Dita, siswi kelas 12 SMA, harus menerima nasib pahit ketika ayahnya yang terlilit hutang dan terbaring sakit memaksanya menikah dengan Arjuna, seorang polisi duda beranak satu.
Pernikahan itu dijadikan tebusan atas kecelakaan yang melibatkan Arjuna dan membuat ayah Dita kritis.
Meski tak sepenuhnya bersalah, Arjuna menyetujui pernikahan tersebut demi menebus rasa bersalahnya. Di tengah perbedaan usia dan penolakan putri Arjuna terhadap ibu sambungnya yang masih belia, Dita dan Arjuna harus menghadapi ujian besar untuk mempertahankan rumah tangga mereka.
Apakah cinta diantara mereka akan tumbuh, atau pernikahan itu berakhir dengan perpisahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eli Priwanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Amarah Arjuna yang tak terkendali
Malam semakin larut, namun suasana di rumah duka belum benar-benar tenang.
Di teras depan, Dita duduk diam. Angga berada di sampingnya, mencoba menemani dalam diam.
Beberapa detik berlalu…
Akhirnya Dita membuka suara.
"Angga.… ada hal penting yang ingin aku katakan padamu… "
Angga langsung menoleh. Tangannya perlahan menggenggam tangan Dita. Tatapannya hangat.
Penuh harap.
"Iya, Dit… kamu mau ngomong apa? Katakanlah…"
Dita terdiam. Hatinya bergetar. Kata-kata itu… terasa berat untuk keluar. Ia ingin jujur.
Ingin mengatakan semuanya, bahwa ia… sudah menikah.
Bahwa hubungan mereka… harus berakhir.
Namun saat melihat mata Angga yang berbinar…
Dita justru tak sanggup. Perasaan bersalah menyesakkan dadanya.
"Aku…" bibirnya bergetar. "Aku cuma…"
Ia menunduk. Air matanya jatuh lagi.
"…nggak apa-apa, Ga…"
Angga mengernyit.
" Dit… kamu yakin?"
Dita mengangguk pelan.
"Iya… nanti saja ya… sekarang bukan waktu yang tepat…
Angga tidak memaksa. Ia hanya menggenggam tangan Dita lebih erat.
"Iya… aku tunggu kamu siap cerita…"
Ucapan itu justru semakin membuat hati Dita terasa hancur.
‘Maafkan aku, Angga…’ batinnya.
Tiba-tiba saja...
" Dita!"
Suara seorang wanita terdengar dari depan.
Dita langsung menoleh.
" Kak Mimi!"
Seorang wanita dengan wajah lelah dan mata sembab berlari mendekat. Begitu sampai...
"Dit.… Ayah.…"suaranya bergetar hebat. " Ayah beneran sudah meninggal?"
Tangis Dita langsung pecah lagi. Ia bangkit dan memeluk Mimi erat.
" Iya, Kak…" isaknya. "Ayah sudah pergi… meninggalkan kita semua…"
Mimi langsung menangis.!Pelukannya mengerat.
"Ayah…" lirihnya. "Kenapa secepat ini…"
Tangis keduanya pecah di teras rumah.
Angga hanya bisa berdiri di samping, ikut merasa kehilangan meski bukan keluarga inti.
Keesokan harinya
Pagi masih berkabut saat jenazah Pak Indra dimakamkan di pemakaman umum dekat rumah.
Doa-doa dipanjatkan. Tangis mengiringi.
Tanah perlahan menutup liang lahat. Dita berdiri diam. Matanya kosong. Air mata sudah habis…. namun rasa kehilangan tetap menyesakkan.
Tante Elsa berdiri di sampingnya.
Sementara Mimi masih sesekali terisak.
Beberapa saat setelah pemakaman selesai. Para pelayat mulai kembali. Suasana mulai sepi.
Namun duka masih terasa berat di udara.
Dita berjalan perlahan kembali ke rumah. Langkahnya lemah.
Tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan rumah. Pintu terbuka. Dan sosok Arjuna turun dari dalam. Namun kali ini wajahnya berbeda. Tidak tenang. Tidak dingin seperti biasa. Melainkan dengan rahang yang keras. Dan penuh emosi yang tertahan. Dita yang melihat itu langsung menegang.
Ia refleks menunduk. Tak berani menatap. Jantungnya berdegup cepat.
‘Sepertinya… dia sudah tahu…’ batinnya.
Namun di sisi lain ada kepuasan kecil dalam hatinya.
'Biar saja… itu pelajaran untuknya…'
Sementara itu, Mimi yang berdiri tak jauh dari sana, ia angsung terkejut. Matanya membesar.
"Dia…" gumamnya pelan.
Wajah itu…Ia tidak asing. Ingatannya melayang pada suatu pertemuan beberapa waktu lalu, Saat ia pernah bertemu pria itu.
Tanpa sengaja. Dan sejak saat itu, Mimi diam-diam, ia mengaguminya. Sosoknya yang tegas. Wibawanya. Caranya berbicara. Namun Ia tidak pernah menyangka…. Bahwa pria itu akan muncul di rumahnya. Dan dalam situasi seperti ini.
*
*
Arjuna melangkah masuk.
Tatapannya langsung mencari satu orang.
Yaitu Dita.
Begitu mata mereka hampir bertemu, Dita langsung mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Arjuna menghentikan langkahnya.
Rahangnya mengeras.
" Ada yang harus kita bicarakan," ucapnya tegas.
Suasana langsung hening.
Tante Elsa menoleh.
Sementara Mimi masih menatap Arjuna dengan campuran perasaan. Terkejut, kagum, dan juga bingung.
Dita menelan ludah. Tangannya mengepal pelan.
Ia tahu, masalah sebenarnya…. Baru saja dimulai.
*
*
Suasana ruang tamu yang tadinya dipenuhi duka, kini berubah tegang.
Tiba-tiba saja Arjuna menerobos masuk
Ceklek!
Arjuna melangkah maju dan langsung meraih pergelangan tangan Dita. Cukup kasar.
"Ah...!" Dita terkejut.
Mimi yang melihat hal itu, ia langsung berdiri.
"Mah, siapa pria ini? Mengapa dia menggenggam tangannya Dita?" tanyanya kaget.
Tante Elsa menarik napas berat.
"Dia suaminya Dita, Mi…."
Mimi membeku. Wajahnya pucat.
"Apa… S...suaminya Dita?"
Matanya tak lepas dari Arjuna. Antara tidak percaya…. dan sesuatu yang lain yang sulit ia jelaskan.
Tanpa banyak bicara, Arjuna menarik Dita keluar dari ruang tamu menuju teras. Langkahnya tegas.
Dita hampir terseret.
"Lepas! Sakit tahu!" protes Dita sambil berusaha melepaskan tangannya.
Namun Arjuna tak menggubris. Cengkeramannya justru semakin kuat.
"Awww.… lepas!" Dita meringis kesakitan. "Kau pria kasar menyebalkan!'
Arjuna berhenti. Lalu menatapnya.Dingin dan tajam.
Tatapan itu membuat Dita langsung terdiam.
Jantungnya berdegup kencang.
" Apakah kau puas.…" ucap Arjuna pelan namun menekan, " telah mempermalukan aku semalam?"
Dita berusaha menahan gugup.
Ia memasang wajah pura-pura bingung.
" Apa maksudmu? Aku nggak ngerti!" jawabnya cepat. Ia berusaha melepaskan tangannya lagi.
Namun sia-sia.
Dari balik tirai ruang tamu, Mimi dan Tante Elsa mengintip. Keduanya terlihat tegang.
" Mah…." bisik Mimi pelan. " Apakah Dita membuat masalah?" Ia menelan ludah.
" Kalau sampai iya.… anak itu benar-benar cari mati.… pria itu bukan orang sembarangan…"
Tante Elsa mengernyit.
"Kau kenal dengan Arjuna?"
Mimi mengangguk pelan.
"Kenal, Mah…." jawabnya. " Dia salah satu polisi berprestasi. Aku pernah bertemu dengannya waktu seminar di Bandung. Dia diundang sebagai tamu kehormatan..."
Tatapannya kembali ke arah Arjuna.
" Aku tidak menyangka.… pria itu sekarang jadi suaminya Dita…."
Ia memijit pelipisnya.
"Dan Dita… masih saja dengan sifat jahilnya…."
Tante Elsa hanya bisa menghela napas panjang.
Di teras, Arjuna mulai menatap Dita lebih dalam.
Nada suaranya berubah. Lebih tenang… tapi justru terasa mengintimidasi.
" Kau tidak bisa menuduhku tanpa bukti…." kata Dita, mencoba bertahan.
Sejenak, suasana sekitar menjadi hening. Lalu Arjuna tertawa terbahak-bahak.
" Ha… ha… ha…"
Tawa yang membuat bulu kuduk Dita merinding.
" Oh ya?" ujarnya sambil menatap tajam. " Kau menginginkan bukti?"
Dita sedikit tersentak, tapi masih mencoba bertahan.
" Ya iyalah! Lagian siapa juga yang menulis kata menyesatkan seperti itu!"
Deg!
Kalimat itu meluncur begitu saja. Tanpa ia sadari
Ia baru saja menjebak dirinya sendiri.
Arjuna langsung diam. Lalu senyum tipis terukir di bibirnya. Senyum penuh arti.
"Jadi.… kau tahu isi tulisannya?” ucapnya pelan.
Dita membeku. Matanya membesar. Ia baru sadar.
Sangat terlambat.
Arjuna menatapnya lurus.
" Ternyata memang kaulah pelakunya."
Suasana seketika terasa mencekam.
Dita menunduk. Tangannya mulai gemetar. Untuk pertama kalinya rasa takut benar-benar muncul di hatinya.
Arjuna mendekat sedikit. Suaranya rendah. Namun penuh tekanan.
"Sekarang.…" ucapnya. "Kau mau jelaskan.… kenapa kau melakukan itu?"
Dita diam. Bibirnya bergetar. Ia ingin melawan dam ingin membantah.
Namun kata-kata seolah tertahan di tenggorokannya.nDi balik rasa marahnya…
Kini ada rasa takut yang perlahan merayap.
Dan di hadapannya,berdiri seorang pria yang tidak lagi bisa ia anggap remeh.
Bersambung...
skrng saatnya hempaskan itu c ulat bulu Maudy jauh jauh Juna