NovelToon NovelToon
Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Pewaris Tubuh Suci Legendaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Budidaya dan Peningkatan / Fantasi Timur / Roh Supernatural
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Pewaris Tubuh Suci Legendaris adalah novel fantasi kultivasi yang mengikuti perjalanan Shou Wei, seorang pemuda yang sejak kecil dianggap biasa, lemah, dan tidak menonjol, tetapi ternyata menyimpan rahasia besar dalam tubuhnya. Di balik kehidupannya yang penuh penindasan dan kehilangan, tersimpan benih kekuatan langka yang perlahan membawanya ke jalan berbahaya: jalan warisan kuno, formasi legendaris, tubuh naga, dan konflik antar dunia.

Cerita ini menyuguhkan banyak tempat skala dunia: sekte-sekte manusia, negeri demon, pulau-pulau melayang, kerajaan asing, hingga dunia lain yang memiliki teknologi, formasi, dan kekuatan jauh melampaui bayangan manusia biasa. Pertarungan yang dihadapinya bukan lagi sekadar soal hidup dan mati, melainkan soal masa depan banyak dunia.

Perpaduan cerita antara kultivasi, pertarungan, formasi, warisan kuno, intrik politik, dunia demon, perjalanan lintas dunia, dan rahasia takdir

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pelarian

Api mulai menjilat tambang batu roh saat Shou Wei meninggalkan Hutan Mosenlin.

Ia tidak tahu siapa yang pertama kali menyalakannya. Mungkin salah satu pekerja paksa yang akhirnya kehilangan akal sehat setelah bertahun-tahun dipukuli. Mungkin bandit yang sekarat menendang obor terakhir. Mungkin juga langit sendiri muak melihat darah yang menggenang di tempat itu.

Namun saat Shou Wei menoleh dari lereng batu, ia melihat cahaya merah di mulut goa, lalu asap hitam tipis membubung di antara pepohonan malam.

Tambang rahasia itu akhirnya runtuh bersama dosa-dosanya.

Ia berdiri di bawah bayang-bayang pinus tua, napasnya masih berat. Tubuhnya telah kembali ke bentuk manusia, tetapi sensasi naga di bawah kulit belum hilang sepenuhnya. Setiap kali angin berembus, ia dapat mencium bau darah dari goa, bau api dari obor, bahkan bau keringat para pekerja paksa yang lari ke segala arah membawa karung dan batu roh di punggung mereka.

Di tangannya ada kantong kain kasar hasil rampasan dari gudang kecil dekat goa tengah. Isinya tidak banyak—beberapa batu roh mentah, sebilah pisau pendek, dua roti keras, dan sepotong peta lusuh wilayah sekitar Pegunungan Mou. Shou Wei tidak mengambil terlalu banyak. Orang yang serakah di saat kabur biasanya mati sebelum fajar.

Dari arah timur, ia mendengar langkah cepat menyusuri lereng.

Tubuhnya menegang seketika.

Namun yang muncul bukan bandit atau murid sekte, melainkan Bo De. Anak itu datang sambil memanggul buntalan besar, wajahnya kotor oleh darah dan debu.

“Kau belum pergi?” tanya Bo De pendek.

“Sedang pergi.”

Bo De menatap api dari kejauhan, lalu melempar sesuatu ke arah Shou Wei. Sebuah gelang kulit kecil berisi tiga jarum besi pendek.

“Apa ini?”

“Jarum lempar. Kuambil dari mayat bandit.” Bo De mendengus. “Kau lebih cocok pakai itu daripada bawa kapak.”

Shou Wei memasukkan gelang itu ke kantongnya. “Terima kasih.”

Bo De tampak tak nyaman mendengar kata itu. Ia menoleh ke arah lain. “Aku menemukan jalan setapak ke barat laut. Jejaknya sedikit. Tidak dipakai kereta atau kuda. Lebih aman.”

“Barat laut?”

“Kalau mau ke utara jauh, nanti bertemu sungai. Setelah itu pilih jalanmu sendiri.”

Shou Wei mengangguk. “Kau ke mana?”

Bo De mengangkat bahu. “Ke tempat yang tak ada orang mengenalku.”

Itu jawaban yang cukup.

Mereka berdiri diam beberapa detik. Tidak ada pelukan, tidak ada kata-kata besar. Hubungan mereka dibangun di dalam debu, cambuk, darah, dan diam. Terlalu kasar untuk dibungkus kelembutan.

Bo De akhirnya melangkah pergi lebih dulu, lalu berhenti tanpa menoleh.

“Jangan mati, Shou Wei.”

“Begitu juga.”

Bo De mengangkat tangan setengah tinggi, lalu menghilang di antara pepohonan gelap.

Shou Wei menarik napas panjang dan mulai bergerak ke arah yang ditunjuk Bo De.

Hutan Mosenlin malam itu terasa berbeda dari malam sebelumnya. Dulu ia hanya melihat hutan sebagai dinding gelap yang memisahkannya dari kebebasan. Sekarang ia bisa menangkap detail-detail yang sebelumnya mustahil. Kilap embun di ujung daun. Gerak tikus tanah di bawah akar. Jejak cakar binatang kecil di lumpur. Bahkan arah angin pun terasa seperti sesuatu yang bisa dibaca.

Darah naga benar-benar telah mengubah tubuhnya.

Namun perubahan itu juga membawa bahaya.

Dua kali saat melompat melewati batu, ia merasa kekuatan di kakinya terlalu besar. Sekali injak, tanah di bawah telapaknya retak lebih dalam daripada yang ia maksud. Saat menepis ranting, ranting itu patah sampai ke pangkal. Tubuhnya lebih kuat, tapi belum sepenuhnya tunduk pada kehendaknya sendiri.

“Kalau terus begini, aku justru akan mudah ketahuan,” gumamnya.

Ia terus berjalan sampai malam semakin tua. Setelah cukup jauh dari tambang, Shou Wei berhenti di cekungan batu dangkal yang tertutup semak liar. Tempat itu sempit, tapi cukup untuk bersembunyi. Ia menutupi sebagian mulut cekungan dengan dahan kering dan duduk meringkuk di dalam.

Baru saat itulah rasa lelah menyerangnya.

Seluruh kejadian malam ini bergerak kembali dalam benaknya: jerit para bandit, perubahan tubuh Chu Hua, bilah tangan Hui Song, tempurung bayangan Bo De, cakar naga miliknya sendiri. Semua terasa begitu dekat, seolah terjadi beberapa tarikan napas lalu.

Namun di bawah semua itu, ada satu pikiran yang tak kunjung padam.

Sekte Aliran Putih.

Shou Wei memejamkan mata. Lambang pedang putih itu masih terlihat jelas di kepalanya. Sekte yang disebut-sebut heroik itu ternyata bekerja sama dengan bandit dan memperbudak anak-anak untuk menambang batu roh. Fakta itu terasa lebih dingin daripada rasa takut.

Ia tidak ingin balas dendam sekarang.

Ia bahkan belum cukup kuat untuk menyebutkan nama mereka di hadapan orang yang salah.

Tapi ia tidak akan lupa.

“Suatu hari nanti,” bisiknya pada gelap.

Entah kepada sekte itu, kepada Changbo, atau kepada masa lalunya sendiri.

Angin malam turun semakin dingin. Shou Wei memakan setengah roti keras.

Namun jika ingin pergi ke utara dan bertahan hidup, ia harus mulai belajar sekarang.

Ia nyaris tak percaya dengan tubuhnya saat ini. Tapi saat menggerakkan jari, ia benar-benar merasa sedikit lebih kuat. Bukan banyak, namun nyata. Napasnya lebih panjang. Kepalanya lebih jernih.

Ia memandang kantong kainnya. Jumlah batu roh yang dibawanya sedikit. Terlalu sedikit untuk dipakai sembarangan. Ia harus hemat.

Baru saja ia hendak menyimpan sisanya, tiba-tiba telinganya menangkap bunyi gemerisik dari luar semak.

Bukan angin.

Bukan tikus.

Sesuatu yang lebih berat.

Shou Wei mematikan napasnya dan diam.

Gemeresik itu berhenti.

Lalu terdengar dengus rendah, kasar, dan basah.

Binatang.

Melalui celah daun, sepasang mata hijau redup tampak di kegelapan.

Serigala gunung.

Bukan cuma satu.

Saat Shou Wei menyipitkan mata, ia menangkap siluet lain di belakang pepohonan. Tiga, mungkin empat ekor. Bau darah dari tambang dan mayat di lereng pasti telah menarik mereka ke sini, dan salah satunya rupanya menangkap aroma roti serta manusia hidup dari tempat sembunyinya.

Shou Wei perlahan meletakkan roti sisa di tanah dan menggeser pisau pendek ke tangan kanan.

Serigala pertama mendekat, langkahnya pelan dan curiga.

Shou Wei menunggu.

Ia tidak punya pengalaman berburu di hutan seperti ini, tapi darah naga di tubuhnya memberi sesuatu yang lain: ketenangan dingin saat menghadapi mangsa.

Begitu bayangan serigala itu menerobos semak, Shou Wei bergerak.

Terlalu cepat.

Bahkan dirinya sendiri hampir salah perhitungan. Tubuhnya melesat ke depan, tangan kirinya menangkap leher serigala, sementara pisau di tangan kanan menusuk di bawah rahang. Darah hangat menyembur ke pergelangannya. Serigala itu menggelepar sebentar lalu diam.

Dua ekor lainnya langsung menerjang dari samping.

Shou Wei membuang bangkai pertama ke arah salah satu, memecah serangan mereka sepersekian detik. Yang satu menghindar, yang satu tertabrak. Saat celah itu muncul, tubuhnya bereaksi lebih cepat daripada pikirannya. Sisik tipis muncul di punggung tangannya. Cakar naga singkat terbentuk di ujung jari.

Sabetan pertama merobek wajah serigala yang lompat dari kanan.

Sabetan kedua menghantam rusuk serigala yang lain dan melemparkannya ke batu.

Serigala keempat, yang sejak tadi berputar di belakang, mendadak berhenti.

Tatapannya bertemu dengan mata Shou Wei.

Untuk sesaat, anak dua belas tahun itu merasakan sesuatu yang aneh—seperti tekanan tak terlihat keluar dari dalam dadanya. Serigala itu melangkah mundur sambil meringkuk, ekornya merapat ke paha, lalu kabur ke gelap. Dua yang masih hidup pun mengikuti dengan rengekan rendah.

Shou Wei berdiri terengah, tangan kirinya masih meneteskan darah serigala.

Ia menatap ke arah kaburnya kawanan itu, lalu ke punggung tangannya sendiri yang perlahan kembali normal.

“Dominasi...” gumamnya pelan.

Ia tidak sepenuhnya mengerti, tapi tampaknya binatang-binatang biasa akan lebih sensitif terhadap darah naganya.

Itu kabar baik.

Ia menyeret bangkai serigala menjauh dari tempat bersembunyi, lalu kembali duduk di dalam cekungan batu sampai fajar.

Saat pagi tiba, kabut tipis turun di sela hutan. Cahaya keperakan menyentuh lereng-lereng Pegunungan Mou. Untuk pertama kalinya sejak lama, Shou Wei melihat dunia tanpa jeruji goa.

Ia mulai bergerak lagi ke arah utara-barat laut.

Menjelang siang, hutan perlahan menipis. Batu-batu besar tergantikan tanah lembap dan akar pohon yang lebih jarang. Lalu suara gemuruh air terdengar di kejauhan.

Sungai.

Saat sampai di tebing rendah, Shou Wei melihat aliran air lebar membelah hutan, jernih dan deras, memantulkan cahaya langit. Di sisi seberang, sebuah jalan kecil membentang ke utara mengikuti tepian sungai. Tidak besar, tapi cukup jelas untuk menandakan bahwa ada manusia lain yang kadang lewat di sana.

Ia membuka peta lusuh yang diambil dari gudang tambang.

Nama-nama banyak yang pudar, tapi garis sungai itu masih terlihat. Jalur ini memang mengarah ke wilayah utara, menjauh dari negeri lamanya dan dari Changbo.

Shou Wei menatap air itu cukup lama.

Di balik suara sungai, ia seperti mendengar gema lain—jauh, dalam, dan asing. Bukan bunyi sungai biasa, melainkan sesuatu di darahnya yang bereaksi terhadap air yang luas dan bergerak.

Longwang.

Ia tidak tersenyum, tapi tatapannya mengeras.

Jalan ke utara akhirnya terbuka.

Di depan sana mungkin ada kota kecil, perampok lain, kultivator pengembara, beast liar, atau orang-orang yang akan membunuh demi beberapa batu roh. Di depan sana juga mungkin ada kitab, warisan, dan kekuatan.

Shou Wei melipat peta, mengikat kantong kain ke pinggang, lalu melangkah turun ke sungai untuk menyeberang.

Air dingin menyentuh kakinya.

Aneh, tapi menenangkan.

Seolah untuk pertama kalinya sejak lahir, tubuhnya benar-benar bergerak menuju tempat yang seharusnya.

Ia tidak lagi punya keluarga.

Tidak punya rumah.

Tidak punya nama besar untuk dipinjam.

Yang ia punya hanyalah darah naga, kecerdasan, beberapa batu roh, dan jalan panjang di hadapannya.

Namun itu sudah cukup.

Karena bagi Shou Wei, orang yang mengejar langit tidak butuh terlalu banyak untuk memulai.

Ia hanya butuh satu hal.

Langkah pertama.

1
Muhammad Arsyad
ini...kapan saktinya...lama amat🤭🤭
Simon Semprul
nie cerita pendekar apa misterii si thor /Gosh/
Daryus Effendi
ada b.ingrisnya jadi gak enak bacanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!