Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: MAHAR DI BALIK FITNAH
Lobi Rumah Sakit Medika sore itu berubah menjadi lautan manusia yang lapar akan skandal. Puluhan kamera jurnalis sudah terpasang di atas tripod, lensa-lensa panjang mereka terarah tajam ke arah lift utama layaknya moncong meriam yang siap memuntahkan peluru pertanyaan. Suasana bising oleh bisik-bisik spekulasi dan dentingan notifikasi ponsel yang terus mengabarkan berita miring tentang sang CEO dan sang Hafizah.
Di balik pintu lift yang masih tertutup di lantai sepuluh, Aaliyah Humaira berdiri dengan tubuh yang menggigil. Tangannya yang tersembunyi di balik gamis biru gelapnya meremas kain dengan kuat. Ia merasa seolah-olah sedang menuju tiang gantungan.
(Batin Aaliyah: Ya Allah... haruskah hamba melangkah keluar? Dunia di bawah sana sedang menunggu untuk menguliti kehormatan hamba kembali. Mereka tidak peduli pada air mata hamba, mereka hanya peduli pada rating dan klik. Setiap jepretan kamera nanti akan terasa seperti sayatan sembilu di wajah hamba. Zayn... pria ini gila. Mengapa dia ingin menyeret dirinya sendiri ke dalam lubang hitam yang sedang menelan hamba? Jika dia jatuh karena hamba, hamba tidak akan pernah bisa memaafkan diri hamba sendiri. Ya Rabb, berikan hamba secuil keberanian Siti Aisyah saat beliau difitnah... kuatkan lisan hamba.)
Zayn Al-Fatih berdiri tepat di sampingnya. Ia bisa mencium aroma mawar dan sedikit bau antiseptik yang melekat pada Aaliyah. Tanpa peringatan, Zayn meraih tangan Aaliyah yang sedang gemetar. Ia tidak hanya menggenggam, tapi memberikan tekanan yang mantap, seolah mengatakan bahwa ia adalah fondasi yang tak akan runtuh.
(Zayn membatin: Rasakan tanganku, Aaliyah. Jangan fokus pada kebisingan di luar sana. Fokuslah pada detak jantungku yang ada di genggamanmu. Aku tahu kau takut, aku tahu kau ingin menghilang. Tapi hari ini, aku akan menunjukkan pada mereka semua bahwa singa tidak akan membiarkan mutiaranya diinjak-injak oleh kaki-kaki kotor para penyebar fitnah. Mereka ingin drama? Aku akan berikan mereka kebenaran yang akan membungkam mulut mereka selamanya. Aaliyah... kau bukan lagi pelarian bagiku. Kau adalah tujuanku.)
"Tarik napas, Aaliyah. Saat pintu ini terbuka, tatap mataku jika kau merasa duniamu berputar. Aku tidak akan membiarkanmu jatuh," bisik Zayn, suaranya rendah namun penuh wibawa.
Ting.
Pintu lift terbuka. Seketika, kilatan lampu flash kamera menyerbu mereka bagaikan badai petir. Suara teriakan wartawan yang saling berebut posisi memenuhi lobi yang luas itu.
"Tuan Zayn! Apa hubungan Anda dengan Nona Aaliyah sebenarnya?"
"Nona Aaliyah, apakah benar Anda bersembunyi di rumah sakit ini sebagai simpanan Tuan Zayn?"
"Tuan Zayn, bagaimana dengan nasib saham Al-Ghifari Group setelah skandal ini?"
Zayn melangkah keluar dengan dagu terangkat, matanya yang dingin menyapu kerumunan itu dengan tatapan yang sanggup membekukan udara. Ia tidak melepaskan tangan Aaliyah. Ia menuntunnya menuju sebuah meja darurat yang sudah disiapkan di tengah lobi.
Di sudut lobi, tersembunyi di balik pilar besar, pria berjas abu-abu—yang kini kita ketahui bernama Sutan—tersenyum puas sambil memegang ponselnya. Ia memberikan isyarat kepada seorang wanita paruh baya yang berpakaian sangat sederhana untuk maju ke tengah kerumunan.
(Batin Sutan: Majulah, bidak kecilku. Hancurkan mereka dengan air mata palsumu. Begitu wanita ini mengaku sebagai 'saksi mata' bahwa Zayn dan Aaliyah sering menginap di hotel yang sama di Singapura, karir Zayn akan tamat dan Aaliyah akan dianggap sebagai wanita penghibur ber-niqab. Kehancuran kalian akan menjadi mahakarya terbaikku pagi ini.)
Wanita suruhan Sutan itu tiba-tiba merangsek maju dan berteriak, "Bohong! Mereka semua pembohong! Saya adalah mantan pelayan di hotel Singapura tempat mereka menginap! Saya melihat sendiri mereka keluar masuk kamar yang sama! Jangan tertipu dengan pakaian sucinya!"
Kerumunan wartawan seketika heboh. Kamera-kamera kini terarah pada wanita tersebut.
Aaliyah merasa kakinya lemas. Dunianya benar-benar berputar. (Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah! Fitnah apalagi ini? Hamba bahkan tidak pernah keluar dari apartemen Zayn selama di Singapura! Siapa wanita itu? Mengapa dia begitu tega mengarang cerita sekeji itu demi uang? Perih... Ya Rabb, rasanya hamba ingin bumi terbelah dan menelan hamba sekarang juga! Lihatlah tatapan orang-orang itu... mereka mulai percaya pada wanita itu!)
Namun, Zayn justru tertawa kecil. Tawa yang sangat pendek, kering, dan penuh penghinaan. Ia mendekati mikrofon.
"Saksi yang menarik," ucap Zayn dengan nada santai yang mematikan. "Ben, tunjukkan pada mereka siapa wanita ini sebenarnya."
Asisten Zayn, Ben, segera memutar sebuah video di layar besar yang ada di lobi. Video itu menunjukkan wanita tersebut sedang menerima amplop tebal dari Sutan di sebuah gang sempit beberapa jam yang lalu. Tidak hanya itu, Ben juga menunjukkan data identitas wanita tersebut yang ternyata adalah seorang aktris figuran yang sering dibayar untuk membuat kerusuhan.
Suasana lobi mendadak sunyi. Wanita itu gemetar dan mencoba melarikan diri, namun pengawal Zayn sudah mencekal lengannya.
"Permainan murahan," desis Zayn. Ia kembali menatap para jurnalis. "Kalian ingin tahu apa hubungan saya dengan Aaliyah Humaira? Kalian ingin tahu mengapa saya melindunginya dengan seluruh kekuatan perusahaan saya?"
Zayn menoleh ke arah Aaliyah. Ia meraih tangan kanan Aaliyah, lalu dari saku jasnya, ia mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah cincin berlian dengan ukiran kaligrafi yang sangat halus.
(Zayn membatin: Inilah saatnya. Aku tidak pernah membayangkan akan melamar wanita di depan ratusan kamera, tapi demi kehormatanmu, aku akan melakukan apa saja. Aaliyah... maafkan aku jika ini terkesan mendadak, tapi aku ingin seluruh dunia tahu bahwa aku tidak melindungimu karena nafsu, tapi karena kau adalah calon ibu dari anak-anakku kelak. Kau adalah mahar terindah yang dikirimkan Tuhan untuk mencairkan hatiku yang beku.)
Zayn berlutut dengan satu kaki di depan Aaliyah. Lobi rumah sakit itu mendadak sunyi sesunyi kuburan. Para wartawan bahkan lupa untuk bernapas.
"Aaliyah Humaira," suara Zayn bergema, jernih dan penuh emosi. "Di depan ayahmu yang sedang berjuang di dalam sana, dan di depan seluruh pasang mata yang menyaksikan hari ini... aku ingin menyatakan bahwa tidak pernah ada skandal di antara kita. Yang ada hanyalah rasa hormat dan janji suci."
Zayn menarik napas panjang. "Maukah kau menjadi permaisuri di hidupku? Maukah kau menjadi istriku dan membantuku membangun kembali pesantren Al-Azhar sebagai mahar dariku? Aku melamarmu hari ini, dengan restu ayahmu yang sudah kuterima secara pribadi di dalam sana."
DEGG!
Jantung Aaliyah terasa seperti berhenti berdetak. Ia menatap Zayn dengan mata yang membelalak sempurna di balik niqabnya. Air matanya jatuh tanpa permisi.
(Batin Aaliyah menjerit: Zayn?! Apa yang kau lakukan? Kau melamarku... di depan semua orang ini? Kau ingin menikahiku... seorang wanita yang namanya sudah hancur? Ya Allah... hamba tidak bermimpi kan? Pria yang dulu menyebut hamba 'bau kemiskinan', kini berlutut memohon hamba untuk menjadi istrinya. Maharnya... pembangunan kembali pesantren Ayah? Air mata hamba ini... bukan lagi air mata duka, tapi air mata syukur yang tak terhingga. Engkau kirimkan singa untuk menjaga hamba, dan kini singa itu ingin menjadi rumah bagi hamba.)
Aaliyah tidak bisa menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk pelan, kepalanya tertunduk malu namun hatinya dipenuhi bunga-bunga kebahagiaan yang mulai bermekaran di tengah reruntuhan fitnah.
Zayn berdiri, ia menyematkan cincin itu di jari manis Aaliyah. Kemudian, ia berbalik menghadap kamera.
"Mulai hari ini, siapa pun yang memfitnah Aaliyah Humaira, berarti dia memfitnah istri dari Zayn Al-Fatih. Dan saya tidak akan segan-segan menyeret kalian ke pengadilan internasional untuk setiap kata buruk yang kalian ucapkan. Konferensi pers selesai!"
Zayn merangkul bahu Aaliyah dan menuntunnya kembali masuk ke dalam lift, meninggalkan para jurnalis yang masih ternganga.
Di sudut lobi, Sutan membanting ponselnya ke lantai hingga hancur. Wajahnya merah padam oleh amarah. Rencananya berantakan total.
(Batin Sutan: Sialan kau, Zayn! Kau menggunakan pernikahan sebagai perisai! Kau pikir kau sudah menang? Tidak! Dengan menikahi wanita itu, kau justru memberikan aku lebih banyak celah untuk menghancurkanmu. Pernikahan seorang CEO dan buronan fitnah... itu adalah skandal abadi yang akan terus kugoreng sampai kalian berdua hangus! Kita lihat saja, siapa yang akan tertawa di malam pengantin kalian nanti!)
Di dalam lift, Aaliyah masih terdiam, menatap cincin yang melingkar di jarinya. Ia merasa seolah-olah beban ribuan ton yang menindih pundaknya baru saja diangkat secara ajaib.
"Zayn... kenapa?" tanya Aaliyah lirih setelah pintu lift tertutup.
Zayn menatap Aaliyah, matanya kini tidak lagi dingin. "Kenapa apa? Kenapa aku melamarmu?"
"Kenapa Anda mempertaruhkan segalanya untuk saya? Saya tidak punya apa-apa untuk diberikan pada Anda."
Zayn memegang kedua tangan Aaliyah. "Kau memberiku sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang, Aaliyah. Kau memberiku kedamaian saat aku menatap matamu. Dan kau memberiku alasan untuk menjadi orang baik. Jangan panggil aku 'Tuan' atau 'Anda' lagi. Panggil namaku saja."
(Zayn membatin: Aku melakukannya karena aku mencintaimu, bodoh. Tapi biarlah waktu yang akan mengatakannya padamu secara perlahan. Hari ini, aku hanya ingin kau tahu bahwa kau aman. Kau tidak akan pernah sendirian lagi. Kita akan pulang ke Al-Azhar, dan kita akan menunjukkan pada dunia bahwa cinta yang dibangun di atas pondasi iman dan kebenaran tidak akan pernah goyah oleh badai sekeras apa pun.)
Aaliyah menunduk, pipinya merona merah yang tak terlihat di balik kain. "Terima kasih... Zayn."
Malam itu, berita tentang lamaran spektakuler Zayn Al-Fatih menjadi trending topic nomor satu di seluruh dunia. Fitnah yang tadinya berbau busuk, kini berubah menjadi kisah cinta yang sangat romantis di mata publik. Namun, mereka tidak tahu bahwa di balik lamaran itu, Zayn dan Aaliyah sedang mempersiapkan rencana besar untuk membongkar siapa sosok Sutan yang sebenarnya—sang arsitek kehancuran keluarga mereka.
Perang baru saja dimulai, tapi kali ini, mereka tidak lagi bertarung sebagai dua orang asing. Mereka bertarung sebagai satu kesatuan jiwa.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji