Sepuluh ribu tahun yang lalu, Kaisar Pedang Kekosongan, Jian Chen, dikhianati oleh tunangannya (Permaisuri Surgawi Luo Xue) dan saudara angkatnya saat mencoba menerobos ke Alam Ilahi Primordial. Jiwanya hancur berantakan. Namun, setetes Darah Primordial misterius yang ia temukan di Reruntuhan Kekacauan menyelamatkan satu fragmen jiwanya.
Sepuluh ribu tahun kemudian, Jian Chen terbangun di tubuh seorang pemuda bernama sama di Benua Bintang Jatuh (Dunia Fana terendah). Pemuda ini dikenal sebagai "Sampah Bawaan" yang meridiannya hancur. Dengan ingatan masa lalunya, pengetahuan alkimia tingkat dewa, dan teknik kultivasi terlarang Seni Melahap Surga Primordial, Jian Chen memulai kembali langkahnya dari bawah. Ia bersumpah untuk membelah langit, menghancurkan para pengkhianat yang kini telah menjadi Penguasa Surga, dan mengungkap rahasia sejati di balik Darah Primordial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Baldy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puncak Tingkat Tujuh
Tiga hari tiga malam berlalu tanpa suara di Puncak Awan Awan.
Di dalam gubuk bambunya, Jian Chen duduk tak tergoyahkan bagai arca dewa kuno. Di sekelilingnya, tumpukan debu abu-abu berserakan menebal hingga setinggi mata kaki—sisa-sisa dari ribuan Batu Spiritual Tingkat Rendah dan puluhan Batu Spiritual Tingkat Menengah yang telah terkuras habis sari patinya.
Di dalam Dantiannya, pusaran hitam kelam berputar dengan kecepatan yang memusingkan, menelan setiap tetes energi murni dan mengalirkannya ke dalam Meridian Primordial. Aliran Qi di tubuhnya kini tidak lagi menyerupai sungai, melainkan lautan perak yang mengamuk.
BZZZT! BOOM!
Sebuah letupan redam bergema dari dalam sumsum tulangnya. Cahaya perak meledak menembus pori-pori kulitnya, menerangi gubuk bambu itu sejenak sebelum kembali terserap ke dalam tubuhnya.
Jian Chen perlahan membuka matanya. Segumpal udara putih keruh dihembuskan dari mulutnya, membelah udara di depannya bagai pedang tak kasat mata.
"Kondensasi Qi Tingkat Tujuh Puncak," gumam Jian Chen, sudut bibirnya melengkung membentuk senyum kepuasan yang dingin.
Ia mengepalkan tinjunya. Udara di dalam genggamannya meletus. Tenaga murni di balik otot-ototnya yang ramping kini telah menembus batas enam ribu kilogram! Di dunia fana, memiliki tenaga enam ribu kilogram murni tanpa bantuan Qi adalah pencapaian yang nyaris mustahil bahkan bagi binatang iblis kelas atas.
Jika ia memadukan kekuatan fisik ini dengan Qi dari Tingkat Tujuh Puncak dan Seni Tebasan Kehancuran Bintang, daya hancurnya akan cukup untuk mengancam seorang ahli Pembentukan Fondasi Tahap Awal.
Tepat pada saat itu, sebuah getaran aneh terasa dari balik sabuknya.
Jian Chen mengeluarkan lempengan logam berukir teratai darah. Lempengan yang tadinya dingin itu kini terasa hangat, dan ukiran teratainya memancarkan pendaran cahaya merah pekat yang berdenyut layaknya jantung hidup. Seberkas benang cahaya tipis melesat dari lempengan itu, menembus dinding gubuk dan menunjuk ke arah barat laut Ibu Kota.
"Waktunya telah tiba."
Jian Chen segera bangkit. Ia mengenakan jubah hitam kelamnya, menyematkan topeng hantu besi bermotif taring ke wajahnya, dan kembali memanggul Pedang Penguasa Kosong yang masih terbalut kain rami kasar. Aura dominannya ia tekan dalam-dalam menggunakan Seni Melahap Surga Primordial, menyisakannya tampak seperti kultivator Tingkat Tujuh yang biasa-biasa saja.
Dalam sekejap, tubuhnya berkedip dan melebur ke dalam bayangan malam menggunakan Langkah Hantu Kekosongan.
Benang cahaya merah menuntunnya melintasi batas tembok Ibu Kota Kerajaan Angin Langit, membawanya masuk ke sebuah kawasan lembah berbatu yang sunyi dan tandus. Di ujung lembah, cahaya itu menabrak sebuah tebing batu raksasa yang tampak tak berujung.
Jian Chen tidak berhenti. Indra Spiritual-nya yang terbentang sejauh lima ratus langkah dengan mudah mengenali bahwa tebing itu hanyalah ilusi dari formasi tingkat tinggi. Ia melangkah menembus tebing batu tersebut, dan pemandangan di depannya seketika berubah.
Sebuah istana bawah tanah yang terbuat dari batu obsidian hitam legam berdiri megah di dalam rongga bumi yang sangat luas. Di depan gerbang perunggu raksasa istana itu, berdiri dua sosok bertopeng perak dengan aura yang sangat menekan.
Kondensasi Qi Tingkat Sembilan Puncak! Hanya untuk menjaga gerbang!
"Lempengan undangan," ucap salah satu penjaga dengan suara mekanis, seolah tanpa emosi.
Jian Chen melemparkan Lempengan Teratai Darah-nya. Penjaga itu menangkapnya, memeriksa pendaran darahnya, lalu mengangguk. Ia menyerahkan sebuah jubah abu-abu tebal yang sangat longgar kepada Jian Chen.
"Kenakan ini. Jubah ini memiliki rajutan formasi pengabur jiwa. Di dalam Pelelangan Teratai Darah, tidak ada yang peduli siapa kau di luar sana, dan tidak ada yang boleh mencoba mencari tahu. Melanggar aturan berarti kematian."
Jian Chen menerima jubah itu dan memakainya menutupi jubah hitam serta pedangnya. Kini, tubuhnya sepenuhnya tertutup bayangan abu-abu tanpa ciri khas. Ini adalah cara pasar gelap melindungi pelanggannya dari dendam berdarah pasca-lelang.
Gerbang perunggu terbuka berat. Jian Chen melangkah masuk ke dalam aula lelang yang berbentuk melingkar layaknya teater kuno. Tempat itu hanya diterangi oleh batu-batu pendar berwarna merah redup.
Ratusan kursi batu yang tersusun berundak telah diisi oleh sosok-sosok yang semuanya mengenakan jubah abu-abu pengabur jiwa. Hawa di dalam ruangan itu sangat dingin dan penuh kewaspadaan. Meskipun formasi jubah menyembunyikan kultivasi mereka, Indra Spiritual Jian Chen yang lahir dari Lautan Kesadaran mampu menembus sebagian tabir tersebut.
Tujuh ahli Pembentukan Fondasi, dan puluhan kultivator Tingkat Sembilan Puncak, batin Jian Chen, matanya menyipit di balik topeng hantunya. Pelelangan ini benar-benar sarang harimau dan naga tersembunyi.
Ia mengambil tempat duduk di barisan tengah yang tidak mencolok. Tak lama berselang, suara gong yang dalam bergema tiga kali, membungkam seluruh bisikan di dalam aula.
Di tengah panggung batu bundar di bawah sana, sesosok wanita melangkah maju. Ia mengenakan gaun sutra ketat berwarna merah darah yang menonjolkan lekuk tubuhnya yang memikat, namun mata rubahnya memancarkan kelicikan yang mematikan. Kultivasinya berada di Pembentukan Fondasi Tahap Awal!
"Selamat datang di Pelelangan Teratai Darah, Tuan-Tuan dan Nyonya-Nyonya yang terhormat," suara wanita itu merdu bagai lonceng perak, mengandung sedikit sihir pemikat jiwa yang membuat beberapa kultivator fana menelan ludah. "Saya adalah Nyonya Merah. Malam ini, kita tidak menerima koin emas fana. Seluruh transaksi mutlak menggunakan Batu Spiritual."
Nyonya Merah menjentikkan jarinya. Seorang pelayan bertopeng membawa nampan perak yang ditutupi kain sutra hitam.
"Kita tidak akan membuang waktu dengan basa-basi. Barang pertama kita malam ini!"
Kain sutra ditarik, menampakkan sebilah golok melengkung yang memancarkan cahaya hijau kebiruan dan tiupan angin yang tajam hingga memotong udara di sekitarnya.
"Golok Penebas Angin. Senjata Spiritual tingkat Bumi kelas rendah. Ditempa menggunakan darah dan tulang Elang Badai Tingkat Tiga. Harga awal, seribu Batu Spiritual Tingkat Rendah!"
Begitu kata "tingkat Bumi" disebutkan, aula langsung berdengung. Senjata setingkat itu adalah pusaka peninggalan klan yang bisa mengubah keseimbangan kekuatan sebuah kota kecil.
"Seribu dua ratus!"
"Seribu lima ratus!"
"Dua ribu!"
Tawaran saling bersahutan dengan buas. Jian Chen hanya bersandar di kursinya dengan bosan. Senjata itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan Pedang Penguasa Kosong di punggungnya. Golok rapuh itu akan hancur dalam satu tebasan jika saling berbenturan dengan pedangnya.
Setelah Golok Penebas Angin terjual seharga tiga ribu Batu Spiritual, Nyonya Merah kembali menampilkan barang-barang langka. Mulai dari budak kultivator wanita dari suku rubah berekor sembilan, hingga pil beracun untuk membunuh diam-diam ahli Pembentukan Fondasi. Harga-harga melambung gila-gilaan, membuktikan betapa melimpahnya kekayaan para penguasa kegelapan ini.
Satu jam berlalu. Jian Chen masih belum mengeluarkan satu penawaran pun.
Hingga akhirnya, pelayan membawa sebuah nampan yang tidak memancarkan cahaya maupun aroma apa pun. Di atas nampan itu tergeletak sepotong tulang kuno yang telah menghitam dan dipenuhi retakan kasar. Bentuknya melengkung tidak beraturan, lebih menyerupai cangkang kura-kura yang terbakar.
Nyonya Merah tersenyum misterius. "Tuan-tuan, barang berikutnya adalah sebuah teka-teki. Tulang kuno ini digali dari sebuah makam tak bernama di ujung selatan Benua Bintang Jatuh. Tulang ini tidak bisa dihancurkan oleh api, tidak bisa dipotong oleh senjata tingkat Bumi, dan... menolak segala bentuk pengintaian jiwa."
Ia mengangkat tulang busuk itu. "Para penilai kami tidak tahu dari binatang atau makhluk apa ini berasal. Karena ketidakpastiannya, harga awal untuk tulang kuno tak tertembus ini adalah lima ratus Batu Spiritual Tingkat Rendah!"
Aula menjadi hening. Tidak ada yang menawar. Menghabiskan lima ratus batu spiritual untuk sepotong tulang yang tidak bisa dibentuk menjadi pil maupun senjata adalah tindakan bodoh.
Namun, di kursi barisan tengah, tubuh Jian Chen menegang.
Sejak tulang itu dibuka dari kain penutupnya, setetes Darah Primordial di kedalaman jiwanya bergetar hebat. Getaran itu sangat liar, jauh melampaui saat ia menemukan Pedang Penguasa Kosong. Sesuatu di dalam tulang busuk itu beresonansi kuat dengan garis keturunan kosmik yang menyelamatkan nyawanya sepuluh ribu tahun lalu!
"Enam ratus Batu Spiritual," sebuah suara parau terdengar dari sudut depan. Seorang pria berjubah abu-abu dengan aura Pembentukan Fondasi tiba-tiba mengangkat tangannya, mencoba peruntungan untuk sebuah barang kuno.
Jian Chen tidak ragu sedetik pun. Di balik jubahnya, sepasang matanya menatap tulang itu dengan tatapan predator yang menemukan mangsanya.
"Seribu," suara serak Jian Chen memotong dengan dingin, menggandakan harga awal tanpa berkedip.