Bram, lelaki yang berperawakan tinggi besar, berwajah dingin, yang berprofesi sebagai penculik orang-orang yang akan memberi imbalan besar untuk tawanan orang yang diculiknya kali ini harus mengalah dengan perasaan cintanya.Ia jatuh cinta dan bergelora dengan tawanannya. Alih-alih menyakiti dan menjadikan tawanannya takut atas kesadisan. Dia malah jatuh cinta dan menodai tawanannya atas nama nafsunya. Ia mengulur waktu agar Belinda tetap jadi sandranya. walaupun harus mengembalikan uang imbalannya dan ancaman dari pembunuh bayaran ketiga, dia tidak peduli. malam itu dia menodai Belinda.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CACASTAR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MEMBUAT PUSING
Bram menghisap rokoknya dalam-dalam.
Kalau dipikir-pikir memang Felix ada benarnya, dia jadi mengubah rencana, sekarang dia yang diburu, misinya dengan pelanggannya yang lain jadi tertunda. Dia harus putar otak untuk menyelesaikannya.
sebenarnya bisa saja ia meninggalkan Belinda, atau membunuhnya, atau mengembalikannya pada negaranya. Tapi tidak bisa, Belinda adalah milihnya. Awalnya ia pikir cuma karena nafsu sesaat dia meniduri Belinda, saat yang kedua dia rasa dia khilaf, tapi saat yang ketiga, keempat kalinya dirasanya dia bukan khilaf atau sekedar tergoda. Dia ketagihan, dia tidak mau lepas dari Belinda. Memang gadis itu telah menghipnotisnya.
Dia kasmaran teramat sangat pada Belinda dan dia harus cari siasat agar Belinda selamanya bersamanya.
Bram menghisap dalam-dalam rokoknya. Soda di tangannya di minumnya. Kedua kaki tangannya minum bir tuk menghangatkan badan mereka. Ceko memasukkan ranting kayu ke dalam perapian. Nyala api bertambah berkobar, nyalanya sama dengan nyala di mata Bram. Jika Belinda dilepasnya kali ini mungkin ia tidak bisa bertemu lagi dengannya.
Belinda adalah gadis negara Belva, yang tingkat keamanan masuk negaranya sangat ketat. Ayahnya Jendral Gondesh pasti sangat gusar sekarang mencari anaknya.
Bram, sudah berpikir keras beberapa hari itu, saat yang ketiga kalinya ia meniduri Belinda. Ia harus memilikinya pikirnya. Gadis itu, hari dan tubuhnya harus dimiliki seutuhnya.
Lantas, bagaimana sekarang, Bos?"
"Kita menunggu saja dulu di sini malam ini, besok pagi lihat situasi."
Felix mematikan rokoknya.
"Bos tidurlah, kami akan berjaga."
"Bos tidur saja kami tidak tidur, kami berjaga di sini!
Kaki tangan 1, yang sudah menguap menahan kantuknya menyuruh Bram tidur.
Bram lalu menghisap rokoknya, menghembuskannya ke udara. Soda yang dari tadi dibiarkan dingin, diminumnya sekali teguk.
Dimatikannya rokoknya dan dia lalu beranjak pergi ke kamar di pondok itu.
Di sana, sudah ada Belinda yang meringkuk di dalam selimut. Imut, kecil, dan polos.
Bram seperti melihat bidadari saat melihat pemandangan indah itu.
Seperti kain putih bersih yang telah diberi warna dengan warna Yanng hitam legam, itulah dirinya dan Belinda. Dia duduk di samping Belinda yang tertidur pulas. Dia merunduk, mencium rambut Belinda, dibelainya rambut itu helai demi helai, anak rambut yang menutup wajah Belinda di rapikannya, diciumnya kembali rambut Belinda.
Gadis ini memang gila, dia membuat aku tergila-gila.
Apakah aku tergila-gila pada wajahnya?
Ataukah tergila pada permainan cinta dengannya?
Empat kali dia menikmati gairah bersama Belinda, empat kali sensasi berbeda dirasakannya.
Belinda..Belinda...
Dia tidak menyangka di dunia ini ada gadis yang masih perawan. Gadis glamor dan kaya raya seperti Belinda bisa saja melakukan hal gila dalam dunia party, dunia malam, tapi Belinda gadis baik-baik, dia tidak pernah melakukan dengan siapa pun sebelumnya. Bram yang menikmatinya pertama kali.
Diusapnya bibir Belinda diciumi lembut bibirnya dua kali,
"Tawananku sayang, bisiknya.
Diingat-ingatnya apakah dia pernah jatuh cinta segila ini, rasanya tidak pernah, baru kali ini. Mana ada perasaan macam ini dulunya. Malahan perempuan-perempuan yang banyak tergila-gila padanya. Mereka berusaha keras memikatnya namun dia tidak punya hasrat sedikit pun pada mereka.
Lucu dan aneh, aku bisa punya perasaan ini pada gadis ini. Perasaan yang tumbuh karena diawali nafsu namun berkembang menjadi cinta dan lalu menjadi kasih sayang.
minim eksplore gestur, ekspresi, mimik.... jadi pembaca ga bisa membayangkan emosi karakter dan mengenal sifat karakter.
itu seperti membaca cepat tanpa jeda
tidak ada internal monolog yang menguatkan karakterisasi
deskripsi malah lebih menonjol di bagian 'itu' padahal sebagai pembaca aku lebih pengen kenal karakterisasi...
maap kak kalau nda berkenan 🙏
sama chapter ini perlu double check typo 😆