Judul: RAMALAN CINTA YANG TERKUNCI
Sub-judul: Takdir bukan untuk diubah, tapi untuk dijalani.
~~~~~~ ~~~~~~~ ~~~~~~~~
Langit malam yang gelap dengan bulan berwarna merah darah (Gerhana). Di kejauhan, siluet kota tua dengan arsitektur menara yang tinggi dan misterius.
▪︎Objek Utama:
- Di tengah, terdapat sebuah gembok antik yang besar dan berkarat, namun terbuat dari emas murni yang berkilau samar.
- Gembok itu terbelah dua, dan dari celah di antara keduanya memancarkan cahaya yang sangat terang, perpaduan antara warna Perak (Elara) dan Merah Gelap (Kael).
- Sebuah kunci tua melayang di udara, tepat di atas gembok, seolah baru saja membukanya atau hendak menguncinya.
.
.
.
.
.
.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jasmine Oke, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Jejak di Dalam Buku Tua
Matahari pagi di kota Lunaria jarang terlihat terik. Sinarnya selalu tembus melalui selimut kabut tipis, menciptakan suasana yang redup dan misterius. Namun bagi Elara, pagi ini terasa berbeda. Cahaya itu seolah menyakitkan mata, atau mungkin karena ia sama sekali tidak memejamkan mata semalaman.
Elara duduk di tepi tempat tidurnya, memandangi bulu hitam yang ia letakkan di atas meja kayu kecil. Bulu itu terlihat biasa saja, namun jika diperhatikan lebih dekat, ada semburat warna merah gelap yang samar di tengahnya. Itu milik Kael. Dan entah kenapa, benda kecil itu terasa seperti sebuah beban berat yang diletakkan tepat di tengah ruangan.
"Elara? Kau sudah bangun?" Suara Nenek Mara terdengar dari balik pintu yang terbuka sedikit.
"Ya, Nek," jawab Elara cepat, menyembunyikan bulu itu di balik buku catatannya. Ia tidak tahu kenapa ia merasa perlu menyembunyikannya. Mungkin karena ia tahu Nenek Mara akan menyuruhnya membuangnya jauh-jauh.
Nenek Mara masuk membawa nampan berisi roti hangat dan susu. Wajah wanita tua itu terlihat cemas saat menatap cucunya.
"Wajahmu pucat sekali, Nak. Kau tidak tidur semalaman, kan?"
Elara mengangguk pelan, tidak berani berbohong. "Aku tidak bisa, Nek. Terlalu banyak yang aku pikirkan. Tentang segel itu... tentang dia."
Nenek Mara menghela napas panjang lalu duduk di sisi tempat tidur. "Elara, dengarkan Nenek. Laki-laki itu bukan orang yang baik untuk didekati. Keluarga Voss adalah keluarga yang dingin, mereka hidup terpisah dari orang lain karena sihir mereka yang berbahaya. Kael... dia dikenal tidak memiliki hati. Dia sudah memutuskan ratusan ikatan cinta tanpa ragu sedikitpun."
"Tapi Nenek... dia tidak memutus ikatanku," bantah Elara pelan. "Justru sebaliknya, dia terkejut. Dia bilang energiku menolak energinya."
"Justru itu yang berbahaya," tegas Nenek Mara. "Ketika dua kekuatan yang seharusnya bertolak belakang bertabrakan, hasilnya bisa sangat dahsyat. Nenek khawatir, kau akan terluka."
"Aku sudah terluka, Nek," ucap Elara lirih. "Hatiku terasa kosong selama ini. Dan saat dia datang... untuk pertama kalinya aku merasa hidup, meski rasanya sakit. Aku ingin tahu siapa aku sebenarnya. Kenapa ada segel di hatiku? Siapa yang memasangnya?"
Melihat keteguhan di mata cucunya, Nenek Mara tahu ia tidak bisa menahan Elara selamanya. Kerutan di dahinya semakin dalam, seolah sedang berperang dengan pikirannya sendiri. Akhirnya, ia mengangguk pelan.
"Baiklah. Jika kau memang ingin tahu... ada satu tempat yang mungkin menyimpan jawabannya. Tapi kau harus berjanji untuk berhati-hati. Tempat itu tidak boleh sembarangan dimasuki orang."
Mata Elara berbinar. "Di mana itu, Nek?"
"Di ruang bawah tanah kedai. Di balik rak buku-buku tua. Ada sebuah peti kayu berukir bunga bulan. Di dalamnya ada buku catatan milik nenek buyutmu. Buku itu mencatat sejarah sihir dan ramalan-ramalan kuno. Mungkin di sana ada tulisan tentang Segel Abadi."
Elara segera turun dari tempat tidur. Rasa lelahnya seketika hilang digantikan oleh rasa penasaran yang membara.
Siang harinya, saat kedai sepi dari pengunjung, Elara menyelinap menuju ruang bawah tanah. Udara di sana dingin dan berdebu, beraroma kertas tua dan dupa kering. Satu-satunya sumber cahaya datang dari lampu gantung yang bergoyang pelan ditiup angin dari celah dinding.
Dengan hati-hati, Elara memindahkan tumpukan buku-buku tebal di sudut ruangan. Benar saja, di baliknya terdapat sebuah peti kayu besar yang terbuat dari kayu hitam yang sangat keras. Ukirannya sangat halus, menggambarkan bulan yang dikelilingi oleh bintang-bintang.
Peti itu tidak terkunci. Saat dibuka, isinya hanya satu buah buku bersampul kulit yang warnanya sudah memudar menjadi cokelat gelap.
"Kitab Takdir dan Benang Cinta", begitu tulisan emas yang terukir di sampulnya.
Elara menarik napas panjang lalu membuka halaman pertama. Tulisan tangannya sangat indah namun sulit dibaca, menggunakan bahasa kuno yang sedikit berbeda dengan bahasa yang ia gunakan sehari-hari. Ia harus berkonsentrasi penuh untuk menerjemahkannya.
Berjam-jam ia habiskan untuk membaca. Ia menemukan banyak hal tentang sihir di Lunaria, tentang bagaimana benang-benang takdir terjalin, dan tentang berbagai jenis peramal. Hingga akhirnya, matanya berhenti pada sebuah halaman yang memiliki gambar aneh.
Gambar itu menunjukkan sebuah hati manusia yang dibelenggu oleh rantai emas. Dan di atasnya tertulis: "Segel Penahan Jiwa".
Jantung Elara berdegup kencang. Ia mulai membaca deskripsinya dengan napas tertahan.
"Segel ini dipasang bukan untuk menyakiti, melainkan untuk melindungi. Ketika seorang anak terlahir dengan kekuatan cinta yang terlalu besar, melebihi batas yang bisa ditampung oleh tubuh manusia biasa, maka jiwanya akan terancam hancur. Oleh karena itu, para leluhur menciptakan mantra ini untuk menahan kekuatan tersebut agar tidak meledak."
Elara menggigit bibir bawahnya. Jadi benar apa yang dikatakan Nenek Mara dan Kael. Kekuatannya terlalu besar hingga harus dikunci.
Ia membalik halaman berikutnya, tangannya sedikit gemetar.
"Namun, segel ini memiliki syarat yang berat. Ia tidak bisa dibuka oleh siapa pun. Hanya ada satu cara untuk melepaskannya: menemukan 'Kunci Sejati'."
"Kunci Sejati bukanlah benda, melainkan seseorang. Seseorang yang memiliki energi yang saling melengkapi namun juga saling bertolak belakang. Seseorang yang lahir dari kegelapan namun memiliki inti cahaya, atau sebaliknya. Hanya sentuhan dari orang inilah yang bisa memicu reaksi untuk membuka rantai tersebut."
"Tapi ingatlah... Jika Kunci dan Gembok bertemu, dunia akan bergetar. Jika mereka bersatu, kekuatan yang terlepas bisa menyembuhkan dunia... atau bisa juga menghancurkannya menjadi abu."
Elara terdiam kaku. Tulisan di buku itu seolah berputar di kepalanya.
Kunci Sejati...
Seseorang dari kegelapan...
Itu pasti Kael!
Semua teka-teki mulai terjawab. Kenapa ia merasa tertarik padanya. Kenapa sihir mereka bereaksi hebat. Kenapa Kael berkata bahwa dialah kuncinya atau gemboknya.
Tapi kalimat terakhir membuat bulu kuduk Elara meremang. Bisa menyembuhkan... atau menghancurkan.
Tiba-tiba, sebuah bayangan melintas cepat di luar jendela kecil ruang bawah tanah. Elara terlonjak kaget, menutup buku itu dengan cepat.
Apakah itu hanya imajinasinya? Atau... ada seseorang yang sedang mengawasinya?
Elara berdiri, berjalan mendekati jendela. Di luar, kabut mulai turun semakin tebal. Namun di kejauhan, di antara pepohonan yang gelap, ia yakin melihat sepasang mata berwarna merah gelap yang menatap lurus ke arahnya.
Kael.
Dia ada di sana. Dia mengikutinya?
Elara memegang dadanya. Jantungnya berdegup bukan karena takut, tapi karena sebuah kesadaran yang menakutkan.
Takdir mereka tidak bisa dihindari. Buku ini membuktikannya. Mereka ditakdirkan untuk bertemu, ditakdirkan untuk terikat, meski akhir dari cerita ini bisa berupa kebahagiaan... atau kematian.
°
°
°
Bersambung...