Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.
Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.
Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.
Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.
Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.
Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tumbal Berikutnya
Bau tanah basah merembes dari bawah lantai, padahal lubang itu sudah tertutup rapat. Endric masih duduk di lantai dengan punggung menempel pada dinding, napasnya belum sepenuhnya stabil. Tangannya gemetar, sementara matanya terus menatap titik yang tadi sempat terbuka, seolah takut sesuatu akan muncul kembali dari sana. Sensasi dingin yang tertinggal di kulitnya belum benar-benar hilang.
“Ini belum selesai, kan?” bisiknya.
Gandhul yang duduk di depannya mengangguk pelan. Wajahnya santai, terlalu santai untuk situasi seperti ini.
“Belum.”
Endric mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba mengusir sisa panik yang masih menggantung di kepalanya.
“Bagus. Mantap. Gue suka banget sama jawaban lo.”
Gandhul terkekeh pelan, bahunya sedikit naik turun.
“Lo masih bisa bercanda. Berarti belum parah.”
Endric menatapnya tajam, rahangnya mengeras.
“Gue kalau gak bercanda, gue udah pingsan dari tadi, cok.”
Gandhul mengangguk setuju tanpa banyak komentar.
“Iya sih. Lo tipe yang kalau panik malah banyak ngomong.”
Endric menghela napas panjang, lalu memaksakan diri berdiri. Kakinya masih terasa lemas, tetapi ia menolak untuk terus duduk seperti orang kalah.
“Jadi sekarang apa?” tanyanya.
“Sekarang lo hidup seperti biasa.”
Endric menatapnya tidak percaya, alisnya berkerut dalam.
“Biasa apaan? Gue barusan hampir ditarik ke bawah lantai!”
“Ya itu bagian dari biasanya di sini.”
Endric kembali mengusap wajahnya, kali ini lebih pelan, seolah mencoba berpikir jernih.
“Gue nyesel pindah ke sini.”
“Semua juga begitu di awal,” jawab Gandhul santai.
Endric mulai berjalan mondar-mandir di ruangan. Langkahnya tidak teratur, mengikuti isi kepalanya yang semakin penuh.
“Lo bilang ada aturan, kan? Jelasin sekarang. Gue gak mau mati gara-gara gak tahu.”
Gandhul terdiam sejenak, lalu berdiri. Ia melompat ringan ke tengah ruangan, tepat di atas bekas lubang tadi, seolah tidak ada yang perlu dikhawatirkan.
“Dengar baik-baik, rek,” katanya.
Endric langsung berhenti bergerak. Perhatiannya terfokus penuh.
“Ini desa punya aturan. Semua harus patuh.”
“Kenapa?”
“Karena yang gak patuh, akan hilang.”
Endric menelan ludah. Tenggorokannya terasa kering.
“Oke. Lanjut.”
Gandhul mengangkat satu jari.
“Pertama. Jangan keluar malam.”
Endric mendengus kecil, mencoba meredakan ketegangan.
“Kenapa? Karena dingin?”
Gandhul tertawa kecil, matanya menyipit.
“Kalau cuma dingin sih enak. Masalahnya, yang keluar itu bukan cuma lo.”
Endric terdiam. Kalimat itu menggantung di kepalanya, menimbulkan bayangan yang tidak ingin ia bayangkan.
“Yang lain maksud lo...?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia hanya melirik ke arah jendela. Endric ikut menoleh. Langit masih terang, tetapi entah mengapa ia merasa malam di desa ini bukan sekadar tentang gelap.
“Pokoknya jangan keluar,” lanjut Gandhul.
Endric mengangguk pelan, meski dadanya terasa semakin sesak.
“Oke. Kedua?”
“Jangan menjawab kalau dipanggil.”
Endric langsung teringat suara tadi. Bulu kuduknya meremang.
“Termasuk yang tadi?”
“Apalagi yang tadi.”
Endric mengangguk lagi, kali ini lebih cepat.
“Ketiga?”
Gandhul mengangkat dua jari.
“Kalau warga ngajak sesuatu... hati-hati.”
Endric mengernyit, bingung sekaligus waspada.
“Hati-hati gimana?”
“Jangan langsung iya.”
Endric memiringkan kepala.
“Contoh?”
Gandhul diam sebentar, lalu berkata pelan, suaranya lebih berat dari sebelumnya.
“Kalau mereka bilang ‘tinggal aja di sini selamanya’, lo jawab apa?”
Endric langsung refleks.
“Ya gak lah, gue—”
Gandhul mengangkat tangan, menghentikannya.
“Pelan.”
Endric berhenti di tengah kalimat. Napasnya tertahan.
“Kenapa?”
“Karena kadang mereka gak tanya buat basa-basi.”
Endric merasakan sesuatu yang dingin merayap di punggungnya.
“Lo serius?”
Gandhul mengangguk.
“Serius.”
Endric menghela napas panjang, mencoba menenangkan diri.
“Ini desa atau jebakan, sih...”
“Dua-duanya,” jawab Gandhul santai.
Endric mendecak pelan.
“Lanjut. Ada lagi?”
Gandhul mengangkat jari ketiga.
“Jangan terlalu percaya sama apa yang kelihatan normal.”
Endric langsung menatapnya, sorot matanya tajam.
“Warga?”
Gandhul mengangguk.
“Mereka kelihatan biasa. Tapi gak semuanya... manusia.”
Endric membeku. Kata-kata itu seperti menancap langsung di kepalanya.
“Maksud lo?”
Gandhul tersenyum tipis.
“Lo bakal tahu nanti.”
Endric mengusap wajahnya lagi, kali ini lebih lelah daripada panik.
“Gue capek, sumpah.”
“Baru juga mulai,” jawab Gandhul.
Endric terdiam beberapa detik. Ia menatap lantai, lalu mengangkat pandangan ke arah Gandhul lagi. Ada sesuatu yang berubah dalam suaranya ketika ia bicara berikutnya.
“Lo bakal bantu gue, kan?” tanyanya pelan.
Gandhul mengangkat bahu.
“Selama gue bisa.”
“Kenapa lo mau bantu gue?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Ia menoleh ke arah jendela lagi, menatap ke luar cukup lama, sebelum akhirnya berbicara dengan nada lebih pelan.
“Karena dulu gak ada yang bantu gue.”
Endric terdiam. Suasana di antara mereka mendadak lebih berat. Namun, ia buru-buru mengalihkan, seolah tidak ingin tenggelam terlalu jauh dalam keseriusan itu.
“Soal daftar itu... gimana caranya gue bisa keluar?”
Gandhul tertawa kecil.
“Kalau gue tahu caranya, gue udah keluar dari sini duluan, cok.”
Endric mendecak kesal.
“Ya ampun...”
Tiba-tiba terdengar suara langkah di luar rumah. Pelan, tetapi jelas. Lebih dari satu orang. Endric langsung menoleh ke arah pintu. Tubuhnya kembali menegang.
“Siapa lagi sekarang...”
Gandhul langsung melompat ke arah dinding, tubuhnya menghilang dari pandangan.
“Gue ngilang dulu. Lo hadapi aja sendiri.”
Endric refleks maju setengah langkah.
“HEH, JANGAN—”
Belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Gandhul sudah lenyap. Endric berdiri kaku. Suara langkah itu berhenti tepat di depan rumah.
Tok tok
Ketukan di pintu.
Endric menelan ludah. Ia melirik ke lantai. Diam. Tidak ada ketukan dari bawah.
“Fokus,” bisiknya pada diri sendiri.
Ketukan itu terdengar lagi.
Tok tok
“Mas Endric,” suara pria tua terdengar dari luar.
Pak Wakhid.
Endric menghela napas lega, meski hanya sedikit. Ia berjalan mendekat, lalu membuka pintu. Pak Wakhid berdiri di sana dengan senyum ramah. Di belakangnya, dua pria lain berdiri dengan wajah datar.
“Mas Endric, sudah nyaman?” tanya Pak Wakhid.
“Iya, Pak,” jawab Endric, berusaha terdengar normal.
“Bagus.” Pak Wakhid melangkah sedikit lebih dekat. “Mas sudah dengar panggilan?”
Endric membeku sesaat. Jantungnya sempat melonjak, tetapi ia cepat mengendalikan ekspresinya.
“Panggilan apa, Pak?”
Pak Wakhid tersenyum lebih lebar.
“Ah, belum ya.”
Endric mengangguk.
“Belum, Pak.”
Pak Wakhid menatapnya beberapa detik, seolah menilai sesuatu yang tidak terlihat. Lalu ia mengangguk pelan.
“Bagus.”
Endric merasakan jantungnya berdetak lebih cepat.
“Bagus kenapa, Pak?”
“Berarti masih aman.”
Endric menelan ludah.
“Aman dari apa?”
Pak Wakhid tidak langsung menjawab. Ia hanya menoleh ke dua pria di belakangnya. Mereka mengangguk kecil. Lalu ia kembali menatap Endric.
“Mas nanti malam datang ke balai desa, ya.”
Endric mengernyit.
“Ada apa, Pak?”
“Perkenalan,” jawab Pak Wakhid ringan. “Biar kenal sama semua warga.”
Keraguan langsung muncul di kepala Endric. Kata-kata Gandhul terngiang jelas.
“Kalau gak datang gimana, Pak?” tanya Endric pelan.
Pak Wakhid tersenyum. Tetap ramah, tetapi kali ini ada sesuatu yang terasa berbeda.
“Sayang sekali.”
Endric merasakan tengkuknya mendingin.
“Sayang kenapa, Pak?”
Pak Wakhid mendekat sedikit lagi. Suaranya turun.
“Biasanya yang gak datang... dipanggil lebih cepat.”
Endric membeku. Waktu terasa melambat. Ia butuh beberapa detik sebelum akhirnya menjawab.
“Iya, Pak. Saya datang.”
Pak Wakhid langsung tersenyum lebar lagi.
“Bagus.” Ia menepuk bahu Endric pelan. “Jam delapan malam.”
Endric mengangguk.
“Iya, Pak.”
Pak Wakhid mundur. Dua pria di belakangnya ikut mundur. Mereka pergi tanpa menoleh lagi. Endric menutup pintu perlahan, lalu memutar kunci. Ia bersandar ke pintu, napasnya berat.
“Gue dijebak,” bisiknya.
“Ya jelas.” Suara Gandhul muncul lagi.
Endric langsung menoleh cepat.
“LO KEMANA AJA, COK?!”
Gandhul sudah duduk santai di kursi, seolah tidak terjadi apa-apa.
“Ngumpet lah. Masa iya gue ikut salam-salaman.”
Endric mengacak rambutnya dengan frustrasi.
“Lo dengar tadi?”
“Dengar.”
“Gue harus datang?”
Gandhul mengangguk.
“Harus.”
“Kalau gak?”
“Lo tahu jawabannya.”
Endric terdiam. Ia menatap lantai, lalu kembali menatap Gandhul.
“Kalau gue datang... gue bakal diapain?”
Gandhul tidak langsung menjawab. Tatapannya kali ini lebih lama, lebih dalam.
“Dikenalin.”
“Terus?”
Gandhul tersenyum tipis.
“Dilihat... cocok atau gak.”
Endric merasakan sesuatu jatuh di perutnya.
“Cocok buat apa?”
Gandhul berdiri, lalu melompat mendekat. Suaranya turun, hampir seperti bisikan yang tidak ingin didengar siapa pun.
“Buat jadi tumbal yang berikutnya.”