NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: tamat
Genre:Romansa / Mafia / Dokter / Tamat
Popularitas:28.9k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAb 32

Lampu sirine ambulans berputar tanpa henti, memantulkan cahaya merah dan biru yang menari di sepanjang jalan malam. Suaranya memecah kesunyian, melaju cepat membelah kemacetan yang perlahan memberi jalan.

Di dalam ambulans, suasana jauh dari kata tenang. Bau obat-obatan bercampur dengan sisa asap yang masih melekat di tubuh korban. Seorang tenaga medis sibuk memeriksa kondisi Azzura, sementara yang lain fokus pada Evelyn yang terbaring tak sadarkan diri di sampingnya.

"Oksigen stabilkan dulu, cepat!" ucap salah satu petugas dengan nada tegas.

Masker oksigen segera dipasang. Detak jantung dipantau. Gerakan mereka cepat, terlatih, tapi tetap saja… waktu terasa begitu menekan.

Di sudut ambulans, Enzo duduk diam. Namun diamnya bukan berarti tenang. Tangannya menggenggam erat sisi tandu Evelyn. Begitu erat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tak pernah lepas dari wajah wanita itu yang tampak pucat, lemah, tak berdaya.

"Evelyn…" panggilnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh suara mesin ambulans.

Tak ada jawaban.

Hanya bunyi alat medis yang berdetak teratur… dan napas lemah di balik masker oksigen.

Enzo menelan ludah. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa… takut.

Bukan takut kehilangan harta. Bukan takut pada musuh. Tapi takut kehilangan seseorang.

Pandangannya beralih ke Azzura di sisi lain. Gadis kecil itu tampak begitu rapuh dengan tubuh mungil yang terbaring diam, wajahnya sedikit menghitam oleh jelaga, napasnya dibantu alat.

"Dia masih kecil…" gumam Enzo lirih.

Sesuatu mencengkeram dadanya kuat.

Ia mengusap wajahnya kasar, mencoba menahan emosi yang terus mendesak keluar.

Seorang tenaga medis meliriknya sekilas.

"Tuan, kami akan melakukan yang terbaik. Tapi mereka menghirup cukup banyak asap. Kita harus segera sampai di rumah sakit," jelasnya singkat.

Enzo mengangguk, meski pikirannya terasa penuh. "Pastikan mereka selamat," ucapnya datar, tapi nadanya menyimpan tekanan yang tak bisa diabaikan.

"Iya tuan."

Ambulans melaju semakin kencang. Setiap detik terasa seperti menit, setiap menit terasa seperti jam.

Enzo menatap wajah Evelyn tanpa berkedip, seolah takut jika ia berpaling sedetik saja… sesuatu yang buruk akan terjadi.

Bayangan demi bayangan muncul di kepalanya.

Evelyn yang tersenyum sinis. Evelyn yang berdebat dengannya tanpa takut. Evelyn yang selalu terlihat kuat… seolah tidak ada yang bisa menjatuhkannya.

Dan sekarang, Wanita itu terbaring tak berdaya di depannya. Kontras yang menyakitkan.

"Katanya kamu pergi seminar…" bisiknya pelan, suaranya nyaris pecah. "Kenapa malah berakhir seperti ini…"

Tangannya perlahan naik, menyentuh rambut Evelyn yang sedikit berantakan. Gerakannya hati-hati, seakan takut menyakitinya.

"Jangan buat aku menyesal…" lanjutnya lirih.

Tak ada orang lain yang mendengar. Mungkin hanya dirinya sendiri.

"Rumah sakit sudah dekat!" seru sopir dari depan.

Seolah menjadi sinyal, suasana di dalam ambulans semakin tegang. Para tenaga medis bersiap, memastikan semua alat siap digunakan saat mereka tiba.

Beberapa detik kemudian, ambulans berhenti mendadak. Pintu belakang langsung terbuka.

"1… 2… angkat!" instruksi terdengar cepat.

Tandu Evelyn lebih dulu diturunkan, disusul oleh Azzura. Mereka segera didorong masuk ke dalam rumah sakit dengan kecepatan tinggi.

Enzo turun menyusul. Langkahnya cepat, hampir berlari.

Lorong rumah sakit dipenuhi cahaya terang yang kontras dengan kegelapan yang baru saja mereka lewati. Suara langkah kaki, roda tandu, dan instruksi dokter bersahutan.

"Pasien inhalasi asap, segera ke IGD!"

"Siapkan oksigen tambahan!"

"Monitor jantung sekarang!"

Semua terasa begitu cepat. Namun bagi Enzo… semuanya terasa lambat.

Ia berdiri di luar ruang tindakan saat pintu tertutup di hadapannya. Ia tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu.

Tangannya yang tadi begitu kuat kini jatuh lemas di samping tubuhnya.

Matanya masih terpaku pada pintu itu. Seolah berharap… dalam hitungan detik, seseorang akan keluar dan mengatakan bahwa semuanya baik-baik saja.

Namun yang ada hanya… keheningan.

Joe berdiri di sampingnya, sama-sama diam.

"Tuan…" panggilnya pelan.

Enzo tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu. Lalu dengan suara berat, nyaris tak terdengar, ia berkata, "Pastikan dokter terbaik yang menangani mereka."

"Sudah, Tuan. Semua sudah saya urus," jawab Joe cepat.

Enzo mengangguk pelan.Namun tetap saja… hatinya belum tenang. Ia menyandarkan tubuhnya ke dinding, mengusap wajahnya kasar. Napasnya berat.

Malam itu terasa panjang.

Di balik pintu itu, dua orang yang tanpa ia sadari telah mengisi hidupnya…Sedang berjuang antara hidup dan mati.

Enzo menutup matanya sejenak. Lalu berbisik pelan, "Evelyn… Azzura… kalian harus kembali…"

...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

Kobaran api menjulang tinggi, melahap hampir seluruh bagian bangunan mall. Langit malam yang seharusnya gelap kini berubah merah menyala, dipenuhi asap hitam pekat yang membumbung tanpa henti.

Jeritan, tangisan, dan suara sirine bercampur menjadi satu.

Di tengah kekacauan itu, seorang wanita berdiri dengan tubuh gemetar. "EEEVEEEELYYYNNN!! AZZURAAA!! DI MANA KALIAN, SAYANG!!" teriak Vega histeris, suaranya pecah, nyaris tak berbentuk lagi.

Air matanya mengalir deras tanpa henti. Wajahnya pucat, matanya liar mencari ke segala arah, berharap melihat dua sosok yang begitu ia cintai keluar dari gedung itu. Namun yang ia lihat… hanya api.

Hanya kehancuran.

"Ma… tolong… aku mau ke sana… aku mau cari mereka…" lirihnya dengan napas tersengal, tubuhnya berusaha meronta.

Namun Adi segera memeluknya erat dari belakang, menahan tubuh istrinya yang hampir kehilangan kendali.

"Vega! Jangan! Kamu nggak bisa ke sana!" ucap Adi tegas, meski suaranya sendiri bergetar.

Ia mempererat pelukannya, takut jika ia lengah sedikit saja, Vega benar-benar akan berlari masuk ke dalam kobaran api itu.

"LEPASIN AKU!! ANAK KITA MASIH DI DALAM!!" jerit Vega, memukul dada suaminya dengan lemah.

"Vega… tolong… dengar aku…" bisik Adi, suaranya serak, matanya sendiri mulai berkaca-kaca. Namun Vega sudah seperti kehilangan kesadaran.

"Pa… di mana Evelyn… di mana Azzura…" tanyanya lirih, suaranya berubah pelan, kosong… seperti orang linglung.

Pertanyaan itu menusuk hati Adi. Ia terdiam sejenak. Karena… ia juga tidak tahu. Dan ketidaktahuan itu terasa jauh lebih menyakitkan dari apa pun.

Saat itulah, seorang aparat yang berjaga di lokasi mendekati mereka. Wajahnya serius, namun ada rasa iba yang tak bisa disembunyikan.

"Kalian keluarga korban?" tanyanya hati-hati.

Adi mengangguk cepat, meski tenggorokannya terasa tercekat. "Iya, Pak… anak kami ada di dalam mall itu…" jawabnya, suaranya berat.

Aparat itu mengangguk pelan, seolah memahami beban yang sedang mereka rasakan.

Ia melirik Vega yang masih menangis dalam dekapan suaminya.

"Semua korban yang selamat ada di sebelah sana," ucapnya sambil menunjuk ke arah deretan ambulans dan tenda darurat. "Sedangkan yang luka-luka… dan yang meninggal… sudah dibawa ke rumah sakit terdekat."

Kalimat itu seperti petir yang menyambar.

Tubuh Vega langsung melemas. "K… ke rumah sakit…?" ulangnya lirih. Air matanya kembali jatuh, kali ini lebih deras.

"Enggak… enggak mungkin…" gelengnya pelan, napasnya tersengal. Ia mencengkeram baju Adi kuat-kuat.

"Kita ke rumah sakit sekarang… Pa… kita harus cari mereka…" ucapnya penuh harap, meski ketakutan jelas terdengar di setiap katanya.

Adi mengangguk cepat. "Iya… iya… kita ke sana sekarang," jawabnya, berusaha terdengar tegar meski hatinya sendiri hancur.

Ia membantu Vega berdiri, menopang tubuh istrinya yang nyaris tak punya tenaga.

Namun sebelum mereka benar-benar pergi, Vega menoleh sekali lagi ke arah bangunan yang masih terbakar.

Matanya dipenuhi air mata. Bibirnya bergetar. "Evelyn… Azzura… kalian harus selamat…" bisiknya lirih.

1
Atik Marwati
🧐🧐🧐🧐🧐 bakal seru nich
letslalaviena
KAKKK SUMPAH BAGUSS BGTTT, CINTA BGT SAMA ALUR DAN PENULISAN KATA NYAAA🥹♥️

SEMANGATT TERUSS KAKK UP NYAA!! HEHEE DITUNGGUUU🤍🤍🤍🤍
Atik Marwati
enzo datang🥰🥰🥰
ikeds
uhh tengkyu double upnya😍😍 love sekebon
Atik Marwati
enzo......
ikeds
dan akupun menunggu dan berdoa agar keajaiban terjadi sehingga author cepet double up🤭😍
Atik Marwati
selamat
Atik Marwati
eve sama jula selamat
Iqomah Fahma Ernasanti
bagus.....
deg2an.....
trus nunggu...kpn update lg...
Mita Paramita
akhirnya penyelamat datang 🔥🔥🔥
Atik Marwati
enzo
Mita Paramita
om ganteng tolongin jula 🤣🤣🤣
Atik Marwati
kebakaran....
Atik Marwati
ketemu om danteng pasti seru🤣🤣🤣
Atik Marwati
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
Atik Marwati
karena itu Evelyn joe
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!