"Sebutkan namaku saat waktunya tiba, Riezky..."
Dua puluh tahun lalu, Kerajaan Ixevon runtuh dalam satu malam. Raja Thomas gugur setelah menyegel iblis Malakor, dan Ratu Rebecca tewas demi menyelamatkan putra tunggal mereka.
Kini, Riezky Ixevon tumbuh di desa nelayan terpencil. Ia tak tahu siapa dirinya, hanya pemuda yang berjuang menjinakkan kutukan Petir Biru dan Api Merah di tubuhnya. Satu-satunya dunianya adalah Lyra, seorang janda nelayan yang merawatnya dengan kasih sayang sejak bayi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Riahe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebaikan Yang Menyakitkan
Fajar menyingsing di hutan perbatasan, tapi Riezky masih meringkuk di bawah pohon beringin tua. Ia tertidur sangat pulas—bukan karena kelelahan setelah bertarung hebat, melainkan karena energi mentalnya terkuras habis setelah berkali-kali melakukan hal konyol sepanjang jalan; mulai dari dijatuhkan kuda hingga hanyut bersama batang kayu.
Saat sinar matahari mulai menusuk kelopak matanya, Riezky terbangun dengan nyawa yang belum terkumpul penuh. Namun, pemandangan di depannya seketika membuatnya tersentak. Di sekeliling tempatnya tidur, tergeletak tiga ekor serigala hutan berbulu abu-abu dalam keadaan tak bernyawa.
Dengan mata yang masih setengah terpejam, Riezky merangkak menghampiri salah satu bangkai serigala itu. Ia melihat sebuah luka kecil namun fatal: lubang bekas tancapan yang sangat presisi, persis seperti bekas anak panah yang menembus titik vital mereka.
"Hmm... siapapun dia, aku sedikit berhutang budi," gumam Riezky sambil menggaruk kepalanya yang berantakan.
TAK!
"Aduh!" Riezky memekik kesakitan saat sebuah jitakan super keras mendarat tepat di ubun-ubunnya.
Ia menoleh perlahan sambil mengusap kepalanya yang berdenyut, dan di sana ia berdiri—si pemanah misterius kemarin. Ia tampak masih segar, busur panjangnya tersampir di bahu, dan tatapan matanya masih sedingin es di kutub utara.
"Bangunlah, bodoh. Kau hampir saja jadi sarapan serigala-serigala ini semalam kalau aku tidak lewat," ucap si pemanah dengan nada datar tanpa ekspresi.
Riezky merengut, masih sibuk mengusap kepalanya. "Aishhhh! Kau lagi! Kenapa kau muncul cuma buat menjitakku? Dan ngomong-ngomong, kenapa kau tidak mengambil koinnya saja kemarin? Kau hampir membunuhku demi uang itu, kan?"
Si pemanah membuang muka, merapikan sarung tangannya sejenak. "Aku sudah tidak butuh. Kau membuat suasana hatiku menjadi jelek kemarin. Pergilah sebelum aku berubah pikiran dan benar-benar menembakmu."
Riezky menghela napas panjang, lalu mengangkat bahunya dengan gestur "yaudah" yang jadi andalannya. Ia berdiri, menepuk-nepuk debu dari celananya, dan mulai melangkah meninggalkan tempat peristirahatan itu. Ia tidak mau berdebat dengan perempuan yang baru saja menyelamatkan nyawanya, meski caranya sangat tidak sopan.
Sambil berjalan menjauh, Riezky menoleh sedikit ke belakang. Ia melihat si pemanah itu masih berdiri di sana, menatap ke arah hutan yang gelap, seolah sedang memastikan tidak ada ancaman lain yang mendekat.
"Benar-benar perempuan aneh," batin Riezky. "Tapi setidaknya dia pemanah yang hebat. Kalau dia mau ikut ke Aethelgard, mungkin kami bisa jadi tim penangkap bandit yang keren."
Setelah jitakan pagi yang membuat kepalanya sedikit berdenyut, Riezky kembali melanjutkan pengembaraannya. Perjalanan kali ini terasa lebih berwarna. Ia menyusuri pinggiran hutan yang rimbun, melewati desa-desa kecil yang tenang, dan seperti biasa, sifatnya yang tidak bisa diam mulai membawa "petualangan" tersendiri.
Di sebuah desa kecil, Riezky sempat berhenti di depan sebuah kedai susu sapi. Hanya dengan bermodal obrolan seru tentang petualangan fiktifnya (yang tentu saja dilebih-lebihkan sedikit), si pemilik kedai malah memberinya segelas susu segar secara gratis. "Kau lucu, Nak. Anggap saja ini bekal untuk jalanmu," ucap si pemilik kedai sambil tertawa.
Namun, tidak semua interaksinya berjalan mulus. Di desa berikutnya, ia melihat sekelompok anak kecil sedang bermain tanah. Riezky, dengan niat ingin terlihat keren, mencoba menunjukkan trik "sulap" kecil dengan memercikkan listrik statis di antara jarinya. Bukannya kagum, salah satu bocah justru ketakutan melihat kilat kecil itu, menangis kencang, dan membuat teman-temannya ikut histeris.
"Eh, eh! Jangan nangis! Itu cuma sulap! Waduh..." Riezky yang panik melihat ibu-ibu desa mulai menoleh langsung mengambil langkah seribu dan kabur begitu saja dari sana.
Perjalanan berlanjut hingga suara gemuruh air mulai terdengar dari kejauhan. Udara di sekitarnya mendadak terasa sejuk dan lembap. Langkah kaki Riezky membawanya ke sebuah air terjun tersembunyi yang jatuh dengan anggun ke dalam kolam biru yang jernih.
Riezky berhenti, mengendus bau bajunya sendiri, lalu meringis. "Ugh... aku bau ikan, bau gosong, dan bau keringat hutan jadi satu. Kalau ibuku mencium ini, aku pasti disuruh tidur di luar rumah."
Tanpa pikir panjang, Riezky meletakkan tas penjelajah dan kantung koinnya dengan hati-hati di bawah pohon yang teduh. Ia menatap air terjun itu dengan mata berbinar. Segar, jernih, dan yang terpenting: tidak ada serigala atau pemanah galak yang akan menjitaknya di sini.
Ia bersiap untuk melakukan ritual "mandi suci" untuk membersihkan diri sebelum benar-benar menginjakkan kaki di tanah Aethelgard.
Gemericik air terjun yang dingin menghantam bebatuan, namun Riezky hanya bergeming, membiarkan tubuhnya tenggelam hingga batas leher. Ia menatap langit yang mulai bersemburat jingga melalui celah pepohonan.
"Ibu lagi ngapain ya kira-kira?" gumam Riezky pelan. Bayangan dapur kecil yang hangat, aroma laut yang menempel di baju ibunya, dan omelan kecil yang ia rindukan tiba-tiba terasa begitu nyata.
Setelah merasa cukup bersih dan segar, ia segera mengenakan jubah penjelajahnya, mengikat erat kantung emas di pinggang, dan mempercepat langkah. Ia tidak lagi peduli dengan peta yang membingungkan itu; ia hanya mengikuti insting dan aroma payau yang terbawa angin malam menuju jantung Aethelgard.
Cahaya di Jendela Rumah
Malam telah jatuh sepenuhnya saat kaki Riezky akhirnya menyentuh jalanan setapak berbatu yang sangat ia kenal. Ia sampai di depan pintu kayu yang sudah agak usang, rumah tempat ia dibesarkan.
Tanpa mengetuk, ia mendorong pintu itu pelan. "Ibu, aku pulang!" serunya dengan nada yang berusaha terdengar santai walau hatinya berdebar.
Di dalam sana, suasana mendadak sunyi. Lyra, ibu Riezky, yang sedang sibuk menyiapkan meja makan, seketika terpaku. Sendok kayu di tangannya hampir terjatuh. Ia berbalik dan melihat sosok pemuda yang tiga bulan lalu pergi dengan wajah penuh keraguan, kini berdiri di depannya dengan bahu yang lebih tegap.
"Riezky... kau benar-benar kembali, Nak," bisik Lyra. Ia langsung menghambur memeluk anak lelakinya itu, memastikan bahwa ini bukan sekadar bayangan karena rasa rindu yang menumpuk.
"Tentu saja, Bu. Aku kan sudah janji," jawab Riezky sambil membalas pelukan ibunya dengan erat. Ia kemudian teringat misinya. Dengan gerakan mantap, ia meletakkan tas kain berisi emas dari Opher di atas meja. Klang! Bunyi kepingan logam itu bergema di ruangan yang sunyi.
"Ini untuk Ibu. Hasil kerjaku selama di jalan," ucap Riezky bangga.
Lyra menatap tumpukan emas itu sebentar, tapi ia tidak segera mengambilnya. Ia justru tersenyum lembut dan kembali mengusap wajah Riezky. Baginya, emas itu tidak ada artinya dibanding melihat Riezky pulang dengan selamat, dengan binar mata yang tetap hangat dan tingkah yang tetap tengil seperti saat ia berangkat.
Ikan Bakar dan Dongeng Malam
Malam itu, dapur kecil mereka menjadi tempat paling nyaman di dunia. Lyra dengan cekatan membakar ikan kakap merah kesukaan Riezky. Aroma bumbu rempah dan daging ikan yang terbakar memenuhi ruangan, memicu selera makan Riezky yang sudah lama merindukan masakan rumah.
Sambil menikmati setiap suapan ikan kakap favoritnya, Riezky mulai bercerita. Suasana menjadi sangat hidup saat ia mendongengkan perjalanannya kepada ibunya—mulai dari latihan "gila" bersama Eldrin, kebaikan Paman Opher di Aurelion, hingga insiden ditampar oleh pemanah misterius di hutan.
Lyra tertawa renyah saat mendengar Riezky terjatuh dari kuda liar, namun matanya tetap memancarkan rasa syukur. Di bawah cahaya lampu yang temaram, Riezky merasa seluruh bebannya terangkat. Ia telah kembali ke pelukan satu-satunya keluarga yang ia miliki, siap melindungi kedamaian rumah mereka dengan kekuatan yang kini ia kuasai.
Keesokan paginya, Aethelgard menyambut Riezky dengan aroma air asin yang akrab dan suara ombak yang menderu pelan. Riezky kembali ke rutinitas lamanya: melaut saat fajar menyingsing. Namun, kali ini ada yang berbeda. Menarik jaring yang penuh dengan ikan terasa jauh lebih ringan bagi lengannya yang kini terlatih, dan gerakan tubuhnya saat mengemudikan perahu jauh lebih presisi.
Di pasar dermaga, kehadiran Riezky mengundang perhatian. Banyak tetangga dan pedagang lama yang menyapanya dengan antusias.
"Wah, Riezky! Dari mana saja kau tiga bulan ini? Badanmu jadi lebih tegap dan... bertenaga!" seru salah satu pedagang garam.
Riezky tertawa lebar, menanggapi setiap pertanyaan dengan jawaban-jawaban kocak yang tidak sepenuhnya jujur. "Biasalah, Paman. Aku hanya pergi mencari tempat memancing yang tidak banyak nyamuknya, tapi malah berakhir jadi asisten kakek-kakek galak," jawabnya sambil menjajakan ikan tangkapannya.
Sembari asyik mengobrol dan menghitung hasil dagangannya, perhatian Riezky tiba-tiba teralihkan. Matanya menyapu deretan bangunan di Aethelgard hingga tertuju pada satu titik tertinggi di desa itu: Menara Jam Besar.
Di puncak menara jam yang biasanya hanya dihuni oleh burung-burung itu, Riezky melihat sesuatu yang ganjil. Sebuah siluet gelap berbalut jubah tampak berdiri diam, memantau keramaian pasar dari ketinggian. Posisi sosok itu sangat tersembunyi, seolah-olah ia adalah bagian dari bayang-bayang menara itu sendiri.
Riezky menyipitkan matanya, berusaha mempertajam penglihatannya yang kini lebih peka terhadap aliran energi. Jubah itu... rasanya aku pernah melihatnya, batin Riezky.
BUGH!
Seorang kuli panggul yang membawa keranjang buah menabrak bahu Riezky secara tidak sengaja. "Maaf, Nak! Aku terburu-buru," ucapnya sambil berlalu.
Riezky tersentak dan segera menoleh kembali ke arah puncak Menara Jam. Namun, dalam sekejap mata, siluet itu sudah lenyap. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di sana selain jarum jam raksasa yang terus berdetak. Riezky terdiam sejenak, menggaruk tengkuknya yang mendadak terasa dingin.
Meski rasa penasaran mulai menggelitik hatinya, Riezky memutuskan untuk tidak terlalu menghiraukannya. Ia kembali melanjutkan kegiatannya, memasukkan sisa ikan ke wadah, dan bersiap pulang ke rumah Lyra. Namun, jauh di lubuk hatinya, ia tahu bahwa kedamaian di Aethelgard mungkin sedang diawasi oleh sepasang mata yang tidak ia kenal.