Bagi Adnan Mahendra, hidup adalah maha karya presisi. Sebagai arsitek ternama di Surabaya, ia percaya bahwa fondasi yang kuat akan membuat bangunan abadi.
Namun, dunianya yang simetris runtuh dalam perlahan ketika laporan demi laporan Jo Bima yang tidak lain asisten Adnan sendiri. Mengungkap sisi gelap Arini, istri yang sangat ia puja dengan ketulusan cinta sejatinya.
Namun di balik wajah cantik dan senyum lembutnya, Arini telah membangun istana kebohongan. Bersama pria lain di sudut-sudut kota Surabaya yang panas tanpa sepengetahuannya.
Akankah cinta mereka bertahan, akankah pondasi rumah tangga yang di bangun Adnan tetap berdiri kokoh? ketika Bagaskara masa lalu Arini kembali mengusik ketenangan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-Detik yang Hilang di Taman Timur
Udara di lantai dua belas gedung Darmawan Architecture And Construction terasa semakin tipis bagi Laras. Wangi pengharum ruangan lemon grass yang seharusnya menenangkan. Justru membuat perutnya mulas karena gugup.
Setelah menunggu hampir satu jam sejak kedatangannya yang heboh di pagi hari. Akhirnya pintu jati besar di ujung lorong terbuka.
"Saudari Larasati Putri, silakan masuk," suara sekretaris itu terdengar seperti lonceng eksekusi sekaligus harapan.
Laras berdiri, merapikan rok span hitamnya yang sedikit kusut karena terlalu lama duduk. Ia menarik napas dalam-dalam. Mengisi paru-parunya dengan oksigen sebanyak mungkin.
Lalu melangkah masuk. Di dalam ruangan, Pak Gunawan Manajer HRD yang dikenal memiliki tatapan sedingin es. Sudah menunggu di balik meja kaca besar.
Sesi interviu itu berlangsung sangat intens. Pak Gunawan tidak memberikan pertanyaan standar seperti "apa kelebihan Anda?"
Ia langsung menghujani Laras dengan simulasi kasus lapangan yang rumit. Tentang bagaimana menangani vendor yang nakal. Menghitung selisih material bangunan dalam hitungan detik. Hingga bagaimana menjaga kerahasiaan dokumen proyek negara yang bersifat rahasia.
Anehnya, setiap kali Laras merasa terpojok, jemarinya secara tidak sadar meraba pena perak milik pria bernama Adnan yang ia selipkan di saku kemejanya.
Logam dingin itu seolah mengirimkan gelombang ketenangan. Laras menjawab setiap pertanyaan dengan lugas, jujur, dan penuh dedikasi. Ia bahkan tidak segan mendebat argumen Pak Gunawan jika menurutnya ada prosedur yang melanggar integritas.
Di akhir sesi, Pak Gunawan terdiam cukup lama. Ia menatap Laras dengan tatapan yang sulit diartikan. Lalu sebuah senyum tipis yang konon sangat jarang terlihat, muncul di wajahnya yang kaku.
"Kejujuranmu adalah aset yang langka, Laras," ucap Pak Gunawan sambil menutup map lamarannya.
“Saya puas dengan jawaban Anda. Namun, ada satu tahap terakhir. Sesuai prosedur khusus untuk asisten administrasi lantai dua belas. Anda harus mendapatkan persetujuan langsung dari Presiden Direktur kami."
Laras hampir saja melompat dari kursinya. "P-presiden Direktur, Pak?"
"Benar, beliau sedang berada di taman kecil di area lobi bawah. Turunlah sekarang, temui beliau di sana. Beliau tidak suka menunggu lama," perintah Pak Gunawan tanpa menyebutkan nama sang pemimpin tertinggi perusahaan tersebut.
Hari sudah beranjak sore. Semburat jingga mulai membakar langit Surabaya, memantul di dinding-dinding kaca gedung pencakar langit. Di taman kecil tempat Laras meminjam pena pagi tadi. Adnan kembali duduk di bangku panjang yang sama. Ia tampak lelah. Kemejanya yang tadi pagi rapi kini sudah sedikit berkerut di bagian siku.
Di tangannya, sebuah gelas kertas berisi kopi hitam pahit dengan sedikit gula. Ramuan favoritnya untuk menekan rasa muak yang ia simpan sejak semalam mulai mendingin.
Pandangan Adnan kosong, menatap air mancur yang terus meneteskan air ke dalam kolam batu. Pikirannya melayang pada Arini yang ia tinggalkan di rumah orang tuanya. Pada wajah ayahnya yang penuh rahasia dan pada ancaman pembunuhan dari organisasi "Raja" yang berada di balik Bagaskara.
Tiba-tiba, jantung Adnan berdegup kencang secara tidak beraturan.
Deg, deg, deg.
Bukan debar karena emosi. melainkan debar fisik yang menyakitkan. Sebuah rasa nyeri yang tajam menusuk dari ulu hati hingga menjalar ke bahu kiri. Pandangan Adnan yang tadinya tajam mendadak berkunang-kunang. Gedung di depannya seolah bergoyang dan mencair.
"Gila..." desis Adnan dengan suara parau.
"Sakitku yang dulu... kenapa kambuh lagi sekarang?"
Adnan mencoba merogoh saku celananya. Mencari tabung obat kecil yang selalu ia bawa sebagai cadangan sejak masa kuliah dulu.
Obat untuk kelainan ritme jantung yang sebenarnya sudah lama tidak pernah menyerangnya lagi. Namun, jemarinya mendadak kaku. Gelas kopi di tangannya jatuh. Isinya yang hitam tumpah membasahi sepatu kulitnya.
Napas Adnan menjadi pendek dan sesak. Ia merasa seolah-olah ada beban seberat beton yang mengimpit dadanya.
Paru-parunya menolak untuk mengembang. Keringat dingin sebesar biji jagung mengucur deras dari dahinya. Dunia di sekitarnya perlahan menjadi gelap dan senyap.
Bruk!
Tubuh tegap Adnan ambruk ke arah depan. Ia jatuh tersungkur dari bangku panjang. Wajahnya mencium rerumputan hijau di depan kursi tersebut. Tubuhnya diam, tidak bergerak, seolah-olah nyawanya baru saja ditarik paksa oleh angin sore yang dingin.
Di saat yang bersamaan, Laras baru saja keluar dari pintu lobi kaca. Ia melihat sosok pria yang sangat ia kenal berada di kejauhan.
"Mas Adnan!" teriak Laras riang. Ia ingin segera menunjukkan bahwa ia telah berhasil melewati interviu dan ingin mengembalikan pena perak itu dengan gaya yang penuh kemenangan.
Namun, senyum di wajah Laras membeku ketika ia melihat pria itu terjatuh dari kursi.
"Mas Adnan!" Laras berteriak lebih kencang.
Kali ini dengan nada kepanikan yang murni. Ia berlari secepat mungkin. Rok spannya hampir saja sobek karena langkah kakinya yang terlalu lebar. Jantung Laras berpacu hebat, lebih hebat daripada saat interviu tadi.
Namun, sebelum Laras sampai di kursi panjang itu. Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam metalik berhenti dengan suara ban yang berdecit kencang tepat di pinggir taman. Seorang wanita cantik turun dari mobil itu dengan gerakan yang sangat cepat dan efisien.
Wanita itu mengenakan gaun sutra yang elegan. Namun wajahnya tampak pucat dan penuh ketegangan. Ia tidak berteriak panik seperti Laras. Ia langsung berlutut di samping tubuh Adnan, memeriksa denyut nadinya dengan tangan yang sangat stabil.
"Mas Adnan!" Laras sampai di tempat kejadian, napasnya memburu, "Mbak, tolong! Kita panggil ambulans!"
Wanita cantik itu menoleh sekilas ke arah Laras. Matanya tajam, dingin, dan penuh dengan rahasia yang tidak bisa dimengerti Laras.
Ia tidak menjawab saran Laras. Sebaliknya, ia dengan kuat mengangkat bahu Adnan dan dibantu oleh seorang sopir pria berbadan tegap yang tiba-tiba muncul dari balik kemudi. Mereka memindahkan tubuh Adnan yang sudah tak bernafas itu ke dalam jok belakang mobil.
"Mbak! Mbak mau bawa Mas Adnan ke mana? Rumah sakitnya lewat sana!" teriak Laras bingung, menunjuk arah yang berlawanan.
Wanita itu tidak menggubris. Ia masuk ke dalam mobil. Membanting pintu dan mobil itu melesat pergi dengan kecepatan tinggi, menghilang di tengah kemacetan jalan raya.
Laras berdiri terpaku di pinggir rerumputan. Ia melongo, tangannya masih memegang pena perak yang tadi ingin ia kembalikan. Ia menatap bercak kopi hitam di rumput dan gelas kertas yang terguling.
"Loh... wanita itu..." gumam Laras pelan.
Ingatannya berputar. Ia merasa pernah melihat wajah wanita itu sebelumnya. Bukan di majalah, bukan di televisi.
Laras mencoba mengingat-ingat foto yang sempat ia lihat di lobi lantai dua belas tadi sebuah foto keluarga kecil milik pemilik perusahaan ini.
"Dia... Arini?" bisik Laras dengan suara gemetar.
"Istri Mas Adnan? Tapi kayaknya berbeda, bukan Ah. Rambutnya di foto itu panjang. Tapi tadi hanya sebahu kok,” ucap Laras dengan wajah bingung.
Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hati Laras. Jika itu istrinya, kenapa dia tampak tidak terkejut melihat suaminya pingsan? Kenapa dia tidak menangis? Dan yang paling mengerikan... kenapa wanita itu membawa Adnan pergi ke arah yang menjauhi rumah sakit terdekat?
Laras menatap ke arah jalanan yang sudah kosong. Di tangannya, pena perak itu terasa semakin berat. Sebuah firasat buruk merayap di benak gadis itu.
Ia baru saja mendapatkan pekerjaan impiannya. Namun di saat yang sama, ia baru saja menyaksikan sang penyelamatnya dibawa pergi oleh seseorang yang seharusnya menjadi pelindungnya. Namun memiliki tatapan seperti seorang algojo.
"Aku harus mencari tahu..." ucap Laras tegas, sambil memasukkan kembali pena itu ke dalam sakunya.
“Tapi aku rasa beda kok, bukan Bu Arini kayaknya, apa jangan-jangan, Ah... Mas Adnan di culik!, tapi sebentar tadi Bu Arini bukan ya?” Laras masih tetap bingung.
Sore itu, di taman yang seharusnya menjadi tempat awal sebuah karier baru. Laras menyadari bahwa ia tidak hanya terlibat dalam urusan administrasi kantor. Tapi ia baru saja terseret masuk ke dalam pusaran badai yang jauh lebih gelap dan berbahaya daripada yang bisa ia bayangkan.
Sori thor itu pendapat saya ... tapi tetap samangag bikin ceritanya ...