Ditinggalkan ,dihina, dan dicap mandul, Azura kembali ke desa kerumah orang tuanya dengan hati hancur setelah 5 tahun pernikahan diceraikan suaminya . Namun saat hidupnya mulai bangkit, rahasia besar keluarga terungkap, ancaman, dan musuh berbahaya . Di tengah badai itu, Azura bertemu Rayyan ,duda kata dengan dua anak kembar dan luka masa lalu . Akankah Azura mempertahankan harga diri, keluarga, dan cintanya? Atau masa lalu kembali meruntuhkan segalanya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niskala NU Jiwa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesta Rakyat dan Bonus Tak Terduga
Bulan ketujuh menjadi saksi sejarah baru bagi Desa Kenanga. Laporan akhir bulan yang diterima Azura di ruang kerjanya. Menunjukkan angka yang fantastik. Seluruh unit usaha mulai perkebunan dan peternakan Farhan, pertanian modern pak Hadi, galeri kerajinan anyaman, hingga objek wisata telah melampaui target tahunan... Hanya dalam waktu beberapa bulan.
" Ini bukan lagi sekedar keberuntungan, Mas. Ini adalah keberkahan yang berlipat ganda," ucap Azura pelan saat berdiskusi dengan Farhan.
Sebagai bentuk syukur, Azura memutuskan untuk melakukan sesuatu yang belum pernah terjadi di desa itu. Sebuah Gathering karyawan dan pesta rakyat. Bagi orang kota, gathering mungkin hal biasa, tapi bagi buruh tani dan pengrajin desa istilah itu, terdengar asing sekaligus menghebohkan.
Pagi itu, lapangan besar di samping Mesjid baru Desa Kenanga di sulap menjadi area pesta yang sangat meriah. Panggung besar berdiri megah dengan dekorasi janur kuning dan bunga segar. Seluruh pekerja dari Desa Kenanga, Mawar dan Teratai diundang hadir bersama keluarga mereka.
"Apa itu getring, Mbak Azura? Apa kita mau demo?" kata Pak Jono, seorang buruh tani tua dengan polosnya sambil membetulkan letak kancing kemeja batiknya yang sudah pudar.
Azura tertawa renyah," Bukan, Pak. Ini acara makan -makan dan senang-senang. Hari ini tidak ada yang bekerja, semuanya jadi tamu kehormatan saya!"
Suasa di area food court sangat riuh. Di salah satu sudut, sekelompok ibu-ibu pengrajin anyaman eceng gondok duduk melingkar dengan wajah berseri-seri. Mereka adalah tulang punggung galeri kerajinan Azura yang produknya kini sudah menembus pasar ekspor.
"Siapa sangka ya,Bu," ucap Bu Siti sambil memandangi tangannya yang biasanya kasar karena menganyam, namun kini bersih dan mengenakan gelang emas kecil. " Dulu eceng gondok cuma di anggap gulma pengganggu di rawa dan sungai. karena mbak Azura, sekarang rumput itu jadi rumah permanen buat kami. Saya baru saja selesai plester tembok dan ganti atap asbes jadi genteng Minggu lalu."
"Sama ,Bu! Suami saya yang dulu nganggur sekarang jadi sopir pick up pengangkut bahan baku," timpal bu Ratna bangga. "Anak saya yang tadinya mau putus sekolah, sekarang sudah daftar di SMK. Hidup kami benar-benar berubah."
Acar puncak saat Azura naik ke atas panggung. Suasana mendadak hening. Ia memegang mikrofon, menatap satu per satu wajah lelah namun bahagia dari ratusan pekerjanya.
"Terimakasih kasih karena sudah percaya pada saya dan Mas Farhan saat kami baru memulai dari gubuk reyot rumah kami dulu," suara Azura sedikit bergetar dan haru. "Karena hasil usaha kita mencapai target yang luar biasa, hari ini saya ingin membagikan bonus tahunan untuk setiap pekerja!"
Seketika, keriuhan pecah, Azura memberitahukan sebelum mereka pulang selesai acara. Di persilahkan mengambil bonos mereka di tempat yang sudah di sediakan di samping panggung.
Para pekerja antri dengan tertib mereka mengambil bonus. "Empat juta rupiah bonusnya?! Gusti Allah.. Ini lebih besar dari mahar pernikahan saya dulu!" seru seorang pemuda penjaga parkir wisata, memicu tawa dan tangis haru massal.
Tidak hanya uang, Azura juga mengadakan doorprize berupa alat elekronik, sepeda listrik, satu buah unit kendaraan metik, perlengkapan rumah tangga, hingga bibit tanaman unggul. Warga menikmati hidangan kambing guling dan prasmanan mewah yang dipesan Azura dari katering terbaik di kota.
Ibu Sulastri dan pak Hadi duduk di barisan depan, menatap pemandangan itu dengan dada sesak oleh rasa bangga. Anak perempuan mereka, yang dulu pulang dengan wajah lebam dan tubuh hancur, kini telah menjadi"ibu" bagi ratusan kepala keluarga di desa mereka
Di barisan tamu undangan khusus, tampak sari dan suaminya, indra, duduk berdampingan dengan Lima sahabat Azura dari kota : Nella, Rama, Dian, Rizal, dan Nanda berserta suami dan anak anaknya. Mereka berangkat naik minibus jam tiga subuh dari kota. Mereka datang jauh jauh dari kota untuk merayakan kemenangan ini.
"Gila ya, Ra.. Kamu benar-benar mengubah desa ini jadi kerajaan," bisik Nella kagum saat Azura turun dari panggung.
Di sudut panggung, Farhan mendekati Azura. "Kamu benar,Ra. Bahagia itu menular. Lihat wajah mereka, Dimas tidak akan pernah bisa membeli kesetiaan seperti ini dengan uang korupsinya."
Azura tersenyum, menyandarkan kepalanya sejenak di bahu sang kakak. "Ini baru awal, Mas. Kita memberi mereka perut yang kenyang dan rumah yang layak. Sekarang, kita harus pastikan posisi kita cukup kuat untuk melindungi mereka dari siapa pun yang mencoba mengusik kedamaian ini."
Tanpa Azura sadari, di balik kerumunan warga, beberapa pria asing tampak sibuk mengambil foto kemeriahan itu dari kejauhan menggunakan lensa tele. Mereka adalah "mata-mata" suruhan yang mulai mencium aroma kekayaan luar biasa di desa terpencil ini. Kabar tentang " sultan wanita" dari desa Kenanga kini bukan lagi sekedar desas desus, tapi berita nyata yang mulai merangkak naik ke meja kerja Dimas di kota.
Setelah acara besar di lapangan selesai, kehangatan berlanjut ke rumah mewah keluarga pak Hadi. Pada Malam harinya Besok adalah hari Minggu kelima sahabat Azura menginap dirumah Azura. Rumah yang luas itu mendadak penuh dengan tawa dan canda.
Dina adalah yang paling heboh. Ia berlarian dari satu ruangan ke ruangan lain, mengagumi desain interior rumah Azura yang berkelas. "Ra! Ini beneran rumah kamu? kamar mandinya saja lebih luas dari kontrakkan aku yang lama! Aku mau tidur di sini selamanya!" seru Dina sambil menjatuhkan diri ke sofa empuk di ruang tengah, memancing tawa yang lain.
Di sudut ruang bermain, pemandangan yang sangat menggemaskan terjadi. Rafa dan putra Nanda tampak sangat akrab bermain yang usia mereka sebaya.
"Ayo main mobil-mobilan!" Ajak Rafa sambil menyodorkan koleksi mainannya. Ibu Hana sebagai pengasuh Rafa tentu mengawasi rafa den teman barunya bermain.
Keduanya berlarian di atas karpet tebal, tertawa lepas seolah sudah berteman sejak bayi. Nanda menatap putranya dengan mata berkaca-kaca. Ia dulu teringat betapa anaknya hanya bermain dengan botol plastik bekas di lantai tanah saat ia masih menjadi buruh cuci.
Malam itu, mereka semua berkumpul di teras belakang yang menghadap ke arah sungai dan kebun buah di terangi lampu lampu gazebo. Azura, Nanda, Nella, dan Dian duduk melingkar menikmati camilan, sementara para pria duduk di dekat kolam ikan.
"Terimakasih ya, Ra. untuk semuanya, kamu sudah membantu aku biaya pengobatan mas firman sampai sembuh," ucap Nanda tulus sambil menggenggam tangan Azura.
Azura tersenyum, menatap langit malam desa Kenanga yang bertaburan bintang. "Ini adalah kalian juga. Kita akan sukses bersama, dan tidak akan ada lagi yang berani menginjak-injak kita.