Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.
Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.
Semua menyebutnya kecelakaan.
Hanya satu orang yang berani berkata,
“Ini pembunuhan.”
Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.
Putri yang dibuang.
Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.
Tak ada yang tahu…
Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.
Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.
Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.
Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.
Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.
Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.
Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,
Sawitri hanya tersenyum.
Karena ia tak pernah berniat selamat.
Ia berniat menang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
1. Raden Rara Sawitri Setyaningrum
Langit Jakarta mendadak pekat, seolah tinta raksasa tumpah di atas cakrawala yang sebelumnya cerah.
Awan kumulonimbus menggulung rendah, menghimpit padang rumput sunyi di pinggiran kota yang biasanya tak tersentuh langkah manusia.
Di tengah deru angin yang mulai mengganas, dr. Sawitri Setyaningrum merapatkan jas hujannya yang mulai berkibar tak keruan.
Jemarinya yang ramping namun kokoh menggenggam ponsel di telinga kanan, sementara rambutnya yang terikat rapi mulai berantakan dihantam badai.
"Sawitri! Kenapa kamu nekat ke lokasi sendirian? Tempat itu sepi, kalau ada apa-apa bagaimana?" Suara Iptu Tari di seberang telepon terdengar panik, nyaris tertutup deru angin.
Sawitri hanya menatap lurus ke depan, matanya tajam memindai area di depannya.
Sebagai dokter spesialis forensik, dia sudah terlalu terbiasa dengan keheningan mayat daripada keriuhan manusia hidup.
"Aku sudah bertahun-tahun jadi ahli forensik, Tari. Turun ke lapangan sendirian bukan hal baru," jawab Sawitri tenang, nyaris tanpa emosi.
"Tapi pembunuh kali ini benar-benar brutal! Kamu lihat sendiri kan hasil autopsinya korban lainnya? Overkill, luka-lukanya tidak wajar, seperti ada dendam kesumat yang meluap!" Tari berteriak, suara deru mesin mobilnya terdengar dipacu maksimal.
"Justru karena itu aku harus di sini," gumam Sawitri sambil berjongkok di dekat tumpukan batu.
"Hujan sebentar lagi turun. Kalau bukti di TKP ini tersapu air, kita akan kehilangan jejak penting."
"Sawitri, tunggu aku! Aku sudah dekat, jangan—"
"Aku sudah sampai di TKP."
Klik. Sawitri mematikan sambungan telepon sebelum Tari sempat menyelesaikan kalimatnya.
Petir ungu membelah langit, menerangi sekilas siluet Sawitri yang mulai mengenakan sarung tangan lateks di tengah kegelapan yang merayap.
Dia tidak peduli pada gemuruh guntur, fokusnya hanya pada satu titik, lokasi penemuan korban ketiga.
Luka di leher korban ini identik dengan dua korban sebelumnya, namun ada anomali yang mengusik rasionalitas Sawitri.
Di punggung korban ketiga ini, tidak ditemukan guratan simbol mistis yang selalu ada pada korban-korban sebelumnya.
"Ada defensive wound di lengan, tapi memar di tengkuk menunjukkan serangan dari belakang," batin Sawitri, matanya memicing menganalisis bercak darah di bebatuan.
Bau tanah basah menguar tajam, bercampur dengan aroma anyir yang samar namun tertangkap oleh indra penciumannya yang terlatih.
Tiba-tiba, firasatnya berdenyut kencang, sesuatu yang lebih dingin dari angin malam merayap di belakang punggungnya.
Kilat menyambar lagi, menerangi sebuah batu besar di depan Sawitri yang kini berlumuran darah segar membentuk simbol mengerikan.
Namun, bukan simbol itu yang membuat jantungnya berdegup, melainkan bayangan kurus yang berdiri tepat di balik batu tersebut.
Sawitri bereaksi cepat, tubuhnya yang terlatih bela diri Tarung Derajat bergeser ke samping, menghindari tusukan belati yang mengarah ke ulu hati.
Mata pisau itu berkilat dingin di bawah cahaya petir, membawa hawa kematian yang nyata.
Hujan tumpah seketika, mengaburkan pandangan dan mengubah tanah menjadi lumpur licin.
Sawitri berhasil mencengkeram pergelangan tangan si penyerang, lalu melayangkan lutut kanannya dengan telak ke perut lawan.
Lelaki kurus itu mengerang kesakitan, namun ada sesuatu yang janggal dalam perhitungan medis Sawitri.
"Tenaga orang ini tidak mungkin bisa menghasilkan luka sedalam yang ada pada korban," pikirnya cepat.
Belum sempat Sawitri menghindar dari serangan berikutnya, sebuah hantaman keras mendarat di belakang kepalanya.
"Trauma tumpul di oksipital..." batinnya sesaat sebelum dunianya berputar hebat dan ia tersungkur ke lumpur dingin.
Dalam kesadaran yang kian menipis, Sawitri merasakan dinginnya baja menembus tubuhnya berkali-kali.
Anehnya, rasa takut itu tidak ada, yang ada hanyalah kekecewaan karena ia menyadari satu hal penting di detik-detik terakhirnya.
Ada dua orang di sana, satu kurus, satu lagi bertubuh tegap yang menghantamnya tadi.
Ini bukan aksi tunggal, melainkan kejahatan kelompok.
Sawitri memaksa matanya tetap terbuka, merekam wajah kedua orang itu saat kilat terakhir menyambar.
Jemarinya yang bersimbah darah bergerak lemah, mencakar tanah, meninggalkan jejak yang ia harap bisa dibaca oleh Tari nanti.
"Semoga kuku ini menyimpan sisa kulit mereka untuk tes DNA," bisik jiwanya sebelum kegelapan total menjemput.
Guntur menggelegar, namun suaranya terasa berbeda, lebih berat, lebih purba.
Sawitri tersentak bangun, napasnya memburu seolah baru saja muncul dari permukaan air setelah tenggelam lama.
Keringat dingin membasahi pakaian kain kasar putih yang ia kenakan.
Ia mengerjapkan mata, namun pemandangan di depannya bukan lagi padang rumput pinggiran Jakarta atau ruang otopsi yang steril.
Ia berada di sebuah kamar kayu dengan arsitektur kuno.
Sebuah meja kayu jati tua dengan ukiran kembang di sudutnya berdiri di tengah ruangan, ditemani pelita minyak yang cahayanya menari-nari ditiup angin yang menyelinap dari celah pintu.
"Aku... masih hidup?" Sawitri menyentuh lehernya, tidak ada bekas luka tusukan, hanya rasa lemas yang luar biasa.
Ia menoleh ke arah cermin perunggu di sudut kamar.
Wajah yang terpantul di sana adalah wajahnya, namun lebih muda, lebih pucat, dan tampak sangat rapuh dalam balutan kebaya yang sudah menipis warnanya.
"Ndara? Ndara Ayu Sawitri? Ndara pun tangi?" Sebuah suara cemas terdengar dari balik pintu.
Seorang gadis muda mengenakan kemben dan jarik lusuh masuk dengan tergesa-gesa.
Tangannya gemetar membawa mangkuk tanah liat berisi cairan hitam pekat yang baunya sangat menyengat, jamu brotowali.
Ingatan asing tiba-tiba menghantam kepala Sawitri sekuat palu godam.
Ia adalah Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum, putri sulung Kanjeng Raden Tumenggung Danurejo yang dibuang ke pesanggrahan terpencil karena dianggap membawa sial setelah kematian ibundanya, Raden Ayu Kinanti.
"Ndara, mangga unjuk jamunipun. Tubuh Anda panas sekali sejak semalam," ucap gadis itu, Ndari, sambil menyodorkan mangkuk ke bibir Sawitri.
Sawitri mengernyit.
Bau paitan jamu itu sangat tajam, namun ia tahu secara medis bahwa alkaloid dalam brotowali memang efektif untuk menurunkan demam, meski rasanya seperti empedu.
Ia meminum jamu itu dalam satu tegukan tanpa ekspresi, membuat Ndari terbelalak heran.
Biasanya, Nona mudanya akan menangis dan meronta hanya untuk meminum satu sendok jamu tersebut.
"Ndara... Anda tidak apa-apa?" tanya Ndari ragu.
"Aku baik-baik saja, Ndari," jawab Sawitri pendek.
"Buka pintu! Mana setoran kalian?!"
Suara tawa serak bergema di tengah badai.
“Nyuwun pangapunten, Kang. Ndara Ayu saweg gerah.”
Suara Nyi Inggit memohon di luar sana terdengar bergetar ketakutan.
"Persetan dengan Ndara-mu! Nek mboten bayar, angkat kaki kalian dari pesanggrahan ini!"
Sawitri menyibakkan selimut luriknya dalam diam.
Ia bangkit dengan tubuh ringkih yang bergetar.
"Ndara badhe teng pundi?" cegah Ndari panik.
"Menyambut tamu."
Kebaya lawasan dan jarik batiknya yang menipis berkibar tertiup angin dingin dari celah pintu.
"Setoran apa yang kalian maksud?" tanya Sawitri dari ambang pintu.
Matanya menatap tajam lima centeng bayaran bertampang beringas di teras.
"Heh, Nimas. Tanah ini sudah digadaikan ke juragan kami. Bayar, atau kami seret kau keluar!" ancam preman bertubuh gempal.
"Menyeret putri kandung Tumenggung Mataram? Sentuh aku, dan kau tanggung akibatnya.”
"Cih! Tumenggung sudah membuangmu, Ndara!"
Seorang lelaki gempal di sebelah preman itu maju, berniat menjambak rambut Sawitri.
"Plak!"
Sebuah tamparan keras mendarat di lengan lelaki itu.
Bukan dari Sawitri, melainkan Ndari yang maju menerjang bak singa betina.
"Wani kowe ndemek Ndara Ayu!" jerit Ndari garang.
Preman gempal itu murka.
Golok ditebaskan dengan liar, namun Sawitri bertindak lebih cepat.
Satu putaran tajam, diakhiri sentakan keras ke bawah.
Krek.
"Gusti, ampun! Lenganku! Ampun!"
Pria gempal itu berlutut di lumpur, menjerit kesakitan menahan tulangnya yang bergeser.
"Siapa lagi yang mau minta setoran?"
Sawitri menatap empat pria lainnya dengan sorot mata sedingin es.
Mereka mundur teratur, nyali mereka ciut seketika.
"Sampaikan pada selir majikanmu itu."
Sawitri menendang dada centeng di bawahnya hingga terguling jatuh ke pelataran basah.
"Jangan pernah menginjak halaman ini lagi."
Ia membalikkan badan, memunggungi mereka.
"Pergi!"
Kelima centeng itu lari tunggang langgang, menghilang ditelan gelapnya alas.
Sawitri terbatuk hebat.
Darah segar merembes dari sudut bibirnya, tubuh ringkih ini belum sanggup menahan ledakan tenaga tadi.
"Gusti Pangeran! Ndara Ayu!"
Nyi Inggit memekik histeris, menyanggah tubuh Sawitri yang limbung.
"Nyi, bawa Ndara masuk. Kulo ambilkan air hangat," Ndari terisak, berlari ke dapur luar.
Di atas dipan, Nyi Inggit mengusap lembut dahi Sawitri yang berkeringat dingin.
"Ndara Ayu kok nekat. Kalau Romo Tumenggung dengar, kita bisa diusir sungguhan."
"Romo tidak akan peduli, Nyi. Mulai sekarang, kita yang menentukan nasib kita sendiri."