Seorang pria sukses yang meninggal karena pengkhianatan bisnis bereinkarnasi menjadi anak sulung dari keluarga miskin yang hampir bangkrut. Ia mendapatkan Sistem Warisan Kedua yang memberinya misi untuk menyelamatkan keluarganya dari kehancuran ekonomi dan ancaman mafia tanah. Dengan pengalaman hidup sebelumnya dan bantuan sistem, ia bertekad mengubah takdir keluarganya menjadi keluarga terpandang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon septian123, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Upgrade Sistem
Tujuh hari berturut-turut Arga menghitungnya dengan saksama, bukan hanya melalui layar sistem yang sesekali muncul di benaknya, tetapi juga melalui catatan kecil yang ia buat sendiri di buku tulis bekas milik adiknya. Ia mencatat jumlah pembeli, produk yang paling sering terjual, dan jam paling ramai. Ia melakukannya diam-diam, seperti anak yang sekadar bermain angka.
Selama tujuh hari itu, penjualan warung tidak lagi turun naik secara tajam. Ada kenaikan kecil yang stabil. Tidak besar, tetapi konsisten. Paket hemat menjadi favorit anak sekolah. Minuman dingin laris setiap sore. Rak yang lebih rapi membuat ibu-ibu lebih mudah mengambil barang tanpa perlu bertanya terlalu banyak.
Pada malam ketujuh, ketika ibunya selesai menghitung uang dan tersenyum kecil melihat hasilnya, layar tipis kembali muncul di benak Arga.
[Misi Parsial Tercapai.]
Tulisan itu terasa lebih hidup dari biasanya.
[+50 EXP.]
Angka di panel statusnya bertambah. Tidak banyak, tetapi cukup untuk membuatnya merasa seperti baru saja menaiki satu anak tangga penting.
Beberapa detik kemudian, notifikasi baru muncul.
[Skill Baru Terbuka: Prediksi Tren Lokal Level 1.]
Jantung Arga berdegup sedikit lebih cepat.
Ia memejamkan mata sejenak, dan seolah ada lapisan baru yang terbuka dalam cara ia memandang lingkungan sekitar. Informasi yang sebelumnya terasa acak kini mulai membentuk pola yang lebih jelas.
Deskripsi skill itu muncul perlahan.
[Kemampuan melihat pola pembelian berdasarkan waktu dan musim.]
[Notifikasi potensi produk laku dalam radius tiga kilometer.]
[Analisis tren kecil seperti musim hujan, ujian sekolah, atau acara desa.]
Arga menghela napas pelan.
Ini bukan kekuatan yang berlebihan, tetapi jelas sangat berguna.
Ia mencoba mengaktifkan analisisnya. Pandangannya tidak berubah secara dramatis, tetapi ketika ia memikirkan kata musim hujan, muncul proyeksi kecil di benaknya.
Potensi peningkatan pembelian mie instan dan minuman hangat saat curah hujan meningkat.
Ketika ia memikirkan ujian sekolah, muncul catatan lain.
Potensi peningkatan pembelian alat tulis sederhana dan minuman energi ringan dalam periode dua minggu menjelang ujian.
Ia bahkan memikirkan acara desa yang biasanya diadakan setiap beberapa bulan sekali. Sistem memberikan estimasi peningkatan pembelian snack dan minuman ringan jika acara benar-benar terjadi.
Namun di bagian bawah deskripsi skill itu, ada catatan penting.
[Akurasi 60 persen.]
[Tidak dapat memprediksi kejadian besar seperti bencana.]
[Cooldown analisis 12 jam.]
Arga tersenyum tipis.
Sistem ini memang kuat, tetapi tetap realistis. Ia tidak diberikan kemampuan melihat masa depan secara mutlak. Hanya pola, kemungkinan, dan kecenderungan. Sisanya tetap bergantung pada keputusan dan tindakan yang ia ambil.
Ia menyukai itu.
Di kehidupan sebelumnya, ia terbiasa bekerja dengan data dan probabilitas. Tidak ada keputusan bisnis yang benar-benar pasti. Semua berdasarkan analisis risiko dan peluang. Skill ini terasa seperti versi sederhana dari perangkat analitik yang dulu ia gunakan, hanya saja kini terpasang langsung di dalam kepalanya.
Keesokan harinya, Arga mencoba memanfaatkan kemampuan barunya dengan hati-hati.
Langit mulai sering mendung. Angin terasa lebih lembap. Sistem menampilkan notifikasi kecil.
[Potensi Musim Hujan Ringan dalam 10 sampai 14 hari. Produk Potensial: mie instan, kopi sachet, teh hangat.]
Arga tidak langsung membeli stok besar. Ia hanya menyarankan ibunya untuk menambah sedikit persediaan mie instan dan kopi saat belanja ke grosir.
“Kenapa harus tambah mie lagi?” tanya ibunya.
“Kayaknya bakal sering hujan, Bu. Kalau hujan orang malas keluar jauh. Mereka beli yang cepat masak.”
Ibunya mengangguk pelan. “Masuk akal juga.”
Ia juga mulai memperhatikan kalender sekolah. Beberapa anak terlihat membawa buku latihan lebih banyak dari biasanya. Sistem memberikan notifikasi bahwa periode ujian akan segera datang.
[Potensi peningkatan pembelian pensil, penghapus, dan minuman ringan dalam 7 hari.]
Arga menyarankan ibunya untuk menambah stok pensil murah dan menata ulang alat tulis di bagian depan warung.
Hasilnya belum langsung terlihat, tetapi perlahan pola mulai terbentuk.
Beberapa hari kemudian, hujan benar-benar turun lebih sering. Warung mereka menjadi pilihan warga sekitar karena lebih dekat dibanding warung ujung gang. Mie instan dan kopi hangat terjual lebih banyak dari biasanya. Anak-anak yang akan ujian membeli pensil tambahan dan minuman ringan sebelum belajar kelompok.
Layar sistem menampilkan kenaikan kecil dalam grafik penjualan.
Arga mulai memahami ritme skill barunya. Namun tidak semua berjalan tanpa hambatan.
Suatu malam, setelah makan malam sederhana bersama keluarga, ayahnya menatapnya dengan pandangan yang berbeda dari biasanya.
“Ga,” panggilnya pelan.
Arga menoleh. “Iya, Yah?”
Ayahnya menggaruk kepala, tampak ragu. “Kamu ini akhir-akhir ini sering kasih ide soal warung. Dari mana kamu tahu harus jual ini, harus tambah itu?”
Nada suaranya bukan marah, tetapi penasaran.
Arga merasakan sedikit ketegangan di dadanya. Inilah yang ia khawatirkan. Jika terlalu pintar, ia bisa terlihat aneh.
Ia menunduk sejenak, lalu menjawab dengan nada biasa saja. “Aku cuma perhatiin orang-orang beli apa, Yah.”
Ayahnya terdiam.
Arga melanjutkan dengan santai, “Kalau sore banyak anak sekolah, ya berarti kita jual yang mereka suka. Kalau hujan, orang pasti pengin yang hangat. Itu saja.”
Ia sengaja membuatnya terdengar sederhana, seperti hasil pengamatan polos anak kecil yang kebetulan jeli.
Ibunya tersenyum. “Anak kita memang peka. Dari kecil juga suka merhatiin.”
Ayahnya tertawa kecil, meski masih terlihat berpikir. “Baguslah kalau begitu. Tapi jangan terlalu capek mikirin hal orang dewasa.”
Arga mengangguk cepat. “Iya, Yah.”
Percakapan itu berakhir tanpa kecurigaan lebih lanjut.
Namun bagi Arga, itu pengingat penting.
Ia tidak boleh melampaui batas. Ia harus tetap menjadi Arga, bukan Ardi yang terlalu dewasa. Ia harus menyamarkan pengalaman puluhan tahun dalam sikap yang wajar untuk anak sepuluh tahun.
Malam itu, ketika ia berbaring di kasurnya, sistem kembali menampilkan ringkasan kecil.
[Kepercayaan Keluarga: Meningkat.]
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Kepercayaan adalah modal yang jauh lebih penting daripada uang. Di kehidupan sebelumnya, ia kehilangan banyak hal karena terlalu fokus pada angka dan target. Kali ini, ia tidak ingin mengulang kesalahan itu.
Sistem mungkin memberinya kemampuan analisis dan prediksi, tetapi hubungan dengan keluarganya tetap harus dibangun dengan cara alami.
Ia memikirkan pria asing yang pernah mengawasi warung beberapa hari lalu. Ancaman rentenir masih ada. Dua bulan belum berlalu. Mereka mungkin hanya menunggu waktu.
Namun kini Arga tidak lagi merasa berjalan sendirian dalam kegelapan.
Ia memiliki data juga pengalaman. Dan yang paling penting, ia mulai memiliki kepercayaan dari keluarganya.
Sistem memang kuat, tetapi tidak maha kuasa. Akurasinya hanya enam puluh persen. Analisisnya memiliki jeda. Ia tetap harus berpikir, menimbang risiko, dan menerima kemungkinan salah.
Justru di situlah tantangannya. Arga tersenyum tipis dalam gelap. Permainan ini bukan tentang keberuntungan mutlak.
Ini tentang membaca pola, mengambil keputusan, dan menjaga kepercayaan orang-orang yang berdiri di sampingnya.
Dan untuk saat ini, ia tahu satu hal dengan pasti. Ia berada di jalur yang benar.