NovelToon NovelToon
Kuroda-san No Himitsu

Kuroda-san No Himitsu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:89
Nilai: 5
Nama Author: virgilius theodoro

menceritakan dua orang yang ingin bebas dari takdir mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon virgilius theodoro, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

BAB 11: Luka di Balik Kelopak Mawar

Siang itu, Tokyo tampak begitu tenang, namun bagi Hana Asuka, ketenangan itu terasa mencekik. Kaito Shimada, dengan senyum paksa yang menyembunyikan rasa frustrasi akibat anjloknya saham keluarganya, memaksa Hana untuk pergi ke Shinjuku Gyoen. Taman bunga mawar sedang bermekaran, menebarkan aroma manis yang seharusnya menenangkan, namun bagi Hana, setiap langkah di samping Kaito terasa seperti berjalan di atas duri.

Kaito terus mengoceh tentang rencana pemulihan bisnis, suaranya terdengar jauh dan tidak berarti. Hana hanya diam, matanya kosong menatap hamparan mawar merah yang bergoyang tertiup angin. Pikirannya masih tertinggal di apartemen semalam—pada kehangatan Ren dan kekejaman kata-kata ayahnya yang masih terngiang, menanyakan apakah malam itu "enak".

Saat mereka sampai di tepi danau yang jernih, langkah Kaito tiba-tiba terhenti. Tubuhnya menegang.

Di sana, bersandar pada pagar kayu tua dengan gaya yang sangat santai namun berbahaya, berdiri seorang pria. Aurelius Renzo. Ia tidak lagi mengenakan jas formal. Kali ini, ia hanya mengenakan kaos hitam tanpa lengan yang memperlihatkan tato kecil di pangkal lengannya dan otot yang kokoh. Di sela jarinya, sebatang rokok menyala, asapnya tipis terbawa angin danau.

Aurelius mematikan rokoknya di bawah sepatu boot-nya saat melihat mereka. Ia melangkah menghampiri dengan tatapan yang langsung mengunci Hana, mengabaikan eksistensi Kaito sepenuhnya.

"Tuan... Tuan Aurelius," suara Kaito bergetar. Ia membungkuk, mencoba menunjukkan loyalitas setelah gertakan Maximilian semalam. "Sungguh kebetulan bertemu Anda di sini."

Aurelius tidak membalas sapaan itu. Ia berhenti tepat di depan mereka, aura dominasinya menyapu taman bunga mawar itu seperti badai. Matanya yang tajam menatap Kaito dengan kedinginan yang mutlak.

"Aku tidak butuh basa-basi, Shimada," ucap Aurelius, suaranya rendah namun penuh penekanan. "Aku ingin meminjam Hana lagi untuk hari ini. Ada dokumen yang belum selesai dia tandatangani semalam."

Kaito tersentak. Ia melirik Hana, lalu kembali pada Aurelius. Ada rasa cemburu yang membakar, namun ketakutan akan kehancuran total keluarganya jauh lebih besar. Ia tahu bahwa membantah Aurelius berarti menandatangani surat kebangkrutan Shimada Global sore ini juga.

"Tentu... tentu saja, Tuan Muda," jawab Kaito dengan anggukan pasrah yang memuakkan. "Hana, pergilah. Jangan buat Tuan Aurelius menunggu."

Tanpa sepatah kata pun, Aurelius meraih pergelangan tangan Hana. Cengkeramannya tidak kasar, namun sangat posesif. Ia menarik Hana menjauh, meninggalkan Kaito yang berdiri sendirian di tengah taman mawar dengan harga diri yang hancur.

Aurelius membawa Hana menuju Bugatti La Voiture Noire yang terparkir di jalur khusus. Ia membukakan pintu untuk Hana, lalu masuk ke kursi kemudi. Mobil itu melesat membelah jalanan Tokyo dengan kecepatan yang membuat jantung Hana berdegup kencang. Sepanjang perjalanan, Aurelius tidak bicara. Rahangnya mengeras, dan matanya hanya fokus pada jalanan di depan.

Sesampainya di depan gedung apartemen pribadinya, Aurelius mematikan mesin. Ia keluar lebih dulu, memutari mobil, dan membuka pintu untuk Hana. Namun, sebelum Hana sempat melangkah keluar, Aurelius menunduk.

Tanpa peringatan, ia menyusupkan lengannya di bawah lutut dan punggung Hana, mengangkat tubuh wanita itu dalam satu gerakan cepat.

"Ren-san! Aku bisa berjalan sendiri," bisik Hana terkejut.

"Diamlah," jawab Aurelius singkat.

Ia menggendong Hana melewati lobi pribadi, mengabaikan tatapan hormat dari para staf keamanan. Di dalam lift, Aurelius tidak melepaskan Hana. Ia mendekapnya erat, seolah takut jika ia melepaskannya, Hana akan menghilang.

Begitu pintu apartemen terbuka dan Yoto sudah tidak terlihat di sana, Aurelius langsung menyudutkan Hana ke dinding di samping pintu. Ia mencium Hana dengan intensitas yang lebih dalam dari semalam—sebuah ciuman yang penuh dengan rasa ingin memiliki dan kemarahan yang tertahan terhadap dunia yang mencoba menyakiti wanita ini.

Aurelius kemudian melepaskan ciumannya, matanya menggelap karena gairah. Ia kembali menggendong Hana menuju kamar utama, tempat mereka menghabiskan malam panjang sebelumnya. Ia merebahkan Hana di atas ranjang sutra hitam, menindihnya dengan lembut, dan bersiap untuk kembali menciumi leher Hana.

Namun, saat bibir Aurelius menyentuh kulit halus Hana, ia merasakan tubuh wanita itu menegang. Tidak ada respons hangat seperti semalam.

Aurelius berhenti. Ia mengangkat kepalanya dan menatap wajah Hana.

Di sana, di bawah cahaya lampu kamar yang temaram, ia melihat mata Hana yang berkaca-kaca. Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya tumpah, mengalir melewati pelipisnya menuju bantal. Wajah Hana tampak begitu rapuh, seolah jiwanya sedang berada di tempat yang sangat jauh dan menyakitkan.

Aurelius terdiam. Hasrat yang tadi membara di dadanya seketika padam, digantikan oleh rasa sesak yang aneh. Ia perlahan melepaskan tangannya dari pinggang Hana dan duduk di tepi ranjang, menjauhkan dirinya.

Hana tersentak. Ia menghapus air matanya dengan punggung tangan, suaranya bergetar saat ia bertanya, "Kenapa... kenapa kau berhenti? Kenapa kau tidak melanjutkannya?"

Aurelius membelakangi Hana, bahunya yang lebar tampak tegang. Ia menarik napas panjang sebelum menjawab. "Karena kau tampak tidak baik-baik saja, Hana. Kau sedang menangis."

"Bukankah itu yang kau inginkan? Bukankah itu yang dunia inginkan dariku?" Hana bangun dan duduk di belakang Aurelius, suaranya pecah oleh isak tangis. "Ayahku semalam menanyakan apakah bersamamu rasanya 'enak'. Dia tidak peduli perasaanku, dia hanya ingin aku memuaskanmu agar bisnisnya aman. Kaito juga menyerahkanku padamu seperti barang pinjaman. Jadi silakan, lanjutkan. Lakukan tugasmu sebagai pria yang meminjamku."

Mendengar itu, Aurelius berbalik dengan cepat. Matanya berkilat penuh amarah, bukan pada Hana, melainkan pada kenyataan pahit yang baru saja ia dengar. "Ayahmu menanyakan hal itu padamu?"

Hana mengangguk pelan, air mata kembali mengalir deras. "Aku merasa kotor, Ren. Aku merasa seperti tidak punya harga diri lagi di depan keluargaku sendiri."

Aurelius merangkak kembali ke atas ranjang, namun kali ini ia tidak mencium Hana dengan gairah. Ia menarik Hana ke dalam pelukannya, menyandarkan kepala Hana di dadanya yang bidang. Ia mengelus rambut Hana dengan sangat lembut, memberikan perlindungan yang tidak pernah Hana dapatkan dari siapa pun.

"Dengarkan aku," bisik Aurelius, suaranya kini kembali menjadi suara Ren yang penuh kasih. "Aku bukan mereka. Aku meminjammu dari Kaito bukan untuk merendahkanmu, tapi untuk menjauhkanmu dari mereka. Jika kau berpikir aku menyentuhmu hanya sebagai transaksi, maka kau salah besar."

Aurelius melepaskan pelukannya sebentar, memegang kedua bahu Hana agar wanita itu menatap matanya. "Aku berhenti karena aku tidak akan pernah menyentuh wanita yang hatinya sedang terluka, bahkan jika wanita itu adalah milikku. Aku ingin kau di sini karena kau merasa aman, bukan karena kau merasa dipaksa oleh keadaan."

Hana tertegun. Ia menatap mata Aurelius yang dalam, mencari kebohongan di sana, namun yang ia temukan hanyalah kejujuran yang tulus. "Tapi semua orang menganggapku pelacur korporatmu, Aurelius..."

"Biarkan mereka bicara apa pun," desis Aurelius tajam. "Aku akan mengurus ayahmu. Aku akan memastikan dia menyesal karena telah mengucapkan kata-kata itu padamu. Dan untuk saat ini..." Aurelius menarik selimut untuk menutupi tubuh Hana, lalu ia sendiri berbaring di sampingnya, hanya memeluknya dari belakang.

"Untuk saat ini, tidurlah. Kau tidak perlu melayaniku. Kau hanya perlu menjadi Hana yang kukenal di bengkel Ota. Di kamar ini, kau bukan alat bisnis siapa pun. Kau adalah wanitaku."

Hana merasakan kehangatan yang menjalar di hatinya. Rasa sakit dan hina yang ia rasakan sejak semalam perlahan memudar, digantikan oleh rasa aman yang luar biasa. Ia memegang tangan Aurelius yang melingkar di perutnya, memejamkan mata, dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, ia bisa bernapas dengan lega.

Aurelius tetap terjaga, menatap kegelapan kamar dengan mata yang penuh rencana balas dendam. Ia telah memutuskan: Daichi Asuka dan Kaito Shimada akan membayar mahal untuk setiap tetes air mata yang jatuh dari mata Hana hari ini. Sang Kaisar Hitam tidak akan memberikan ampunan bagi mereka yang telah merusak porselen indahnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!