NovelToon NovelToon
Nero Vano

Nero Vano

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Crazy Rich/Konglomerat / Teen
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

Di buang ke Desa Kenangan, tempat Oma-nya menghabiskan sisa umur. Nero Vano Christian malah tidak sengaja bertemu dengan seorang gadis manis bernama Ainun Salsabila Adiakara. Gadis yang awalnya hanya sekedar mengusik hati.. Lalu menjadi alasan untuk Nero mulai mengenal Tuhan.

Ikuti kisahnya~

Happy Reading ><

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 35: SUBUH, SAWAH, SUNGAI, WARGA, KELUARGA, PERSAHABATAN, DAN CINTA

“Ya Allah... kalau memang Ainun yang terbaik untukku... dekatkanlah kami dengan cara yang Engkau ridhai. Tapi kalau tidak... jauhkanlah. Gantilah dengan yang lebih baik. Dan berikanlah aku kekuatan untuk ikhlas.”

—Muhammad Nero Vane Akbar

---

04.45 WIB – Masih Ada Waktu Sebelum Subuh

Nero tidak tidur lagi.

Ia mengambil Al-Qur'an kecil di rak kayu. Juz Amma. Ia membuka halaman surat Al-Waqi'ah dan membacanya perlahan. Kali ini dengan mata terbuka, bukan dengan hafalan.

“Idza waqa’atil waqi’ah…”

“Laisa liwaq’atiha kadzibah…”

“Khafidhatur rafi’ah…”

“Idza rujjatil ardhu rajja…”

“Wa bussatil jibalu bassa…”

“Fa kaana habaa’an munbatsa…”

Ia mengulang-ulang ayat yang tadi ia lupa.

Lima kali. Sepuluh kali. Dua puluh kali.

Hingga hafalannya kembali mengalir seperti air.

Nero tersenyum.

“Jadi begini rasanya jadi manusia,” pikirnya. “Sekuat-kuatnya iman, tetap saja ada ujian. Setinggi-tingginya ilmu, tetap saja ada lupa. Sebanyak-banyaknya hafalan, tetap saja bisa tergeser oleh senyum seorang perempuan.”

Ia menutup Al-Qur'an.

Menciumnya.

Lalu menaruhnya di hati.

 

Waktu menunjukkan pukul 05.15.

Matahari belum muncul, tapi langit sudah berwarna ungu keemasan. Suara adzan berkumandang dari pengeras suara masjid desa. Suara Pak Malik yang parau namun merdu.

Allahu Akbar, Allahu Akbar...

Nero bergegas keluar paviliun. Ia melangkah cepat menuju masjid.

Begitu sampai, ia terkejut.

Masjid penuh.

Bukan hanya warga desa. Tapi rombongan teman balap Nero juga sudah datang, bahkan sebelum iqamah.

Robby berdiri di shaf belakang. Matanya masih sayu, rambutnya acak-acakan, tapi ia sudah pakai sarung dengan lilitan yang benar. Kevin di sampingnya menguap terus, tapi kakinya tetap kokoh berdiri. Dika bahkan sudah mengambil air wudhu tiga kali karena lupa mana yang wajib dan mana yang sunnah.

“Woy, Ro,” bisik Robby saat Nero lewat. “Lo jadi imam ya? Gue bingung kalo ikut imam desa. Soalnya bacanya cepet banget kayak lagi sprint.”

Nero tersenyum. “Santai, Rob. Ikutin aja gerakannya. Dan jangan batuk-batuk pas imam baca surat, nanti pahalanya ilang.”

“Iya, iya, pak ustadz.”

Pak Malik berdiri di samping mimbar. Ia menatap Nero dan mengangguk memberi isyarat agar Nero maju ke depan.

Nero menarik napas.

Ia melangkah.

Setiap langkahnya terasa berat. Bukan karena takut. Tapi karena ia tahu, di balik tirai pembatas jamaah wanita, Ainun ada di sana. Menyimak. Mendengar. Mungkin juga... memerhatikan.

“Fokus, Ro,” bisik hatinya. “Ini bukan untuk Ainun. Ini untuk Allah.”

Iqamah berkumandang.

Allahu Akbar.

Nero memulai shalat subuh.

Suaranya berbeda dari biasanya. Tidak terlalu tinggi, tidak terlalu rendah. Tapi ada getar di setiap huruf, seolah-olah setiap ayat yang ia lantunkan adalah permintaan maaf atas kelalaian hatinya tadi malam.

“Alhamdulillahi rabbil ‘alamin…”

“Arrahmanir rahim…”

“Maliki yaumid din…”

“Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in…”

Di shaf belakang, Kevin menangis lagi.

Dika juga.

Robby tidak menangis, tapi ia merasa ada yang berbeda. Ada yang hangat mengalir di dadanya. Seperti cahaya yang masuk lewat celah-celah dosa-dosanya.

Dan di balik tirai, Ainun menunduk.

Ia tidak tahu kenapa, tapi matanya basah.

Bukan karena bacaan Nero yang bagus. Bukan karena suaranya yang merdu. Tapi karena ia merasakan sesuatu yang tulus dari laki-laki itu. Sesuatu yang tidak bisa ia jelaskan.

 

Usai shalat, Pak Malik kembali memberi isyarat.

Kali ini, ia meminta Nero memberikan kajian singkat.

“Lima belas menit saja, Nak,” bisik Pak Malik. “Tentang apa pun yang mengganggu pikiranmu pagi ini.”

Nero tersenyum pahit.

Tentang apa pun yang mengganggu pikiranku?

Baiklah.

Ia berdiri di depan jamaah.

Tangan kanannya memegang mic. Tangan kirinya di saku celana. Wajahnya tenang, meskipun hatinya masih bergelora.

“Jamaah yang dirahmati Allah,” mulainya.

“Saya ingin berbicara tentang... cinta.”

Seketika, jamaah wanita di balik tirai mendadak hening.

Robby, Kevin, dan Dika yang tadinya mengantuk, langsung melek.

“Cinta itu fitrah,” lanjut Nero. Matanya sesekali melirik ke arah tirai. Bukan sengaja, tapi lidahnya sudah terlanjur berat. “Allah menciptakan rasa cinta dalam diri manusia sebagai tanda kebesaran-Nya. Tidak ada yang salah dengan cinta. Yang salah adalah ketika cinta membutakan.”

Nero berhenti sejenak.

Ia menelan ludah.

“Cinta yang paling hebat,” katanya kemudian, “bukanlah cinta yang membuat kita begadang memikirkan seseorang hingga lupa shalat tahajjud. Bukan cinta yang membuat kita lupa hafalan Al-Qur'an karena pikirannya penuh dengan senyum seseorang.”

Tirai wanita bergerak sedikit.

Nero tahu Ainun sedang menyimak.

“Cinta yang paling hebat adalah cinta yang membawa kita makin dekat sama Allah. Kalau cinta malah bikin kita lupa dzikir, lupa ibadah, lupa tujuan hidup. Berarti itu bukan cinta. Itu ujian nafsu. Dan ujian nafsu harus diobati dengan istighfar. Bukan dengan curhat ke teman. Bukan dengan lari ke dosa.”

Robby manggut-manggut dari belakang. “Nah, ini nih yang gue butuhin. Obat nafsu.”

Kevin menyenggol Robby. “Diem, Rob, lagi serius.”

“Kalau kita jatuh cinta,” kata Nero lagi, “jatuh cintalah pada Allah dulu. Setelah hati kita benar-benar milik-Nya, maka cinta pada makhluk tidak akan pernah membuat kita tersesat. Karena kita akan mencintai makhluk tersebut karena Allah, bukan selain Allah.”

Nero menunduk.

“Seperti saya,” pikirnya. “Saya ingin mencintai Ainun karena Allah. Bukan karena parasnya. Bukan karena gelarnya. Tapi karena ia membawa saya lebih dekat kepada-Nya.” Bisik hatinya.

Ia mengangkat kepala.

“Cintailah dengan cara yang benar,” pungkasnya. “Mintalah kepada Allah. Bukan dengan pacaran, bukan dengan chatting tengah malam, bukan dengan saling kirim foto. Tapi dengan doa, dengan usaha memperbaiki diri, dan dengan keyakinan bahwa jodoh itu urusan Allah. Bukan urusan kita.”

Amin...

Seluruh masjid bergema.

Di balik tirai, Mama Meysha—Mamanya Nero—tersenyum bangga. Ia menatap Oma Thalita yang duduk di sampingnya.

“Nero sudah dewasa, Ma,” bisik Mama Meysha.

Oma mengusap air mata di sudut matanya. “Dia lebih dewasa dari yang Oma kira, Mey.”

Sementara itu, di sudut lain balik tirai, Ainun tertunduk.

Ia tidak bisa berkata-kata.

Hatinya bergetar bukan karena jatuh cinta, tapi karena kagum.

“Ya Allah,” bisik Ainun dalam hati. “Lindungilah hatiku. Jika ia baik untuk agamaku, dekatkanlah. Jika tidak, jauhkanlah.”

 

Setelah kajian, tradisi desa dimulai. Jalan pagi menyusuri pematang sawah menuju sungai. Ini bukan jalan pagi biasa. Karena formasi personilnya sangat luar biasa.

Di depan: Pak Malik asyik mengobrol dengan Papa Rio—Papanya Nero—tentang potensi pertanian desa. Papa yang dulu hanya tahu tentang saham dan valas, sekarang antusias mendengar penjelasan Pak Malik soal padi apung dan sistem irigasi tradisional.

(Baru kepikiran aja namain ortu-nya Mas Nero, hehe~)

“Bapak, ini sawahnya kalau mau diperluas, butuh modal berapa?” tanya Papa serius.

“Modal niat dulu, Pak Rio. Uang belakangan,” jawab Pak Malik sambil tertawa.

Di tengah: Nero berjalan diapit oleh Ikdam dan Davi. Ikdam di kiri, Davi di kanan. Mereka seperti dua pengawal yang tidak pernah lelah bercanda.

“Woy, Ro! Pelan-pelan dong jalannya!” teriak Robby dari belakang. Ia masih pakai sandal jepit dan hampir terpeleset dua kali. “Ini kaki kota gue nggak biasa medan off-road begini! Gue kira tadi jalan pagi di aspal, taunya nyusurin sawah!”

“Manja lo, Rob!” sahut Ikdam sambil tertawa. “Liat tuh Oma Thalita aja semangat! Umur 75 masih gesit!”

Semua menoleh ke belakang.

Oma Thalita memang tampak luar biasa. Dengan kerudung kaos warna hijau pupus dan kacamata hitam model retro, Oma berjalan dengan tongkat bambu buatan Pak Malik. Langkahnya mantap. Nafasnya tidak terengah-engah.

“Oma Thalita, istirahat dulu, Ma!” teriak Mama Meysha dari belakang.

“Istirahat? Ini baru pemanasan, Mey!” jawab Oma enteng. “Dulu Oma jalan kaki 10 kilometer buat beli garam. Ini baru 500 meter.”

Semua tertawa.

Dan di belakang Oma, berjalan Ainun.

Ia mendampingi Mama Meysha yang sibuk memotret hamparan padi yang menguning.

“Ainun, Sayang... tolong fotoin Mama bareng Nero ya,” pinta Mama Meysha tiba-tiba.

Nero, yang sedang asyik bercanda dengan Ikdam, mendadak kaku.

“Ma, kenapa harus foto bareng?” protes Nero.

“Karena kamu anak Mama, dan ini pemandangan bagus. Sekarang berdiri di samping Mama!”

Nero mendekat dengan canggung. Ia berdiri di samping Mama Meysha. Jarak satu meter, terlalu jauh.

“Mendekat, Ro! Mama bukan punya penyakit menular!” omel Mama.

Nero mendekat setengah meter.

“Masih jauh!”

Akhirnya Nero mendekat hingga bahunya hampir menyentuh bahu Mama.

Ainun mengangkat ponsel.

Dari balik layar, ia melihat Nero yang tersenyum kaku. Wajahnya seperti patung kayu yang dipaksa tersenyum.

“Satu... dua... tiga... smile,” kata Ainun lirih.

Klik.

Selesai memotret, Ainun menurunkan ponsel. Namun sebelum ia sempat menyerahkan ponsel itu ke Mama Meysha, Nero berkata.

“Sekali lagi, Prof.”

Ainun mengernyit. “Untuk apa?”

“Untuk... dokumentasi desa.”

Alasan yang sangat buruk, Nero.

Ainun tersenyum kecil. Ia tahu Nero berbohong. Tapi ia tidak keberatan.

Ia mengangkat ponsel lagi.

Klik.

Kali ini, Ainun tidak segera menurunkan ponsel. Matanya menatap Nero melalui layar, seolah ingin mengabadikan bukan hanya fotonya, tapi juga rasanya.

Nero, tanpa sadar, tersenyum.

Bukan senyum kaku.

Tapi senyum tulus.

Senyum yang membuat Ainun berhenti bernapas sejenak.

(Istighfar gak lo berdua, ah elah~)

 

Perjalanan diakhiri dengan sarapan pecel di pinggir sungai.

Warga desa sudah menyiapkan tikar pandan dan nampan-nampan berisi pecel, sayur asem, rempeyek, dan sambal teri. Suasana sangat akrab. Tidak ada sekat antara warga desa dan rombongan dari Jakarta.

Robby, Kevin, dan Dika duduk melingkar di tikar. Mereka makan dengan lahap seperti orang yang baru pertama kali mencicipi pecel.

“Gila, enak banget sambalnya!” teriak Robby sambil mengipas-ngipas mulutnya. “Pedasnya nendang kayak tendangan gue ke kepala musuh dulu!”

“Sekarang lo nggak nendang-nendang lagi, Rob,” sahut Dika. “Lo sekarang rajin wudhu.”

“Iya, tapi kalau ada yang ganggu, gue tendang juga. Cuma sekarang sambil baca Bismillah.”

Semua tertawa.

Di tikar sebelah, Papa Rio dan Pak Malik asyik ngobrol soal wakaf dan zakat pertanian. Di tikar lainnya, Mama Meysha, Oma Thalita, dan Ainun duduk bertiga.

Nero dari kejauhan memperhatikan.

Ia melihat Ainun yang tersenyum saat mendengar cerita Oma. Ia melihat Ainun yang sesekali menyendok pecel ke piring Mama Meysha. Ia melihat Ainun yang mengusap sudut bibir Oma dengan tisu dengan lembut, penuh kasih, seperti anak sendiri.

“Ya Allah,” bisik Nero dalam hati. “Kalau boleh... aku ingin jadi bagian dari dunia kecilnya.”

Ikdam menyenggol lengan Nero.

“Lo liat Ainun mulu, Ro. Capek gitu matanya?”

Nero tersentak. “Nggak. Gue cuma liat pemandangan.”

“Pemandangan apa?”

“Pemandangan... sungai.”

“Sungainya di belakang lo, Ro. Mata lo ngarah ke kanan. Ke tempat Ainun duduk.”

Nero terdiam.

Ikdam tertawa kecil. “Santai, Ro. Gue doain lo sama Ainun. Cuma lo jangan cepet-cepet. Urusan hati itu nggak bisa dipaksain. Biarin Allah yang atur.”

Nero mengangguk.

Ia menatap langit desa yang biru.

Di sana, di antara gelak tawa teman-teman balapnya, kebijaksanaan Pak Malik, hangatnya keluarga, dan kehadiran Ainun yang samar-samar...

Nero merasa hidupnya benar-benar sempurna.

Bukan sempurna karena tidak ada masalah.

Tapi sempurna karena ia tahu ke mana arah hidupnya.

Ke arah Allah.

Ke arah cinta yang berkah.

Ke arah rumah yang abadi.

 

“Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.” — QS. At-Talaq: 2-3

 

1
한스Hans
semangat ya ☕
Thinker Bell ><: yetts, thanks😄👍
total 1 replies
Jeje Bobo
Nama neneknya keren pasti funky bebs
Thinker Bell ><: kan mantan sosialita kota, yang sengaja tinggal di kampung buat ngabisin sisa umur. biasa orang kaya.... 😄
total 1 replies
Jeje Bobo
Turun kasta 🫠 sedihnya untuk cm di novel yh say
Thinker Bell ><: nanti juga balik lagi kok ke kota/Shhh/
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!