Aira Maharani, 28 tahun, dikenal sebagai gadis mungil dan cantik dengan dedikasi tinggi di bidang keuangan. Kariernya di salah satu anak perusahaan Satria Group berjalan stabil hingga ia dipindahkan ke unit yang lebih besar, sebuah kesempatan yang seharusnya menjadi langkah maju. Namun, harapan itu berubah menjadi kecanggungan ketika ia mengetahui bahwa direktur barunya adalah Bimantara Dwi Cahyo, putra pemilik Satria Group sekaligus mantan kekasihnya di masa SMA.
Dulu, Aira memilih mengakhiri hubungan mereka karena merasa prestasinya menurun sejak berpacaran dengan Bima. Keputusan itu meninggalkan luka yang tampaknya belum sepenuhnya sembuh bagi Bima. Kini, dalam posisi sebagai atasan, Bima kerap memberi tekanan dan tugas berlebihan kepada Aira, seolah membalas masa lalu yang belum selesai.
Meski awalnya dipenuhi ketegangan dan konflik, interaksi mereka mulai berubah seiring berjalannya waktu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Robby Ido Wardanny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Sore itu, langit mulai berubah jingga ketika Bima kembali datang ke rumah bibi Aira. Angin membawa aroma khas senja yang hangat, namun Bima justru sibuk dengan pikirannya sendiri. Tangannya menggenggam dua kantong besar berisi berbagai macam bakaran dari pasar malam. Cumi bakar, sosis bakar, bakso bakar—semuanya ia pilih dengan hati-hati, mengingat betul bagaimana Aira kemarin memakannya dengan lahap.
Di sepanjang perjalanan, bayangan itu terus terulang di benaknya.
Wajah Aira yang serius berubah cerah saat melihat makanan. Cara gadis itu meniup ujung tusuk sate yang panas. Dan ekspresi puas yang muncul tanpa dibuat-buat.
Bima tersenyum sendiri.
“Kalau dia makan lagi hari ini, pasti tetap seperti itu,” gumamnya pelan.
Namun senyum itu perlahan menghilang begitu ia sampai di depan rumah.
Pintu sudah terbuka.
Aira dan bibinya berdiri di sana.
Menunggu.
Tatapan mereka… tidak seperti yang Bima bayangkan.
Tidak ada ekspresi santai. Tidak ada kehangatan. Hanya keseriusan yang terasa menekan.
Langkah Bima sempat terhenti sepersekian detik.
“Sepertinya… ini bukan tentang makanan,” pikirnya.
Tetap saja, ia melangkah maju.
“Selamat sore,” ucap Bima dengan nada ringan, mencoba mencairkan suasana.
Aira tidak menjawab.
Bibinya hanya mengangguk kecil.
Bima masuk ke dalam rumah, lalu tanpa banyak bicara langsung menyodorkan dua kantong besar itu ke arah Aira.
“Aku bawakan ini. Kemarin kamu kelihatan suka.”
Aira menatap kantong itu, lalu menatap Bima.
Ekspresinya sulit dibaca.
Namun sebelum ia sempat berkata apa-apa, bibinya sudah lebih dulu bersuara.
“Duduk dulu, Bima.”
Nada suaranya tegas.
Tidak bisa ditolak.
Bima menurut. Ia duduk di sofa, sementara Aira tetap berdiri di dekat meja dengan kantong bakaran di tangannya.
Suasana hening beberapa detik.
Lalu pertanyaan itu datang.
“Bima,” ujar bibi Aira perlahan, “apa benar kamu berbohong soal melamar Aira kemarin?”
Langsung ke inti.
Tanpa basa-basi.
Bima menoleh ke arah Aira.
Gadis itu menatap ke bawah, seolah tidak ingin terlibat lebih jauh.
Jawabannya sudah jelas.
Aira sudah mengatakan yang sebenarnya.
Bima menghela napas pelan.
“Benar,” jawabnya akhirnya.
Jujur.
Tidak ada usaha menghindar.
“Saya memang berbohong waktu itu.”
Ruangan terasa semakin sunyi.
Namun sebelum suasana menjadi semakin berat, Bima melanjutkan.
“Tapi… saya tidak bercanda soal menikah.”
Aira langsung mengangkat kepalanya.
“Apa maksud kamu?” tanyanya cepat.
Bima menatapnya dengan tenang.
“Aku memang mau menikah dengan kamu.”
“Bima—”
“Aku serius.”
Nada suara Bima tidak tinggi, tapi cukup kuat untuk menghentikan bantahan Aira.
Aira mengerutkan kening.
“Kita bahkan belum balikan.”
“Tidak masalah,” jawab Bima santai. “Nanti kalau sudah balikan, tinggal menikah.”
Aira menatapnya tidak percaya.
“Itu bukan sesuatu yang bisa dianggap sesederhana itu.”
“Buatku sederhana.”
“Buatku tidak.”
Bima tersenyum tipis.
“Itu karena kamu terlalu banyak berpikir.”
Aira langsung membalas dengan tatapan tajam.
“Dan kamu terlalu tidak berpikir.”
Percakapan mereka terpotong ketika bibi Aira menghela napas panjang.
“Kalau kalian sudah selesai berdebat,” ujarnya, “aku ingin memastikan sesuatu.”
Keduanya langsung diam.
Bibi Aira menatap Bima dengan serius.
“Kamu benar-benar berniat menikahi Aira?”
“Ya Tante.”
Tanpa ragu.
“Bukan sekadar ucapan untuk menutup situasi kemarin?”
“Bukan.”
“Dan kamu siap bertanggung jawab?”
Bima mengangguk.
“Saya siap.”
Nada formal itu membuat suasana terasa lebih nyata.
Lebih serius.
Bibi Aira mengamati wajah Bima beberapa detik, seolah mencoba memastikan tidak ada kebohongan di sana.
Kemudian ia berkata pelan,
“Tadi pagi, saya sudah memberitahu ibunya Aira tentang apa yang terjadi.”
Aira langsung menoleh cepat.
“Bibi—”
“Ibu kamu ingin bertemu dengan Bima akhir pekan ini.”
Ucapan itu menggantung di udara.
Aira membeku.
Sementara Bima…
tersenyum.
“Saya siap,” jawabnya ringan.
Aira menatapnya, hampir tidak percaya.
“Kamu serius?”
“Kenapa tidak?”
“Itu ibuku, Bima.”
“Justru itu.”
“Dia tidak akan semudah itu menerima kamu.”
Bima mengangkat bahu.
“Aku tidak datang untuk diterima dengan mudah.”
Jawaban itu membuat Aira terdiam.
Sementara itu, tanpa diduga, Bima mengeluarkan ponselnya.
Ia membuka sebuah aplikasi belanja online.
Gerakannya santai, seolah situasi tadi tidak ada apa-apanya.
“Terima kasih ya, Bi,” katanya sambil tetap menatap layar.
“Untuk apa?” tanya bibi Aira, sedikit bingung.
“Sudah memberitahu ibu Aira soal lamaran.”
Bima lalu menyodorkan ponselnya.
“Sebagai tanda terima kasih, silakan pilih apa saja. Masukkan ke keranjang. Nanti saya yang bayar.”
Aira langsung melotot.
“Bima!”
Tanpa pikir panjang, ia merebut ponsel itu dari tangan Bima.
“Jangan macam-macam,” katanya tegas.
“Aku tidak menyogok,” jawab Bima santai.
“Ini terlihat seperti menyogok.”
“Ini bentuk terima kasih.”
“Ini sama saja!”
Bima tersenyum.
“Kalau memang menyogok, berarti aku menyogok dengan jujur.”
Aira terdiam beberapa detik.
Lalu menggeleng kesal.
“Logika kamu benar-benar aneh.”
Sementara itu, bibi Aira justru terlihat berpikir.
Ia menatap Bima.
“Kalau kamu sebenarnya tidak punya niat menikah, lebih baik bicara sekarang.”
Bima langsung menjawab,
“Saya punya niat.”
“Yakin?”
“Sangat yakin.”
Aira menghela napas.
“Aku belum mau menikah.”
Kali ini suaranya lebih pelan.
Lebih jujur.
“Aku bahkan masih mempertimbangkan untuk balikan.”
Bima menoleh ke arahnya.
“Aku tahu.”
“Tapi kamu tetap bicara seolah semuanya sudah pasti.”
“Aku hanya memastikan aku tidak ragu.”
Aira menatapnya lama.
Tidak ada candaan di wajah Bima.
Tidak ada keraguan.
Dan itu justru membuatnya semakin bingung.
Bibi Aira akhirnya berdiri.
“Baik,” katanya. “Kalau begitu, akhir pekan nanti Bima datang lagi ke sini.”
Aira langsung bereaksi.
“Bibi, kenapa jadi diputuskan seperti itu?”
“Karena ini harus jelas.”
“Aku belum setuju.”
“Kamu juga tidak menolak.”
Aira terdiam.
Ia tidak bisa menyangkal itu.
Bibi Aira melanjutkan dengan nada tenang,
“Nanti kamu hubungi Bima.”
Bima mengangguk.
“Saya akan mengosongkan jadwal.”
Aira menatap keduanya, merasa seperti keputusan diambil tanpa benar-benar melibatkannya.
Namun di dalam hati, ia juga tidak benar-benar menolak.
Perasaan itu rumit.
Membingungkan.
Dan ia belum menemukan jawaban.
Tiba-tiba, bibi Aira mengambil ponselnya sendiri.
Ia membuka aplikasi yang sama seperti Bima tadi.
Lalu menatap layar dengan serius.
“Kalau begitu…” gumamnya.
Beberapa detik kemudian, ia menunjukkan layar ponselnya ke arah Bima.
“Yang ini bagus.”
Aira melirik.
Itu daftar gamis.
Banyak sekali.
“Bibi…”
Namun sebelum Aira sempat menghentikan, bibi Aira sudah berbicara lagi.
“Bisa dibayar sekarang?”
Bima bahkan tidak berpikir dua kali.
“Tentu saja Tante.”
“Pakai transfer bank saja.”
“Baik.”
Bima mengambil ponselnya lagi.
Ia membuka aplikasi mobile banking dengan cepat.
Sementara itu, bibi Aira terlihat sangat puas.
Wajahnya yang tadi serius kini sedikit lebih cerah.
“Terima kasih ya,” katanya.
“Tidak masalah,” jawab Bima.
Aira hanya bisa menatap keduanya dengan ekspresi campur aduk.
Kesal, bingung, tapi juga tidak bisa menahan sedikit rasa geli.
Beberapa menit kemudian, bibi Aira berdiri.
“Sudah, kalian bicara saja berdua,” ujarnya.
Lalu ia berjalan ke dalam, meninggalkan mereka di ruang tamu.
Sunyi kembali.
Bima menoleh ke arah Aira.
“Marah?”
Aira menghela napas.
“Aku tidak tahu harus merasa apa.”
“Berarti belum marah.”
“Jangan sok tahu.”
Bima tersenyum kecil.
Lalu ia mengambil salah satu kantong bakaran.
Ia membuka plastiknya perlahan.
Aroma cumi bakar langsung menyebar.
Aira refleks menoleh.
Bima mengangkat satu tusuk.
“Masih hangat.”
Aira menatapnya beberapa detik.
Lalu tanpa sadar, ia mengambilnya.
“Terima kasih,” gumamnya pelan.
Bima bersandar santai.
“Jadi… masih belum mau menikah?”
Aira langsung melirik tajam.
“Jangan mulai lagi.”
“Baik.”
Bima mengangguk.
Lalu menatap Aira yang mulai makan.
Dan seperti yang ia bayangkan sebelumnya—
Aira memang makan dengan lahap.
Tanpa dibuat-buat.
Tanpa berpikir terlalu jauh.
Untuk sesaat, semua kerumitan tadi menghilang.
Dan Bima hanya duduk di sampingnya, memperhatikan dengan tenang.