Bima Sakti hanyalah seorang sopir di Garuda Group yang dikenal malas, sering terlambat, dan suka menggoda perempuan cantik. Namun, di balik sikapnya yang sembrono, Bima menyimpan identitas dan kemampuan luar biasa yang tidak diketahui siapa pun.
Kehidupan santainya berubah ketika ia harus berurusan langsung dengan Sari Lingga, Presiden Direktur Garuda Group yang dijuluki "Si Cantik Gunung Es". Di tengah persaingan bisnis yang kejam dan kejaran pria-pria berkuasa, Bima hadir bukan hanya sebagai sopir, melainkan sebagai pelindung rahasia bagi Sari.
Dari ruang kantor yang kaku hingga konflik dunia bawah Jakarta, Bima menunjukkan bahwa ia jauh lebih berbahaya daripada sekadar sopir armada biasa. Akankah si "Gunung Es" Sari Lingga akhirnya luluh oleh pesona sang sopir misterius ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 8
Namun kemudian ia tertegun. Baru saja ia bersama Sari, sekarang sudah memikirkan teman serumahnya. Bukankah itu terlalu seperti binatang?
“Ah, bukan binatang juga. Kalau ada gadis tapi tidak dimanfaatkan, itu justru menyia-nyiakan anugerah.”
Setelah menenangkan diri, ia akhirnya keluar dari kamar mandi. Ketika kembali ke ruang tamu, Sari sudah berganti pakaian. Ia berdiri sambil menatap Bima dengan gigi terkatup, seolah siap menerkam kapan saja. Wanda duduk di sofa membaca novel sambil diam-diam mengedipkan mata padanya.
“Kemari. Aku ada sesuatu untuk dibicarakan denganmu.”
Sari berkata dingin sambil berjalan menuju kamar tidur dengan langkah yang sedikit canggung. Bima mengikuti sambil menahan tawa. Semalam benar-benar terlalu liar. Begitu pintu kamar tertutup—
“Kau bajingan!”
Sari akhirnya meledak. Kedua tinjunya mengepal erat, matanya seakan menyemburkan api.
“Tenang dulu. Kalau ada yang ingin dibicarakan, bicarakan baik-baik,” kata Bima mencoba menenangkan.
“Baik-baik? Kau bajingan! Kembalikan kesucianku!” Sari menerjangnya, memukul dan menendangnya tanpa henti. Bima tidak melawan sama sekali. Bagi tubuhnya yang terlatih sebagai mantan kapten Garuda Hitam, pukulan itu terasa seperti menggelitik.
“Kau bajingan! Mengambil keuntungan dari orang yang tidak berdaya!” Setelah memukul beberapa saat, Sari akhirnya berbalik dan jatuh ke atas tempat tidur sambil menangis keras.
Mengapa ia harus merekrut sopir ini? Mengapa ia harus pergi ke Lembayung Bar semalam? Kesucian yang ia jaga selama lebih dari dua puluh tahun hilang begitu saja.
“Aku tidak mengambil keuntungan. Dimas yang mencampur obat ke dalam anggurmu. Jika kita tidak melakukannya tadi malam, organ tubuhmu bisa gagal dan kamu akan mati,” jelas Bima dengan sabar.
“Dimas… mencampur obat?” Sari tertegun. Ia mengingat kembali kejadian di Lembayung Bar. Memang benar—manajer bar gemuk itu membawa sebotol anggur hadiah. Setelah meminumnya, kesadarannya langsung hilang. Tangisnya perlahan berhenti. Ia duduk diam di tepi tempat tidur. Lima menit kemudian, ia akhirnya kembali tenang.
Ia menoleh dan menatap Bima dengan dingin. “Pergi. Aku tidak ingin melihatmu lagi.”
“Baiklah. Kalau begitu aku pergi dulu,” kata Bima santai. “Tapi ingat, sebagai pria pertamamu, kalau ada masalah di masa depan jangan ragu mencariku.”
“Pergi dari sini! Aku bilang aku tidak ingin melihatmu lagi!” Sari meraung marah.
Di ruang tamu, ketika melihat Bima keluar dari kamar, Wanda yang sedang tengkurap di sofa sambil membaca novel berteriak dengan nada nakal.
“Baru saja selesai bercumbu sudah menangis dan ribut seperti itu. Aku benar-benar tidak mengerti kalian sedang melakukan apa! Mau pergi? Pergilah sejauh mungkin. Tapi kalau tidak takut mati, datang saja sering-sering ke sini!”
Di belakangnya, Sari melotot tajam. Mata Wanda langsung melengkung seperti bulan sabit, lalu ia menjulurkan lidah jahil ke arah Bima. Bima yang sudah berjalan sampai ke pintu sempat berpikir sejenak. Ia lalu berbalik, menghampiri Wanda, membungkuk ke dekat telinganya, dan membisikkan sesuatu.
Dalam sekejap, gadis itu langsung membeku seperti patung.
“Adik kecil,” bisiknya pelan, “abang beritahu satu rahasia. Sebenarnya… ‘barang’ pria itu tidak punya tulang.”
...
Di sebuah sudut tersembunyi di lantai bawah, sesosok wanita berdiri diam. Wajahnya tidak terlihat jelas, namun siluetnya sangat memukau. Ia adalah Mira.
Tubuhnya tampak sedikit lelah, seolah semalaman tidak tidur. Ekspresinya tegang saat menatap ke arah tangga. Ketika ia melihat Bima berjalan turun sambil bersiul ringan, kekuatan yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh. Tubuhnya perlahan merosot ke lantai.
Dua garis air mata jernih mengalir perlahan di pipinya. “Dia benar-benar sudah memiliki wanita lain… semuanya sudah berakhir.”
Setelah lama terdiam, ia akhirnya bangkit. Ia mengusap air mata di sudut matanya. Ekspresinya berubah tegas, lalu sosoknya menghilang—seolah tidak pernah muncul sama sekali.
…
Begitu keluar dari gerbang kompleks apartemen, Bima menyalakan ponselnya. Ia langsung terkejut melihat dua puluh delapan panggilan tak terjawab dan tujuh pesan singkat.
“Bima, di mana kamu? Presdir sedang menunggu di depan gedung. Segera datang. — Dewi.”
“Bima, dasar bajingan! Segera hubungi aku! Presdir butuh mobil sekarang! Kalau kamu tidak muncul lagi, kamu tamat!”
Setelah membaca semuanya, Bima hampir tertawa. Pesan-pesan itu adalah desakan dari Dewi, manajer HRD, yang dikirim kemarin. Ia bahkan bisa membayangkan wajah Dewi yang menggertakkan gigi saat mengetik pesan-pesan itu.
...
Di kantor pusat Garuda Group.
“Presdir, Anda memanggil saya?” Dewi berdiri dengan sikap hormat.
Sari yang sedang melamun tersadar, lalu berkata dengan nada datar, “Ya, Dewi. Sopir yang Anda kirim kemarin, Bima… hari ini juga pecat dia. Beri kompensasi tambahan tiga bulan gaji.”
“Dipecat?” Dewi terkejut. “Presdir, apakah Anda ingin mempertimbangkannya lagi? Memang dia agak sulit diatur, tapi saya sudah menyelidiki penilaian karyawan terhadapnya cukup baik—”
“Dewi, lakukan saja apa yang saya katakan!” Sari mengangkat kepala. Nada suaranya meninggi sedikit. Bajingan itu telah mengambil malam pertamanya. Ia sama sekali tidak ingin melihatnya lagi.
Dewi hanya bisa menghela napas. “Baiklah. Saya akan menemuinya sekarang.”
Ia kemudian menambahkan, “Oh ya, Presdir Sari, tadi ada beberapa telepon yang ingin mengundang Anda makan malam. Saya sudah menolaknya.”
“Baik, saya mengerti,” jawab Sari. “Ke depan, telepon seperti itu langsung saja ditutup.”
Ia sangat tahu siapa orang-orang itu. Tidak lain adalah para pria seperti Rendy atau Dimas yang ingin mendekatinya.
Sejak lama ia sudah meminta Dewi menolak semua undangan semacam itu. Namun semakin ia menolak, undangan justru semakin banyak—membuatnya semakin kesal. Pada saat itu, ponselnya kembali berdering. Ia melirik nomor yang muncul dan langsung menutupnya tanpa ragu.
Telepon itu kembali berdering. Ia menutupnya lagi. Namun panggilan itu terus datang tanpa henti. Dengan kesal, akhirnya ia mengangkatnya.
“Sari, ini Rendy. Malam ini aku mengadakan pesta koktail kecil. Apakah kamu punya waktu untuk datang?”
Suara pria dari seberang terdengar lembut dan sangat magnetis. Bagi banyak wanita yang mudah terpesona, suara itu saja sudah cukup membuat mereka jatuh hati—belum lagi identitas Rendy sebagai tuan muda Pratama Group. Namun bagi Sari, yang ia rasakan hanyalah kejengkelan.
“Tidak,” jawabnya singkat.
Rendy tampaknya tidak marah. Ia tertawa ringan. “Haha, aku mengundangmu dengan tulus. Semua yang hadir malam ini adalah tokoh terkenal di Jakarta. Mengenal lebih banyak orang juga akan bermanfaat bagi Garuda Group.”
“Aku sudah bilang, aku tidak punya waktu!” jawab Sari dingin.
“Sari, aku tahu kamu mencoba menghindar. Tapi aku akan mengatakan ini dengan jelas—tidak peduli berapa kali kamu menolak, aku tidak akan menyerah. Aku akan terus mengejarmu… kecuali kamu sudah punya pacar.”