NovelToon NovelToon
Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Kronik Dewa ASURA:Jalur Penentang Takdir Season 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Action / Epik Petualangan
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: hakim2501

Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."

Sinopsis Cerita:

Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1: Langit Tiga Bulan dan Rantai yang Putus

Bau busuk daging busuk dan belerang yang menyengat membangunkan Ye Chen dari komanya.

Dia membuka mata. Pandangannya kabur, diselimuti warna merah. Saat penglihatannya menjernih, dia menyadari bahwa warna merah itu bukan darah di matanya, melainkan warna langit.

Tiga bulan sabit berwarna merah darah menggantung rendah di angkasa, memancarkan cahaya suram yang membuat bayangan terlihat hidup.

"Di mana ini?"

Ye Chen mencoba duduk.

KLANG!

Suara logam berat terdengar. Dia merasakan dingin di pergelangan tangan dan kakinya. Rantai besi hitam yang tebal dan berkarat membelenggu keempat anggota geraknya, mematuknya ke dinding batu yang lembap.

Dia berada di dalam sebuah sel penjara bawah tanah yang penuh sesak. Di sekelilingnya, puluhan makhluk dari berbagai ras—manusia, Elf (peri) yang sayapnya patah, dan Beastkin (manusia hewan)—duduk meringkuk dalam ketakutan. Mereka kurus, kotor, dan matanya kehilangan harapan.

Ye Chen mencoba mengalirkan Qi-nya untuk menghancurkan rantai itu.

"Uhuk!"

Rasa sakit yang tajam menusuk dadanya.

Dantian-nya kosong. Inti Emas Empat Elemen-nya yang agung kini retak dan redup, seperti bintang yang mati. Saluran meridiannya kering kerontang.

"Kultivasiku... hancur," gumam Ye Chen.

Dia tidak panik. Dia seorang veteran yang sudah merangkak dari dasar berkali-kali. Dia menarik napas, memeriksa kondisi fisiknya.

Meskipun Qi-nya hilang, dia merasakan sesuatu yang lain.

Otot-ototnya padat. Tulang-tulangnya masih terasa berat dan kokoh. Tubuh Naga Asura (Fisik) miliknya tidak hilang. Justru, tanpa adanya Qi yang melindunginya, tubuh fisiknya terasa lebih peka terhadap lingkungan sekitar.

Dan di dalam perutnya yang lapar, Mutiara Penelan Surga berdenyut pelan.

"Rumah... Ini rumah..."

Getaran Mutiara itu terasa senang. Udara di tempat ini dipenuhi oleh Qi Iblis dan Niat Membunuh yang sangat pekat. Bagi kultivator manusia biasa, udara ini beracun. Tapi bagi Mutiara (dan Ye Chen), ini adalah oksigen murni.

"Hei, Anak Baru. Jangan banyak bergerak," bisik seorang kakek tua dari ras manusia di sebelahnya. Kakek itu kehilangan satu matanya. "Kau akan menarik perhatian Gark."

"Gark?"

BLAM!

Pintu besi sel penjara ditendang terbuka.

Sesosok makhluk setinggi dua setengah meter masuk. Kulitnya merah bata, berotot tebal, dengan dua taring mencuat dari rahang bawahnya. Dia memegang cambuk berduri yang meneteskan cairan hijau.

Iblis Rendah (Lesser Demon): Ras Orc Merah.

Gark menyeringai, menatap para budak seperti melihat ternak.

"Waktunya makan malam... untuk peliharaanku," suara Gark parau. "Siapa yang mau jadi sukarelawan hari ini?"

Semua budak mundur menempel ke dinding, gemetar.

Mata Gark tertuju pada seorang gadis Elf muda yang duduk di pojok. Telinganya panjang, tapi salah satunya sudah dipotong setengah.

"Kau. Daging peri rasanya manis."

Gark melangkah maju, mencengkeram rambut gadis Elf itu dan menyeretnya.

"Tidak! Tolong! Ampun!" gadis itu menjerit, kakinya menendang-nendang.

Gark tertawa. "Berteriaklah lebih keras. Penonton suka itu."

Budak lain hanya menunduk. Melawan Gark berarti mati. Gark memiliki kekuatan fisik setara Pemadatan Qi Tingkat 9 dan kulit yang kebal pisau biasa. Tanpa Qi, para budak ini tidak berdaya.

Tapi Ye Chen menatap Gark dengan tatapan menilai.

"Gerakannya lambat. Kuda-kudanya terbuka. Hanya mengandalkan otot kasar," analisis Ye Chen.

Saat Gark menyeret gadis itu melewati Ye Chen...

Ye Chen mengulurkan kakinya yang terantai.

DUBRAK!

Gark tersandung rantai kaki Ye Chen. Karena tidak siap, tubuh besarnya jatuh terjerembap ke lantai yang kotor. Gadis Elf itu terlepas.

Keheningan melanda sel.

Semua budak menahan napas. Siapa yang berani menyandung Iblis Penjaga?

Gark bangkit perlahan. Wajah merahnya menjadi ungu karena marah. Dia berbalik menatap Ye Chen.

"Kau..." Gark mendengus, uap panas keluar dari hidungnya. "Kau cari mati, Manusia Cacat?"

Ye Chen duduk santai bersandar di dinding, memainkan rantai di tangannya.

"Kakiku gatal," kata Ye Chen datar. "Maaf, jalanan di sini sempit."

"Gatal?!" Gark meraung. Dia mengangkat cambuk berdurinya. "Aku akan menggarukmu sampai ke tulang!"

CETAR!

Cambuk itu melayang, mengincar wajah Ye Chen.

Ye Chen tidak bisa menghindar karena dirantai ke dinding.

Jadi dia tidak menghindar.

Dia mengangkat tangan kirinya.

GRAB!

Ye Chen menangkap ujung cambuk berduri itu dengan tangan kosong.

Duri-duri tajam menusuk telapak tangannya. Darah menetes. Tapi Ye Chen tidak bergeming. Ekspresinya bahkan tidak berubah.

"Apa?!" Gark terkejut. Dia mencoba menarik cambuknya kembali, tapi rasanya seperti ditarik oleh patung batu.

"Tenagamu lemah," kata Ye Chen.

Ye Chen menarik cambuk itu dengan satu sentakan kuat.

Sreeet!

Gark, yang memegang gagang cambuk, tertarik melayang ke arah Ye Chen.

Saat Gark berada dalam jangkauan...

Ye Chen mengepalkan tangan kanannya.

Tanpa Qi. Tanpa Sihir.

Hanya Kekuatan Fisik Tulang Emas.

BUAGH!

Tinju Ye Chen menghantam hidung Gark.

Suara tulang wajah yang hancur terdengar renyah di seluruh ruangan.

Kepala Gark terlempar ke belakang, menghantam dinding batu di seberang. Tubuhnya merosot jatuh. Kejang sekali, lalu diam.

Mati? Tidak, hanya pingsan parah dengan gegar otak permanen.

Ye Chen melepaskan cambuk itu. Dia melihat tangannya yang berdarah. Lukanya mulai menutup perlahan, menyerap Qi Iblis di udara secara otomatis.

"Ternyata benar," batin Ye Chen. "Di sini, tubuhku beregenerasi lebih cepat."

Para budak menatap Ye Chen dengan horor.

"Kau... Kau memukul Iblis Penjaga?" kakek tua di sebelahnya gemetar. "Kau membunuh kita semua! Pasukan Penjaga akan datang!"

Benar saja. Suara keributan di sel itu memancing penjaga lain.

Tiga Iblis Orc lain berlari masuk dengan gada besi.

"Siapa yang membuat keributan?!"

Mereka melihat Gark yang terkapar dengan wajah rata. Lalu mereka melihat Ye Chen yang duduk tenang dengan tangan berdarah.

"Manusia ini!"

Mereka bertiga menerjang Ye Chen.

Ye Chen berdiri. Rantai di tangan dan kakinya membatasi gerakannya, tapi itu tidak masalah.

Dia memegang rantai besi yang mengikat kedua tangannya.

"Senjata gratis."

Saat Iblis pertama mengayunkan gada...

Ye Chen menunduk, lalu melilitkan rantai tangannya ke leher Iblis itu.

KRAK!

Dia memutar tubuhnya, mematahkan leher Iblis itu menggunakan rantai sebagai garrote.

Iblis kedua menusuk dengan tombak.

Ye Chen menendang tombak itu hingga patah dengan tulang keringnya (yang sekeras baja), lalu menendang dada iblis itu.

DUM!

Iblis itu terpental keluar sel, menabrak jeruji besi seberang.

Iblis ketiga ragu-ragu. "Siapa kau?!"

Ye Chen menarik rantai di dinding hingga pasaknya lepas (karena dindingnya sudah tua dan tenaga Ye Chen tidak wajar).

Dia berjalan mendekati iblis ketiga sambil menyeret rantai panjang.

"Namaku Ye Chen. Tapi kalian boleh memanggilku... Tuanku."

BUK!

Ye Chen memukul kepala iblis ketiga dengan kepalan tangan yang dililit rantai besi.

Tiga iblis tumbang dalam sekejap mata.

Namun, keributan ini terlalu besar. Alarm berbunyi di seluruh penjara.

NGUING! NGUING!

Langkah kaki berat yang teratur terdengar mendekat. Bukan langkah Orc rendahan.

Ini langkah kaki prajurit berbaju zirah.

Seorang Iblis tinggi dengan kulit biru pucat dan tanduk elegan berjalan masuk. Dia mengenakan jubah zirah hitam yang halus.

Aura yang dipancarkannya: Setara Spirit Severing Tingkat 1 (Awal).

Baron Iblis (Demon Baron).

Baron itu melihat kekacauan di sel. Dia tidak marah. Dia justru tersenyum, memperlihatkan gigi runcingnya.

"Menarik," kata Baron itu, menatap Ye Chen. "Seorang manusia tanpa kultivasi, tapi bisa mengalahkan tiga penjaga orc dengan tangan kosong dan rantai?"

Baron itu bertepuk tangan pelan.

"Kau... Kau bukan budak tambang. Kau adalah bahan yang bagus."

"Bahan untuk apa?" tanya Ye Chen waspada.

"Untuk Colosseum Darah," jawab Baron itu. "Tuanku, Raja Iblis Zagan, sedang mencari gladiator baru untuk pesta besok malam."

Baron itu menjentikkan jarinya.

Dua pengawal elit di belakangnya menembakkan jaring energi sihir ke arah Ye Chen.

Ye Chen mencoba menghindar, tapi tanpa Qi, dia tidak bisa melawan sihir pengikat tingkat tinggi. Jaring itu melilit tubuhnya, membuatnya lumpuh.

"Bawa dia," perintah Baron. "Beri dia makan daging mentah. Aku ingin dia buas saat masuk arena besok."

Ye Chen diseret keluar.

Dia tidak melawan. Dia membiarkan dirinya dibawa.

Di dalam hatinya, Ye Chen tersenyum dingin.

"Colosseum? Bagus. Itu tempat terbaik untuk memanen nyawa dan memulihkan kekuatanku."

Ye Chen menatap bulan merah di langit melalui jendela koridor penjara.

"Tunggu saja. Aku akan mengubah arena kalian menjadi rumah jagal."

(Akhir Bab 1)

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!