NovelToon NovelToon
Kekasih Yang Tak Akur

Kekasih Yang Tak Akur

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Romantis
Popularitas:314
Nilai: 5
Nama Author: I Putu Merta Ariana

Nono dan Ayu adalah sepasang kekasih yang unik. Mereka sering bertengkar soal hal-hal kecil—mulai dari soal baju, jalan mana yang lebih cepat, sampai soal makanan. Tetangga bilang mereka kayak air dan minyak, nggak pernah akur. Tapi siapa sangka, di balik setiap pertengkaran dan perdebatan, tersimpan rasa sayang yang besar dan perhatian yang tulus. Bagaimana kisah mereka bertahan dan tetap bersama meski sering beda pendapat?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon I Putu Merta Ariana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kabar Bahagia dan Persiapan yang Penuh Warna

Berita lamaran Nono dan Ayu secepat kilat menyebar ke seluruh keluarga dan teman-teman terdekat mereka. Reaksi yang datang pun luar biasa hangat dan penuh sukacita. Semua orang yang mengenal mereka merasa sangat bahagia dan tidak terkejut. Mereka tahu, meskipun Nono dan Ayu sering bertengkar dan sering beda pendapat, ikatan cinta di antara mereka begitu kuat dan nyata.

"Alhamdulillah, akhirnya ya, Nak! Ibu senang banget dengarnya," ucap Ibu Ayu sambil memeluk anak dan calon menantunya dengan mata berkaca-kaca saat mereka memberitahu kabar itu di rumah Ayu. "Ibu tahu kok, kalian berdua saling sayang banget. Walaupun sering ribut, tapi Ibu lihat kalian selalu saling melengkapi."

Nono tersenyum lebar sambil menunduk hormat. "Makasih banyak ya, Bu. Aku janji bakal selalu jagain Ayu dan bikin dia bahagia selamanya. Aku nggak bakal nyeselin Ibu."

Ayu yang berdiri di samping Nono pun tersenyum bahagia, pipinya merona merah muda. "Makasih ya, Bu. Kami juga senang banget akhirnya bisa punya kepastian ini."

Sementara itu, di keluarga Nono, sambutannya pun tak kalah meriah. Ayah Nono menepuk bahu anaknya dengan bangga. "Bagus, Nono. Kamu udah jadi laki-laki yang dewasa sekarang. Ingat ya, menikah itu bukan cuma soal cinta, tapi soal tanggung jawab dan komitmen. Aku yakin kamu bisa jagain Ayu baik-baik."

"Tentu, Yah. Aku janji," jawab Nono tegas.

 

Hari-hari berikutnya pun dipenuhi dengan kesibukan baru yang sangat menyenangkan: mempersiapkan pernikahan mereka. Seperti yang sudah diduga, mempersiapkan hari bahagia ini justru menjadi ladang baru bagi perdebatan-perdebatan kecil yang khas dari mereka. Mulai dari soal tema pernikahan, warna dekorasi, daftar tamu, sampai menu makanan, semuanya menjadi bahan diskusi yang seru—dan kadang sedikit panas.

"Yu, aku bilang tuh undangannya jangan terlalu banyak dulu. Kan kita lagi fokus buka cabang juga, biar pengeluarannya nggak terlalu besar. Undang keluarga dekat dan teman-teman dekat aja udah cukup," kata Nono sambil melihat daftar tamu yang ditulis Ayu di buku catatan. Wajahnya sedikit keriting melihat jumlah nama yang cukup panjang.

Ayu langsung menoleh dengan tatapan tajam. "Eh, jangan ngomong sembarangan dong, No! Pernikahan kan cuma sekali seumur hidup. Masa iya aku nggak undang teman-teman SMP aku, atau tetangga lama yang udah kenal kita dari kecil? Mereka pasti kecewa kalau nggak diundang. Lagian, kan ini juga momen bahagia yang mau kita bagi sama semua orang yang sayang sama kita," seru Ayu, tangannya menolak pendapat Nono dengan tegas.

Nono tertawa sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ya ampun, Yu. Aku cuma nawarin aja kok biar kamu nggak terlalu capek ngerjain semuanya. Iya deh, iya deh. Undang siapa aja yang kamu mau. Aku sih cuma ikut aja. Puas Tuan Putri?"

Ayu mendengus, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyum kecil. "Hmph, baru tahu kamu. Dasar keras kepala. Untungnya aku yang ngatur bagian daftar tamu, kalau kamu, bisa-bisa acaranya cuma dihadiri sama kita berdua sama orang tua."

Mereka pun tertawa bersama. Di tengah kesibukan yang melelahkan, momen-momen seperti ini justru menjadi penyegar. Mereka sadar, perbedaan pendapat mereka justru membuat persiapan ini menjadi lebih berwarna dan tidak membosankan.

Selain soal daftar tamu, perdebatan soal dekorasi juga tak kalah serunya. Ayu menginginkan dekorasi yang penuh dengan bunga-bunga segar berwarna putih dan pink muda yang lembut, menciptakan suasana yang romantis dan feminin. Sementara itu, Nono lebih suka dekorasi yang simpel, elegan, dan tidak terlalu ramai, dengan sentuhan warna biru dan kayu yang hangat.

"Yu, kalau bunganya terlalu banyak dan warnanya terlalu mencolok, nanti malah kelihatan sumpek lho. Bagusnya dikit aja, yang penting rapi dan bersih," kata Nono saat mereka sedang melihat katalog dekorasi.

"Eh, kamu ngerti apa soal dekorasi pernikahan! Bunga itu kan simbol kebahagiaan dan keindahan. Kalau dikit, nanti kelihatan kosong dan garing. Kamu tuh ya, selera kamu itu-itu aja yang kaku," balas Ayu ketus, tapi matanya berbinar penuh canda.

Akhirnya, seperti biasa, mereka menemukan jalan tengah. Mereka memutuskan untuk menggabungkan kedua ide itu. Dekorasi akan menggunakan bunga-bunga segar yang indah seperti yang diinginkan Ayu, tapi dipadukan dengan perabotan kayu yang hangat dan warna-warna yang tidak terlalu mencolok seperti saran Nono. Hasilnya? Sangat indah, seimbang, dan mencerminkan kepribadian mereka berdua yang saling melengkapi.

Sore itu, setelah selesai berdiskusi soal baju pengantin yang tentu saja juga diwarnai dengan perdebatan kecil, mereka duduk santai di teras rumah Nono. Angin sore bertiup sejuk, membawa suasana yang tenang.

"Yu," panggil Nono pelan sambil menatap Ayu.

Ayu menoleh. "Kenapa, No?"

Nono meraih tangan Ayu dan menggenggamnya erat. "Aku nggak sabar nunggu hari pernikahan kita tiba. Bayangin aja, nanti kita bakal resmi jadi suami istri, bakal tinggal bareng-bareng, dan bakal terus nulis cerita kita bareng-bareng selamanya. Aku senang banget."

Ayu tersenyum lebar, matanya berkaca-kaca karena terharu. "Aku juga, No. Aku nggak sabar pengen jadi istri kamu. Aku janji, meskipun nanti kita bakal terus berantem soal hal-hal kecil, aku bakal selalu sayang sama kamu dan selalu ada di samping kamu."

Nono tertawa bahagia. "Itu baru Tuan Putri aku. Cinta kita emang unik, tapi itu yang bikin kita jadi kita. Dan aku nggak mau tuker sama apa pun di dunia ini."

Mereka pun saling memandang dengan penuh cinta. Di hati mereka, rasa syukur dan bahagia meluap-luap. Mereka tahu, perjalanan menuju hari pernikahan masih ada beberapa langkah lagi, dan pasti masih ada banyak hal yang harus disiapkan. Tapi mereka juga yakin, selama mereka berdua saling bergandengan tangan, saling mengerti, dan saling menyayangi, semuanya akan berjalan dengan lancar dan indah.

1
Ayu Suryani
Bagus Banget Kak🥰
Ayu Suryani
Bagus kak😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!