"Apakah namaku adalah sinonim dari kata perpisahan? Mengapa setiap tangan yang kugenggam, selalu berakhir dengan melepaskan?"
Dina mengira pelariannya ke sebuah kota kecil akan mengakhiri teror Rama, mantan kekasihnya yang obsesif dan kasar. Di sana, ia menemukan perlindungan pada sosok Letda Adrian, seorang perwira muda yang mencintainya dengan tulus tanpa syarat. Adrian adalah satu-satunya orang yang membuat Dina merasa "pulang". Namun, semesta seolah enggan melihat Dina bahagia. Tugas negara memanggil Adrian ke Papua, dan ia pulang dalam peti jenazah yang terbalut bendera. Sekali lagi, Dina ditinggalkan oleh satu-satunya alasan ia bertahan hidup.
Setahun berlalu, namun Dina masih hidup dalam bayang-bayang nisan Adrian. Penyakit lambung kronis akibat trauma batin membawanya pindah ke Bandung demi mencari udara baru. Di sebuah rumah sakit besar, ia kembali bertemu dengan dr. Arga, Sp.PD, dokter spesialis tampan yang dulu merawatnya di masa-masa paling rapuh. Arga jatuh hati
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dinna Wullan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PILAR DIGARIS BELAKANG
Angin kencang di pangkalan udara pagi itu membawa aroma avtur yang tajam, bercampur dengan suasana haru yang menyesakkan dada. Ratusan prajurit dengan seragam loreng lengkap dan ransel besar di punggung berbaris rapi di apron. Di sisi lain, kerumunan keluarga tampak menahan tangis, mencoba tetap tegar demi melepas para pahlawan mereka menjalankan tugas negara.
Dina berdiri di antara Ibu dan Ayah Adrian. Di samping mereka, Bu Ani dan Pak Dodo juga hadir, memberikan dukungan moral yang luar biasa. Dina mengenakan kemeja biru navy—warna motor pertamanya—dan berusaha sekuat tenaga untuk tidak membiarkan air matanya jatuh. Ia ingin Adrian mengingat wajahnya yang kuat, bukan wajah yang penuh kesedihan.
Upacara pelepasan berlangsung khidmat. Suara komando yang tegas menggema di seluruh pangkalan, diiringi hormat serentak dari para prajurit. Saat upacara selesai dan komandan memberikan waktu lima menit untuk berpamitan terakhir, Adrian segera melangkah menuju keluarganya.
Ia memeluk Ayah dan Ibunya dengan erat. Ayahnya menepuk bahu Adrian dengan bangga, sementara Ibunya membisikkan doa-doa keselamatan di telinga putra tunggalnya itu. Pak Dodo dan Bu Ani juga memberikan pelukan hangat, menganggap Adrian sudah seperti anak sendiri.
Akhirnya, Adrian berdiri tepat di hadapan gadis yang ia cintai. Ia menatap Dina dengan tatapan yang begitu dalam, seolah ingin merekam setiap inci wajah itu ke dalam memorinya untuk dibawa ke hutan Papua.
"Sayang," panggil Adrian, suaranya bergetar namun penuh keyakinan.
Dina mendongak, mencoba tersenyum meski bibirnya sedikit bergetar. "Mas..."
Adrian meraih kedua tangan Dina dan menggenggamnya kuat. "Mas janji akan pulang dengan selamat. Mas nggak akan biarkan kamu sendirian lagi. Mas titip Bapak dan Ibu di sini, karena sekarang kamu juga sudah menjadi anak mereka. Jaga diri baik-baik ya, Sayang?"
Dina mengangguk mantap. Ia tidak lagi merasa kecil. Di hadapan ratusan orang, ia menunjukkan bahwa ia adalah wanita yang layak mendampingi seorang perwira.
"Aku pasti jaga Bapak dan Ibu, Sayang. Mas fokus saja di sana. Jangan khawatirkan aku. Aku sudah bisa bawa motor, bawa mobil, dan aku punya keluarga di sini yang menjagaku," ucap Dina dengan suara yang jelas.
Adrian menarik Dina ke dalam pelukan terakhir yang sangat erat. Aroma parfum Adrian bercampur dengan bau seragam lorengnya seolah meresap ke dalam ingatan Dina.
"Mas berangkat ya, Sayang. Tunggu Mas pulang untuk pasangkan cincin itu di jarimu," bisik Adrian sebelum akhirnya melepaskan pelukan dan berbalik menuju barisan yang mulai bergerak naik ke dalam pesawat Hercules.
Dina berdiri tegak. Saat pesawat mulai menderu dan perlahan lepas landas menuju cakrawala, Dina mengangkat tangannya, memberikan hormat yang tulus—hormat untuk pria yang telah menyembuhkan lukanya, dan hormat untuk prajurit yang kini menjadi seluruh dunianya.
Hari-hari di kantor cabang terasa sedikit lebih sunyi bagi Dina, namun kesibukannya mengelola logistik tetap berjalan stabil. Setiap pagi, ia memanaskan mesin SUV hitam milik Adrian sebelum berangkat, sebuah ritual yang membuatnya merasa seolah pria itu masih ada di sampingnya, memberikan instruksi-instruksi kecil tentang cara mengemudi yang benar.
Komunikasi yang awalnya lancar melalui video call setiap malam, kini mulai tersendat. Adrian sudah masuk ke area pedalaman hutan Papua yang minim sinyal. Pesan-pesan singkat yang masuk seringkali terlambat berjam-jam, atau bahkan berhari-hari.
Olan duduk di samping meja Dina saat jam istirahat, menyesap kopi panasnya sambil menatap layar televisi kantor yang sedang menyiarkan berita tentang situasi keamanan di perbatasan.
"Sayang ya, sinyal di sana susah banget pasti. Mbak, Papua itu serem kan? Hutan belantara, medannya berat. Semoga Allah lindungi Mas Adrian terus ya, Mbak," ucap Olan dengan nada khawatir yang tulus.
Dina menghentikan ketikannya sejenak, menatap foto Adrian yang ia selipkan di sudut monitor komputernya. Foto itu diambil saat mereka makan bakso bersama Pak Dodo sebelum keberangkatan.
"Amin, Lan. Kita berdoa terus. Mas Adrian itu kuat, dia sudah terlatih. Dia selalu bilang kalau doa dari rumah itu pelindung paling ampuh buat prajurit di lapangan," jawab Dina, mencoba menguatkan dirinya sendiri sekaligus menenangkan Olan.
Olan mengangguk-angguk, lalu teringat sesuatu. "Kamu masih sering ke rumah Bapak sama Ibunya Mas Adrian, Mbak? Kan jaraknya lumayan dari kosan."
"Iya, setiap hari malah, Lan," jawab Dina dengan senyum tipis. "Sore pulang kantor biasanya aku mampir ke sana dulu sebelum balik ke kos. Kan mobilnya di aku, mobilnya Mas Adrian. Sayang kalau cuma diparkir terus, mending dipakai buat antar jemput Ibu ke pasar atau sekadar temani Bapak ngopi di teras."
"Wah, sudah jadi menantu idaman beneran ini mah," goda Olan, mencoba mencairkan suasana.
Dina tertawa kecil. "Bukan soal jadi menantu idaman, Lan. Tapi sejak Mas Adrian berangkat, Bapak dan Ibu itu sudah kayak orang tuaku sendiri. Mereka yang kasih aku kekuatan saat aku mulai cemas nunggu kabar dari hutan. Lucu ya, dulu aku lari ke sini karena merasa sebatang kara, sekarang malah punya keluarga yang lengkap banget."
Sore itu, setelah menyelesaikan laporan harian, Dina melajukan SUV hitam itu menuju rumah orang tua Adrian. Di sepanjang jalan, ia melihat tikungan-tikungan yang dulu ia lalui dengan ragu saat belajar motor. Kini, ia melewatinya dengan mantap.
Setiap putaran roda mobil itu adalah bukti janjinya pada Adrian: bahwa ia akan tetap tegak berdiri, menjaga apa yang Adrian titipkan, hingga peluit kepulangan berbunyi dan sang Letnan kembali untuk mengambil alih kemudi di sampingnya.
Mobil SUV hitam milik Adrian baru saja berhenti sempurna di halaman rumah orang tua sang Letnan. Dina belum sempat mematikan mesin saat ponselnya yang diletakkan di dasbor bergetar hebat. Layarnya menampilkan deretan angka panjang yang asing, sebuah kode area yang Dina hafal luar kepala sebagai panggilan dari telepon satelit.
Jantung Dina seolah melompat ke tenggorokan. Dengan tangan sedikit gemetar, ia segera menggeser tombol hijau.
"Halo? Mas? Sayang?" suara Dina sedikit memekik, penuh harap sekaligus kecemasan yang membuncah.
Suara statis dan deris angin yang kencang terdengar di seberang sana, sebelum akhirnya suara bariton yang sangat ia rindukan memecah keheningan. Suara itu terdengar parau, letih, namun tetap berusaha terdengar tegar.
"Sayang... ini Mas," suara Adrian terdengar terputus-putus. "Maaf ya, Sayang, Mas jarang hubungi. Di sini medannya berat sekali. Kita baru saja bergeser ke pos yang lebih dalam, sinyal hampir tidak ada kecuali pakai satelit ini."
Air mata yang sejak tadi pagi Dina tahan, akhirnya luruh juga. Mendengar suara Adrian seperti mendapatkan pasokan oksigen di tengah ruang hampa. "Nggak apa-apa, Mas. Aku mengerti. Yang penting Mas sehat. Mas makan teratur kan di sana?"
"Iya, Sayang. Makan seadanya, tapi Mas kuat," Adrian menjeda kalimatnya, terdengar suara instruksi samar dari kejauhan di tempatnya berada. "Dengar, Sayang... situasi di sini sedang agak tegang. Sedang ada gencatan senjata juga di beberapa titik dekat pos. Mas nggak tahu kapan bisa telepon lagi setelah ini."
Dina meremas kemudi mobilnya kuat-kuat. Kata 'gencatan senjata' dan 'tegang' adalah mimpi buruk bagi setiap pasangan prajurit. Namun, ia teringat janjinya untuk menjadi wanita yang kuat.
"Doain Mas baik-baik saja ya, Sayang. Mas pasti pulang. Mas janji akan kembali ke kamu," lanjut Adrian, suaranya kini melunak, penuh dengan kerinduan yang mendalam. "Mas titip Bapak dan Ibu. Tolong sering-sering tengok mereka. Mas tahu kamu anak yang baik, mereka pasti senang ada kamu di sana."
"Aku di depan rumah Bapak sekarang, Mas. Baru saja sampai," ucap Dina dengan suara bergetar. "Mas jangan khawatirkan kami. Fokus saja pada tugas dan keselamatan Mas di sana. Aku akan jaga semuanya, mobil Mas, motor Mas, dan yang paling penting, aku jaga hati ini cuma buat Mas."
Adrian terdengar terkekeh pelan di seberang sana, sebuah tawa yang sangat mahal bagi Dina saat ini. "Terima kasih, Sayang. Mas harus tutup teleponnya, giliran anggota lain yang mau pakai. Mas sayang kamu, Dina."
"Aku juga sayang Mas. Pulang ya, Mas. Harus pulang!"
Sambungan telepon terputus. Dina menyandarkan kepalanya di kemudi, menangis sesenggukan dalam diam. Rasa takut dan rindu bercampur menjadi satu. Namun, ia tidak boleh berlama-lama larut dalam kesedihan. Ia menghapus air matanya, merapikan kerudungnya, dan melihat pantulan wajahnya di spion tengah. Ia harus tampak ceria di depan Bapak dan Ibu.
Dina keluar dari mobil dan melangkah menuju pintu rumah. Di teras, Ibu Adrian sudah menunggu dengan wajah cemas yang langsung berubah menjadi penuh harap saat melihat Dina.
"Tadi itu Adrian, Nduk?" tanya Ibu dengan suara bergetar.
Dina mengangguk mantap, mencoba memberikan senyum terbaiknya. "Iya, Bu. Mas Adrian baru saja telepon pakai satelit. Katanya dia sehat, cuma sinyalnya susah. Dia titip salam sayang buat Bapak dan Ibu. Katanya, jangan capek-capek, biar Dina yang urus semuanya di sini."
Ibu Adrian langsung memeluk Dina erat, menangis di bahu calon menantunya itu. "Syukurlah... Gusti Allah lindungi anakku."
Malam itu, di rumah orang tua Adrian, Dina merasa benar-benar menjadi bagian dari mereka. Ia memasak makan malam, menemani Bapak mengobrol soal kebun di belakang rumah, dan membacakan berita-berita ringan untuk menghibur mereka. Meskipun hatinya terus tertuju pada hutan Papua yang jauh di sana, Dina sadar bahwa menjadi istri prajurit bukan berarti meratapi perpisahan, melainkan menjadi pilar kekuatan bagi mereka yang ditinggalkan.
-gagal move on
-Penjelajah waktu, hidup di zaman ajaib