Afisa dengan cengkeraman tangan yang erat pada sebuah amplop tebal berwarna biru navy di tangannya.
"Fis, selamat ya. Akhirnya 'Bintang' beneran turun buat kamu," goda Alif. Gaya bicaranya yang santai masih sama seperti saat mereka sering nongkrong di kantin sekolah dulu. "Tapi, kedatangan kami ke sini mau 'balas dendam' kasih kabar bahagia juga."
Kaila meraih lengan Alif, matanya berbinar tulus saat ia menyerahkan amplop biru itu ke tangan Afisa. "Kami mau menikah, Fis. Bulan depan. Aku benar-benar ingin mengundangmu secara langsung karena... yah, kamu tahu sendiri kan hubungan keluarga kita."
Afisa membuka undangan itu. Kertasnya tebal, dengan guratan emas yang membentuk nama Alif & Kaila. Pikirannya mendadak kosong. Sepupunya akan menikah dengan sahabat pria yang pernah menghancurkannya.
"Selamat ya, Lif, Kail. Aku... aku beneran kaget," ucap Afisa jujur.
"Jujur, Fis, tadinya aku ragu mau kasih tahu kamu," Kaila berbisik pelan, hanya untuk didengar Afisa. "Aku tahu Alif itu lingkungannya Guntur. Tapi Alif beda, Fis. Dia yang paling sering marahin Guntur dulu pas tahu kamu diabaikan. Dia dukung kita banget."
Alif menimpali dengan nada yang sedikit lebih serius. "Nanti datang ya, Fis. Ajak Dokter Bintang. Biar 'anak-anak lama' lihat kalau kamu sudah menang telak sekarang. Lagipula, Guntur juga sudah tahu kok, dia malah yang paling semangat pas tahu aku lamar Kaila."
Mendengar nama itu disebut begitu ringan, ulu hati Afisa terasa nyeri. Bukan karena masih cinta, tapi karena ironi yang sedang bermain. Di satu sisi, masa lalunya kini telah berdamai dan bahkan akan menjadi bagian dari keluarganya sendiri melalui pernikahan Kaila. Di sisi lain, masa depannya bersama Bintang justru sedang dipertaruhkan oleh surat mutasi ke Semarang yang tersimpan rapi di dalam tasnya.
"Aku usahakan datang, Kail," jawab Afisa singkat.
"Harus datang! Kamu kan saksi sejarah kami pacaran ," sela Alif sambil terkekeh, merangkul pundak Kaila.
Setelah berbincang singkat dan menerima suguhan opor dari Bunda, kedua tamu itu pamit karena masih harus membagikan undangan lain di area Jakarta Selatan. Begitu mobil mereka menjauh, Afisa kembali menatap undangan biru itu.
"Dunia sempit sekali ya, Yah," gumam Afisa pelan.
Ayah yang sejak tadi menyimak, mendekat dan menepuk bahu putrinya. "Fis, takdir itu memang suka bercanda. Kaila menikah dengan Alif di Jakarta, sementara kamu... punya tiket ke Semarang. Jangan jadikan pernikahan mereka sebagai beban. Fokuslah pada komunikasimu dengan Bintang malam ini."
Afisa mengangguk lemah. Ia meraih tasnya, pamit pada Bunda untuk segera pulang. Ia harus segera sampai di apartemen, mandi, dan menyiapkan diri. Bukan untuk pesta, tapi untuk sebuah kejujuran yang mungkin akan mengubah rona bahagia Bintang menjadi luka yang tak terduga.