NovelToon NovelToon
SI IMUT MAFIA

SI IMUT MAFIA

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Cinta Seiring Waktu / Action
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Saerin853

Di dunia ini, ada aturan yang tidak tertulis namun absolut: Terang tidak akan pernah bisa bersatu dengan gelap, dan nyawa seorang mafia tidak akan pernah bisa terlepas dari belenggu keluarganya.

Bagi Kaelan, aturan itu adalah kutukan.

Di dalam ruang rapat utama kediaman klan, yang dihiasi lampu gantung kristal senilai ratusan juta, udara terasa mencekik. Lima pria tua dengan jas rapi duduk mengelilingi meja mahoni panjang. Mereka adalah para Tetua—urat nadi dari bisnis gelap yang Kaelan pimpin. Di atas meja, tergeletak sebuah foto wanita bergaun sutra merah dengan senyum anggun yang memuakkan.

"Isabella dari klan Vivaldi. Cantik, penurut, dan yang paling penting... dia akan memperkuat aliansi bisnis senjata kita di Eropa, Kaelan," ucap salah satu Tetua dengan suara seraknya yang penuh tuntutan. "Pernikahan kalian akan dilangsungkan bulan depan. Tidak ada penolakan."

Kaelan bersandar di kursi kebesarannya. Mata elangnya menatap foto itu d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saerin853, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 6

Ruang bawah tanah penthouse Kaelan sama sekali tidak terlihat seperti gudang gelap yang pengap. Saat pintu lift terbuka, Anya disambut oleh sasana olahraga pribadi berskala profesional. Lampu LED putih menerangi deretan samsak tinju, alat angkat beban, dan sebuah ring segi empat berstandar MMA di tengah ruangan.

Anya yang sudah mengganti pakaiannya dengan celana training hitam dan sports bra yang dilapisi kaus singlet kedodoran, bersiul pelan. "Wow. Apa kau juga menyewakan tempat ini untuk member gym? Bisa jadi bisnis sampingan yang menjanjikan, Tuan Mafia."

Kaelan tidak menjawab. Pria itu sedang berdiri di sudut ring, membelakangi Anya. Ia telah menanggalkan kausnya, membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos suhu ruangan yang dingin.

Langkah Anya terhenti. Matanya membulat menatap punggung lebar Kaelan. Otot-ototnya terbentuk sempurna bak pahatan patung Yunani, namun bukan itu yang membuat napas Anya tercekat. Di punggung dan bahu pria itu, membentang beberapa bekas luka sayatan memanjang dan satu bekas luka tembak yang sudah memudar di tulang belikat kirinya.

Itu adalah bukti bisu bahwa Kaelan tidak mendapatkan posisi Ketua Klan hanya dengan duduk manis di balik meja. Ia benar-benar hidup dalam kekerasan.

Kaelan berbalik, sedang melilitkan perban tinju (handwrap) hitam di buku-buku jarinya. Ia menangkap tatapan terpaku Anya.

"Menyesal menandatangani kontraknya sekarang, Preman Pasar?" sindir Kaelan dengan suara beratnya, melompat ringan melewati tali ring.

Anya berdehem, buru-buru membuang muka untuk menyembunyikan rona merah yang tiba-tiba menjalar di pipinya. "Satu miliar tetap satu miliar. Lagipula, aku pernah melihat luka yang lebih parah di pasar ikan. Bekas lukamu itu... lumayan edgy."

Kaelan melemparkan sepasang perban tinju ke arah Anya yang langsung ditangkap gadis itu dengan sigap. "Naik. Lilitkan itu di tanganmu. Aku ingin lihat seberapa lama kau bisa bertahan dariku."

Anya mendengus menantang. Ia melilitkan perban itu dengan cekatan—sebuah kebiasaan lama saat ia sering terlibat tawuran jalanan semasa SMA. Ia menyusul Kaelan naik ke atas ring, melompat-lompat kecil di atas matras kanvas untuk memanaskan tubuhnya.

"Aturannya?" tanya Anya, memasang kuda-kuda bertarung yang sedikit urakan namun kokoh.

"Tidak ada aturan," jawab Kaelan dingin, memasang kuda-kuda Krav Maga yang presisi dan mematikan. "Serang aku dengan niat membunuh. Karena musuh-musuh keluargaku di luar sana tidak akan menahan diri saat melihatmu."

Mata Anya menyipit. "Jangan menangis kalau hidung mancungmu itu patah, Bos."

Tanpa peringatan, Anya melesat maju. Ia melayangkan pukulan hook kanan yang sangat cepat ke arah rahang Kaelan. Pukulannya bertenaga, dilatih dari bertahun-tahun meninju samsak beras di belakang bar.

Namun, bagi Kaelan, gerakan Anya terlalu mudah dibaca. Dengan gerakan minimal, Kaelan menunduk, menghindari tinju itu dengan selisih beberapa milimeter, lalu menepuk keras pinggang Anya yang terbuka.

"Terlalu lebar," kritik Kaelan datar. "Kau membuang banyak tenaga untuk satu ayunan. Jika aku musuhmu, tulang rusukmu sudah patah sekarang."

Anya mendecak kesal. Ia kembali menyerang, kali ini dengan kombinasi jab dan tendangan rendah ke arah lutut. Pertarungan jalanan telah mengajari Anya untuk bertarung kotor. Namun lagi-lagi, Kaelan menangkis dan menghindar dengan sangat mudah, seolah ia bisa membaca pikiran gadis itu.

Suara napas Anya mulai memburu. Keringat membasahi dahi dan lehernya, membuat kaus singletnya menempel pada kulit. Ia benci diremehkan, apalagi oleh pria menyebalkan bermulut pedas ini.

"Kau hanya bisa menghindar, hah?!" ejek Anya, memancing emosi Kaelan.

"Kau yang memintanya."

Kaelan tiba-tiba mengubah tempo. Pria itu memangkas jarak dalam sekejap mata. Anya terkesiap, secara refleks menyilangkan lengan untuk menangkis pukulan Kaelan, tapi pukulan itu hanyalah tipuan.

Kaki Kaelan menyapu pergelangan kaki Anya dengan cepat. Keseimbangan Anya hilang. Sebelum punggung gadis itu menghantam matras, tangan besar Kaelan meraih kerah kaus Anya, menariknya, memutarnya di udara, dan membantingnya ke kanvas dengan gerakan terkunci.

Bruk!

Udara seolah terpompa keluar dari paru-paru Anya. Ia terengah, matanya melebar.

Kini, Kaelan berada tepat di atasnya. Pria itu mengunci kedua pergelangan tangan Anya di atas kepala gadis itu hanya dengan satu tangan, sementara sebelah kakinya menahan pergerakan kaki Anya. Mereka terkunci dalam posisi yang sangat intim.

Dada telanjang Kaelan yang naik-turun karena napasnya yang teratur, menempel erat pada tubuh Anya. Keringat pria itu menetes perlahan, jatuh tepat di tulang selangka Anya. Jarak wajah mereka kini nol sentimeter. Anya bisa merasakan embusan napas hangat Kaelan yang beraroma mint dan kopi menerpa wajahnya.

Suasana ring tinju yang tadinya penuh dengan adrenalin pertarungan, mendadak berubah menjadi lautan ketegangan yang sama sekali berbeda.

Anya menelan ludah dengan susah payah. Mata cokelatnya terkunci pada mata hitam legam Kaelan yang menatapnya dengan intensitas yang membuat jantung Anya seakan mau meledak. Ini bukan ketakutan. Ini adalah sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

"Preman pasar yang tangguh," bisik Kaelan, suaranya sangat rendah dan serak, mengalun tepat di telinga Anya hingga membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Gayamu liar, berani, tapi penuh celah. Serangan membabi buta tidak akan menyelamatkanmu dari peluru."

Anya mencoba meronta, tapi cengkeraman Kaelan terlalu kuat. Gadis tomboy yang tidak pernah mau kalah itu menggigit bibir bawahnya, menatap Kaelan dengan sorot keras kepala meski wajahnya kini sudah semerah tomat.

"L-lepaskan aku, Kaelan," geram Anya tertahan. "Atau aku gigit lehermu."

Alih-alih marah, Kaelan justru tersenyum. Senyum miring yang sangat tampan dan sangat brengsek. Ibu jarinya yang bebas terangkat, mengusap pelan bibir bawah Anya yang sedang digigit gadis itu sendiri, memintanya untuk melepaskan gigitan itu. Sentuhan ibu jari yang kasar itu mengirimkan sengatan listrik ke seluruh saraf Anya.

"Mulai hari ini," Kaelan menatap bibir Anya, lalu perlahan kembali menatap matanya. "Aku sendiri yang akan melatihmu setiap pagi. Aku akan mengajarimu cara membunuh, cara bertahan hidup, dan..."

Kaelan melepaskan kunciannya, menyingkir dari atas tubuh Anya, dan berdiri tegak, kembali memasang topeng mafia dinginnya seolah momen mendebarkan barusan tidak pernah terjadi. Ia mengulurkan tangannya pada Anya.

"...cara menjadi istri seorang Mafia yang tidak bisa disentuh oleh siapa pun."

Anya masih terbaring di matras selama beberapa detik, mengatur napas dan detak jantungnya yang kacau balau. Ia menatap tangan besar yang terulur padanya, lalu menatap wajah Kaelan. Sialan. Memasuki dunia pria ini ternyata jauh lebih mematikan bagi kewarasannya daripada yang ia bayangkan.

Dengan setengah bersungut-sungut, Anya menyambut uluran tangan itu dan menarik dirinya berdiri.

"Baik, Suamiku," jawab Anya, kembali memakai nada tengilnya untuk menutupi kegugupannya. "Siapkan saja asuransi kesehatanmu. Karena besok pagi, aku pastikan hidungmu itu yang akan mencium matras."

1
supermine
💪
supermine
🤭
supermine
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!