NovelToon NovelToon
“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

“Kau Kehilangan Aku Setelah Cerai”

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cerai
Popularitas:5.9k
Nilai: 5
Nama Author: Anita Banto

Amara rela menerima perjodohan dengan Tobias William Larsen demi cinta, berharap hatinya bisa memenangkan pria yang dingin dan sempurna itu. Ia memberi segalanya—kesetiaan, pengorbanan, bahkan seluruh rasa cintanya. Namun, semuanya hancur saat mantan Tobias muncul kembali.
Di malam ulang tahun pernikahan mereka, dunia Amara runtuh. Tobias menuntut cerai tanpa ampun, bahkan menyisakan ancaman yang menusuk hatinya. Dengan hati remuk, Amara akhirnya melepas semua harapan, memutuskan untuk pulang ke rumah keluarganya dan menjalani takdirnya sebagai pewaris keluarga Crawford.
Kini, ketika Amara dan Tobias bertemu lagi, mereka bukan lagi suami-istri. Mereka adalah dua rival, saling menatap dengan luka dan dendam yang tersimpan.
"Tuan Larsen, apakah Anda ingin saya mengingatkan sekali lagi? Kita sudah bercerai."
"Amara… ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Kumohon… kembalilah padaku."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anita Banto, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 11

Selama beberapa detik pertama, udara di sekitar area VIP klub Giovanni seolah membeku menjadi lapisan es yang menyesakkan. Amara berdiri kaku, lidahnya kelu. Di depannya, sosok pria yang dulu merupakan pusat dari seluruh dunianya—pria yang pernah menggenggam kepingan hati dan jiwanya—kini duduk dengan keangkuhan yang tak tergoyahkan.

​Namun, sedingin apa pun atmosfer yang tercipta, rasa terkejut itu dengan cepat mencair, berganti dengan luapan emosi yang pahit dan panas. Kebencian yang baru saja tumbuh di antara mereka selama sebulan terakhir kini membara lebih hebat di dada Amara.

​Ketegangan itu terasa hampir meledak karena tidak ada satu pun dari mereka yang bersedia memutus kontak mata. Keduanya menolak untuk mengalah dalam perang tatapan yang penuh dengan muatan masa lalu itu.

​"Kurasa sebaiknya kita cari tempat lain saja," bisik Melanie akhirnya, berusaha keras memecah keheningan yang mencekik.

​Suara Melanie menarik Amara kembali ke realitas. Ia menarik napas tajam, mengernyitkan dahi, lalu memalingkan wajah dengan gerakan tegas. Amara mengikuti langkah Melanie yang menggandeng lengannya menuju meja lain di sudut yang lebih tenang.

​Saat mereka berjalan, Amara bisa merasakan sepasang mata Tobias menusuk punggungnya seperti belati. Namun, ia bersumpah pada dirinya sendiri untuk tidak menoleh. Baginya, melangkah maju tanpa melihat ke belakang adalah satu-satunya cara untuk tetap bertahan.

​Begitu mereka menduduki sofa baru, seorang pelayan segera menghampiri.

​"Satu shot tequila dan satu botol wiski," cetus Melanie penuh semangat, seolah ingin segera menghapus bayangan Tobias dengan alkohol.

​Setelah pelayan pergi, Melanie menoleh dengan senyum lebar yang dipaksakan untuk menghibur. "Jadi? Bagaimana hari pertamamu sebagai bos?"

​"Melelahkan," jawab Amara jujur, menyandarkan tubuhnya.

​"Apa orang-orang di sana menyulitkanmu?"

​Amara membayangkan wajah para eksekutif yang sempat meremehkannya pagi tadi. "Mereka bukan masalah besar, Mel. Tidak ada yang tidak bisa kutangani."

​Melanie mengangguk puas. “Pekerjaannya sendiri? Tidak terlalu sulit, kan?”

​“Anehnya, tidak,” jawab Amara sambil menggeleng pelan. Ia meraih gelas wiski yang baru saja tiba, lalu meneguk isinya dalam satu tarikan napas hingga tenggorokannya terasa panas. “Sepertinya semua yang kupelajari selama bertahun-tahun menjadi nyonya rumah yang baik akhirnya berguna di meja rapat.”

​"Itu baru sahabatku!" sorak Melanie sambil mengangkat gelasnya tinggi-tinggi. "Mari bersulang, untuk kebebasan! Untuk tidak lagi menjadi ibu rumah tangga yang tidak berguna!"

​Gelas mereka berdenting nyaring.

​"Ah, aku merasa beban ini mulai luruh," desah Melanie bahagia sembari memejamkan mata. "Ternyata bersantai adalah hal yang sangat mewah bagiku akhir-akhir ini."

​Tepat saat Amara meletakkan gelas kosongnya, seorang pria asing tiba-tiba menduduki kursi kosong di sampingnya tanpa permisi.

​"Boleh aku duduk?" tanya pria itu, matanya mengunci tatapan Amara dengan penuh percaya diri.

​Amara mengerutkan kening. Pria ini sudah duduk sebelum bertanya, sebuah kelancangan yang membuatnya merasa terganggu. "Jika aku bilang tidak, apa kau akan berdiri?"

​Pria itu terkekeh dan menggeleng. "Aku akan mengabaikan penolakanmu dan tetap di sini."

​"Kalau begitu, tidak ada gunanya aku menjawab," sahut Amara dingin. Ia memalingkan wajah, kembali menuang wiski ke gelasnya dan mengabaikan kedipan mata Melanie yang seolah menyuruhnya untuk sedikit bersenang-senang.

​Pria itu tidak menyerah. "Boleh aku mentraktirmu?"

​Amara mengangkat alis tanpa menoleh. "Aku tidak sendirian."

​“Aku tahu,” balas pria itu sambil melambaikan tangan ke arah Melanie yang justru membalas dengan senyum ceria. “Sepertinya temanmu tidak keberatan. Jadi, boleh?”

​Akhirnya, Amara menatap mata pria itu dengan tatapan datar. "Aku menolak," katanya tegas, memberikan isyarat pengusiran yang sangat jelas.

​Untungnya, pria itu cukup tahu diri. Dengan helaan napas pasrah, ia berdiri dan pergi mencari mangsa lain.

​"Ah, kau merusak suasana!" Melanie menyikut rusuk Amara. "Dia lumayan tampan, tahu."

​"Tampan sekalipun tidak mengubah fakta kalau aku sedang muak berurusan dengan pria," sahut Amara ketus.

​Melanie tertawa, lalu pandangannya beralih ke kejauhan. "Ayolah, lihat pria di sana itu sebagai contoh."

​Mata Amara mengikuti arah telunjuk Melanie. Jantungnya berdesir sesaat saat melihat Helios Edgar berada di area VIP yang sama dengan Tobias. Amara sempat melirik Tobias lagi, dan untuk sesaat, mata mereka kembali bertemu di tengah remang lampu klub. Kali ini Tobias-lah yang memalingkan wajah terlebih dahulu setelah seorang temannya menepuk pundaknya.

​"Dia tipe pria yang pasti bikin wanita jatuh hati," gumam Melanie, menatap Helios.

​“Oh ya, tentu saja,” sindir Amara sinis. “Dengar, Mel. Aku sedang fokus pada perusahaan. Bukan mencari pria.”

​Melanie mengangkat alisnya. Tiba-tiba, sebuah lagu dengan beat yang sangat ia kenal mulai mengalun keras. "Ya ampun! Amara, ini lagu itu!"

​"Lagu yang mana?" Amara bingung.

​"Liriknya! Kau yang menulisnya! Oh, kau harus menyanyikannya sekarang. Ayo!" Melanie menarik lengan Amara dengan kekuatan yang tak terduga.

​"Melanie, tidak! Aku tidak mau menyanyi!" Amara menolak panik, namun Melanie sudah menyeretnya menembus kerumunan menuju panggung kecil di tengah klub.

​Dalam hitungan detik, Amara sudah berdiri di depan mikrofon. "Semuanya! Perhatian!" teriak Melanie ke mikrofon, membuat seisi klub menoleh. “Namaku Melanie, dan di sampingku adalah sahabatku, Amara. Malam ini dia akan membawakan lagu ciptaannya sendiri untuk kalian. Setuju?!”

​Sorakan riuh memenuhi ruangan. Amara hanya bisa mengutuk dalam hati. Ia menarik napas panjang, menatap lautan manusia di depannya. Aku bisa melakukannya, batinnya.

​Saat musik mulai mengalun, suara Amara terdengar jujur dan jernih. Ia menumpahkan seluruh luka, amarah, dan pengkhianatan yang ia rasakan ke dalam liriknya. Seluruh klub bergoyang mengikuti irama, memberikan kepercayaan diri yang luar biasa pada Amara.

​Ia memejamkan mata, membiarkan suaranya melambung tinggi di bagian reff:

​"Karena iblis tidak perlu menggunakan tangannya untuk menghancurkan seorang wanita... yang ia butuhkan hanyalah kata-kata dan akulah buktinya. Jadi, jangan berpura-pura seolah kalian belum pernah bertemu iblis. Dia lebih dekat dari yang kalian kira..."

​Saat nada terakhir memudar, seisi klub pecah dalam riuh tepuk tangan. Amara tersenyum puas, jantungnya berdebar kencang karena adrenalin. Namun, senyum itu langsung luntur saat matanya menangkap sosok Tobias di antara kerumunan.

​Tobias menatapnya tanpa kedip. Ada kilat keterkejutan dan sesuatu yang menyerupai rasa geli di mata gelapnya. Amara mendengus dalam hati. Ia tidak butuh pengakuan dari pria itu. Dengan kepala tegak, ia turun dari panggung, meninggalkan Tobias yang masih terpaku menatap sosoknya yang kini tak lagi bisa ia raih.

​Satu hal yang pasti bagi Amara malam ini: ia bukan lagi wanita yang bisa dihancurkan hanya dengan kata-kata. Ia adalah badai yang baru saja dimulai.

1
S
bodoh.jk.mau di lindungi seolah bs mengatasi segalanya tp begitu bahaya.mrngancam baru panik
S
aku yaki tawa dan dansamu hanya utk menghibur diri tak mungkin rasamu hilang tiba tiba mara.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!